Entrepreneur’s Idol

Februari 28, 2007

Sekarang lagi jaman-jamannya pada nyari idol. Ada american idol, indonesian idol, dan idol-idol lainnya. Apakah ini juga berlaku pada dunia entrepreneur?. Saya pikir mungkin juga berlaku. Meskipun tidak diekspos dalam program TV, saya kira ada tokoh2 entreprenur yang jadi idola banyak orang. Demikian juga para pelaku usaha, terutama yang baru mulai terjun, pasti memiliki tokoh yang diidolakan. Mungkin tokoh itu masih hidup dan mungkin juga tokoh tadi sudah tiada, namun jejak kesuksesannya masih bisa menginspirasi banyak orang.Kalau saya pribadi, cukup sulit juga mencari idola yang sempurna dalam dunia entrepreneurship. Ada yang bagus dalam bisnisnya tapi kurang bagus dalam kehidupan pribadinya dan berbeda pemikirannya dalam bidang yang lain. Makanya harus pintar-pintar mengambil sisi baiknya dalam bisnis dan menghindari terfokus dalam hal yang kurang baik dan bertentangan.

Sebagai seorang muslim, sebenarnya ada tokoh yang sangat layak dan mungkin juga harus diidolakan dalam sepak terjangnya menjalankan bisnis, yaitu Nabi Muhammad SAW. Cuma sayang jarang sekali diekspos atau diceritakan dari sisi bagaimana beliau berbisnis sebelum beliau menerima risalah kenabian.

Di tangan beliau perniagaan selalu menguntungkan. Makanya Khadijah RA mempercayakan kepada seorang pemuda bernama Muhammad untuk menjalankan usahanya. Bahkan orang-orang yang membenci risalah islam, tetap percaya kepada Muhammad SAW dalam berbisnis.

Selain Rosululloh SAW, sahabat-sahabat beliau juga layak dicontoh dalam berwirausaha. Selain Abu Bakar dan Ummar bin Khottob yang sangat dermawan, ada seorang sahabat yang layak dicontoh bagi pengusaha yaitu Abdurrahman bin Auf. Beliau terkenal kaya raya karena perniagaannya. Bahkan saat beliau hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau tinggalkan harta benda dan perniagaannya di Mekah, dan memulai dari nol di Madinah.

Saat di Madinah, beliau ditawarkan untuk menerima ’sumbangan’, tapi beliau cuma minta ditunjukkan dimana pasarnya. Di pasar itulah beliau memulai lagi karirnya dalam perniagaannya dari nol. Ketika bisnis sudah besar beliau pernah menghibahkan 700 armada perniagaannya untuk membantu islam. Dan zakat dari Abdurrahman bin Auf sangat disukai masyarakat karena dijamin kehalalannya dan kebersihannya.

Sepertinya apapun usaha yang dijalankan Rosululloh dan sahabat-sahabat beliau selalu menguntungkan dan sukses, bahkan tidak hanya sukses di dunia tapi sukses juga di akhirat.

Cuman memang sayang, literatur yang khusus membahas detail tentang bagaimana beliau-beliau memulai usaha, menjalankan usaha, bernegosiasi, berpromosi, memotivasi diri dll, masih terbatas. Padahal itu yang sering kita butuhkan sebagai acuan dalam merintis usaha. Tapi saya yakin kalau kita bisa berbisnis dengan mengikuti nilai-nilai universal atau yang sering dikatakan dengan “berbisnis dengan hati nurani”, kita telah mengikuti jejak-jejak beliau.

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Jadikan komputer anda menjadi mesin uang bagi toko anda dengan software toko Omset by Ruli Software (Murah Meriah dan Handal)


Belajar Dari Sistem Distribusi Rejeki

Februari 22, 2007

Siapapun kita, apapun agama kita, pasti kita kebagian rejeki. Bahkan sebelum kita lahir, Alloh SWT sudah memberi jatah porsi rejeki kita masing-masing. Cuma memang kita tidak tahu persis berapa besar jatah rejeki kita. Barangkali inilah rahasianya, agar kita mau berusaha dan berikhtiar memanfaat semua potensi kita untuk menjemput rejeki kita.

