Lipat Gandakan Uang untuk dijadikan MODAL

Nopember 30, 2006

Bagi yang pingin punya usaha, tapi nggak cukup modal, mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi.

Setelah membaca tulisan-tulisan di beberapa blog dan milis, ada kondisi yang boleh dibilang kontradiktif. Di satu sisi, mereka yang sudah terjun berbisnis menjadi pengusaha, sering menekankan bahwa modal uang bukanlah faktor penentu untuk memulai usaha. Sementara mereka yang belum punya usaha, banyak yang merasa terhambat dan takut memulai usaha karena tidak punya modal uang.

Bagi saya sendiri, modal uang memang penting. Kayaknya kecil kemungkinan kami untuk berani membuka kios Addina (Kios Jilbab / kerudung Permata & Rabbani ) kalau saat itu kami tidak punya cukup uang di tabungan. Namun setelah menjalankan usaha sendiri, saya jadi percaya pada mereka yang mengatakan bahwa “modal uang bukan faktor penentu untuk memulai usaha“.

Faktor yang lebih menentukan adalah sikap mental kita, sifat ke-wira usaha-an kita, keyakinan kita, kemauan untuk belajar, dan faktor lain yang justru bukan semata-mata materi. Karena berapapun besarnya modal yang ada, kalau faktor lainnya tidak mendukung maka modal bukannya berkembang-biak malahan bisa cepat habis.

Masalah modal sebenarnya bukan pada ada dan tidaknya modal. Yang jadi masalah sebenarnya adalah cukup tidaknya modal yang sudah ada. Karena saya yakin, anda yang baca tulisan ini pasti punya uang, berapapun jumlahnya. Nah sebenarnya modal uang ada, tapi kita merasa tidak cukup. Mungkin karena bisnis yang kita harapkan dan kita impikan belum terjangkau dengan uang yang ada.

Sekarang tinggal bagaimana uang yang sudah ada ditangan, bisa dikembang-biakkan menjadi besar dan “cukup untuk memulai usaha.”

Dalam mengembangbiakkan uang berlaku hukum “High Risk High Return - Low Risk Low Return”. Kalau uang ditabung atau didepositokan di Bank atau diinvestasikan di lembaga investasi, mungkin sekali uangnya berkembang, tapi sangat lambat karena memang resikonya kecil.

Nah untuk mendapatkan kecepatan pertumbuhan uang yang diinginkan, kitalah yang harus mengambil resiko. Kita harus mengembang biakkan sendiri uangnya agar bisa cepat tumbuh sesuai keinginan. Kita harus memutar uang sendiri, atau paling tidak, perputaran uang harus dalam pengawasan dan dalam kendali kita. Caranya ya harus mulai menjalankan usaha sendiri, berapapun jumlah modal uang yang ada.

Kalau masih takut juga memulai usaha. Langkah termudahnya adalah berjualan. Toh dalam menjalankan bisnis, aktifitas penjualan / sales juga sangat penting. Terus apa yang harus dijual? Apa saja, sesuaikan saja dengan uang yang sudah ada. Kalau sudah bisa berjualan, porsi keuntungan jangan dikonsumsi, putar kembali sebagai modal. Kalau ini terus dijalankan InsyaAlloh uang akan berlipat-lipat dan modal untuk membuka usaha sendiri sesuai yang diimpikan pasti akan didapat.

Kalau kita jeli, kita bisa melipatgandakan uang melebihi kecepatan bunga deposito bank, melebihi kecepatan harga saham. Tinggal keseriusan dan ketekunan kita yang menentukan.

Sebagai ilustrasi, kalau saat ini cuma punya uang Rp.10.000 dan ingin punya modal Rp.500.000.000, maka putar saja uang sepuluh ribu tersebut, belanjakan barang untuk dijual kembali, mark up harganya, dan seluruh hasil penjualan diputar lagi. Keuntungan jangan dikonsumsi tapi putar terus. Misalkan harga jual dinaikkan atau di-mark up sebesar 50%, maka dalam 27 kali perputaran modal, modal 500 juta mungkin sekali didapat.

Untuk memutar uang Rp 10.000 bisa dilakukan dengan menjual mainan anak-anak, makanan ringan, minuman dll. Namun untuk memutar modal yang sudah besar, tentu dibutuhkan cara atau strategi yang berbeda. Misalnya modal sudah satu juta, atau sepuluh juta, atau seratus juta tentu beda cara memutarnya dengan ketika modal masih sepuluh ribu.

Hal ini pula yang kami lakukan pada Kios Addina, hasil penjualan jilbab, kerudung, mukena, busana muslim, dan aksesoris kami belanjakan kembali untuk membeli barang. Sampai saat tulisan ini di buat, kami belum menikmati keuntungan penjualan di Kios. Keuntungan hanya kami kurangi untuk hal-hal yang memang harus dibayar: gaji karyawan, biaya listrik, biaya promosi, dll.

Alhamdulillah dengan cara ini barang dagangan kami terus bertambah. Mudah-mudahan ini bisa terus kami lakukan, sehingga kios kami bisa terus tumbuh besar dan bisa memberi manfaat bagi sebanyak mungkin rakyat Indonesia.

