Peluang Usaha di Nanggroe Aceh Darussalam

April 27, 2007

Assalamualaikum wr.wb.

Perkenalkan nama saya Harmouzhan., seorang mahasiswa  yang pengen banget ngebuka usaha sendiri. Saya di Aceh Mas.

Untuk tahap modal saya punya tabungan 10 jt. tp saya ngak tau mau usaha bagaimana yang saya jalankan. Planing saya sich pengennya ngebuka usaha rental komputer or counter HP. Maklum mas saya lihat peluang di Aceh, ttg tehnologi masih lambat perkembanganya di bandingkan dengan kota besar lainnya. Sementara daya beli masyarakat di sini tinggi.

Saya tertarik sich dengan metode mas ttg ATM (amati, tiru, modifikasi). Cuma masalahnya saya tidak tau dimana untuk mengamati, meniru krn saya tidak pernah keluar Aceh untuk melihat perkembangan disana. "maklum deh, saya anak kampungan kali ya;-)"

Harapan saya sich, apa yg harus saya lakukan, untuk mematangkan planing saya mas, trus mungkin ada situs or web yang bisa gue kunjungi untuk diamati strateginya mas. Atau mungkin mas jg punya relasi di sana, yang bisa ngebantu saya…

Oh ya, saya mahasiswa tehnik komputer mas……

Untuk semua, motivasi, balasan, dan konstribusi yg mas berikan saya ucapkan terima kasih….

Salam ya mas untuk keluarganya……

Moga makin sukses & berjaya di jalan Allah SWT…

Amin…..

Wassalam…

Harmouzhan
mozan.lgs [at] gmail.com
0852 6019 xxx

========= Komentar =========

Wa’alaikum Salam Wr Wb

Salam kenal kembali Saudaraku di NAD. Mas Harmouzhan saya senang sekali dengan analisa Anda mengenai kondisi di Aceh yaitu "Perkembangan teknologi yang lambat" v.s. "daya beli masyarakat yang tinggi". Bukankah itu suatu peluang emas yang belum tergarap dengan baik. Berarti kini saatnya Anda ambil tindakan untuk memenuhi kebutuhan / kesenjangan yang ada tersebut.

Saya pikir perkembangan teknologi sangat universal. Kalau saat ini di NAD nampak masih lambat, mungkin karena sarana dan prasarana yang belum memadai. Begitu ada yang mau menyediakan segala sarana dan prasarananya, pasti perkembangannya akan melesat mengikuti perkembangan teknologi di tempat lain. Cuman siapa yang bersedia menyediakan sarana dan prasarana? Bisa saja Pemerintah, NGO, swadaya dan pengusaha.

Kalau nunggu pemerintah, NGO, dan swadaya mungkin lama ya… terealisirnya. Berarti ini merupakan kesempatan pengusaha dan calon pengusaha untuk menyediakannya. Mungkin Anda jadi berpikir, wah berarti butuh modal yang besar dong untuk menyediakan sarananya? Benar, kalau kita mau menyediakan sarana yang super lengkap.

Tapi sebagai calon pengusaha, tidak boleh langsung menyerah. Sentuhan-sentuhan kecil bisa berdampak sangat besar dan luas. Kalau saat ini belum ada rental komputer yang memadai di sekitar lokasi Anda sementara ada kebutuhan di sana, penuhi saja dulu kebutuhan ini. Lambat laun kalau masyarakat sudah terbiasa dengan komputer pasti kebutuhannya akan meningkat.

Kalau usaha rental bisa berkembang InsyaAlloh bisa ditingkatkan lagi untuk memenuhi kebutuhan yang lain misalnya warnet, penyediaan jaringan, jasa service/perakitan komputer, dan sebagainya. Atau mungkin Anda bisa menjadi suplier komputer di NAD nantinya.

Saya pikir modal Rp.10 jt sudah cukup untuk membuat rental komputer. Cuma mohon maaf saya kurang memahami seluk beluk usaha rental komputer. Yang perlu diperhatikan adalah alokasi modalnya! Biasanya yang akan menyedot modal banyak adalahlokasi (kalau bukan milik sendiri dan harus beli atau sewa) dan peralatan (komputer set dan printer). Sehingga perlu diperhitungkan matang-matang penggunaan modalnya. Untuk tahap awal mungkin dua atau tiga unit komputer cukup. Kalau sudah jalan dan menghasilkan untung bisa ditambah lagi.