Dari jatah rejeki yang kita punyai, ada rejeki yang pasti kita dapat tanpa adanya upaya khusus, misalnya rejeki umur, oksigen. Ada juga rejeki yang baru bisa didapat dengan sedikit upaya, misalnya rejeki sinar matahari, makanan, dan minuman. Ada juga rejeki yang kalau tidak diupayakan secara khusus, kecil  kemungkinan kita bisa mendapatkannya, seperti rejeki harta benda dan kekayaan.

Agar kita bisa mendapatkan jatah rejeki kita seoptimal mungkin (khususnya rejeki berupa harta benda), mungkin perlu kita pelajari bagaimana sistem pendistribusian rejeki dari Alloh SWT hingga bisa sampai ke tangan kita. Karena kita tahu bahwa selama ini kita mendapatkan rejeki tidak mungkin langsung dari Alloh SWT, pasti lewat perantara.

Alloh SWT, Tuhan semesta alam, memiliki malaikat-malaikat yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi sendiri-sendiri. Masing-masing tidak pernah overlapping dan sangat patuh pada tugas yang telah diperintahkan. Untuk urusan pembagian rejeki kepada seluruh mahluk-Nya juga sudah ditunjuk malaikat pembagi rejeki.

Selanjutnya bagaimana caranya malaikat membagikan rejeki? Ternyata malaikat juga tidak serta merta menurunkan rejeki jatah kita langsung dihadapan kita. Malaikat tidak pernah membagikan uang, emas, dan barang berharga langsung ke tangan kita. Mungkin malaikat pembagi rejeki hanya mengatur keseimbangan hukum alam dalam sistem distribusi rejeki. Hukum alam distribusi rejeki inilah yang perlu kita pelajari.

Kita tahu bahwa selama kita hidup, kita mendapatkan rejeki berupa harta dari orang lain. Semasa kita kecil kita mendapat pasokan uang jajan dari orang tua kita. Setelah sekolah, kita mendapat uang sekolah dari orang tua dan mungkin dari bea siswa. Setelah bekerja kita mendapat jatah gaji dari majikan atau dari perusahaan. Kalau kita berdagang kita mendapatkan untung dari pembeli dan pelanggan.

Ternyata posisi kita dalam sistem distribusi rejekilah, yang akan menentukan jatah besar kecilnya rejeki harta kita. Sewaktu kecil, kita hanya berfungsi sebagai user / pengguna dari rejeki, makanya rejekinya ya cuma sebagian dari rejeki yang diperoleh orang tua. Orang tua bisa mendapat rejeki harta yang lebih besar karena memiliki tugas dan tanggung jawab membagikan rejekinya kepada anak-anaknya.

Demikian juga dalam dunia kerja, sebagai pegawai hanya bisa mendapat rejeki secara terbatas dalam bentuk gaji dari majikan / perusahaan, karena posisi pegawai adalah penerima rejeki, bukan pembagi rejeki (meskipun di rumah pegawai tadi harus membagikan rejekinya). Sedangkan majikan kita bisa mendapat rejeki yang lebih besar karena punya fungsi sebagai perantara atau distributor rejeki orang lain.

Dalam berdagangpun, secara umum berlaku hal yang sama. Kalau posisi kita hanya sebagai penerima untung dan tidak membagikan keuntungan usaha kepada pihak lain / pedagang lain, kemungkinan besar harta yang bisa kita peroleh masih terbatas, contohnya pedagang eceran dan pengasong. Berbeda dengan usaha yang bersedia membagikan sebagian labanya kepada pihak lain, maka mungkin ia akan mendapat rejeki yang lebih besar lagi. Contohnya pengusaha grosir dan produsen.

Selanjutnya, dalam agama kita diperintahkan untuk shodaqoh dan zakat, karena di dalam rejeki yang kita peroleh ada hak orang lain, haknya fakir miskin. Berarti memang kita sebenarnya sudah dilatih oleh Alloh SWT untuk menjadi distributor rejeki. Subhanalloh betapa sempurnanya Hukum Alam!

Jadi, pilihan ada ditangan kita, kita mau sebagai user, sebagai distributor kecil, atau siap menjadi distributor besar dari perputaran roda rejeki, semua ada di tangan kita. Dari sekarang, mari kita evaluasi posisi kita ada dimana, dan sudah siapkah kita ikut berpartisipasi dalam sistem distribusi rejeki?

