Asyiknya ber-Master Mind

Maret 29, 2007

Sejak dua minggu yang lalu (16 Maret 2007) saya ikut bergabung dengan salah satu master mind (MM) yang diadakan oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA) wilayah Jakarta Timur. Kelompok MM ini beranggotakan kurang lebih 10 pengusaha dan calon pengusaha. Pertemuan diadakan setiap Jumat Malam di tempat usahanya Pak Asep Triono di Learning Point, Jl. Radin Inten Jakarta Timur.

Group-group MM sebenarnya sudah sejak jaman dahulu kala ada. Cuma nama dan misinya yang berbeda. Pembentukan group MM sudah terbukti dan teruji mampu membantu percepatan atau kemajuan usaha anggota-anggotanya.

Ini pengalaman pertama saya bergabung dalam MM. Tujuannya untuk menjalin silaturahim dengan pengusaha lainnya, saling bersinergi, sharing pengalaman masing-masing dan saling mendukung untuk memajukan usaha masing-masing dan untuk kebaikan bersama.

Dari 10 anggota MM sebagian besar masih bekerja sebagai karyawan (TDB). Ada yang sudah full menjalankan usaha sendiri (TDA) dan kebanyakan masih nyambi TDA sekaligus TDB (istilahnya amphibi). Bagi yang belum punya usaha, situasi seperti ini benar-benar bisa membuat gerah dan kepanasan. Sebab setiap pertemuan dalam sesi sharing kita akan mendengar sukses-sukses yang sudah diraih rekan lainnya. Bahkan bagi kelompok amphibi seperti saya, sesi sharing ini cukup membuat hati dag dig dug, pingin cepet-cepet rasanya mengurusi usaha sendiri sepenuhnya.

Saya yang baru merintis usaha 6 bulan yang lalu dan baru beromset jutaan tentu akan sangat termotivasi saat mendengar cerita dari rekan yang lain yang usahanya sudah beromset ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Tentu tidak hanya saling pamer omset diantara anggota, itu hanyalah sekadar triger atau penyemangat bagi kami untuk terus memperbaiki usahanya. Yang saya dapatkan adalah semacam kompas atau penunjuk arah untuk melalui jalan-jalan menuju omset-omset yang lebih tinggi lagi.

Tidak disangkal lagi kemampuan seperti konsistensi, ketabahan, kekuatan diri, visi yang kuat, dan lain-lain sangat diperlukan untuk menggapai sukses yang lebih tinggi lagi. Tapi itu jangan membuat kita surut, cukup kita perhatikan saja action-action kita sehari-hari yang harus benar-benar komitment pada tujuan, insyaAlloh sukses akan diraih pada waktunya. Itulah nilai-nilai yang saya dapatkan dari rekan-rekan yang sudah lebih duluan beromset besar.

Yang terpenting dalam sebuah MM adalah tumbuhnya rasa kekeluargaan diantara anggota. Meskipun nasib masing-masing masih berbeda-beda tapi kami jadi seperti keluarga sendiri yang siap saling membantu, siap mendengar keluh kesah, dan siap memberi jalan atau solusi untuk kebaikan bersama.

Satu lagi yang saya suka, meskipun semuanya adalah pengusaha dan calon pengusaha, tidak ada rasa saling bersaing untuk mencari menang-kalah. Seluruh anggota ingin semua anggotanya sukses.

Dalam setiap pertemuan MM rasanya akan banyak diperoleh inspirasi-inspirasi baru. Saya merasa seperti dibawa ke awang-awang atau ke ‘dunia lain’ yang selama ini serasa tertutup tabir gelap. Tapi tetap saja kembali ke diri kita masing-masing, setelah ditunjukkan jalan-jalan menuju sukses, tinggal mau nggak manjalaninya.

Salam Fuuntastic!

Fuad Muftie
© 2007,http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina - Jakarta Timur


Berhasil Memanfaatkan EFT pada Anak

Maret 27, 2007

EFT (Emotional Freedom Technique) adalah salah satu metode penyembuhan yang dikembangkan oleh Gary Craig (USA), yang merupakan salah satu cabang atau varian dari Energy Psychology, yang menggabungkan ilmu kedokteran China kuno (+/- 5000 tahun yang lalu) dengan ilmu psikologi modern, yang digunakan dalam terapi untuk menyembuhkan penyakit emosi dan terbukti juga mampu menyembuhkan penyakit fisik. Yang menakjubkan dari EFT adalah proses penyembuhan yang kadang sangat cepat yang untuk ukuran kita saat ini sering “tidak masuk akal”.

