Rahasia Kaya Raya dari Orang yang sukses

Oktober 15, 2009

Mohon maaf lama nggak Posting. Sekali ini posting Copy-Paste dari sumber lain. Sumbernya di sini, judulnya : Rahasia Kaya Raya dr Orang yang sukses.

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau ekoseorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan “tidur”. Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, “Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?”

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

” Ada empat hal yang harus Anda perhatikan,” begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

“Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah.” Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

“Kemudian yang kedua,” beliau melanjutkan. “Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, ‘Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.’ Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA

“Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, ” begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. “Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.”

“Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga” , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

“Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ,” tanya beliau.

“Ya, bagaimana caranya?” jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

“Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!” jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. “Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.”

“Walau pun itu orang kaya?” tanya saya.

“Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.”

“Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,” saya bertanya lagi.

“Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu,” jawab beliau. “Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda.”

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

“Yang keempat nih, Mas,” beliau memulai. “Jangan mempermainkan wanita”.

Hm… ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

“Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.”

“Lalu?” saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

“Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. “

Oh… pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

“Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Merasa “keadilan” yang dikatakan Al Qur’an hanya berupa keadilan material. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya,” beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

sumber: http://www.kaskus.us/showpost.php?p=107260485&postcount=8

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan wisdom-nya.

Wassalam

Fuad Muftie


Pingin berjualan secara Cash, tapi banyak yang minta Kredit, gimana dong?

Juni 19, 2009

Ada beberapa pertanyaan yang masuk di komentar maupun email saya menanyakan hal yang sama serperti judul posting-an di atas. Ingin sekali berjualan secara cash, tapi calon pembeli kebanyakan minta kredit, kira-kira dikasih nggak ya buat yang minta kredit?

Hal seperti ini jamak terjadi pada para penjual yang menawarkan dagangannya kepada teman, saudara, dan tetangga. Kalau ada yang minta kredit, biasanya yang terpikir adalah barang cepat laku, tapi modal tidak cepat kembali. Kalau ingin menolak, yang terpikir adalah barang jadi tidak cepat laku; kalau sekarang ditolak, apa nanti ada yang mau beli nggak ya? Jadi agak dilematis.

Kalau menurut saya boleh tidaknya mengambil secara kredit sangat tergantung pada diri kita sendiri. Kita dari awal harus sudah memutuskan akan menjual barang secara kredit atau secara cash, atau mengkombinasikan keduanya cash dan kredit. Kalau sudah diputuskan cara bisnis kita, baru disusun strateginya.

Jika diawal sudah diputuskan berjualan secara cash, ya harus tegas menolak permintaan pembelian kredit. Apapun alasannya dan apapun resikonya. Tapi sebaiknya harus dipersiapkan strategi lain sebagai back-up agar calon pembeli tetap mau membeli, dan tidak ditinggalkan begitu saja. Misalnya tawarkan harga yang benar-benar bersaing dan harga terbaik dibanding tempat lain, atau diberi hadiah produk lain kalau mau membeli secara cash. Intinya tunjukkan bahwa membeli secara cash jauh lebih menguntungkan.

Demikian juga kalau dari awal sudah memutuskan untuk berjualan secara kredit. Kita juga harus mempersiapkan strategi dan prosedurnya.

Pertama kita mesti jeli memilih calon pembeli yang benar-benar bisa mencicil. Hati-hati dengan pembeli yang suka ngemplang dan sulit ditagih. Kuncinya kalau kita berani memberi kredit, kita juga harus berani menagih. Kalau nggak berani nagih, jangan berjualan secara kredit.

Kedua, berikan dan tawarkan jangka waktu cicilan yang pasti, yang enak dan menyenangkan buat kedua belah pihak. Sama seperti kita kredit di bank, bank akan meminta kita membayar cicilan tepat waktu, kalau tidak tepat waktu, kena pinalti. Demikian juga kita harus “mendidik” pembeli agar bisa mencicil dengan tepat waktu.

Ketiga, mengeni harga jual, juga harus dibedakan antara harga beli secara cash dengan harga beli secara kredit. Hal ini harus disampaikan di awal-awal transaksi. Waktu kita menawarkan barang dagangan, sampaikan dengan jelas pada calon pembeli. Misalnya, kalau mau beli secara cash harganya Rp 100.000, tapi kalau mau kredit, saya minta harganya Rp. 130.000, dan bisa dicicil sekian kali.

Keempat, jangka waktu cicilan juga sebaiknya disesuikan dengan pekerjaan calon pembeli. Kalau calon pembeli adalah karyawan yang gajinya bulanan, minta juga cicilan dilakukan bulanan. Kalau pembeli mendapat penghasilannya mingguan, minta agar cicilan dilakukan secara mingguan. Dan kalau penghasilan calon pembeli bisa harian (sama-sama pedagang misalanya), bisa minta dicicil harian.

Kelima, yang penting lagi buat kita sebagai penjual adalah catatan harus rapi dan harus rajin menagih dan terus mengingatkan pembeli tentang cicilan. Kalau hal seperti ini memberatkan dan membuat kita tidak enak, ya jangan berjualan secara kredit.

Keenam, berjualan kredit sebaiknya didukung modal yang kuat. Karena sama saja modalnya kita pinjamkan pada orang lain. Namun, jangan sampai menyurutkan niat anda, jika modal anda terbatas. Dengan modal terbatas, tetap saja bisa memberikan kredit. Asal kita rajin menagih dan disiplin dalam mengelola keuangan. Keuangan pribadi jangan dicampur aduk dengan keuangan keluarga. Modal harus terus berputar, kalau sampai macet, berarti harus gigih mengejar orang yang menunggak cicilan. Usahakan roda usaha terus berputar, dengan mengatur waktu cicilan dan penagihan dengan waktu untuk belanja barang yang baru.

Berjualan secara kredit, kalau dikelola dengan baik juga sangat menjanjikan. Kita bisa belajar dari perusahaan-perusahaan penjual secara kredit. Seperti produk-produk elektronik, produk furniture, dan barang keperluan rumah tangga. Dalam sekala besar kita mengenal seperti Columbia. Columbia bisa menjadi besar, hampir semuanya dengan berjualan secara kredit. Bahkan bisa sampai memiliki armada penjualan yang banyak, loyal, dan penuh semangat.