Kalau kita paham betul sistem dan hukum alam ini, seharusnya dalam diri kita tidak ada istilahnya pelit, kikir, bakhil, dan takut rugi.

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com

*) Tulisan ini terinspirasi oleh paparan Bp Syafak Muhammad tentang sistem distribusi rejeki yang disiarkan radio RRI Jakarta. Semoga Alloh SWT memberkati Bp Syafak Muhammad.
*) Mohon maaf bagi yang punya keyakinan yang berbeda dengan penulis.


Tiga Pilar Penyokong Usaha Yang Sukses

Februari 16, 2007

Terinspirasi dari beberapa buku dan bacaan di Internet, khususnya dari bukunya Peter Spann “Wealth Magic”, ada tiga faktor yang bisa membuat kita kaya, atau membuat usaha baik barang maupun jasa bisa sukses. Dengan menggali dan mengoptimalkan tiga pilar ini peluang untuk berhasil dalam menjalankan usaha dan dalam mendapatkan kekayaan menjadi semakin besar.

Pilar pertama: Keunikan.

Kalau kita punya keahlian, jasa, atau barang yang unik dan tentunya diinginkan atau dibutuhkan orang lain serta orang lain mau membayar kita, maka peluang suksesnya sangat besar. Bandingkan kalau kita menjual barang atau jasa yang sudah banyak orang menjualnya dan sudah banyak orang memilikinya, tentu akan sulit menggali profit yang besar di sana. Dengan menawarkan produk atau jasa yang unik kita bisa menetapkan profit yang lebih tinggi.

Dalam prakteknya, kita bisa saja menjual barang yang sudah banyak orang yang menjualnya, dan tetap berpeluang untuk sukses. Untuk itu kita perlu menerapkan pilar kedua.

Pilar Kedua: Nilai Tambah

Untuk membuat konsumen loyal dan sekaligus menarik konsumen yang lebih banyak, kita bisa memberikan nilai tambah atas produk atau jasa kita. Kita bisa memberikan sesuatu yang membuat konsumen merasa dimanjakan, merasa diperhatikan, dan membuat nilai uang yang dikeluarkan konsumen untuk membeli produk kita terasa sangat kecil dibanding apa-apa yang didapatkan konsumen.

Nilai tambah ini bisa berupa hadiah atau gift, bisa juga dalam bentuk pelayanan yang prima, pelayanan yang tidak disangka-sangka akan diterima konsumen, atau bentuk-bentuk lainnya baik yang kasat mata maupun tidak tampak.

Pilar Ketiga : Sarana Tambahan

Untuk menjalankan usaha kita bisa saja melakukannya sendirian, tanpa banyak bantuan orang lain. Tapi kalau ingin usahanya semakin besar dan semakin sukses, kita butuh sarana tambahan atau alat bantu. Sarana tambahan ini akan meringankan upaya kita dan bahkan akan melipatgandakan keuntungan usaha. Sarana tambahan bisa berbentuk alat-alat, mesin, dan perlengkapan, bisa juga berwujud manusia yang kita pekerjakan (karyawan).

Sarana tambahan bisa kita umpamakan pengungkit buat mengankat batu yang berat, atau katrol untuk mengangkat air dari sumur. Tanpa adanya sarana tambahan, kita tetap bisa mengangkat batu dan mengangkat air dari sumur tapi hasilnya tidak semudah menggunakan sarana tambahan.

Bagiaman penerapannya pada Kios Addina, kios kami??

Dari ketiga pilar diatas, baik secara sengaja maupun tidak kami sengaja, sebagian telah kami terapkan dan saat ini sedang kami coba terapkan di kios kami. Misalnya keunikan yang kami tawarkan antara lain produk-produk pilihan yang tidak dijual di pasar dilingkungan kami, kenyamanan berbelanja dibandingkan berbelanja di pasar, serta beberapa fasilitas yang sedang kami upayakan untuk bisa menambah keunikan kios kami.

Nilai Tambah: mungkin yang baru bisa kami berikan berupa diskon untuk produk-produk tertentu, tas eksklusif, kemudian kami juga sering mencoba memenuhi pesanan-pesanan khusus dari pelanggan akan produk yang spesifik tanpa tambahan ongkos apapun.