Teknik EFT dilakukan dengan mengetuk-ngetuk (Tapping) pada beberapa titik akupunctur di wajah dan tubuh dengan jari kita sambil mengingat-ingat kejadian yang emosional yang akan disembuhkan. Pendiri EFT sendiri masih menganggap EFT dalam tahap pengembangan (meskipun sudah teruji bertahun2) sehingga kalau kita mau menggunakan metode EFT maka tanggung jawab mutlak ada di tangan kita.

Tertarik dengan testimoni-testimoni keberhasilan EFT sayapun ingin mempelajari dan mencobanya. Semula saya cuma baca-baca referensi dari beberapa sumber dan Alhmadulillah saya bisa belajar EFT / Tapping langsung dari salah seorang rekan saya yang lebih dahulu mempelajarinya (thank’s Pak Rery).

Memang sejak pertama mencoba, ada beberapa kejadian yang bisa saya atasi dengan EFT. Misalnya saat ingin marah ke istri, saya coba pakai EFT dan alhamdulillah perasaan marah seketika reda. Begitupun ketika ada rasa cemas waktu dihadapkan pada situasi yang kurang menguntungkan, EFT kembali bisa mengembalikan rasa PD saya.

Rasa takjub saya terhadap EFT kembali saya rasakan kemarin hari Sabtu, 24 Maret 2007, ketika mengantarkan anak saya untuk diobservasi sebelum masuk ke TK. Observasi itu ditujukan untuk mengetahui kemampuan anak kami apakah memenuhi kualifikasi untuk diterima di sebuah TK di Pondok Kelapa Jakarta Timur.

Saya dan istri saya sempat khawatir bisa nggak ya anak kami ikut observasi? Kami khawatir, karena selama ini Kamal (anak pertama kami) sering ‘bertingkah’ kalau ketemu orang yang baru dikenalnya. Padahal saat observasi Kamal harus ketemu orang-orang yang belum dikenalnya. Kami takut nantinya Kamal mogok alias ngambeg tidak mau ikut observasi, tidak mau masuk kelas, dan tidak mau mengerjakan tugas saat diobservasi.

Kekhawatiran kami terbukti, saat baru datang di TK, anak kami sudah nervous dan salah tingkah melihat begitu banyak anak-anak sebayanya yang belum dikenalnya plus guru-guru dan orang tua-orang tua murid yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kami coba menenangkan dengan terlebih dulu mengajaknya bermain di perosotan, ayunan, dan mainan-mainan yang ada di TK. Saat tiba giliran Kamal masuk kelas untuk diobservasi, anak saya bertambah nervous dan saat saya ajak masuk kelas, Kamal diam seribu bahasa. Kamal sama sekali nggak mau mengerjakan tugas-tugas observasi, beberapa kali ditanya sama Bu Guru juga diam, wajahnya sangat cemas.

Saya dan Kamal kembali keluar ruangan kelas untuk kembali menenangkannya. Saat saya beri pengertian, Kamal malahan nangis dan beberapa kali marah dengan menendang-nendang kursi. Saya dan Istri ikutan nervous karena dilihatin banyak orang. duuhhh malu dech. Kamal saya bawa menjauh dan saya coba terapkan EFT pada Kamal. Bukannya tenang, Kamal malah bertambah marah dan nangis tambah kenceng.

Kamal kemudian saya serahkan ke istri saya. Dan saya menenangkan diri bermain-main bareng Qinthara adik Kamal yang Alhamdulillah tidak ikutan gelisah. Saya coba terapkan EFT pada diri saya sambil mengawasi Qinthara yang sedang main perosotan dan mandi bola.