Dalam sekala kecil kita bisa belajar dari para pedagang minyak keliling yang sering lewat di depan rumah kita (penjual minyak goreng, gas elpiji 3kg, dll). Para pedagang minyak ini, tadinya saya pikir cuma berjualan minyak doang. Tapi ternyata saat menjual minyak, dia juga menawarkan produk lain seperti radio, tv, rice cooker, kulkas, magic jar, dll dan bisa dibeli secara kredit. Kalau ada yang mau membeli, baru dia menghubungi penjual produk-produk tersebut. Tentunay dia sudah ada deal dengan suplier untuk ikut menjualkan produk-produknya.

Intinya, kembali di awal, kita harus memutuskan dari pertama kali sebelum mulai berbisnis, kita mau jualan kredit atau jualan cash. Jangan berjualan tanpa rencana, sehingga bingung sendiri saat ada calon pembeli yang menawar dagangan kita.

Semoga bermanfaat dan semoga bisa membantu

Sukses buat Anda

Salam FUNtastic dan Merdeka

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll


Apa Benar Buka Usaha Itu Sangat Mudah Asal Ada Modal?

Mei 15, 2009

Tergelitik oleh komentar salah satu pengunjung blog saya di posting ini, saya jadi ikut mikir-mikir, apa memang bisa dan memungkinkan kalau tiap orang mau buka usaha bisa langsung sukses, berhasil, dan nggak pakai gagal segala.

Baca dulu komentarnya:

“SAYA PIKIR BUKA USAHA ITU SANGAT MUDAH ASAL ADA MODAL YANG MENDUKUNG DAN SEDIKIT KETRAMPILAN TAPI UNTUK USAHA TERSEBUT BISA JALAN OTOMATIS MEMBERIKAN OMSET YANG MENGUNTUNGKAN TIAP HARINYA BISA UNTUK MENCUKUPI KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN BISA UNTUK MENYISIHKAN UNTUK MENABUNG ITU SANGAT SULIT DI WUJUDKAN

DAN KENAPA KEBANYAKAN ORANG YANG TELAH BERHASIL MENDIRIKAN USAHA YANG TELAH SUKSES, SAAT DIA MEMBUKA UASAHA LAGI KEBANYAKAN KOK BERHASIL

SEPERTI WARALABA-WARALABA SEPERTINYA KOK JALAN TERUS SEPERTI ADA RUMUS ANTI GAGAL

ADAKAH RUMUS BAGI PEMULA ATAU YANG PUNYA MODAL KECIL BISA YAKIN SEPERTI WARALABA TERSEBUT”

Yang terpikir oleh saya justru keyakinan seperti inilah yang membuat kita sulit untuk maju. Salah satu keyakinan dasar yang mesti diyakini bagi pemula seperti kita adalah bahwa membuka dan menjalankan usaha itu memang punya potensi untuk sukses tapi itu perlu PROSES.

Kalau sampai dalam diri kita muncul keyakinan bahwa usaha itu mudah asal ada modal, biasanya karena kita melihatnya yang instan-instan, yang sudah jadi, dan yang orang lain raih yang tampak seperti kesuksesan sesaat saja. Kita melihatnya hasil akhir berupa kesuksesan orang lain, kita tidak tahu bagaimana proses detailnya. Dan memang kecenderungan orang sukses akan menceritakan kisah suksesnya, dengan sedikit menceritakan detail-detail kegagalannya. Karena kita sendiri juga tidak akan senang kalau banyak-banyak mendengar cerita gagal kan?

Makanya sering disampaikan oleh para pengusaha agar kita siap menjalani PROSES-nya dan siap menikmati PROSES-nya, baik itu proses gagal (sementara) maupun proses menuju suksesnya. Dan namanya juga proses pasti butuh waktu, kita harus sabar dengan proses tersebut. Dan kita juga mesti bisa menikmati semua kejadian-kejadian dalam setiap prosesnya. Karena gagal dan sukses hanyalah status sementara, yang abadi adalah prosesnya.

Mirip-mirip seperti film bioskoplah, kalau baru saja mulai tokohnya langsung bisa mematikan penjahat, tentu filmnya jadi tidak seru. Yang menjadikan film itu menarik adalah prosesnya dari awal sampai akhir bagaimana si tokoh jatuh dan bangun sampai bisa menang.

Sama juga halnya dengan tumbuh-tumbuhan disekitar kita, bijih ditanam tidak langsung tumbuh jadi pohon besar. Biji yang keras, harus memecah dirinya sendiri agar daun bisa muncul dan akar bisa menancap. Mungkin kalau kita jadi benih kita juga akan merasakan bagaimana sakitnya memecah dan membelah diri sendiri. Belum lagi setelah tumbuh daun, si pohon akan terkena terpaan angin, gangguan mahluh hidup lain, jamur, parasit dll. Semua harus dijalani untuk bisa tumbuh jadi besar.

Mirip-mirip juga dengan bayi yang baru lahir, berbulan-bulan hanya bisa pasrah, harus belajar guling-guling, belajar merangkak, jatuh bangun, baru kemudian bisa berjalan, dan berlari. Sudah bisa jalanpun masih harus tersandung, terpeleset, dan terbentur sampai benar-benar bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.

Sudah sering disampaikan oleh para mentor agar fase awal membuka usaha itu bisa dijadikan sebagai fase untuk belajar. Seperti kita kecil dulu, mau nurut belajar dari TK, SD, SMP, SMU, Kuliah, dst. Semua proses tersebut selalu butuh biaya dan pengorbanan, dan kita belum bisa langsung memetik profitnya.

Kalaupun di awal-awal usaha kita bisa mendapat profit, sebisa mungkin profit tidak dihabiskan untuk konsumsi. Sebagian mesti dihemat buat kita simpan, kita kumpulkan, dan putar kembali untuk mengakumulasi modal. Pastinya agar usaha bisa terus tumbuh, membesar, dan tidak layu. Selain itu di fase awal juga kita gunakan untuk membangun basis pelanggan. Usaha tanpa pelanggan sama saja seperti ular sanca. Hari ini bisa makan, sebulan kemudian kita terus puasa, sambil berburu mangsa berikutnya. Kalau punya basis pelanggan yang kuat, sama saja kita punya kran yang terhubung dengan pipa dari mata air, air akan terus mengalir.

