Peluang Usaha Toko Pakaian dan Perlengkapan Bayi

Januari 25, 2007

Berikut ada pertanyaan dari Pak Ardon tentang Peluang Usaha Toko Pakaian dan Perlengkapan Bayi, yang diajukan lewat komentar di http://fuadmuftie.wordpress.com/about/#comments. Tadinya mau coba ngasih pendapat di kolom komentar juga. Tapi karena kayaknya terlalu panjang untuk sebuah komentar, saya posting di sini saja.

Semoga bermanfaat.

========== Pertanyaan ==========

Pak Fuad,

Saya sekarang tinggal dikomplek perumahan, menurut bapak kalau saya buka usaha toko pakaian dan perlengkapan bayi bagus nggak pak, and kalau kurang bagus, kira kira cocoknya usaha apa ya. Soalnya di komplek saya itu, usaha apa aja udah ada, mulai dari sembako sampai makanan, kecuali toko perlengkapan bayi dan anak-anak emang belum ada pak. Bagaimana menurut bapak?

- Ardon -

========== Pendapat Saya ==========

Pak Ardon, saya tidak berani mengatakan bisnis pakaian dan perlengkapan bayi di perumahan tersebut bagus atau tidak. Sepanjang tersedia calon pelanggan yang memadai dan Pak Ardon bisa mengkomunikasikan kepada mereka sehingga mereka mau datang dan beli di toko Pak Ardon, maka bisnis itu bagus.

Atau, Pak Ardon bisa mencoba seperti apa yang kami lakukan. Yang kami lakukan sebelum membuka Kios Jilbab Addina, adalah mengamati Supply dan Demand. Kami amati jumlah orang berjilbab yang lalu lalang di depan calon kios kami (ini dari sisi Demand). Kami juga melihat-lihat jumah penjual jilbab yang sudah ada di lingkungan kami (ini dari sisi Supply).

Kesimpulan kami : sepertinya masih ada demand yang belum terpenuhi oleh supply. Mungkin penelitian kami tidak eksak dan cuma pakai feeling, tapi begitulah kalau pingin cepat punya usaha, hindari terlalu banyak pertimbangan. Dengan kondisi tersebut kami beranikan diri untuk membuka kios jilbab Addina. Meskipun awalnya ketar-ketir juga takut nggak laku. Tapi Alhamdulillah dugaan kami tepat, sehingga usaha kami bisa berkembang (Dan semoga terus berkembang, Amin).

Dalam situasi Pak Ardon, Pak Ardon bisa mengamati jumlah keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil di perumahan, ada banyak atau sedikit. Kalau banyak berarti kemungkinan ada peluang besar karena belum banyak supply alias belum banyak toko perlengkapan bayi dan anak di sekitarnya. Kalau bisa amati juga dimana mereka biasa membeli perlengkapan bayi dan anak-anak. Kalau kita bisa mengetahuinya, kita bisa pelajari kelemahan dan kelebihan toko tersebut. Kita bisa jadikan acuan untuk toko kita, kita bisa tiru, atau kita modifikasi / perbaiki.

Kalau dalam bayangan saya, sebaiknya tidak hanya menjual perlengkapan bayi saja, tapi bisa dikombinasi dengan busana (fashion) buat bayi, anak, sampai ibunya. Bisa juga dikombinasi dengan mainan anak, barang-barang untuk hadiah (gift) dan sebagainya. Atau kalau lokasinya luas bisa dikombinasi dengan tempat permainan anak (mandi bola, mobil2an / kuda2an koin, dll).

Kalau Pak Ardon memilih usaha lain yang sudah ada di kompleks perumahan, saran saya toko Pak Ardon harus bisa memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki toko yang lain. Misalnya pelayanan yang beda yang lebih baik, barang yang sudah dibeli boleh ditukar kembali, pemberian hadiah, toko yang nyaman (ada tempat duduknya, dikasih minuman, dll). InsyaAlloh dengan cara ini akan mendatangkan pelanggan yang setia.

Demikian saran saya mudah-mudahan bermanfaat. Maju terus Pak Ardon, nanti kalau sudah sukses inget kita-kita ya.. he.. he.. he..