Salam
Fuad Muftie
“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”
Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani™ & PerMata’s),  Busana, dan Aksesoris
Jl. Bunga Rampai X Perumnas Klender, Jaktim


Blog-ku masuk “WordPress.com Blogs of the Day”

Nopember 28, 2006

Hari ini coba explore WordPress.com dan membuka halaman Blogs of the Day (http://botd.wordpress.com/?lang=id).

Surprise juga blog saya masuk jajaran 100 Top Blogs-nya WordPress.com dari Indonesia. Alhamdulillah blog saya bisa menempati rangking 51. Semoga bisa menjadi Top-nya Top Blog.

Saya sempatin juga melihat statistik, ternyata banyak sekali informasi yang disediakan WordPress.com mengenai blog kita sendiri yaitu dari mana saja pengunjung datang, jumlah kunjungan hari ini dan kemarin, dan jumlah kunjungan pada tiap artikel / posting.

Kebanyakan yg datang ke blog saya mencari informasi tentang jilbab, jilbab rabbani, jilbab permata, bisnis jilbab, bisnis, dan memulai usaha. Ini yg saya harapkan dari blog ini yaitu bisa bermanfaat bagi yang baru mau buka usaha dan pingin cari motivasi untuk membuka usaha.

Semoga banyak bermunculan pengusaha baru, pebisnis baru, entrepreneur baru dari Indonesia. Dan majulah Indonesia.

Salam
Fuad Muftie


SEMINGGU JADI PENGUSAHA *)

Nopember 28, 2006

Hari ini (20 September 2006) adalah hari ke tujuh, genap seminggu, sejak pembukaan kios “Addina” : kios jilbab, kerudung, busana anak muslim, dan aksesoris (Kios Addina kami buka tanggal 14 September 2006). Kios mungil yang kami buka di Jalan Bunga Rampai X Perumnas Klender Jaktim ini bagaimanapun telah mengubah jalan hidup saya, istri saya, dan keluarga kami. Kami yang selama ini berorientasi “kuliah dan cari kerja“, harus mulai memikirkan dan mengelola usaha sendiri, usaha yang dirintis dari awal, nol pengalaman.

Usaha ini jelas masih hijau dan masih bayi. Dengan optimisme serta visi yang kuat insyaAlloh dan mudah-mudahan usaha ini bisa bertahan dan berkembang.

Tujuh hari mengikuti perkembangan usaha kecil ini, kami banyak mendapat pelajaran berharga, pelajaran yang tidak kami diperoleh dari bangku kuliah, dari seminar, maupun dari workshop. Pelajaran yang hanya bisa diperoleh dengan mengalaminya sendiri.

Banyak pelajaran yang masuk akal dan banyak pula pelajaran yang tidak masuk akal, tidak logis, aneh dan bahkan kami sendiri tidak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata maupun dalam tulisan. Itulah mungkin yang dinamakan keajaiban, merupakan proses pembentukan keyakinan baru, dan menjadi hikmah kehidupan yang akan selalu menyertai kehidupan kami selanjutnya.

Ada beberapa pelajaran yang ingin kami bagikan pada kesempatan kali ini antara lain:

# Guru terbaik adalah konsumen dan pelanggan #

Sebelum memulai usaha kecil ini kami hanya meraba-raba keinginan konsumen dengan merefleksikan keinginan dan kebutuhan kita sendiri. Kami menyediakan barang-barang seperti yang kami butuhkan dan kami inginkan. Kami juga bertanya-tanya kepada suplier tentang barang-barang yang laris. Dan dengan semangat kami meng-iya-kan dan mengikuti kata suplier.

Namun begitu kios dibuka, pelangganlah yang memberitahu kami tentang keinginan / kebutuhan mereka. Konsumenlah yang mengkritik stok barang yang kami sediakan, yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Akhirnya kami harus bolak-balik mencari suplier barang yang benar-benar dibutuhkan konsumen. Ini menjadi seni tersendiri dalam usaha ini.

Kami juga mulai senang kalau ada calon pelanggan yang cerewet, minta ini - itu, nanya ini - itu. Karena mereka sangat murah membagikan informasi baik ke kita maupun menyebarkan informasi kios kita ke orang lain (iklan gratis). Jadi kami perlakukan pengunjung kami sebagai guru yang harus dihormati dan didengar, juga sebagai raja yang harus dilayani.

# Jadi pengusaha harus terus optimis, apapun yang terjadi dengan usahanya #

Hari pertama membuka kios, omset hanya mencapai Rp. 150.000, padahal dalam hitungan minimal harus mendapat Rp.400.000-an perhari agar kios bisa bertahan dan karyawan tetap mendapat gaji. Hari pertama ini membuat istri saya down dan mulai berpikir pingin ganti usaha yang lain.

Untungnya kami sekeluarga bisa meyakinkan istri saya bahwa “hari pertama buka usaha, dapat segitu mah sudah untung!” Banyak koq yang berhari-hari buka usaha belum dapat pembeli. Dan Alhamdulillah keesokan harinya omset naik dan berhasil membuat istri saya kembali optimis.