Perlu juga diawal-awal usaha, kita jadikan sarana membangun sistem. Kita rapikan pembukuan, kita permak dan terus kita upgrade toko, kios, atau webstore kita. Kita didik staff dan karyawan kita. Begitu seterusnya agar usaha bisa jalan lancar dan tidak terus menerus memusingkan kita. Kita perbaiki cara kerja usaha kita juga sistem pemasarannya. Kalau saja tiap hari kita bisa meningkatkan 0.1% maka setahun usaha berjalan usaha kita sudah berkembang 36%.

Dan yang penting lagi di awal-awal membuka usaha kita usahakan bisa mendapatkan bagaimana feel atau jiwa sebagai pengusaha. Biasanya orang mengatakan “jiwa bisnis”. Dan umumnya calon entrepreneur sering mengeluh takut membuka usaha karena tidak punya jiwa bisnis. Ya memang harus mulai dulu dan belajar dulu baru dech ketemua jiwa bisnisnya.

Kebiasaan kita memang cuma mau melihat hasil akhirnya. Seperti komentar tadi “SEPERTI WARALABA-WARALABA SEPERTINYA KOK JALAN TERUS SEPERTI ADA RUMUS ANTI GAGAL”. Sebenarnya waralaba awalnya juga tidak langsung jreng abrakadabra jadi seperti ini. Pasti telah melalui tahapan proses metamorfosa. Kita lihat enaknya sekarang, tapi siapa yang tahu bagaimana perjuangan si pemilik waralaba dulu di awal usahanya. Ingat saja cerita awal mula Kolonel Sanders membangun KFC, bagaimana Kolonel menawarkan resepnya dari restoran ke restoran, dan dari penolakan ke penolakan.

Saya selalu ingat nasehat Pak Hadi Kuntoro yang mengatakan bahwa “kesulitan-kesulitan yang anda hadapi sekarang, akan menjadi kenangan indah di masa depan”. Dan memang benar kan, coba anda ingat-ingat lagi kesulitan yang anda hadapi di waktu SMP dulu. Bukankah sekarang telah menjadi kenangan indah, yang kalau mengenangnya membuat kita senyum-senyum sendiri.

Jadi bolehlah dipikirkan lagi, baru berapa lama kita masuk di bisnis ini. Anggap saja sekarang anda sedang menanam bibit. Jangan buru-buru ingin memetik bunganya dan buru-buru ingin memetik buahnya. Ikuti proses tumbuhnya benih tersebut. Dan yakinlah ada waktunya nanti untuk memetik hasilnya.

Yang lebih penting lagi bagi pemula bisnis seperti kita, bahwa bisnis kadang tidak bisa dihitung secara matematis. Dalam bisnis tidak selalu 1 + 1 = 2. Sudah sering dan banyak yang membuktikan di bisnis 1 + 1 bisa jadi 4 bisa jadi 10 dan seterusnya. Prinsip bisnis yang perlu diingat dalam bisnis adalah kita harus selalu memberi nilai tambah dalam bisnis kita. Jadi rumusnya malah jadi 1 + 1 – 1 = 5 siapa yang tahu?

Selain itu faktor-faktor diluar kendali kita perlu juga diperhitungkan. Faktor spiritual misalnya. Seperti nasehat para alim ulama bahwa semakin banyak memberi kita akan banyak menerima juga. Dan ingat bahwa dari hasil jerih payah kita juga melekat hak orang lain, yang harus kita sisihkan, kita bersihkan, dan kita berikan pada yang berhak. Makanya dari hasil usaha kita jangan semuanya kita konsumsi, harus juga disalurkan zakat dan shodaqohnya. Dan yakinlah itu akan menambah dan memperlancar rejeki kita.

Sering sekali diceritakan oleh Ustadz Yusuf Mansur mengenai jamaahnya yang mengalami perubahan cepat dalam taraf hidupnya setelah memperbanyak infaq, shodaqoh, dan zakatnya. Ada yang sudah kehabisan modal dan banyak hutang, kemudian justru diminta untuk mensedekahkan sisa-sisa harta yang dimiliki. Setelah itu terjadilah titik balik dan perubahan drastis. Jadi kalau sedang kehabisan modal, sedekahlah. Sudah banyak yang membuktikan “the power of giving”, banyak zakat dan sodaqoh banyak mendatangkan rizki yang berlimpah.

Maaf kalau jadi kayak ceramah, ini tulisan spontan saja setelah membaca komentar diatas. Intinya kalau mau enak-enakan di bisnis, ya tunggu waktunya, itu nanti. Kalau semua orang yang mulai bisnis bisa langsung untung besar semua, ya pasti tidak akan ada yang mau jadi karyawan. Semua pasti jadi pengusaha, itu sama saja membuat ketidakseimbangan alam. Dan justru kekuatan kita melewati kesulitan dan mengubahnya menjadi keberhasilan adalah penghargaan yang tak ternilai harganya bagi seorang pengusaha.

Yang terakhir buat anda yang sedang mengalami kesulitan, perbanyaklah tali silaturahim. Datangilah para pengusaha di sekitar anda. Carilah mentor yang terdekat yang bersedia dan berkenan membimbing anda, memberi support, dan memberi masukan buat Anda. Atau bergabunglah dalam kelompok-kelompok mastermind atau klub pengusaha atau kelompok-kelompok semacamnya, yang akan menjadi katalisator kemajuan usaha Anda.

Semoga bermanfaat dan semoga bisa membantu banyak orang.

Salam FUNtastic & Merdeka!

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Selalu ada Solusi dari Setiap Masalah

April 6, 2009

Satu hal yang sering dianalogikan bagi seorang pengusaha adalah ia sebagai problem solver atau pemecah masalah atau pembeli solusi. Karena justru dari kegiatan memberi solusi ini seorang pengusaha berhak menerima reward atau profitnya.