Pikiran saya fokuskan pada Kamal yang gelisah sambil mengetuk2 titik-titik EFT di wajah dan tubuh saya sendiri (saya pakai versi shortcut dan surrogat tapping). Saya tidak ingat sudah berapa putaran melakukan EFT. Cuma tidak terasa sudah hampir 1 jam saya tidak melihat Kamal di luar kelas. Saya cari-cari, ternyata Kamal dengan didampingi Istri saya sudah masuk kelas. Sayapun coba mengintip lewat jendela kelas, saya lihat Kamal sedang mengerjakan tugas observasinya dengan tenang. Wow…

Saya tidak sabar menunggu Kamal keluar kelas. Dan saat keluar kelas saya lihat wajah Kamal sangat ceria dan istri saya juga cukup surprise dengan perubahan perilaku Kamal di kelas. Ia jadi penurut dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, nyaris sempurna kata istri saya. Padahal selama ini kalau Kamal ngambeg butuh waktu agak lama baginya untuk kembali ‘normal’ dan ‘back to track’.

Dalam beberapa hari ini saya amati Kamal menjadi anak lebih ceria dan sudah jarang rewel. Alhamdulillah ….

Apakah ini pengaruh dari EFT atau hanya kebetulan? Saya sendiri takjub, tapi saya yakin tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Saat ini saya coba terus terapkan EFT baik untuk diri sendiri, untuk kebaikan anak-anak kami, dan untuk masa depan kami sekeluarga. :-)

Oh ya, saya coba EFT agar kios Addina omsetnya bisa terus naik dan terus berkembang. Mengikuti saran Gary Craig sang penemu EFT : “Try It On Everything!!“. Semoga berhasil… tunggu laporan berikutnya ya…

Semoga bermanfaat.

Salam
Fuad Muftie
© 2007
http://fuadmuftie.wordpress.com


Sudah Pengalaman Usaha Koq Masih Bingung??

Maret 22, 2007

Salam kenal pak fuad, saya arif dari cilacap. Saya seorang mahasiswa. namun, ingin sekali membuka usaha setelah banyak membaca buku motivasi untuk jadi enterpreneur, malah ngga ingin jadi pegawai…

Saya sudah berulang kali membuka usaha dari counter HP ataupun berdagang dengan warung kelontong namun selalu gagal atau mungkin belum dikaruniai oleh allah kesuksesan…

Tapi insya Allah saya ngga pernah untuk putus asa…yang jadi pertanyaan saya, kira2 usaha apa yang cocok bagi mahasiswa seperti saya dengan modal yang sedikit dan ngga mencukupi untuk membuka usaha. Apa usaha gorengan dan usaha yang mirip angkringan bisa dilakukan karena saya mempunyai warung kecil yang letaknya di pinggir jalan apakah dengan usaha gorengan bisa berhasil. Kebetulan saya juga punya usaha pangkas rambut yang insya Allah cukup terkenal di kota saya…apakah bisa untuk ada yang bekerjasama dengan meluaskan usaha salon saya..

arief hidayat

==== Komentar ====

Mas Arif, salam kenal kembali..

Kayaknya kebalik nich, harusnya saya yang mesti banyak bertanya ke Mas Arif. Lha wong saya baru bisa buka satu kios, sementara Mas Arif sudah berulang kali buka usaha. Masalah kegagalan, sebenarnya Mas Arif tidak gagal, cuma mungkin terlalu cepat menghentikan usaha. Kalaupun Mas Arif sudah menyatakan usaha tadi tidak mungkin di teruskan, ada baiknya Mas Arif lihat orang lain yang melakukan usaha yang sama seperti Mas Arif dan berhasil. Kemungkinan ada sistem yang belum jalan pada usaha yang Mas Arif nyatakan sebagai gagal.

Kalau nyari usaha apa yang cocok bagi mahasiswa dengan dana terbatas? Yang bisa menjawab adalah diri kita sendiri. Buka usaha mirip-mirip seperti nyari jodoh. Meskipun kita kenal calon pendamping hidup yang tampak sempurna, belum tentu dalam perjalanannya bisa cocok dengan kita. Begitu juga usaha, yang kita anggap cocok dan bagus belum tentu kita bisa menjalaninya dengan sepenuh hati.

Yang penting adalah “Mind Set” atau pola pikir kita yang harus kita benahi dulu. Sebuah peluang yang muncul di hadapan kita bisa ditafsirkan berbeda oleh orang yang berbeda. Satu orang mungkin menganggapnya tidak layak untuk dijalankan. Sementara yang lain menganggap sangat berpeluang. Dan kedua-duanya benar!