Karyawati kami juga ikut mengalami kekhawatiran saat seharian jarang pengunjung yang datang. Tapi akan segera terobati kalau pengunjung mulai berdatangan. Yah, itulah seninya mengelola optimisme dalam berdagang. Kadang naik kadang turun, namun mental ini setidaknya harus diupayakan terus membaik, terus naik dan terus di atas.

……

Itulah secuil ilmu yang bisa kami peroleh selama seminggu menunggui “bayi” kami. Dan jelas belum ada apa-apanya dibanding pengusaha yang sudah mengalami berbagai musim dan berbagai cuaca, yang sudah naik bukit dan turun lembah. Banyak juga ilmu yang sampai saat ini masih menjadi puzzle, menunggu pemecahannya.

Tujuh hari merupakan waktu yang teramat sangat singkat untuk menilai jalannya suatu usaha, tapi tujuh hari itu pula yang telah membawa kami ke dunia yang baru, yang tadinya amat sangat menakutkan bagi kami. Inilah awal petualangan kami.

Kami terus berharap mudah-mudahan kami bisa terus menangkap hikmah-hikmah dari usaha kami dan semoga usaha ini bisa berkembang, bertumbuh, dan bisa memberi kontribusi bagi bangsa Indonesia.

Salam

Fuad Muftie
Kios “Addina” : Jilbab, kerudung, busana anak muslim, aksesoris
Jalan Bunga Rampai X Perumnas Klender Jaktim

*) Artikel ini semula saya posting di http://fuadmuftie.blogspot.com Kembali saya posting disini agar bisa lebih bermanfaat, karena blog saya yg lama sudah jarang sekali dikunjungi.


Lonjakan Omset di Saat Sepi

Nopember 27, 2006

Menginjak bulan ketiga sejak membuka usaha dan menjalankan bisnis penjualan jilbab & busana muslim, kami memasuki masa penurunan omset. Dibanding bulan-bulan lalu di saat bulan Ramadhan dan Iedul Fitri, omset kios jelas menunjukkan penurunan. Ini sudah kami prediksi berdasarkan logika, informasi di milis, dan informasi dari suplier yang sudah banyak makan asam garam bisnis garment.

Masa-masa sepi kami sikapi dengan tenang & biasa-biasa saja. Kami manfaatkan masa sepi ini untuk berbenah, menginventarisir ulang barang dagangan, survey suplier baru, mempercantik kios, memperbaiki sistem dll. Disamping itu kami juga mulai menambah koleksi barang dagangan, dan Alhamdulillah kami banyak juga didatangi suplier yang bersedia menitipkan barang untuk konsinyasi.

Diluar prediksi kami, beberapa kali kios kami mengalami lonjakan omset (harian), yang bagi kami cukup besar. Omset yang besarnya sama dengan yang pernah kami dapatkan pada bulan Ramadhan saat ramai pembeli. Ini menjadi semacam “peringatan dini” bahwa ada potensi terpendam yang menunggu untuk digali lagi.

Jika di saat-saat sepi, kami bisa mendapat omset yang tinggi, harusnya di bulan-bulan ramai kami bisa mendapat yang lebih lagi. Setelah diskusi dengan istri, ada beberapa kemungkinan faktor-faktor yang membuat omset kios bisa melonjak, antara lain:

# Dukungan pelanggan setia. Alhamdulillah diawal-awal beroperasi, kios kami bisa memberikan kesan yang mendalam bagi pengunjung, sehingga sebagian dari mereka telah menjadi pelanggan setia kami. Disamping itu kehadiran kios kami banyak memberi kemudahan bagi pelanggan karena tidak perlu jauh-jauh lagi mencari kebutuhan jilbab dll.

Beberapa diantara pelanggan kami bahkan bisa mengambil untung dengan menjual kembali barang yang dibeli dari kami, karena katanya barang yang kami jual memang bagus dan murah. Di saat-saat sepi inilah pelanggan-pelanggan setia kami ini yang banyak memberi masukan omset.

# Datangnya pelanggan baru. Banyak dari pengunjung kios kami yang baru pertama kali datang pasca lebaran. Dan setelah melihat barang dan harga yang kami tawarkan, mereka ada yang menyesal “Kenapa nggak dari Ramadhan kemarin tahu ada kios ini.” Karena waktu Ramadhan mereka banyak membeli barang yang sama dengan harga yang lebih tinggi.

# Faktor lainnya: Jelas kami yakini ada tangan Tuhan dari kejadian ini. Ada rencana Alloh SWT yang belum kami ketahui dari adanya fenomena lonjakan omset di saat sepi ini. Hal ini membuat kami semakin yakin bahwa pintu rejeki dari berdagang memang banyak dan sering terbuka dengan tanpa disangka-sangka dan tanpa diduga-duga.