Ada orang yang tidak bisa menanam padi, tapi butuh makan, maka pengusaha memberinya solusi dengan menyediakan (mendatangkan dan menjual) beras. Sudah ada beras, tapi tidak sempat masak, maka pengusaha memberi solusi dengan menyediakan makanan cepat saji. Ada lagi orang yang ingin punya rumah, tapi tidak bisa membangunnya sendiri, maka si pengusaha membatu membuatkan rumah buat orang tadi dan menjualnya pada orang tersebut. Itu gambaran gampangnya.

Nah, lebih dalam lagi, dalam setiap aktifitas berusaha atau berbisnis, seorang pengusaha juga pasti akan menemukan masalah-masalah yang harus ia pecahkan. Entah masalah SDM, pemasaran, hubungan interpersonal, atau bahkan masalah dalam keluarga sendiri. Karena tanggung jawab atas ada-tidaknya solusi bagi setiap masalah dalam bisnis juga pasti kembali pada si pengusaha alias si business owner.

Makanya, salah satu nilai yang harus ditanamkan dalam diri seorang pengusaha adalah “semangat solusi” (mengambil istilah yang disampaikan Aa Gym). Semangat solusi ini tidak hanya dibutuhkan saat ada masalah, tapi sejak awal mula berniat membuka usaha dan selama dalam perjalanan mengembangkan dan memajukan bisnisnya, harus selalau ditekankan dan mengingatkan pada diri sendiri akan semangat solusi ini.

Bagi pengusaha pemula, ketika baru saja punya niat ingin punya usaha saja sudah banyak masalah. Mulai dari modal, suplier, barang / logistik, pemasaran, dll. Kalau memang sudah ada niatan, jangan sampai masalah tersebut tetap dianggap masalah, anda sendirilah yang bertanggungjawab untuk memecahkan masalahnya.

Seperti di blog saya ini, kalau ada kontes pertanyaan favorit, maka pemenangnya adalah pertanyaan tentang “saya ingin punya usaha, tapi tidak punya modal, bagaimana?” Itu memang masalah klasik Makanya bagi para calon pengusaha, itulah masalah pertama yang mesti diselesaikan. Kalau anda sudah bisa mengatasi masalah permodalan di awal dan tetap memegang prinsip semangat solusi, maka dalam perjalanan nanti apapun masalah yang datang akan dihadapi dengan tenang.

Semoga bermanfaat

Wassalam, Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
)|( Harapan itu masih ada….. )|(


Nggak Enaknya Kalau Cuma Investasi

April 2, 2009

Sebelumnya saya tidak ingin menggeneralisir tentang ‘investasi’. Investasi yang saya maksudkan disini sebatas pada penyertaan modal kita sendiri pada usaha orang lain.

Bagi kita yang sudah ingin sekali buka usaha, tapi belum menemukan usaha apa yang cocok dan belum ada keberanian untuk memulainya, sementara modal (dana) sudah ada, maka jalan investasi ini menjadi jalan yang mudah dan sepertinya menjanjikan.

Apalagi kita mendapat tawaran dari kerabat, saudara, atau teman sendiri tentang peluang usahanya dan kita sudah ditunjukkan hasil dari usahanya tersebut, kita akan mudah terpikat dan ingin cepat-cepat berinvestasi.

Ini juga terjadi pada diri saya dulu, saya ada modal tapi belum berani buka usaha sendiri. Maka biar uang tidak menganggur saya investasikan pada usaha teman saya yaitu konveksi pakaian adventure. Saya juga ditunjukkan bon-bon pembelian dan penjualannya, saya juga ditunjukkan pada stok barang yang ada di gudangnya.

Dengan perasaan yakin, saya investasikan beberapa juta rupiah, bahkan sudah dilakukan secara tertulis ada perjanjian bermaterainya. Dan memang dalam perjalanannya usahanya lancar, sayapun mendapatkan bagian keuntungannya. Tapi ternyata pada akhirnya modal tidak juga dikembalikan, dan ludes. Artinya dari investasi tersebut saya mendapatkan keuntungan yang lumayan, tapi modal amblas :(

Bisa menikmati profit tapi tidak bisa menikmati break even point atau balik modalnya.

Yang kedua beberapa waktu lalu saya juga diminta untuk menolong salah satu teman yang sedang kesulitan dana tapi sudah ada order untuk membuat suatu produk. Pertama-tama sich cuma pinjam uang, dan dikembalikan dan meminta maaf belum bisa ngasih bagian keuntungan karena profitnya tipis.

Sekali pinjam, berikutnya teman saya minta saya ikut menaruh modal dan dijanjikan bagi hasil 50:50 dari keuntungan bersih. Karena pengalaman dulu, saya bersedia tapi saya batasi jumlah penyertaan modalnya. Sedikit saja, biar kalau ada apa-apa tidak terlalu besar kerugiannya.

Dan benar saja setelah beberapa minggu, sampai hari ini belum ada pertanggunjawabannya, belum ada pembagian hasilnya, belum ada pengembalian modalnya. Untungnya cuma investasi dikit, he.. he.. he..

Moral ceritanya, kalau kita cuma manaruh modal pada usaha orang lain, tanpa kita diberi kewenangan atau kontrol atas usahanya tersebut, siap-siap saja modal tidak teralokasi dengan baik. Yang ideal memang menginvestasikan pada usaha yang sudah mapan, yang sistemnya sudah terstruktur dengan rapi, sehingga meskipun kita tidak diberi kontrol pada usahanya, kita bisa membaca laporan-laporannya dengan pasti.

Apalagi menginvestasikan pada usaha perseorangan seperti yang saya lakukan diatas, sebisa mungkin sebelum kita menginvestasikan, kita bisa ajukan penawaran untuk ikut mengelola usahanya atau setidaknya bisa ikut mengontrol pergerakan dananya. Sehingga kita bisa ikut menikmati enaknya berinvestasi.

Semoga bisa berinvestasi dengan bijak.

Wassalam, Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
)|( Harapan itu masih ada….. )|(


Saya ingin GOLPUT saja

Maret 31, 2009

Maaf kalau judulnya provokatif.