Orang yang menganggap peluang tadi tidak prospektif, maka kalau ia tetap memanfaatkan peluang tadi akan terhambat oleh pikirannya sendiri. Padahal kejadian-kejadian yang akan kita alami sering berawal dari pikiran kita sendiri. Sedangkan bagi orang yang menganggap peluang tadi adalah prospektif, maka baginya akan terbuka jalan bagi peluang-peluang berikutnya.

Jadi, kalau Mas Arif sekarang merasa tidak cukup punya dana untuk membuka usaha, selesaikan dulu masalah ini. Kadang hal ini cuma mental block yang kita buat sendiri. Padahal siapa tahu sebenarnya kita bisa mendapatkan dana untuk membuka usaha dari mana saja dan melimpah!. Toch anda sudah punya usaha sendiri yang sudah terkenal, rasanya kekhawatiran anda kurang beralasan.

Salam
Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com


Alhamdulillah, dua kali ikut bazaar, keduanya RUGI

Maret 22, 2007

Ikut sebuah bazaar sering memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Pertama kali kami ikut bazaar, yang ada dipikiran adalah khawatir, takut nggak laku dan takut rugi. Dan saat mendapat omset yang besar dan mendapat untung, membuat kita menjadi ketagihan.

Setelah kami beberapa kali ikut bazaar dan dapat untung, kamipun jadi kurang ‘waspada’ dengan tawaran-tawaran bazaar yang kami terima. Seperti terjadi beberapa minggu yang lalu, kami mengikuti dua bazaar dalam waktu yang berdekatan. Dan Alhamdulillah keduanya RUGI, barang sedikit yang laku, gedean ongkosnya daripada hasilnya :-(

Lho, bazaar rugi koq ‘Alhamdulillah’. Yaa mau bilang apa lagi, nasi sudah menjadi bubur, tinggal kita cari cakue, kacang kedelai, daging ayam, kecap, dan sambel, biar jadi bubur ayam spesial. Setidaknya kami jadi bersyukur agar lain kali kalau ada tawaran bazaar, jangan kepikiran untung dulu, bisa saja dapat rugi. Dan kami mendapat pelajaran langsung dari universitas kehidupan.

Yang membuat kami rugi di kedua bazaar malah saling bertolak belakang. Yang pertama kami ikut bazaar yang ternyata untuk kalangan menengah atas. Barang yang kami jual (jilbab rabbani dan permata) jarang yang kenal. Dari beberapa pengunjung, cuma satu orang yang sudah kenal apa itu jilbab rabbani.

Bazaar yang kedua malah sebaliknya, bazaar kedua boleh dibilang untuk kalangan menengah bawah dan didominasi mahasiswa. Beberapa pengunjung malah menanyakan jilbab tiruannya rabbani, yang katanya harganya lebih murah. (Wah sub agen rabbani koq suruh jualan jiplakannya??)

Tapi, sekali lagi kami tetap bersyukur bisa ikut di kedua bazaar tadi. Karena kami yakin banyak keuntungan non materi yang bisa kami petik untuk kemajuan usaha kami di masa datang, baik yang sudah bisa kami rasakan saat ini (berupa pengalaman) maupun yang belum kami ketahui hikmahnya.

Salam
Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com

Pengalaman adalah guru yang terbaik,
Tapi tidak berpengalaman adalah jauh lebih baik,
Asal kita mau belajar dari pengalaman orang lain.


Bagaimana dan Kemana Mengembangkan Usaha

Maret 13, 2007

======== Dari komentar pembaca ========

Pak Fuad yang terhormat,

Saya seorang ibu rumah tangga yang senang menjalankan bisnis kecil-kecilan di komplek sekolahan tempat anak saya sekolah, kebetulan sekolah anak saya berada di dekat pasar di kota Bogor. Segala macam barang biasa saya jual mulai dari makanan berupa kue-kue, keju, coklat, daging dendeng, atau alat-alat sekolah, pakaian, tas dan lain-lain.