Ini juga semakin meyakinkan kami bahwa pendapatan yang bisa diperoleh dari berdagang sangat tidak terbatas. Tapi kami kembali ingat bahwa berdagang / bisnis yang kami lakukan bukan untuk MENCARI rejeki tapi untuk MENJEMPUT rejeki. Karena kata Aa Gym “Dengan mencari-cari rejeki belum menjamin kita bisa menemukan rejeki karena belum tentu rejekinya ada; Tapi dengan menjemput rejeki, pasti rejekinya sudah ada, tinggal cara / strategi bagaimana kita menjemputnya yang akan menentukan bertemu atau tidak dengan rejeki kita”.

Salam
Fuad Muftie
“Segala yang BESAR selalu diawali dari yang kecil
Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani™ & PerMata’s),  Busana, dan Aksesoris
Jl. Bunga Rampai X Perumnas Klender, Jaktim


Penting Nggak Penting : Nama Kios / Toko

Nopember 24, 2006

Apalah arti sebuah nama? Pepatah itu sudah sering sekali kita dengar. Tapi bagi si pemilik nama, Nama sangatlah berarti. Salah menyebut nama seseorang bisa  membuat orang tersinggung, tidak senang, dan merasa kurang diperhatikan. Begitupun dengan kios, bagi kami penting sekali memberi nama kios.

Kios kami yang terletak di Jl. Bunga Rampai X Perumnas Klender, kami beri nama Kios Addina. Nama ini kami ambil dari nama belakang anak kami “Qinthara Muftie Addina“. Addina sendiri kurang lebih berarti “yang baik agamanya”.

Nama itupun kemudian kami pajang di depan kios, di spanduk, di kartu nama, dan di label harga barang.

Bagi kami nama itu sudah sangat akrab dan simple. Namun bagi orang lain ternyata tidak mudah menyebut Addina. Ada yang menyebutnya Adinda dan sebagian lainnya menyebut Annida. Heran juga, sudah ditulis gede-gede masih salah sebut juga.

Memang manusia sering membuat penafsiran sendiri akan sebuah fakta di lingkungannya. Faktanya, nama kios kami adalah “Addina”, tapi orang lain menafsirkan sebagai Adinda dan Annida. Dalam proses berpikir, dikenal istilah distorsi informasi. Jadi fakta akan sebuah nama “Addina” bagi sebagian yang lain terdistorsi menjadi Adinda dan Annida.

Dalam dunia akademis, ini bisa  menjadi pembahasan tersendiri. Dan dalam bisnis ini bisa menjadi peluang sendiri. Orang akan mudah membeli produk-produk yang mirip dengan produk yang sudah terkenal namanya karena mudahnya orang terdistori.

Contohnya, setelah merk Extra Joss terkenal maka muncul Ener Joss dan joss-joss lainnya (bahkan presiden Amerika Serikat-pun ikutan nge-Joss dengan mengabadikannya pada namanya : Joss Bush, he.. he.. he..). Contoh lain Coca Cola, banyak sekali di “plesetin” menjadi Cola-cola, Cora-Cola, dll. Tentunya dengan jenis huruf dan warna yang sama atau mirip. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Mereka ikut mendompleng nama yang sudah tenar dan banyak juga yang sukses meskipun tidak sesukses yang diikutinya.

Kembali ke nama kios kami. Dengan adanya fakta bahwa tidak sedikit orang yang salah menyebut nama kios kami, kami jadi berpikir berarti nama kios kami belum tertancap kuat di benak konsumen. Dibanding dua nama “Adinda” dan “Annida”, nama kios kami kalah tenar. Langkah selanjutnya bagi kami mungkin harus lebih gencar lagi berpromosi dan memperkenalkan nama kios kami dengan sebaik-baiknya.

Tapi “apalah arti sebuah nama”, yang penting bisnis jalan terus, berkembang, dan terus membesar.. he.. he.. he…

Salam
Fuad Muftie
Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani™ & PerMata’s),  Busana, dan Aksesoris
Jl. Bunga Rampai X Perumnas Klender, Jaktim

“Berkualitas, Murah lagi…”


Bisnis Busana Muslim dimata Pengusaha Non Muslim

Nopember 23, 2006

Kami memang tergolong baru dalam bisnis busana muslim. Kami masih perlu banyak belajar untuk memahami seluk-beluk bisnis busana muslim.

Teringat dua bulan yang lalu, kami sama sekali belum punya gambaran bagaimana situasi dan kondisi pasar busana muslim. Kami hanya mengikuti feeling saja terjun di bisnis ini. Kami tidak tahu dimana mendapatkan suplier yang tepat untuk memulai.

Saya sering mencari informasi suplier jilbab dan busana muslim dari milis dan dari iklan di majalah ummi. Namun yang ada dalam benak kami, suplier garment adanya ya di Pasar Tanah Abang dan Mangga Dua. Kamipun sering menjelajahi kedua sentra garment tersebut. (Oh ya sekarang kami sudah nambah lagi referensi pasar-pasar garment : Jetinegara & Cipulir. Dan menyusul pasar-pasar yang lain).

Dalam pencarian itu ada satu hal yang sangat membuat kami cukup surprise dan terkejut. Semula kami berpikir kalau pemain-pemain bisnis busana muslim pasti orang muslim. Di luar dugaan, kami sering menemukan para penjual busana muslim bukanlah orang muslim, bahkan tidak cuma satu dua, tapi banyak.