Saya cuma ingin cerita, kemarin saat kampanye akbar salah satu partai, ada pengunjung di toko saya yang menanyakan, koq nggak ikut kampanye.

Karena kami jualan jilbab, pelanggan tadi pasti mengira kami adalah bagian dari partai dimaksud. Istri sayapun menjawab (sambil bercanda), “nggak ach, saya mau GOLPUT saja”. Mendengar jawaban tadi, dari bahasa tubuhnya beliau tampak terkejut, dan menanyakan “kenapa?”

Maksudnya mau jadi “GOLongan Pengusaha Untung Teruss”, he.. he.. he..

Sayapun jadi mikir-mikir, emang ada ya pengusaha yang untung terus. Enak bener kalau bisa bener-bener jadi pengusaha yang untung terus.

Kalau melihat biografinya para pengusaha besar, pasti pernah mengalami masa-masa sulit, saat kebangkrutan, saat kehabisan modal, dan masa-masa serem lainnya. Dan ada yang mengatakan belum jadi pengusaha sukses kalau belum pernah gagal. Wuihh serem bener. Dan itu benar-benar menjadi momok bagi para pemula seperti saya.

Tapi kalau mau belajar dari sejarah, ternyata ada lho pengusaha yang untung terus, tidak pernah rugi sedikitpun. Cuma memang sering tidak dijadikan rujukan dalam literatur-literatur bisnis secara umum.

Beliau adalah pemuda dari Arab, yang sejak muda sudah malang melintang di dunia ekspor dan impor. Dan apapun yang diperjualbelikan akan menghasilkan keuntungan. Bahkan dalam urusan perniagaan, orang-orang yang membencinyapun masih menaruh rasa percaya kepada Beliau. Ya beliau adalah Muhammad SAW.

Semoga kita bisa mencontoh beliau.

Wassalam, Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
)|( Harapan itu masih ada….. )|(


Sekali Lagi tentang Modal Usaha dan Keuntungan Usaha (seri: 2)

Maret 10, 2009

Masih ada saja komentar dan pertanyaan yang menanyakan tentang modal awal membuka usaha bahkan ada yang menanyakan tentang keuntungan usaha. Yang terakhir saya terima barusan dari Cak Ricky dari Jawa Timur. Berikut email yang saya tulis dan saya pikir lebih baik dishare saja di sini. Semoga bisa memberi manfaat bagi yang lain.

PERTAMA: Mengenai besarnya modal awal usaha saya. Saya memang tidak ingin menuliskannya di blog, karena kesuksesan membuka usaha bukan diukur dari modal awalnya. Modal awal hanyalah potensi saja, sampai kita benar-benar bisa mengelolanya. Banyak koq yg diawali dari modal nol bahkan minus (hutang) dan bisa sukses punya bisnis milyaran. Dan sebaliknya banyak yang modalnya milyaran tapi habis tidak berbekas. Itu memang ekstrim kanan dan ekstrim kirinya. Kitalah yang akan menentukan sukses tidaknya mengelola modal, bukan besaran modalnya yang jadi tolok ukurnya. Kita jugalah yang memutuskan untuk berada di ekstrim kanan atau ekstrim kiri atau diantara keduanya.

Logika dan itung-itungan gampangnya dan kasarannya begini:

Kalau kita bisa mengelola modal Rp. 10.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 20.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 20.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 40.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 40.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 80.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 80.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 160.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 160.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 320.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 320.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 640.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 640.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 1.280.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 1.280.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 2.560.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 2.560.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 5.120.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 5.120.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 10.240.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 10.240.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 20.480.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 20.480.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 40.960.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 40.960.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 81.920.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 81.920.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 163.840.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 163.840.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 327.680.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 327.680.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 655.360.000
Kalau kita bisa mengelola modal Rp 655.360.000, kita akan lebih mudah mengelola Rp. 1.310.720.000
dan seterusnya.

Ini memang gambaran kasar dan logika ngawur saja, tiap level tentu punya cara dan seni yang berbeda untuk mengelolanya, tantangannyapun berbeda, hasilnyapun pasti berbeda-beda. Tapi coba bayangkan saja kalau kita mau dan bersedia melewati setahap demi setahap tersebut, masuk akal bukan bahwa memulai usaha tidak harus diawali dari modal yang besar, tapi dari yang kecil saja dulu.

Komputer saja tidak langsung ditemukan dengan processor dual core duo kan, tapi setahap demi setahap. Tapi dalam bisnis pakem tersebut tidak baku. Banyak sekali dalam berbisnis terjadi lompatan-lompatan quantum. Ada yang dari modal ratusan ribu, bisa dengan cepat melesat jadi bisnis milyaran. Dan yang sebaliknya juga bisa saja terjadi. Memang dunia bisnis identik dengan dunia penuh ketidakpastian, kita sendirilah yang ‘memastikan’ kalau ada ‘kepastian’ dalam berbisnis dan yang jelas potensinya sangat besar untuk bisa berhasil. Bisnis memang ibarat roller coster, naik turun dengan cepat dan tajam, tapi kita mesti yakin bahwa perjalanan bisnis kita selalu berjalan menuju tempat yang lebih tinggi (sukses).

KEDUA : Mengenai keuntungan usaha. Saya juga tidak ingin menulisnya di blog, karena keuntungan itu relatif. Diukur dari sudut yg berbeda akan memberikan hasil yg berbeda. Dengan hasil yg berbeda jelas akan memberi persepsi yang berbeda-beda bagi tiap orang.

Ada tujuan-tujuan yang lebih mulia yang harus kita raih dalam berbisnis daripada sekedar mencari keuntungan dan profit semata. Kalau yang dicari cuma untung, hanya akan mencetak orang yang mata duitan begitu. Jadi raihlah tujuan yg lebih tinggi dan lebih mulia daripada sekedar ngumpulin uang.

Sekali lagi, seni-nya membuka dan mengelola usaha bukan diukur dari modal awal dan profit doang, banyak faktor yg menjadikan bisnis lebih mulia, lebih nge-wong-ke bagi orang lain, lebih memberi manfaat bagi orang lain (bukankah sebaik-baik manusia adalah yg banyak memberi manfaat bagi orang lain), dsb. Kalau kita punya tujuan yg lebih tinggi insyaAlloh uang akan ngikut, profit akan ngikut, modal juga akan ngikut, buktikan saja…..