Karena saya tidak memiliki modal, saya biasanya menerima titipan barang-barang tersebut di atas dari ibu-ibu sekolah untuk dijual kembali. Apabila barangnya laku maka saya menyetor sesuai dengan jumlah barang yang laku saya jual.

Akan tetapi kalau mengandalkan titipan barang dari ibu-ibu di sekolah itu jumlahnya sangat terbatas, sehingga keuntungan yang saya peroleh pun kecil. Saya ingin mengembangkan usaha saya dengan sistem yang saya jalankan sekarang (barang laku, bayar) karena saya tidak punya modal. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana dan kemana saya mengembangkan usaha saya.

Mungkin Bapak punya saran untuk saya Pak ? terima kasih sebelumnya saya ucapkan.

Olgarina

======== Tanggapan ========

Bu Olgarina, satu hal yang patut ibu syukuri adalah ibu sudah punya usaha sendiri (meskipun masih serabutan) dan ibu sudah punya pangsa pasar tersendiri. Bandingkan dengan orang lain yang masih belum berani memulai usaha, ibu sudah berani dan tentunya Ibu sudah selangkah lebih maju. Tinggal dikembangkan saja, namun ternyata ibu mengalami berbagai kendala untuk mengembangkannya.

Ada satu pesan yang selalu saya ingat, bahwa sebagai seorang pengusaha, kita punya misi untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Karena tanggung jawab seorang pengusaha adalah pada diri sendiri, bukan kepada atasan, bukan kepada majikan, dan bukan kepada boss. InsyaAlloh setiap kita berhasil mengatasi satu masalah, kita akan naik kelas mendekati sukses. Selanjutnya kita tetap harus siap menghadapi masalah berikutnya, agar bisa terus naik kelas dan terus sukses.

Mengenai permasalahan yang Bu Olgarina hadapi saat ini, mohon maaf saya belum bisa mendapat gambaran yang jelas mengenai masalah yang sedang ibu hadapi. Yang saya tangkap ibu ingin mengembangkan usaha tapi ada kendala modal. Saran saya, mengingat ibu sudah tahu persis bagaimana pasar yang ada dan bagaimana peluang pengembangannya, kalau memang positif, ibu bisa coba mencari pinjaman modal dari pihak lain (Saudara, kenalan, atau mungkin Bank).

Kalau belum berani pinjam modal, Bu Olgarina harus jeli dalam mengelola penghasilan dari penjualan barang titipan yang sudah ada. Investasikan kembali sebagian besar porsi keuntungan yang ibu dapat menjadi modal usaha ibu berikutnya. Untuk langkah awal ini, Bu Olgarina harus bisa menghemat konsumsi sehari-hari. Istilahnya harus bisa menunda kesenangan, demi investasi di masa mendatang. Dengan cara ini saya yakin lama kelamaan Bu Olgarina akan punya modal sendiri yang mencukupi.

Ada satu lagi, untuk mengembangkan usaha yang sudah jalan, sebaiknya ibu fokus dalam satu produk tertentu sebagai bidang usaha ibu yang diutamakan. Kalau saya lihat usaha penjualan makanan, alat-alat sekolah, pakaian, tas dan lain-lain adalah kurang fokus. Sebaiknya pilih satu bidang yang sudah kelihatan menguntungkan. Misalnya ambil bidang makanan. Hal ini juga untuk membuat image dimata konsumen bahwa Bu Olgarina adalah pengusaha Makanan. Meskipun syah-syah saja berbisnis apa saja.

Tapi sebaiknya ada satu bidang yang benar-benar diseriusin. Coba bayangkan kalau Toyota punya usaha : Restoran, Butik, Kosmetik, Real Estate, Pertambangan, dan lain-lain. Mungkin image-nya tidak sebagus image Toyota sebagai perusahaan otomotif seperti sekarang.

Semoga bisa membantu

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com


Peluang Usaha Ada Dimana-mana

Maret 13, 2007

Tergelitik juga membaca tulisannya Pak Hadi Kuntoro, bahwa peluang usaha sebenarnya ada dimana-mana. Dan saya sangat setuju. Coba saja perhatikan barang-barang yang ada disekitar anda, komputer, printer, kertas, meja, handphone dan apa saja yang bisa anda lihat disekeliling anda, sebagian besar merupakan hasil dari transaksi jual beli. Bahkan barang-barang yang melekat pada diri kita sebagian besar juga kita beli atau paling tidak dibelikan orang lain kan?.