Entah mereka hanya mengikuti trend bulan puasa dan lebaran, saat busana muslim dibutuhkan saja atau memang benar-benar fokus di busana muslim. Yang jelas saat istri saya nanya-nanya ke salah satu dari mereka, ternyata memang bisnis mereka full fokus di busana muslim dan aksesorisnya.

Ini menunjukkan bahwa pasar busana muslim saat ini memang masih menjanjikan. Sampai-sampai orang diluar orang muslim mau mengabdikan hidupnya untuk berjualan busana muslim. Terlepas dari motif mereka yang mungkin hanya mengejar keuntungan.

So, bagi anda yang muslim dan mau terjun di bisnis busana muslim dan sekitarnya, jangan mau kalah dong dengan warga non muslim ini.

Salam
Fuad Muftie


Tipe-Tipe Pengusaha

Nopember 22, 2006

Kemarin saya membaca sebuah email di bisnis-smart@yahoogroups.com mengenai keinginan seseorang untuk memulai usaha tetapi tidak punya channel atau relasi.  Memang banyak sekali alasan yang menghambat orang untuk memberanikan diri membuka usaha. Ada yang karena tidak punya modal, tidak punya channel, tidak punya waktu luang dsb.

Kemudian saya beranikan diri menjawab dan dalam sebagian jawaban saya, saya ibaratkan bahwa keinginan membuka usaha itu seperti benih atau biji. Bayangkan kalau biji bisa ngomong dan mengatakan “Saya ingin sekali menjadi pohon, tapi saya tidak punya daun, gimana dong?” Kemudian biji itu mungkin akan menyalahkan keadaan yang lainnya, yang belum punya akar, belum punya batang, nggak punya bunga dll.

Untungnya biji nggak bisa protes. Asal mau mengikuti proses, biji itu bisa tumbuh, punya daun, batang, akar, dan bahkan bunga, dan benih baru yang lebih banyak. Biji punya keyakinan bahwa dengan mengikuti proses dan terus berkembang atau bertumbuh maka dia akan sukses menjadi pohon. Biji juga punya keyakinan bahwa proses tidak boleh dibolak-balik, ia tidak menuntut punya daun dulu baru mau tumbuh menjadi pohon.

Setelah email terkirim, saya jadi teringat dengan diskusi saya dengan istri mengenai tipe-tipe pengusaha beberapa hari yang lalu. Untuk memotivasi istri saya saat omset kios melorot, saya suka memakai perumpamaan dari alam. Saya bilang ke istri bahwa pengusaha itu tipenya macam-macam: Ada pengusaha tipe rumput, ada yang tipe pohon bambu, dan ada pula yang tipe pohon beringin (bukan pengusaha yang pengurus parpol lho).

PENGUSAHA TIPE RUMPUT

Pengusaha tipe ini hidupnya musiman. Disaat musim hujan mereka berjaya dan di musim kemarau mereka merana. Saya contohkan di kampung kelahiran saya di Wonosobo Jawa Tengah, banyak pengusaha tembakau yang bertipe ini. Di saat panen tembakau mereka hidup bergelimang harta, tapi kalau bukan musim tembakau atau gagal panen maka satu-persatu hartanya dijual kembali, bahkan sampai berhutang untuk biaya hidupnya.

PENGUSAHA TIPE POHON BAMBU

Pengusaha tipe ini hidupnya sangat ulet. Orang lain sering menganggapnya gagal, tapi ia punya visi kedepan untuk sukses. Persis seperti pohon bambu. Sebelum pohon bambu menjulang tinggi, selama bertahun-tahun benih pohon bambu hidupnya di bawah tanah. Tidak ada yang tahu kalau disitu terdapat benih pohon bambu. Tapi begitu benih nongol di atas tanah maka dalam hitungan hari ia sudah menjulang tinggi.

Kebetulan salah satu saudara istri saya ada yang mengalami seperti ini. Bertahun-tahun berusaha tidak menampakkan hasilnya, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tetapi begitu beralih ke usaha yang lain, usahanya cepat berkembang dan maju pesat.

PENGUSAHA TIPE POHON BERINGIN

Pengusaha tipe ini, sekali membuka usaha, usahanya perlahan tapi pasti terus maju dan terus berkembang. Seperti pohon beringin yang perlahan tapi pasti tumbuh dari batang yang kecil sampai menjadi besar dan rimbun. Segala cuaca, gangguan, hambatan, dan rintangan dilaluinya untuk terus bertumbuh.

Itulah contoh tipe-tipe pengusaha yang saya contohkan kepada istri untuk memotivasinya. Anda silahkan menambahi kalau melihat ada contoh pengusaha yang mirip dengan fenomena alam.

Salah satu teman saya malah mencontohkan ada pengusaha tipe ular sanca. Tipe pengusaha ini sekali dapat proyek langsung untung besar dan setelah itu masuk masa penantian proyek berikutnya, yang mungkin didapat dan mungkin juga tidak dapat.

Mirip ular sanca yang sekali dapat mangsa langsung mangsa yang besar. Dan setelah menikmati hasil tangkapannya, masuk ke masa penantian lagi. Menanti untuk bertemu mangsa lain yang mungkin di dapat dan mungkin juga nggak didapat-dapat. Atau malah dimangsa…???