Kemudian untuk sarana tambahan, kami telah menerapkan komputerisasi di Kios yang membuat kios kami tampak seperti boutiq atau super market. Kami menggunakan software kasir / POS (Point of Sales) bernama “Omset” buatan Ruli Software. Alhamdulillah sangat meringkankan dan memudahkan kami dalam menangani administrasi keluar masuk barang, memantau jalannya usaha, dan memantau stok barang.

Sarana tambahan lain, InsyaAlloh kami akan kembali mempekerjakan karyawati untuk menjaga kios, sehingga kami bisa konsentrasi untuk promosi, pengadaan barang, dan pembentukan sistem yang lebih baik lagi. Semoga kami mendapatkan karyawan yang terbaik untuk kemajuan usaha kami.

Sudah barang tentu yang kami lakukan belum sepenuhnya optimal menerapkan ketiga pilar di atas. Tapi setidaknya mulai sekarang kami jadi paham bahwa yang kami lakukan sejalan dengan prinsip diatas. Dan kami terus menggali potensi yang masih terpendam mengikuti prinsip tiga pilar tadi.

Ada saran…??

Semoga bermanfaat,

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani, PerMata, Swarna), Mukena, Busana, Aksesoris dll
Kios kami sukses menggunakan software kasir Omset by Ruli Software
(murah & mudah digunakan)

“In Order to RECEIVE, You must GIVE
In Order to ACHIEVE, You must TAKE ACTION”


Wisata ala Pengusaha

Februari 12, 2007

Sabtu kemarin (10-02-07) saya, istri, dan anak-anak menyempatkan berbelanja produk kerudung rabbani ke kantor cabangnya di Depok. Selama ini kami hanya bisa belanja produk rabbani lewat agen di Jakarta Timur. Memang sistem distribusi produk rabbani berbeda dengan produk yang lain, mereka menetapkan proteksi wilayah. Hanya boleh ada satu agen di setiap wilayah (satu agen di tiap Kabupaten / Kodya). Orang lain yang akan berjualan rabbani cuma bisa menjadi sub agen dan harus belanja di agennya.

Kami sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan jenis-jenis produk tertentu yang diminati pembeli. Karena sering di agen sudah tidak tersedia, sudah habis terjual, dan kami tidak kebagian. Sehingga begitu mendapat kabar bahwa sub agen rabbani bisa berbelanja ke cabangnya di Depok, kami langsung mencobanya. Siapa tahu dapat produk2 yang kami cari-cari.

Memang kami bisa mendapatkan apa yang kami cari. Tetapi ternyata, kami harus mendapat perlakuan yang berbeda. Syarat pembelian ‘diperberat’, diskon dipotong 5%, dan tidak mendapatkan bonus2 seperti yang kami dapat jika belanja di agen. Meskipun cukup kecewa dengan pelayanan yang kaku, kami tidak ingin mengganggu suasana hati kami.

Sepulang dari Depok kami coba menghibur diri dengan bersilaturahim ke teman yang tinggal di Depok. Tapi apa daya kemacetan di Depok saat itu cukup parah, kami salah jalur, dan harus berputar2 arah. Wah bertambah lagi kekecewaan kami, tapi kami harus tetap cool dan tidak terbawa suasana. Akhirnya kami putuskan untuk wisata ke Kebun Binatang Ragunan saja.

Siang hari kami sampai ke Ragunan, rupanya sudah ada sedikit perubahan, yaitu sudah dilewati Bus Way. Suasana Ragunan saat itu cukup sepi. Mungkin masyarakat Jakarta masih sibuk bersih-bersih setelah banjir reda.

Setelah masuk ke Ragunan, ternyata di dalam tidak banyak berubah. Memang terakhir kami ke Ragunan rasanya belum lama. Cuma sekarang kami datang dengan pikiran yang berbeda.

Yang membuat kami berbeda tidak lain adalah sekarang kami sudah menjadi ‘pengusaha‘, meskipun pengusaha gurem, :-) Kami iseng-iseng menganalisa dan berdiskusi tentang potensi-potensi yang ada di Ragunan. Wah, ternyata kalau Ragunan di lihat dari sisi yang lain, Ragunan masih menyimpan potensi yang luar biasa untuk digali, dikembangkan, dan disentuh dengan “touch of entrepreneurship” . Jika dibanding-bandingkan dengan obyek wisata lain, Ragunan rasanya jalan ditempat, dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja.