Masalahnya, kadang kita terlalu takut sehingga menganggap kalau sebuah peluang sudah diambil orang lain, kita sudah tidak kebagian peluang tadi. Padahal sudah menjadi sunatulloh / sifatnya dunia yang terus berputar, peluangpun terus berputar. Bahkan banyak peluang yang belum optimal dimanfaatkan orang lain.

Misalnya usaha dibidang garment meskipun sudah banyak pelaku usaha di sana tapi tetap terbuka peluang bagi pemula untuk menangkap peluang yang sama dan bahkan menciptakan peluang-peluang baru. Contoh lainnya masih banyak, usaha makanan boleh dibilang setiap saat muncul pemain baru dan banyak yang sukses. Usaha voucher HP juga terus tumbuh bak jamur di musim hujan, dan banyak yang bertahan bahkan berhasil. Inovasi-inovasi baru-pun terus tumbuh, yang berarti masih banyak lagi peluang yang belum tergarap.

Kalau kita masih dalam tahap berpikir-pikir untuk mencari peluang dan belum juga berani memulai usaha, maka kita perlu mempertajan kejelian kita menangkap berbagai peluang. Cara paling gampang adalah meniru usaha orang lain yang menurut kita masih berpotensi untuk dikembangkan. Kita tinggal mengikuti yang sudah ada dan kita modifikasi pada usaha yang kita jalani. Nanti kalau usaha kita sudah jalan, baru kita cari terobosan dan inovasi baru untuk terus berkembang.

Kalau kita masih terus pikir-pikir dulu, maka peluang tetap saja ada dan tentu akan diambil orang lain. Kita nanti hanya akan gigit jari dan bilang, “Yach itu kan persis seperti ide bisnis yang aku pikirkan dulu.”

Cobalah anda cari barang yang tidak bisa dijual, tentu anda akan menemukan barang yang bisa dijual jauh lebih banyak daripada barang yang tidak bisa dijual. Itu berarti banyak peluang dan ada dimana-mana

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina di Jakarta Timur


Belajar Bisnis Lewat Bazaar

Maret 7, 2007

Buat Anda yang sudah punya keinginan untuk memulai usaha sendiri, tetapi belum juga mewujudkannya, tidak ada salahnya untuk mencoba-coba terlebih dahulu. Salah satu cara untuk mencoba kemampuan wirausaha kita adalah lewat bazaar.

Kita pasti pernah mengunjungi bazaar, baik bazaar di lingkungan kita, bazaar dalam skala nasional, maupun bazaar internasional. Dalam bazaar umumnya berkumpul bermacam-macam pedagang dalam sebuah event atau keramaian sehingga mampu menarik perhatian pengunjung.

Dengan mengikuti bazaar kita sudah mendapat keuntungan yaitu tidak perlu berpromosi tentang usaha kita untuk mendapatkan customer. Justru bagi pengusaha yang sudah jalan, bazaar bisa dijadikan sarana promosi yang murah dan bisa menjadi momen untuk menangguk keuntungan.

Bagi kita, momen bazaar bisa kita manfaatkan sebagai sarana belajar berbisnis yang sangat-sangat murah, dibandingkan jika harus belajar lewat seminar atau workshop. Bahkan kita bisa saja ikut bazaar tanpa keluar modal dan mendapat keuntungan berlipat. Bagaimana caranya?

Pertama-tama kita mesti mengetahui rencana / jadwal adanya bazaar. Ini bisa kita dapat dari iklan-iklan di majalah, tabloid, atau internet. Atau bisa juga kita dapatkan lewat teman-teman kita, seperti adanya bazaar di kantor-kantor. Setelah mendapat informasi, usahakan bisa mendaftar dan bisa mengetahui tema bazaarnya agar produk yang nantinya akan kita jual sesuai dengan tema bazaar.