Salam
Fuad Muftie
Pemilik Kios Addina: Kios Jilbab, Kerudung, Mukena, Busana, & Aksesoris


Pemberian Nama-Nama Jilbab

Nopember 21, 2006

Beberapa waktu yang lalu, kios kami dikunjungi pelanggan yang sering bepergian ke luar negeri. Pelanggan kami bercerita tentang pengalamannya ke negeri-negeri muslim dan sering membandingkan cara atau tradisi penggunaan jilbab di luar negeri dengan di Indonesia.

Katanya, jilbab-jilbab di Indonesia sangat variatif dibandingkan dengan di negara-negara arab sana. Jilbab yang dikenakan orang-orang Timur Tengah modelnya tidak banyak dan begitu-begitu saja, katanya. Sementara di Indonesia modelnya sangat banyak dan sangat variatif. Ini menunjukkan desainer jilbab di Indonesia sangat kreatif.

Banyaknya model dan jenis jilbab yang ada di pasaran bisa menjadi anugerah tersendiri bagi Indonesia. Sangat potensial untuk dikembangkan dan dipasarkan di manca negara.

Bagi kami sendiri, banyaknya model dan jenis jilbab sering membuat kami harus kreatif dalam memilih dan menyediakannya di kios kami. Bagi jilbab-jilbab bermerk (branded) seperti rabbani  dan PerMata’s jelas lebih mudah, karena sudah ada katalognya, sudah jelas tipe dan modelnya, bahkan sudah diberi nama pada masing-masing model. Pelanggan yang sudah akrab dengan merk tersebut, tidak lagi mengalami kebingungan menentukan pilihan. Dan bagi pelanggan yang belum kenal, kami lebih mudah memperkenalkannya.

Kondisinya sangat berbeda bagi jilbab-jilbab yang “generik”. Jilbab tersebut kami beli dalam keadaan polosan saja, tanpa merk, dan tanpa diberi kode. Ini memberi tantangan bagi kami bagaimana caranya untuk memperkenalkannya kepada pelanggan. Untuk itu, sebelum menjualnya, kami terlebih dulu memberinya label dan memberinya nama agar mudah diingat. Hal ini bisa juga menaikkan nilai jual dan image dari produk tersebut daripada dijual kembali dalam keadaan polosan saja.

Memberi nama pada produk-produk jilbab “generik” mempunyai nilai seni tersendiri. Istri saya sangat jago dalam hal ini. Kadang kami gunakan nama artis pada satu produk jilbab yang mirip dengan jilbab yang sering dipakai artis tersebut. Kalau yang ini sudah dipelopori oleh produk jilbab rabbani™ yang identik dengan artis Astri Ivo dan Zaskia Mecca.

Untuk produk jilbab generik yang kami jual, ada yang kami namai ‘Jilbab Dw Persik’ karena mirip dengan jilbab yang dikenakan Dewi Persik saat mau Umroh. Ada juga yang kami beri nama ‘Jilbab CC Kirani’ karena mirip dengan yang sering dikenakan artis Cheche Kirani.

Penamaan ini tentu hanya berlaku di kios kami dan tidak kami publikasikan dan tidak untuk dijual keluar. Karena bagaimanapun kami takut melanggar HAKI atas nama-nama artis bersangkutan. Buat para artis yang kami pinjam namanya, mohon maaf dan mohon keikhlasannya ya kalau kami menggunakan nama yang mirip-mirip.

Selain memakai nama artis, kami sering memberi nama sesuai motif-motif yang melekat pada produk. Misalnya jilbab yang diberi bordir bunga mawar, kami namain ‘Jilbab Bordir Mawar’. Jilbab bermotif seperti percikan air kami namain ‘Jilbab Air’. Jilbab spandex yang ditempeli bunga kami beri nama ‘Spandex Bunga’. Meskipun kadang asal beri nama saja, misalnya ‘Jilbab TK’ untuk jilbab ukuran anak TK dan  ‘Jilbab SD’ untuk jilbab ukuran anak SD.

Ada beberapa keuntungan dengan pemberian nama pada jilbab-jilbab generik tersebut antara lain:

#~ Jilbab menjadi mudah diingat
#~ Menaikkan nilai jual dan image produk
#~ Memudahkan pelanggan menentukan pilihan, Coba bayangkan daripada mengatakan:

1. “Bu, jilbab yang kayak kemarin, yang ada kerutnya di leher belakang dan ada talinya di depan, yang depannya dibelah, yang warna merah, masih ada nggak?”, tentu lebih mudah mengatakan:

2. “Bu, jilbab Dewi Persik warna merah, masih ada nggak?.

Begitulah salah satu seni dalam menjual Jilbab. Dan patut diacungi jempol bahwa kreatifitas orang Indonesia (khususnya desainer jilbab) sangat besar dan sangat potensial. Kita tunggu model-model dan kreasi-kreasi baru para desainer jilbab. Dan kamipun harus menyiapkan lagi banyak nama untuk jilbab terbaru :-).