Kalau pengelola bisa lebih jeli, Ragunan bisa disulap menjadi tempat rekreasi yang lebih menguntungkan dan bisa menyedot pengunjung lebih banyak lagi. Masih banyak lahan yang kurang produktif. Banyak sarana yang terbengkalai. Dan yang menyedihkan, kita dipaksa untuk berjalan kaki untuk melihat seluruh anjungan (kandang) Binatang dengan sistem navigasi seadanya. Ada sih delman dan mobil kereta yang berkelilinag, tapi bukan kendaraan operasional yang disedikan pengelola bagi pengunjung untuk mendatangi satu persatu kandang binatang yang ada.

Memang ada satu lokasi yang sudah ditangani lebih profesional yaitu di Pusat Primata Smutzer (semoga penulisannya benar). Konsepnya berbeda dengan yang lain, disini manusia yang dikurung dalam tunnel / terowongan sedangkan hewan dibiarkan ‘bebas’. Di waktu-waktu tertentu ada atraksi pemberian makanan bagi Primata. Wah pasti menarik, cuma sayang kami datang diwaktu yang kurang tepat.

Coba kalau konsep itu diterapkan untuk seluruh area kebun binatang dengan sedikit modifikasi, tentu akan semakin menarik. Mirip-mirip Taman Safari Bogor begitu. Ditambah lagi pemanfaatan lahan yang lebih optimal dan penerapan sistem ‘one stop shoping’ di dalam kebun binatang , sekali masuk pengunjung dapat menikmati seluruh arena dengan nyaman dan puas, tentu akan menambah semangat orang untuk wisata ke sana.

Ah.. koq jadi ngelantur, cuma satu yang saya sukai setelah menjalankan usaha sendiri, rasanya banyak sekali perubaan dalam pola pikir kami. Kami jadi sering menerawang, mengamati potensi-potensi bisnis dalam setiap kesempatan. Banyak juga ide-ide yang kami dapatkan dan kami terapkan dalam usaha kami.

Dan satu lagi, sekarang kami jadi lebih respek dengan sesama pengusaha kecil. Dulu setiap ke Ragunan kalau didatangi tukang asongan yang terpikir “wah ngganggu aja”. Sekarang kami jadi sedikit lebih bijak, kami lihat2 apa yang bisa kami beli dan bermanfaat. Karena itulah yang mudah-mudahan bisa menyemangati pengasong tadi untuk tetap berjuang menjadi pedagang yang lebih besar lagi.

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com


Semua Berawal dari Pikiran

Februari 7, 2007

Bagaimana cara untuk memulai bisnis? Bagaimana mengawali usaha? Pertanyaan itu sering muncul pada mereka yang sudah punya keinginan untuk mulai membuka usaha sendiri tapi masih bingung dari mana memulainya.

Jika pertanyaan itu diajukan kepada beberapa orang yang sudah punya usaha sendiri, saya yakin jawabannya akan beragam. Seperti pepatah “banyak jalan menuju roma“, demikian juga banyak jalan untuk memulai usaha. Setiap pengusaha telah memilih jalannya sendiri-sendiri untuk mengawali usahanya.

Kalau saya renungkan kembali perjalanan kami memulai bisnis, pada hakekatnya semua berawal dari pikiran. Karena, sadar-tidak-sadar pikiranlah yang selama ini menuntun kita mengambil tindakan-tindakan tertentu. Apapun kegiatan yang kita lakukan pasti diawali dari pikiran. Pikiran yang memberikan ide-ide. Pikiran yang pertama menentukan pilihan tindakan yang akan diambil. Dan pikiran pula yang memerintahkan anggota tubuh kita untuk mengambil tindakan tertentu.

Oleh karena itu, kenapa kita sampai muncul keinginan untuk membuka usaha sendiri, pasti juga diawali dari pikiran. Mungkin awalnya kita berpikir bagaimana cara mendapatkan penghasilan yang melimpah. Atau bagaimana saya bisa memanfaatkan tabungan untuk kegiatan yang lebih produktif. Itu semua berawal dari kerja pikiran.