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani, PerMata, Swarna), Mukena, Busana, Aksesoris dll
Kami menggunakan software kios/toko : Omset by Ruli Software


Belajar Bisnis dari Mak Ijah

Januari 22, 2007

Kisah ini saya adopsi dari cerita teman saya tentang bagaimana seorang yang biasa-biasa saja bisa mengembangkan bisnisnya. Cocok buat pembelajaran bagi kita yang ingin memiliki bisnis sambilan.

Sebut saja namanya Mak Ijah (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga yang ingin membantu suaminya mendapatkan penghasilan ekstra. Selama ini hidupnya tercukupi dengan gaji suaminya. Namun siapa sih yang tidak ingin meningkatkan taraf hidupnya?

Dengan menggunakan sebagian tabungannya, Mak Ijah memulai bisnis sambilannya dengan menjual barang-barang-barang kebutuhan tetangganya. Modal awalnya hanya beberapa ratus ribu, dan itu hanya cukup untuk berbelanja sedikit gula, kopi, teh, permen, beberapa bungkus rokok, dan beberapa snack dari pasar. Lokasi jualannya cukup dari teras rumahnya. Promosipun hanya dilakukan dari mulut ke mulut ke tetangganya.

Setiap ada barang yang laku, uang hasil penjualannya disimpan untuk dibelanjakan lagi. Ia berusaha sebisa mungkin tidak mengambil uang hasil penjualannya untuk dikonsumsi. Lama kelamaan jumlah belanjaan Mak Ijahpun meningkat. Kini sekali belanja bisa menghabiskan sejuta rupiah lebih. Barang dagangannya juga mulai bervariasi. Cita-citanya ingin berjualan sembako selengkap mungkin.

Dari cerita diatas, bisa diambil hikmah bahwa untuk memulai bisnis (khususnya bisnis sambilan) tidak selalu butuh keahlian yang tinggi dan modal yang banyak. Mak Ijah saja bisa, apalagi anda yang sudah mengenyam bangku sekolah tinggi-tinggi.

Keraguan memulai bisnis saat modal yang dimiliki sangat terbatas juga merupakan keraguan yang kurang beralasan. Mak Ijah saja bisa mengawali bisnis sembako hanya dengan beberapa ratus ribu rupiah dan bisa mengembangkannya. Justru kalau kita memulai bisnis sambilan dengan modal kecil, akan mengurangi ketakutan kita akan resiko gagalnya bisnis. Kalaupun gagal, modal yang dipertaruhkan kecil. Dan kalau berhasil, akan menjadi prestasi tersendiri buat kita, karena bisa sukses dengan modal kecil.

Kunci suksesnya Mak Ijah adalah menggunakan sebagian besar keuntungan penjualan untuk dijadikan modal untuk diputar lagi. Dengan cara ini hasilnya bisa lebih dahsyat daripada bunga berbunga atau rentenir. Asalkan kita berjualan barang yang laku, penjualannya lancar, alias usaha kita laris lho!

Dengan menjalankan bisnis begitu saja dan pasrah mengikuti arus kehidupan, tapi dengan didukung kesungguhan dan keuletan, bisnis Mak Ijah bisa berkembang. Apalagi kalau kita mau menjalankan bisnis dengan lebih serius, dengan promosi yang bagus, pelayanan yang bagus, tentu peluang untuk sukses juga semakin besar.

Satu lagi hikmahnya, kita bisa belajar berbisnis dari siapa saja. Lingkungan sekitar kita bisa menjadi guru bisnis sekaligus mentor bisnis yang bagus. Cukup amati dan kita contek, toh dalam berbisnis contek mencontek adalah halal dan biasa, asal tidak melanggar HAKI tentunya.

Semoga bermanfaat.

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani, PerMata, Swarna), Mukena, Busana, Aksesoris dll
Software kios/toko : Omset by Ruli Software


Dimana Sebaiknya Belajar berbisnis?

Januari 19, 2007

Saat ini terdapat banyak sekali lembaga yang mengadakan pelatihan-pelatihan wirausaha. Mulai dari yang gratisan sampai berharga jutaan rupiah setiap pertemuannya. Hal ini bisa menjadi pertanda baik bagi kemajuan dunia wirausaha di Indonesia. Namun bagi calon pengusaha, hal ini malah bisa membingungkan. Lembaga mana yang sebaiknya diikuti agar kita bisa sukses menjadi entrepreneur?