Untuk mendapatkan produk yang akan di jual di bazaar, kita tidak perlu membelinya. Kita bisa bekerja sama dengan meminjam barang pada toko-toko yang sudah ada. Misalnya kita ingin menjual sepatu, kita bisa kerjasama dengan toko sepatu, untuk menjual busana, kita bisa bekerja sama dengan toko busana. Kuncinya adalah networking, koneksi, dan referensi. Kalau tidak, kita harus berani melakukan pendekatan dengan pemilik toko. Sampaikan bahwa kita ingin mengikuti bazaar dan pingin pinjam barang dagangannya, mungkin perlu juga kita memberikan jaminan kepada pemilik toko.

Kalau sudah dapat ijin peminjaman barang, kita perlu mempersiapkan segala hal yang mungkin diperlukan pada saat bazaar. Seperti brosur, sepanduk, peralatan dan perlengkapan (kalkulator, buku nota penjualan, alat tulis, kantong plastik, dll). Kita buat check list agar nantinya tidak lupa.

Saat hari H, kita niatkan untuk benar-benar belajar menjadi penjual, karena bagaimanapun kemampuan menjual merupakan kemampuan yang vital bagi seorang pengusaha. Kita bisa pelajari bagaiman tanggapan pengunjung dengan produk kita, bagaimana kita harus melayani pengunjung, bagaimana sampai bisa terjadi penjualan, bagaimana mengatasi komplain atau pertanyaan pengunjung dan lain-lain.

Kejadian-kejadian dalam bazaar bisa menjadi sumber pembelajaran yang penting bagi kita untuk melangkah lebih serius dalam berbisnis. Pelajaran-pelajaran yang kadang sulit untuk ditemukan di kelas-kelas kuliah, seminar, workshop, dll. Pelajaran yang langsung ke sasaran, pelajaran dari gurunya langsung yaitu konsumen kita.

Kalau menurut penilaian kita saat mengikuti bazaar tidak menguntungkan, jangan berkecil hati. Itu hanya latihan kita untuk menjadi pengusaha. Itu masih kecil dibanding kalau kita sudah terlanjur membuka toko sendiri. Kita bisa coba lagi sampai bisa mengikuti bazaar yang menguntungkan, toch modal ikut bazaar sangat kecil dan bisa kita minimalisir.

Bahkan ada beberapa pengusaha, yang semula adalah karyawan dan ketika mengikuti bazaar sehari terus mendapat keuntungan yang berlipat, barulah terbuka pikiran dan hatinya bahwa menjemput rizqi ternyata lebih mudah lewat perdagangan.

Semoga bermanfaat

salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Pemilik Kios Addina di Jakarta Timur


Jadi Pengusaha Seharusnya Punya Mata-Mata

Maret 2, 2007

Ini pengalaman beberapa hari yang lalu di Kios Addina. Dalam sehari banyak orang membeli jilbab warna putih polos, tidak seperti hari-hari biasanya. Malam harinya setelah datang pengunjung terakhir, kami baru sadar kenapa seharian banyak orang mencari jilbab putih. Pengunjung tadi bercerita bahwa TK di komplek kami keesokan harinya akan mengadakan latihan / manasik haji. Makanya banyak orang tua murid yang mencari jilbab putih polos untuk anak-anaknya.

Wah, ternyata informasinya telat kami tangkap. Kalau saja bisa kami ketahui adanya event tersebut, mungkin bisa kami persiapkan stok jilbab putih yang lebih banyak sebelumnya. Tapi ya sudah, bagaimanapun Alhamdulillah hari itu omset lumayan banyak.

Dari kejadian ini kami jadi berpikir, perlu juga adanya mata-mata dalam menjalankan usaha kita. Tentunya mata-mata dalam arti positif yaitu orang yang bertugas mengumpulkan informasi untuk mendukung kemajuan usaha kita. Kita tidak perlu menyewa atau membayar orang. Cukup kita jalin komunikasi yang baik dengan orang-orang yang kira-kira bersedia memberi informasi, seperti akan adanya event-event tertentu yang bisa kita manfaatkan sebagia peluang.

Untuk selanjutnya, kata istri saya, kami mesti lebih “ngeh” dan lebih “waspada” kalau ada pola-pola belanja pelanggan yang berubah. Seperti tahu-tahu beberapa kali orang menanyakan produk tertentu, ada kemungkinan selanjutnya orang lain akan menanyakan hal yang sama. Dalam hal ini kita sendiri yang harus jadi mata-mata dan sebisa mungkin bisa melakukan kegiatan “intelijen” yaitu dengan “menginterograsi” pelanggan yang datang.