Begitu pula setelah muncul keinginan untuk berbisnis, bagaimana sampai bisa berani mengambil langkah untuk memulai usaha sendiri, pasti diawali dari pikiran. Nah tinggal bagaimana cara kita mengatur pikiran kita akan menentukan sukses tidaknya kita memulai bisnis, mengembangkannya, dan membesarkannya.

Ada pepatah mengatakan “Anda sekarang adalah apa yang anda pikirkan di waktu lalu“. Jadi keberadaan kita saat ini boleh jadi merupakan hasil dari pikiran kita dimasa lampau. Kalaupun kita tidak merasa pernah memikirkan untuk jadi seperti sekarang, mungkin pikiran bawah sadar anda yang bekerja atau mungkin juga anda masuk dalam program dari pikiran orang lain, orang tua anda mungkin.

Proses kita berpikir bisa digambarkan mirip seperti prinsip kerja komputer. Dalam memproses informasi, sebuah komputer memerlukan data (input) untuk selanjutnya diproses dan terakhir akan menghasilkan output. Nah agar kita bisa segera memulai bisnis (sebagai outputnya), kita membutuhkan data / informasi mengenai segala seluk beluk cara memulai usaha. Data bisa dari buku, percakapan dengan teman, internet, TV dll.

Ini juga terjadi pada saya, setelah memiliki keinginan untuk berbisnis, saya banyak mengumpulkan informasi dari buku, majalah, tabloid, dan internet. Saya juga mengikuti beberapa seminar dan workshop tentang bisnis. Sampai-sampai saya merasa jenuh alias overloaded. Sudah banyak ilmunya koq nggak bisa-bisa juga, nggak berani-berani juga membuka usaha sendiri.

Rupanya saya hanya mengumpulkan informasi dan tidak memprosesnya lebih lanjut. Saya tidak mengambil tindakan yang lebih mendekatkan pada tujuan membuka usaha sendiri.

Selanjutnya yang saya lakukan adalah menganalisa atau mengamati usaha orang lain, melihat-lihat kios yang dikontrakkan, dan diskusi dengan keluarga. Alhamdulillah akhirnya kami berhasil membuka kios Addina, yang sampai saat ini masih terus berkembang.

Jadi bagi anda yang belum juga berani mengambil langkah pertama untuk membuka usaha, mulailah dari pikiran. Isilah pikiran dengan informasi-informasi tentang kewirausahaan dan entrepreneruship. Gunakan informasi / data tadi untuk mengambil langkah-langkah yang akan mendekatkan pada tujuan. InsyaAlloh pada saatnya nanti, cepat atau lambat, anda akan menemukan keberanian untuk memulai.

Bagi yang sudah punya usaha, mulai juga dari pikiran untuk mengembangkan dan membesarkan usahanya. Seperti yang sedang dan terus kami lakukan. Mudah-mudahan kita semua sukses mewujudkan impian kita.

Semoga bermanfaat.

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina : Kios Jilbab / Kerudung (rabbani, PerMata, Swarna), Mukena, Busana, Aksesoris dll
Kios kami dilengkapi software kasir Omset dari Ruli Software (murah & mudah digunakan)


Membuka Usaha Makanan

Februari 6, 2007

Saya seorang mahasiswi berumur 21 tahun. Sekarang, saya sedang ambil cuti kuliah. Karena cita-cita saya dari dulu adalah menjadi pengusaha. Alhamdulillah, ada seorang teman yang dengan senang hati mau meminjamkan pada saya modal. Saya berencana untuk memulai usaha yang akan menjual makanan.

Masalahnya, saya sama sekali belum mengerti masalah bisnis, atau bagaimana memulai suatu usaha. Tapi saya optimis, dan seringkali membayangkan bahwa usaha saya kelak akan berkembang dan menjadi besar, mengingat dikota ini, hanya satu tempat yang menjual makanan seperti yang akan saya jual. O iya, saya juga belum terlalu mengenal kota ini, karena saya baru menetap selama sebulan, jadi saya belum tahu bagaimana pangsa pasarnya.