Salam
Fuad Muftie
Pemilik Kios Addina: Kios Jilbab, Kerudung, Mukena, Busana, Aksesoris dll
Jl. Bunga Rampai X (Depan RSJ Islam Klender) Perumnas Klender, Jaktim


Kiat Sukses Mencari dan Mendapatkan Banyak Uang

Nopember 16, 2006

Cover Buku

Judul di atas saya ambil dari judul sebuah buku karangan H. M. Ambaldy Djuardi. Judul selengkapnya adalah “Kiat Sukses Mencari dan Mendapatkan Banyak Uang : Teknik Mendirikan Usaha Tanpa Modal Banyak“, terbitan Yayasan Bulan Purnama, Editor : S. Budhi Raharjo; 322 halaman, Cetakan kedua - Agustus 2004.

H. M. Ambaldy Djuardi adalah Direktur dan Pemilik lebih dari 46 cabang kursus menjahit dan mode “Juliana Jaya” yang sudah berdiri sejak 1977; pemilik kursus montir mobil & sepeda motor “Safari Jaya”; dan pemilik Yayasan Bulan Purnama yang salah satu usahanya mendidik dan menyalurkan Baby Sister.

Buku yang beliau tulis diatas merupakan buku yang sederhana, namun isinya sangat berbobot. Bahasanya tidak muluk-muluk, tidak banyak berteori tapi langsung berisi contoh praktek-praktek bisnis konvensional yang pernah beliau jalani dan juga yang beliau amati.

Buku ini sangat cocok bagi anda yang ingin punya usaha sendiri tapi masih mengalami banyak hambatan. Entah hambatan modal, pengalaman, pengetahuan, dan hambatan lainnya, termasuk hambatan mental. Buku ini banyak memberikan contoh-contoh praktis memulai usaha tanpa banyak modal. Buku ini benar-benar menunjukkan bagaimana cara mencari dan mendapatkan banyak uang yang halal secara legal.

Saya mendapatkan buku tersebut pada Pebruari 2005 setelah mengalami cetakan kedua (Agustus 2004). Bukunya sangat inspiratif dan profokatif. Setelah membacanya saya menjadi bersemangat untuk segera membuka usaha sendiri. Walaupun semangat itu sempat surut lagi karena keasyikan kerja di kantor.

Pada pertengahan 2006, buku itu kembali saya baca seiring munculnya kembali keinginan untuk membuka usaha sendiri. Dan sejalan dengan upaya-upaya yang lainnya, Alhamdulillah di bulan September 2006 saya berhasil membuka kios sendiri : Kios Addina : kios jilbab, kerudung, mukena, busana, dan aksesorisnya.

Jadi bagi anda yang ingin membaca buku yang lebih membumi, untuk menyemangati anda agar bisa membuka usaha sendiri, buku ini mungkin cocok buat anda. Oh ya, saya bukan berpromosi, tapi semata-mata ingin ikut berpartisipasi memajukan dunia wirausaha / enterpreneur di Indonesia dengan membagi informasi yang positif. Sekaligus sebagai wujud rasa terimakasih saya dan salut saya kepada penulis buku (H. M. Ambaldy Djuardi) yang telah berkenan membagikan ilmunya dalam menjalankan usahanya.

Dan yang lebih menarik lagi, dalam bukunya beliau mempersilahkan kita untuk berkonsultasi secara gratis (sepanjang beliu masih mampu). Saya sendiri belum mencoba menghubungi dan memanfaatkan sarana konsultasi tersebut. Saat tulisan ini saya buat, saya belum menempatkan konsultasi tersebut sebagai prioritas. Mudah-mudahan di lain kesempatan, kalau memang Alloh SWT mengijinkan, saya ingin memanfaatkannya.

Tawaran Konsultasi Gratis

Salam
Fuad Muftie


Bingung Dan Takut Mau Buka Usaha?

Nopember 14, 2006

Sepertinya normal bagi seorang karyawan (yang sudah enak terima gaji tiap bulannya) mengalami kebingungan dan ketakutan saat ingin merintis usaha sendiri. Itupun saya alami. Dan kasus seperti itupun sering saya baca di beberapa milis dan rubrik konsultasi bisnis.

Banyak yang menyarankan untuk langsung terjun saja, langsung nyebur saja. Bahasa keren-nya langsung take action saja. Lha gimana mau langsung terjun kalau masih bingung dan takut? Mungkin bisa, bagi yang punya jiwa petualang. Tapi bagaimana bagi yang sudah terbiasa cari aman dan kenyamanan?

Mengatasi rasa bingung dan takut memang gampang-gampang susah. Kalau mau mencari teknik yang paten sudah banyak sekali ditemukan. Misalnya NLP, hypnoterapi, psycho cybernetic, teknik affirmasi, dll

Saya tidak bermaksud membahas teknik-teknik diatas. Saya cuma ingin berbagi pengalaman saya bagaimana saya yang semula takut dan ragu-ragu memulai bisnis, bisa menjadi berani memulainya.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Ide atau keingingan untuk mempunyai usaha sendiri sudah lama muncul. Dan ide jenis usaha yang ingin dicoba pun banyak bermunculan. Dari usaha RM Padang, Pakan Ternak, Voucher HP, ambil franchise dll, semuanya hanya ide dan tidak juga terlaksana. Dan sayapun mendapat julukan NATO (No Action Talk Only).