Wassalam, Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
)|( Harapan itu masih ada….. )|(


Sekali Lagi Tentang Masalah Modal Usaha (UANG)

Maret 6, 2009

Hmm… lama rupanya saya tidak menulis di Blog ini, lagi banyak pikiran, juga sedang mencoba mengeksplore bidang lain meski belum memberikan hasil. Sudah mencoba menulis beberapa artikel, tapi tidak sempat rampung dan tuntas, lagi buntu pikirannya. Hiks… nyari-nyari alasan nich ye…. Mohon maaf ya, buat yang sudah nulis komentar tapi belum ada komentar baliknya. Peace ach..

Mumpung lagi pingin nulis, berikut saya ambil salah satu komentar pengunjung di tulisan saya berjudul Bingung Menentukan Jenis Usaha:

“Pak Fuad. mungkin permasalahan saya sedikit beda. Saat ini saya ada sedikit modal mendekati 100 jutaan. tapi justru sampai saat ini saya masih belum ada ide wirausaha apa yang akan saya jalankan. saya sudah mulai mencari-cari informasi tentang segala usaha dari internet. Saat ini saya bekerja cukup sibuk sebagai manager di suatu perusahaan swasta, mungkin itu yang menyebabkan saya sulit menentukan usaha sampingan apa yang paling tepat. yang jelas saya tidak begutu tertarik dengan hanya berinvestasi. karena saya trauma dengan bisnis invetasi yang pernah saya jalani hingga kerugian say mencapai 200 juataan. Mohon masukan ide-ide usaha apa yang dapat saya lakukan.
Tigor”

Memang bener seperti yang dibilang Bung Tigor bahwa permasalahannya agak berbeda dengan yang lain. Dimana pada umumnya para calon pebisinis mengeluhkan tentang tidak punya modal, sementara Bung Tigor sudah ada modal tapi masih bingung mau dikemanakan dan dibagaimanakan modalnya.

Tapi menurut saya permasalahannya sama saja, bahwa inti permasalahan sebenarnya bukan pada modalnya (uang). Punya atau tidak punya modal sama-sama bingung bagaimana memulainya. (untuk selanjutnya yang saya maksud modal dalam tulisan ini adalah modal uang, biar ada persamaan persepsi, OK)

Yang tidak memiliki modal, sering mengeluh dan menyalahkan kondisi ketiadaan modal. Terus berangan-angan kalau saja punya modal pasti bisa buka usaha. Tapi apa memang demikian? Coba bayangkan, bagi yang tidak memiliki modal, terus tiba-tiba ada yang dermawan dan bersedia menyerahkan dananya milyaran rupiah untuk dijadikan modal usaha, apa ada kepastian dia bisa memulai usaha dan survive dan sukses. Tidak ada jaminan.

Banyak cerita, orang yang berlimpahan modal uang, berakhir dengan ditutupnya usaha. Kalau dari sisi orang yang punya modal, ada yang masih juga bingung bagaimana memulai usaha, biasanya karena bingung mau jenis usaha apa dan yang pasti akan takut kalau gagal bagaimana, takut kalau uangnya habis tak berbekas.

Sebenarnya yang perlu disadari bagi para pemula bisnis, bahwa dalam dunia bisnis memang penuh ketidakpastian dan penuh masalah, makanya rewardnya dan profitnya juga sangat menjanjikan. Dalam hal ini yang perlu ditanamkan pertama kali adalah “SEMANGAT SOLUSI” dan semangat “PROBLEM SOLVER”. Karena baik sebelum memulai maupun selama proses menjalankan usaha kita akan selalu dihadapkan pada masalah dan siapa yang paling bertanggungjawab menyelesaikan masalah tersebut, adalah kita sendiri sebagai business owner.

Yang bisa saya sarankan baik untuk Bung Tigor maupun rekan lain yang merasa bermasalah dengan modal adalah semangat 3M (Mulai dari yang kecil, Mulai dari yang mudah, dan Mulai sekarang juga).

Kita buat ilustrasi atau pengandaian saja dech. Kalau kita punya modal 100 juta, gunakan saja dulu sebagian. Buka usaha cukup dengan modal 10 jutaan dulu atau lebih kecil lagi dari 5 jutaan mungkin. Pilih usaha yang berpotensi dikembangkan, sehingga kalau yang kecil tadi bisa bertahan, survive, dan menguntungkan, bisa cepat dikembangkan dan disuntik dengan sisa modal yang kita punya.

Kalau kita tidak bisa menjalankan sendiri, cari usaha yang mudah dijalankan oleh orang lain. Cuma pengawasan harus ditangan kita. Mimimal aliran kas, aliran dana, atau cash flow kita yang megang sendiri. Karena aliran uang dalam bisnis ibarat aliran darah dalam tubuh. Kalau bocor bisa membunuh usaha kita sendiri.

Misalnya saja, mulai dengan membuka bisnis fotokopian. Saya tidak tahu persis berapa modal yang dibutuhkan. Tapi sekedar contoh, misalnya butuh dana 20 juta di awal. Mulai saja dulu dari 20 juta rupiah, dan serahkan pada orang lain untuk menjalaninya, kita yang membentuk sistemnya dan kita sendiri yang harus mengawasi. [perhatian-perhatian... ini hanya ilustrasi lho, saya tidak punya pengalaman buka usaha fotokopi]

Kalau dengan modal 20 juta, usaha fotokopi tersebut bisa jalan, bisa survive, dan bisa menguntungkan. Kita susun sistemnya lebih rapi lagi, baru kemudian kita perbesar, kita suntikkan modal yang lebih besar lagi, kita tambah mesin fotokopinya, kita tambah tenaga kerjanya, dan kita buat diversifikasi usaha.

Setidaknya dengan memulai dari yang kecil, dari modal yang sebagian ini, resiko kita akan berkurang. Kalaupun usahanya kandas, modal yang dipertaruhkan baru sebagian, dan kita mendapat satu pengalaman atau pembelajaran yang bisa dijadikan masukan untuk mengucurkan modal berikutnya di usaha berikutnya.