Saya pribadi tidak memiliki data yang akurat lembaga mana yang bagus dan lembaga mana yang hanya akan membuang waktu dan biaya kita. Dari sebagian kecil yang pernah saya ikuti, sebagian hanya memberikan motivasi-motivasi agar kita berani memulai dan mendobrak hambatan mental yang membelenggu. Sebagian ada yang suka memberikan contoh-contoh bisnis yang bombastis, yang hanya segelintir orang saja yang berani, mau, dan berhasil menjalaninya. Tapi bagus juga sih untuk memotivasi kita.

Kalau saya pribadi, saat ini, saat baru saja memasuki dunia wirausaha, saya lebih suka belajar dari usaha orang lain. Dari tetangga kios, dari pedagang di pasar, dari toko-toko di mall, dari penjual es di pinggir jalan, dll. Lebih murah dan lebih membumi. Yang saya lakukan ya… sekadar mengamati: bagaimana pangsa pasarnya, bagaimana cara mereka berbisnis, apa keunggulan mereka dll. Cukup perhatikan dan buka pikiran itu kuncinya. Nanti ilmu-ilmu dan inspirasi mengalir akan begitu saja.

Saya juga senang bertukar pikiran dengan teman lain atau saudara yang juga menjalankan usaha sampingan. Kita bisa saling memotivasi dan saling memberi masukan. Bahkan mungkin juga terjadi bersinergi untuk memajukan usaha.

Buku-buku dan internet juga bisa menjadi sumber informasi yang murah. Saat ini sudah banyak sekali buku-buku entrepreneurship / kewirausahaan yang beredar dan harganya murah-murah. Berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu, yang lumayan sulit mencari buku semacam itu. Apalagi dengan bantuan internet, blog-blog, dan milis bisnis dan kewirausahaan yang saat ini marak, belajar berbisnis menjadi lebih mudah. Mereka bisa menjadi mentor bisnis bagi kita.

Mungkin suatu saat nanti saya juga akan butuh lembaga-lembaga penyelenggara pelatihan kewirausahaan untuk memajukan usaha kami. Syukur-syukur yang menyediakan mentor yang berkualitas. Tapi untuk saat ini belum menjadi prioritas kami.

Jadi, pilihan dimana belajar bisnis sangat banyak dan beragam. Hidup penuh dengan pilihan, dan pilihan ada di tangan Anda.

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani, PerMata, Swarna), Mukena, Busana, Aksesoris dll
Software kios : Omset by Ruli Software


Apa benar bisnis itu sulit?

Januari 16, 2007

Saya beberapa kali menerima komentar atau pernyataan yang menyatakan kalau bisnis itu sulit. Memang mungkin sulit kalau bisnis yang kita jalani adalah bisnis yang tidak lazim, bisnis yang tidak jelas pasarnya, dan bisnis yang sudah jenuh atau penuh dengan pesaing.

Menurut saya pribadi, bisnis itu pada prinsipnya mudah. Asal kita bisa memenuhi kebutuhan orang lain dan kita mendapatkan imbalan dari pemenuhan kebutuhan tadi, maka proses bisnis sudah terjadi. Contoh gampangnya saya beli sebotol minuman mineral Rp 1.000, kemudian saya tawarkan ke orang lain yang kehausan, dan saya dibayar Rp. 2.000 oleh orang tadi, maka saya sudah berbisnis.

Kalau dilihat dari segi efektifitas dan efisiensi berbisnis, maka proses bisnis tadi sudah efektif, artinya saya sudah berhasil menjual dan mendapatkan untung. Sedangkan dari sisi efisiensi, maka perlu diperhitungkan biaya-biaya yang timbul dan diperhitungkan kemungkinan kelanjutan usaha tadi. Kalau biaya yang timbul lebih kecil dari laba kotor dan usaha tadi bisa terus saya kembangkan dan perbesar maka usaha tadi boleh dibilang efisien.