Ya, kadang-kadang muncul juga pikiran takut kalau gagal. Bagaimana ya cara mengantisipasinya???terima kasih banyak untuk jawabannya.

puji

========== Komentar ==========

Mbak Puji, bersyukurlah di usia yang sangat muda sudah memiliki keinginan untuk berwiraswasta. Dan harus lebih bersyukur lagi, karena sudah ada teman yang mau minjamin modal. Sungguh itu kesempatan yang sangat-sangat langka. Karena umumnya calon pengusaha selalu mengeluhkan tentang sulitnya mendapatkan modal.

Sebagai calon pengusaha memang harus selalu optimis, apapun yang terjadi. Jangan biarkan munculnya pikiran negatif. Apalagi saat kita ingin mulai merintis suatu usaha yang baru buat kita. Pikiran harus terus tertuju pada hal-hal yang positif, dan buang jauh-jauh pikiran negatif. Atau jadikan pikiran negatif sebagai feed-back agar kita cermat mengukur resiko tanpa menghalangi langkah kita untuk memulai.

Mbak Puji, dulu kita lahir tidak pernah dikasih tahu bagaimana cara bicara, cara berjalan, cara makan, dll. Tapi kita sebagai manusia punya sifat cepat belajar. Demikian juga dalam bisnis, semua pengusaha pasti mengawali usahanya tanpa ada pengalaman. Kalau ada yang bilang “bisa menjadi pengusaha karena sudah punya pengalaman”, pasti itu bukan usaha yang petama. Dalam mengarungi dunia entrepreneurship yang penting adalah prosesnya bukan semata-mata hasil akhirnya. Dalam menjalani prosesnya kita harus terbuka untuk terus belajar pada setiap langkah yang kita ambil.

Kamipun memulai usaha jilbab dan busana muslim tanpa memiliki pengalaman sebelumnya. Kami tidak ada pengetahuan dan belum mengerti masalah bisnis jilbab, bahkan bagaimana memulainya juga tidak tahu. Justru kami jadi banyak belajar dan sedikit demi sedikit menjadi paham detail-detail menjalankan usaha kami. Satu lagi yang penting dalam membuka usaha adalah siap menghadapi masalah.

Ada yang bilang bahwa sebagai pengusaha misinya adalah menyelesaikan masalah. Jangankan sebelum membuka usaha, setelah membuka usahapun masalah akan datang silih berganti. Dan tugas pengusahalah untuk menyelesaikan satu persatu masalah tadi. Setiap berhasil menyelesaikan satu masalah kita akan naik kelas. Begitu seterusnya, makanya jarang ada pengusaha yang instan, begitu buka langsung jadi pengusaha besar. Banyak lho pengusaha yang cerdas memanfaatkan masalah menjadi peluang, memanfaat masa krisis agar dagangannya laris, pokoknya selalu bisa berkelit di masa sulit..

Kalau di kota Mbak Puji baru ada satu pengusaha makanan seperti yang Mbak Puji rencanakan, justru peluang yang bagus. Mbak Puji bisa amati toko yang sudah ada untuk mengetahui peluang pasarnya. Kalau toko tadi laris berarti peluang masih terbuka lebar. Kalau toko tadi kurang laris, bisa Mbak Puji pelajari apa penyebabnya dan apa kelemahannya. Nanti tinggal diperbaiki pada usaha Mbak Puji.

Untuk usaha makanan, menurut saya yang penting harus unik, baik rasanya maupun penyajiannya. Karena biasanya kalau ada satu yang laris pasti akan banyak yang mengikutinya. Kalau sudah banyak pesaing, konsumen tentu memilih yang punya nilai tambah dan unik.

Kami juga berencana membuka usaha kuliner, mudah-mudahan di tahun 2007 kami sudah bisa membukanya. Mohon do’anya ya…

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com

PS : Buat pembaca sekalian, blog ini kami persembahkan agar kita bisa saling berdiskusi tentang bagaimana cara memulai usaha. Karena saya mengalami betapa beratnya mengatasi hambatan-hambatan untuk mengawali usaha sendiri. Harapan saya, bagi yang ingin membuka usaha bisa berbagi (sharing) sehingga hambatan-hambatan tadi bisa terasa ringan dan memudahkan langkah pertama untuk jadi pengusaha. Saya juga masih terus belajar, jadi mohon maaf atas segala keterbatasan saya.