Strategi seperti inilah yang (entah sengaja atau tidak sengaja, he.. he.. he..) saya terapkan di Toko Addina dulu. Pada saat awal membuka, saya tidak menggunakan seluruh dana di tabungan. Ibaratnya tidak menaruh seluruh telur dalam satu keranjang. Dengan modal yang kecil dulu, kita bisa mengetest pasar, mulai membentuk sistem, menguji sistem, dan mengetest karyawan. Sementara cash flow saya sendiri yang memegang, tiap hari dicek laporan penjualannya dicocokkan dengan fisik uangnya. Setelah semua berjalan seperti harapan, baru modal ditambah lagi, ditambah lagi, dan ditambah lagi. Bahkan kalau benar-benar menguntungkan dan masih ada potensi, juga kita sudah yakin, kita bisa pinjam dana pihak ketiga untuk ekspansi.

Terus bagi yang tidak punya modal, mulai dari yang kecil misalnya bisa saja dengan memulai bisnis menggunakan modal orang lain. Pinjam saja dari IMF (Ibu, Mertua, atau Family), kecil-kecil dulu. Misalnya pinjam 500-ribu buat belanja busana muslim atau jilbab, pastikan yang kita belanjakan sudah ada permintaan dari teman, tetangga, atau kerabat yang lain. Kalau saja kita bisa mengambil margin 20% kita akan dapat profit sekitar Rp.125 ribu. Profit ini jangan digunakan dulu untuk kebutuhan lain. Karena kita baru saja memulai memutar modal, jangan sampai modal yang baru sekali diputar sudah dimakan, harus disiplin gitu.

Dengan memulai dari yang kecil-kecilan ini, yang penting adalah kita bisa mulai GET THE FEELING OF BUSINESS. Orang sering bilang insting bisnis. Insting bisnis inilah yang kita asah di awal-awal dengan modal yang kecil, yang terjangkau, dan resikonya kecil. Kalau sudah GET THE FEELING, maka insyaAlloh kita akan siap dengan bisnis yang lebih besar.

Masalah cash flow, kenapa harus kita yang memegang, karena inilah yang membedakan dengan kita investasi di usaha orang lain. Kalau kita investasi pada usaha orang lain, kita belum tentu diberi kesempatan untuk mengontrol cash flow usahanya. Kita mungkin secara rutin dapat pembagian keuntungan, tapi kita tidak tahu di dalamnya apa benar-benar sehat atau usahanya sedang berdarah-darah alias dananya bocor kemana-mana. Secara diatas kertas mungkin investasi kita menguntungkan. Tapi pada saat kita ingin mengambil modal kembali atau pada saat modal harus dikembalikan, belum tentu pemilik usaha siap mengembalikan.

Karena saya juga punya pengalaman yang sama dengan Bung Tigor, ikut investasi di usaha orang lain, saat pembagian profit, bisa dapat profitnya, tapi saat pengembalian modal, ternyata cuma tinggal separuhnya. Kemana yang separuhnya, wallohu a’lam, hanya tuhan yang tahu. Karena kita tidak diberi kesempatan mengontrol cash flownya.

Demikan, untuk sementara, semoga bisa memberi masukan buat Bung Tigor dan pembaca semuanya, InsyaAlloh tulisan ini bersambung. Nantikan lagi ya episode berikutnya, he.. he.. he..

Wassalam & Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
)|( Harapan itu masih ada….. )|(


Menantang Kemampuan untuk Berpikir Besar

Januari 13, 2009

Konon dalam perdagangan organ otak internasional, organ otak orang Indonesia paling mahal harga. Kalau otak milik orang Jerman, Jepang, dan lainnya dihargai sangat murah karena selama hidupnya sudah digunakan sampai habis-habisan. Jadi sudah soak. Sementara otak orang Indonesia itu masih orisinil karena selama hidupnya jarang digunakan. :D

Bukan maksud saya ingin meledek bangsa sendiri, saya bangga sebagai orang Indonesia, karena sebenarnya orang Indonesia itu sangat-sangat kreatif. Dan sebenarnya sangat-sangat layak memimpin DUNIA. Barangkali kalau boleh menyalahkan, lingkunganlah yang membuat otak kita jarang dipakai. Obatnya cuma satu, kita sendiri yang harus mengoptimalkan otak kita.

Selama beberapa minggu ini saya kurang aktif menanggapi tanggapan dan komentar teman-teman pembaca di blog saya. Karena ada beberapa yang cukup menjengkelkan karena sudah ada jawabannya, masih juga ditanyakan. Saya cuma bisa ngelus dada dan bilang A.B.C.D!! (Aduh Booo Capek Dech) ha.. ha.. ha..

Sementara ada yang membuat saya merasa tertantang, beberapa pertanyaan dan komentar pembaca saya pikir sangat berbobot dan membuat saya mengernyitkan dahi. Terus terang saya merasa, kayaknya para pembaca lebih pinter dari saya dech. Suweerrr…..  Aduh koq masih pada nanya sama saya yang masih segini-segini aja, he.. he.. he..

Yang saya lakukan, saya banyak melakukan brainstorming, sekalian untuk memikirkan kemajuan usaha saya. Juga membaca literatur, buku, ebook untuk mengisi ruang kosong di rongga tengkorak saya. Tidak lupa beberapa link di google mengarahkan saya pada audiobook dari tokoh-tokoh terkenal yang sepertinya menjadi vitamin baru buat otak saya.

Satu hal yang menjadi pikiran saya terus terpacu, sepertinya selama ini, kita (saya khususnya) masih sangat takut untuk BERPIKIR BESAR ya. Kita mungkin sudah memikirkan bagaimana untuk secepatnya keluar kerja dan punya usaha yang omsetnya milyaran rupiah. Dan kita sudah menganggap itu adalah PIKIRAN BESAR iya kan.

Tapi saat berkaca pada para mentor virtual saya (para penulis buku dan tokoh dalam audiobook) sepertinya pikiran yang sudah saya nobatkan sebagai PIKIRAN BESAR tersebut, ternyata belum ada apa-apanya.