Barangkali yang membuat orang lain merasa sulit berbisnis atau sulit untuk memulai bisnis adalah kurangnya pengetahuan. Karena menurut saya, kalau orang sudah tahu ilmunya berbisnis, sudah tahu cara menjalankan bisnis maka saya yakin ia tidak akan mengatakan bisnis itu sulit, setidaknya tidak sesulit yang dikira. Sama seperti pelajaran matematika dulu, kita mengatakan matematika itu sulit karena kurangnya ilmu atau kurangnya pengetahuan tentang matematika.

Kemungkinan lain, pernyataan bisnis itu sulit, hanyalah untuk menutupi rasa takut pada dirinya. Takut berkorban waktu, takut kehilangan modal, takut tidak diterima oleh lingkungannya dan lain-lain. Sehingga ia akan mengatakan bahwa bisnis itu sulit. Kalau ia bisa mengatasi segala perasaan tadi maka bisnis itu akan menjadi mudah.

Satu hal yang membuat saya yakin bahwa bisnis itu mudah yaitu bisnis bisa dilakukan siapa-saja, dari latar belakang apa saja, dari etnis mana saja, dari anak muda sampai orang tua, semua bisa menjalankan bisnis. Bisnis tidak juga ditentukan oleh tingkat pendidikan, yang tidak lulus SD saja bisa berbisnis dan bisa sukses, apalagi yang sudah mencicipi bangku kuliah.

Jadi menurut anda bisnis itu mudah apa susah???

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani - PerMata), Mukena, Busana, Aksesoris dll
Software kios by : Ruli Software


Jangan Biarkan Niat itu Terus Terpendam

Januari 4, 2007

Kalau kita sudah punya niat untuk berbuat kebaikan, jangan biarkan niat itu terpendam. Termasuk juga jika sudah ada niat untuk membuka usaha sendiri. Jangan biarkan niat itu tetap bersemayam dihati. Mungkin sesekali kita akan lupa dengan niat kita tersebut, bisa karena kesibukan kerja, larut dengan aktifitas rutin sehari-hari, atau mungkin juga karena sengaja melupakannya. Tapi pasti niat itu akan kembali muncul.

Sekali saja niat untuk membuka usaha terbersit, meskipun kita lupa, panggilan jiwa itu akan mengetuk-ngetuk pintu hati dan pikiran kita kembali. Sayapun mengalaminya. Keinginan untuk berwirausaha sudah lama muncul (sekitar tahun 90-an), karena saya yakin untuk mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas, bukan sebagai pegawai atau karyawan jalannya. Berwirausaha adalah salah satu jalan untuk mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas.

Namun karena kesibukan kerja sebagai pegawai, saya sering melupakan dan sering mengabaikan niat dan keinginan memiliki usaha sendiri. Disamping itu faktor rasa takut untuk merintis usaha juga mempengaruhinya, sehingga niat itu kembali terpendam. Namun dalam perjalanan waktu, keinginan itu sering muncul kembali dan rasanya meminta segera disalurkan.

Dari situlah saya mulai mencari-cari informasi. Membaca buku, browsing, ikut workshop untuk menemukan jalan bagaimana memulai usaha sendiri. Waktu itu (tahun 90-an) masih lumayan sulit mencari informasi tentang bagaimana cara memulai usaha, baik dalam bentuk buku, majalah, dll (atau saya yang kuper ya??). Sehingga niat itupun kembali surut.

Saya baru mendapat banyak pencerahan sekitar tahun 2000-an. Itupun tidak serta merta membuat saya berani mengambil langkah pertama membuka usaha. Baru di akhir tahun 2006 saya benar-benar berani membuka usaha sendiri dan mewujudkan niat yang sudah lama terpendam.

Jadi bagi yang saat ini sudah punya niat mau buka usaha tapi belum berani, jangan cemas dan jangan khawatir. Cukup pertahankan dan terus perkuat niat tadi. Mulai sekarang juga kumpulkan informasi secukupnya untuk menemukan keberanian memulai. Atau kalau sudah tidak sabar ingin memulai, mulai saja! Mungkin dengan menempatkan diri kita pada posisi kepepet, akan membuka jalan untuk mewujudkan impian anda.

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani - PerMata), Mukena, Busana, Aksesoris dll
Jl. Bunga Rampai X (Depan RSJ Islam Klender) Perumnas Klender, Jaktim
Powered by : Ruli Software


Modal oh.. Modal !!!