Barangkali itu pula yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar, mereka pasti melakukan kegiatan intelijen, dengan memata-matai pelanggan dan pesaingnya. Tim Intel inilah yang memberikan masukan kepada pihak manajemen berupa informasi-informasi penting yang tidak bisa ditangkap secara langsung oleh manajemen. Bagaimana kegiatan intelijen di perusahaan besar? Ach.. belum kebayang dech. Wong buka usaha juga baru seumur jagung, he.. he.. he…

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com


Sebulan Bersama Software Omset

Maret 1, 2007

Hari ini genap sebulan kami menerapkan komputerisasi di Kios Addina secara utuh. Kami manfaatkan komputer kuno di rumah yang sudah lama terbengkalai, dan sekarang alhamdulillah bisa menjadi mesin uang bagi kios Kami.

Sejak pertama membeli program software kios / toko (Omset dari Rulisoft) pada bulan Desember 2006, kami perlahan-lahan mempelajari software-nya dan pelan-pelan membuat kode-kode produk dan sekaligus kami masukkan data barang dagangan kami ke dalam komputer. Pekerjaan yang tampak sepele tapi cukup menguras pikiran dan tenaga kami.

Bulan Januari 2007 kami soft launching penggunaan software Point Of Sales (POS) Omset, sekaligus mengajari istri saya cara menggunakannya. Istri saya selama ini jarang menggunakan komputer, sehingga tidak bisa dipaksakan untuk cepat bisa, makanya saya pakai sistem learning by doing, learning by mistakes, dan learning for success :-). Selama masa belajar ini sekaligus kami manfaatkan untuk memperbaiki sistem pengkodean dan kami beberapa kali melakukan perhitungan ulang stock barang, biar akurat.

Awal Pebruari 2007, dengan mengucap Bismillah, kami mulai komitmen untuk menjalankan program POS Omset secara utuh di kios. Kendala-kendala jelas ada, beberapa kali istri saya mengalami salah entry, data tidak ketemu, jumlah stock yang tidak tepat, program hang, dan lain-lain. Tapi Alhamdulillah kurang lebih 80% transaksi berhasil kami rekam ke dalam komputer.

Dimata konsumen, dengan penerapan sistem komputerisasi di kios membuat image kios kami bertambah. Banyak juga yang kagum. Sebelum pakai komputer, calon pembeli sering menawar-nawar barang dagangan kami, padahal kami ingin harga pas. Sekarang calon pelanggan yang menawar semakin berkurang. Kalau ada yang menawar, sambil tersenyum bisa kami jawab “harganya sudah ada di komputer Bu”.

Tadi malam (28-02-2007) saya coba analisa data transaksi selama sebulan berjalan. Hasilnya, kami merasa seperti katak yang baru keluar dari tempurung. Kami jadi tahu persis track record kios kami secara detail. Kami bisa tahu barang-barang apa yang paling laku, barang yang paling menguntungkan, barang yang stoknya terlalu banyak, dan lain-lain. Jelas ini informasi yang penting untuk memajukan usaha kami.

Satu hal yang membuat saya terus tersenyum semalaman. Sekarang kami jadi tahu berapa sih keuntungan kios yang sebenarnya. Dengan sistem manual sebelumnya, kami hanya bisa menduga-duga besarnya profit usaha kami, lebih banyak pakai feeling. Dengan program Omset kami jadi tahu persis detail-detailnya. Dan yang membuat kami bahagia selama bulan Pebruari 2007 keuntungan perusahaan sudah hampir menyamai penghasilan saya sebagai pegawai :-)

Kami masih terus menganalisa bagaimana untuk mendongkrak profit usaha kami. Kami juga jadi kepikir “wah satu kios bisa untung segitu, gimana kalau buka 2, 4, atau 10 kios ya?”. Mudah-mudahan kami bisa terus memperbaiki kinerja usaha kami dan bisa banyak membuka ‘cabang’ biar bisa lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja.

Salam
Fuad Muftie
©2007 http://fuadmuftie.wordpress.com