Saya juga jadi ingat pesan Pak Agus dari Action Coach waktu saya mendapat konsultasi di Action, “kita itu kalau berpikir bisnis, cuma bisa memikirkan pasar di sekitar toko kita saja, cobalah untuk memikirkan dunia sebagai pasarnya”. Hmmmm barangkali kita harus menanamkan pikiran yang lebih besar lagi ya, misalnya “Bagaimana saya bisa menaklukkan dunia?”. Isn’t that interesting. Yuk kita regangkan lagi otot-otot otak kita, kita buka lagi pembuluh-pembuluhnya, untuk memberi ruang bagi PIKIRAN-PIKIRAN yang lebih BUESAR lagi.

Salam FUNtastic & Merdeka

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Masalah-masalah ketika berjualan jilbab dari Rumah

Desember 9, 2008

Saya ambil dari arsip email saya yang saya kirim untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang permasalahan yang dihadapi pembaca blog saya ketika baru memulai berjualan jilbab dari rumahnya. Semoga bermanfaat.

1. Mengelola modal yang terbatas, yang kadang-kadang terpakai untuk keperluan sehari-hari?

Mengenai modal yang tercampur dengan kebutuhan keluarga, kayaknya ini masalah klasik. Solusinya cuma satu yaitu harus disiplin memisahkan uang usaha dan uang keluarga. Kalau dari awal, misalnya, uang Rp. 1 juta sebagai modal, maka 1 juta itu tidak bisa diutak-atik untuk kebutuhan lain. Harus muter terus di bisnis. Sementara untuk kebutuhan dadakan usahan sisihkan dari laba / keuntungan penjualannya. Kalau belum dapat untung, harus berani dan disiplin memaksakan diri untuk tidak mengambil dari modal usaha.

Untuk itu perlunya pencatatan yang rapi mengenai uang yang masuk, penggunaannya, saldonya, hutang piutangnya, dll. Syukur2 bisa menngikuti prinsip2 akuntansi, tidak perlu yang rumit-rumit, yang sederhana saja. Asalkan dari catatan tersebut kita bisa melihat dengan jelas jalannya usaha dan posisi terakhirnya.

2. Bagaimana mengatasi lokasi rumah yang tidak strategis

Buka usaha di tempat tidak strategis, harus diiringi upaya pemasaran yang gencar. Perlu didukung promosi yang terus menerus. Tujuannya agar orang-orang di sekitar kita tahu kalau di rumah kita ada usaha yang bisa memenuhi kebutuhan mereka akan jilbab dll. Promosi tidak mesti harus mahal, bisa dari mulut ke mulut, ketika kita sedang berkumpul dalam acara pertemuan, arisan, kondangan, pengajian, dll.

Alternatif lain bisa buka usaha online, untuk strategi ini silahkan bisa belajar dari yang sudah jalan dan sudah ahli, karena saya sendiri belum mempraktekan bisnis online.

3. Bagaimana caranya agar pembeli mau membeli secara cash

Agar pembeli mau beli secara cash, kita harus tegas menolak pembelian secara kredit. Kemudian berikan penawaran-penawaran yang menarik dan istimewa kalau orang mau beli cash akan dapat keuntungan tambahan (ingat prinsip nilai tambah). Misalnya kalau beli cash RP 50.000 dapat hadiah sabun colek, kalau beli Rp 100.000 cash, dapat hadiah sabun mandi dll. Tentunya hadiahnya jangan sampai lebih mahal dari keuntungannya.

Kalaupun harus ada yang diberi keringanan membeli secara kredit, kita harus pilih-pilih memberikan kredit pada orang. Prinsipnya kalau kita berani ngasih kredit, kita harus berani menagihnya. Kalau kira-kira kita nantinya tidak bisa / tidak berani menagih atau ada potensi kesulitan menagih, lebih baik lupakan saja penjualan kreditnya. Mending berurusan dengan orang lain yang lebih bisa dipegang amanahnya.

4. Bagaimana caranya mendapatkan modal usaha untuk menambahi modal yang pas-pasan

Bagi kita yang modalnya sudah pas-pasan, menurut saya yang penting kita disiplin mengelola modal yang benar2 sudah ada dalam genggamban kita. Tidak perlu muluk-muluk memimpikan pinjaman lunak dalam jumlah besar dari pihak lain. Kelola dulu bisnis kita sehingga benar-benar kelihatan untungnya, insyaAlloh nanti tambahan modal akan datang lebih mudah lagi.

Kalaupun butuh dana tambahan, ini ada beberapa cara yang relatif aman untuk diambil bagi kita sebagai pemula:

- sisihkan sebisa mungkin dari penghasilan kita sebagai karyawan atau dari penghasilan suami sebagai karyawan. Tentunya kalau kita pasangan hidup kita berstatus sebagai karyawan. Karena kebanyakan masalah yang dialami para karyawan sebenarnya bukan hanya pada jumlah gaji yang kecil, tapi karena kita yang kurang bisa mengelola sehingga selalu besar pasak daripada tiang. Kalau kita disiplin mengelola dan bisa berhemat, pasati bisa didatap modal tambahan

- pinjam dari saudara / kerabat. Jangan dulu berurusan dengan Bank atau institusi keuangan lain, sebelum kita benar2 bisa menghasilkan laba dari usaha. Kalau bisa pinjam dulu dari orang-orang dekat kita sewajarnya dan harus bisa memastikan atau punya keyakinan kita bisa mengembalikan pinjaman tersebut.

- membantu menjualkan produk orang lain (kita sebagai sales), dll Sebagai sales praktis bisa dilakkan dengan modal yang sangat kecil. Tinggal tentukan produk atau jasa yang ingin kita bantu pemasarannya. Itung-itung sekalian belajar berbisnis lewat bisnis orang lain dulu.

Yang pasti bagi para pemula, modal awal boleh kecil, asal kita disiplin memutar kembali modal awal dan menyisihkan sebagian keuntungan untuk modal kembali, insyaAlloh akan bertambah terus modalnya dan semakin besar usahanya. Yang menghambat adalah kita memakan / menggunakan modal untuk keperluan lain.

Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastic & Merdeka!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”