Januari 2, 2007

Dalam berbisnis sering sekali dikeluhkan mengenai modal uang, apalagi bagi yang baru berencana untuk memulai berbisnis. Memang dalam bisnis apapun, posisi modal capital sangat penting. Tidak ada bisnis jika tidak ada modal capital. Dalam usaha jasa- pun modal capital sekecil apapun tetap diperlukan.

Dalam perjananan bisnis kami selama ini, saya mulai menyadari bahwa keterbatasan kepemilikan modal capital sendiri semestinya jangan menjadi penghalang untuk memulai usaha. Jika tidak punya modal sendiri yang cukup, nantinya bisa memanfaatkan modal orang lain. Pak Purdi E Chandra sering mengistilahkan BODOL atau Berani dan Optimis pakai Duit Orang Lain. Yang jadi masalah adalah bagaimana mendatangkan modal dari pihak lain untuk dapat kita putar dalam bisnis kita.

Pada kios Addina, dengan modal yang kami miliki yang masih terbatas dan dengan kondisi bisnis yang baru seumur jagung, jelas kami harus hati-hati untuk ‘merekrut’ modal baru dari pihak ketiga. Kami putuskan untuk tidak meminjam modal orang lain dulu. Yang kami lakukan sampai saat ini adalah memutar kembali uang hasil penjualan (hampir seluruh hasil penjualan) untuk dijadikan modal. Hasil penjualan hanya kami kurangi untuk mentutupi biaya-biaya yang memang harus dikeluarkan.

Anehnya, secara tidak disengaja dan tidak di sadari, justru kami sering me-modal-i (memberi modal) bagi orang lain. Ceritanya begini, pada awal pembukaan kios, kami didatangi calon pelanggan yang menyampaikan maksudnya untuk menjual kembali barang yang dibeli dari kami, sehingga meminta diskon atau potongan. Kamipun menyampaikan bahwa kami hanya mengambil untung kecil sehingga tidak bisa memberi diskon banyak-banyak. Tapi kalau mau, silahkan saja dijual dengan harga lebih tinggi dari kios kami.

Dan satu hal lagi, dengan berat hati kami sampaikan kami tidak bisa memberikan kredit sehingga pengambilan dari kami harus cash. Karena kami juga masih sangat butuh uang cash dan kami tidak ingin barang-barang yang masih terbatas di kios menjadi berkurang banyak karena dikreditin.

Pada awalnya barang yang diambil hanya sedikit, sesuai kondisi keuangan pelanggan tersebut. Alhamdulillah jualannya lancar, pelnggan tadi jadi pelanggan setia dan jadi sering mengambil barang dari kami. Lama kelamaan diantara kami terjalin hubungan saling percaya (trust). Sehingga pelanggan tadi mulai meminta tempo pembayaran. Meskipun agak khawatir, kami setujui permintaannya, asal tidak terlalu lama dan jika barang tidak laku, harus cepat dikembalikan.

Sampai saat ini kerjasama kami masih lancar. Tapi kami tetap hati-hati dan waspada. Karena tidak jarang, orang sering alpa dan melalaikan kepercayaan yang sudah diberikan, hanya untuk mengejar keuntungan sesaat.

Dari kejadian ini, saya ingin meyakinkan bahwa :

  • bagi yang masih ragu untuk memulai usaha, janganlah keterbatasan modal menjadikan hambatan untuk memulai usaha. Mulailah dari yang ada dan terus kembangkan untuk menjadikan diri anda menjadi magnet bagi datangnya modal capital berikutnya.
  • Modal yang sangat penting adalah trust (kepercayaan dari orang lain). Kalau orang lain percaya kepada kita pasti mereka akan merasa tenang dan yakin untuk memberikan modal kepada kita. Bank-pun baru akan memberikan kredit kalau bank percaya dengan kita dan percaya dengan kemajuan usaha kita.
  • Bagi yang kesulitan mengembangkan usaha karena terbatasnya modal. Mulailah membangun trust dengan pemilik modal atau suplier atau siapa saja yang berpotensi menjadi pemodal anda.

Semoga bermanfaat.

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina
Kepercayaan, modal utama berbisnis