Sampai kemudian saya coba merefleksikan masa lalu saya. Dulu, tidak terbayang bagi saya untuk bisa kuliah, karena kehidupan keluarga yang pas-pasan. Tapi alhamdulillah saya bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi favorit dengan bea siswa. Dulu saya merasa nggak mungkin punya rumah sendiri di sekitar Jabotabek. Dan Alhamdulillah saya bisa membelinya, walaupun akhirnya harus saya jual lagi. Dan masih banyak kejadian yang semula saya anggap tidak mungkin, bisa menjadi kenyataan.

Belajar dari pengalaman itulah saya coba terapkan untuk mewujudkan keinginan saya untuk punya usaha sendiri.

Segalanya berawal dari PIKIRAN dan MENTAL. Itulah yang saya temukan dari perjalanan hidup saya. Pada saat saya ingin kuliah, maka setiap hari pikiran saya isi dengan segala hal tentang kuliah : memilih-milih universitas, jurusan pilihan, bea siswa, berdoa agar bisa kuliah dll. Begitu juga ketika ingin punya rumah, setiap hari baca iklan rumah, datang ke pameran perumahan, kumpulin brosur real estate dll.

Dengan mengawali dari PIKIRAN maka tindakan berikutnya akan terarah menuju terwujudnya keinginan. Cepat atau lambat, kita akan menemukan jalan yang akan mendekatkan pada tujuan. Dan puncaknya kita akan mendapatkan momentum untuk mewujudkan impian kita.

Saya juga sering membaca buku-buku motivasi. Dan ternyata jalan yang saya tempuh, cocok / mirip / persis dengan resep-resep atau jurus-jurus yang ditawarkan dalam buku-buku tersebut. Yaitu diawali dengan mengubah pikiran dan selanjutnya keyakinan-pun ikut berubah, tindakan kitapun berubah, sampai akhirnya “nasib” kita berubah.

Mungkin ini merupakan salah satu hukum alam. Artinya siapapun akan mendapatkan AKIBAT yang sama kalau memiliki SEBAB-SEBAB yang sama (atau Hukum SEBAB-AKIBAT).

Demikian pula ketika saya ingin punya usaha / bisnis sendiri. Awalnya saya tidak konsisten untuk terus memikirkan tentang buka usaha sendiri. Sehingga pikiran melompat-lompat. Kadang pingin punya RM Padang, kadang pingin buka warnet, kadang pingin ikutan jualan burger dll. Dan lebih seringnya sich LUPA dan tidak memikirkan untuk buka usaha sendiri, malah keasyikan dengan pekerjaan di kantor.

Kemudian ketika saya berkomitmen untuk segera punya usaha sendiri, saya coba terapkan pola yang sama seperti diatas. Pikiran difokuskan tentang bagaimana memulai usaha. Buku-buku kewirahusahaan kembali saya baca, sering-sering browsing artikel tentang enterpreneurship, ikut milis bisnis, ngobrol dengan teman yang sudah punya usaha, pulang-pergi ke kantor tengak-tengok usaha orang lain, melihat-lihat peluang, dll.

Dari bangun tidur sampai tidur lagi yang dipikirkan : bagaimana memulai usaha dan usaha apa yang bisa segera dijalankan. Bahkan kalau perlu mimpi-pun tentang memiliki usaha sendiri.

Akhirnya momentum yang diinginkan-pun datang. Saat diskusi dengan istri untuk buka usaha penjualan jilbab dan keputusan diambil dengan bulat, maka selanjutnya momentum-momentum yang lainpun bergulir. Dan hampir-hampir tidak percaya, usaha yang saya inginkan bisa terwujud dan mulai berjalan pada tanggal 14 September 2006.

Saya sangat suka dengan istilah yang digunakan dalam sebuah buku motivasi, bahwa tindakan yang diambil dengan model tersebut sering diistilahkan dengan “Inspired Action“. Yaitu tindakan-tindakan yang didasarkan pada inspirasi (buah dari kerja pikiran) tidak semata-mata didasarkan pada keinginan dan ikut-ikutan trend. Sebab inspirasi biasanya akan datang ketika kita sering memikirkan tentang suatu solusi.

Nah bagi yang saat ini masih bingung, ragu-ragu, dan takut untuk memulai usaha, mulailah benahi pikiran dan mentalnya. InsyaAlloh cepat atau lambat akan sampai saatnya anda memiliki usaha sendiri. Usahakan dapatkan inspired action tersebut.

Kesimpulannya : Ubahlah pikiran maka segalanya akan berubah.

Salam
Fuad Muftie

http://fuadmuftie.blogspot.com (artikel lainnya ada di sini)
Kios Addina, kios jilbab, kerudung, busana, aksesoris dll
(Merk rabbani, PerMata’s, Delvina, Poeti, Swarna, dll)
Berkualitas, murah lagi…