Usaha Counter HP juga sangat bagus dan prospektif. Sepanjang yang saya tahu, untuk usaha voucher HP memang untungnya kecil tapi biasanya transaksi penjualannya lebih sering terjadi, sehingga untungya menjadi besar dari volume penjualan. Kalau bisa, ambil posisi sebagai penjual grosir-an sehingga volume penjualannya bisa lebih tinggi lagi.

Jika diperbandingkan, usaha penjualan voucher mungkin butuh modal yang lebih kecil dari pada rental komputer. Modal yang ada, bisa digunakan lebih banyak untuk menyediakan barang dagangan (voucher, assessoris, HP baru & second, dll) daripada investasi lokasi dan peralatan. Lokasi penjualan juga nggak perlu besar-besar seperti untuk rental komputer. Yang penting berada di lokasi yang strategis. Dan nantinya tinggal dibikin ramai suasanya dengan banyak memasang spanduk, gambar-gambar, dan hiasan-hiasan yang menarik lainnya.

Untuk strategi A.T.M, kalau di tempat Anda belum ada, berarti ini benar-benar peluang yang besar. Saran saya luangkan waktu sekali-dua-kali berkunjung ke kota lain yang sudah ada pengusaha rental komputer maupun counter HP. Mungkin ke Medan atau kota lainnya yang lebih dekat. Itung-itung sebagai investasi di pengetahuan (ilmu) dan syukur-syukur bisa sekalian dijadikan kesempatan membentuk jaringan dengan pengusaha lain.

Kalau mau bisnis voucher, banyak lho yang menjual lewat website. Coba anda buka blognya Pak Masbukhin di masbukhinpradhana.blogspot.com, beliau ini dijuluki Rajanya Voucher. Atau cari lewat google.com. Cuma saran saya hati-hati dengan tawaran yang menggiurkan, karena sering berujung penipuan. Ingat : bisnis itu berlaku prinsip KEWAJARAN. Kalau mendapat tawaran yang menggiurkan dan tidak wajar, harap berhati-hati. Pelajari benar-benar tawaran-tawaran dengan kepala dingin. Kalau nggak wajar, nggak usaha maksain ikut.

Tapi mohon maaf, ulasan saya diatas hanya analisa semata, karena saya belum pernah terjun langsung di bisnis rental komputer dan counter HP. Atau barangkali ada pembaca yang punya pengalaman dan pengetahuan lebih luas tentang bisnis rental komputer dan counter HP, boleh silahkan berbagi dengan Mas Mouzhan di Aceh. Atau ada yang bersedia kerja sama ????

Semoga bisa membantu.

Salam
Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com


Buka Usaha di Perumahan Yuk!

April 24, 2007

Assalamu alaikum,

Pak Fuad yang baik, To the point aja yah.. pak. Saya sudah membaca banyak di situs Bapak, saya sudah lama ingin buka usaha, tapi sampai sekarang belum bisa terlaksana, karena saya masih bingung dan takut untuk memulainya. Jadi saya minta saran dan pendapat dari Bapak Fuad.

Sebagai gambaran, saya tinggal di satu perumahan yang sudah banyak buka usaha di rumah, dengan membuka Kios / toko. (karena rumah saya terletak di jalan utama perumahan). Jadi lumayan bagus buat buka usaha. Tapi saya bingung jenis usaha / dagang apa yang cocok buat saya…?, karena sederetan rumah saya sudah ada Toko kelontong komplit (agen), Counter HP, Toko buku & photo copy, Kios jamu, Cukur rambut, Wartel, dan Warung nasi padang. Wah … saya jadi bingung nich Pak Fuad, mau buka usaha apa ya…?

Sempat saya berpikir untuk buka usaha seperti Pak Fuad, berjualan Jilbab, busana muslim dll.

Demikianlah permasalahan saya, semoga Pak Fuad bisa memberi saran dan pendapatnya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih dan semoga segala kebaikan Bapak mendapat Balasan dari Allah SWT.

Wassalam

M.A.

===== Komentar ========

Wa’alaikum salam Wr Wb.

Pak MA, salam kenal kembali Pak, di mana perumahannya Pak? Atau saya sewa aja Pak lokasinya :-)

Pertama saya ucapkan selamat, karena Anda sudah punya niat untuk bukausaha. Itu sudah seperempat perjalanan Pak. Tinggal ambil langkah pertama maka50% perjalanan sudah terlampaui. Cuma memang langkah pertama adalah langkahterberat dalam hidup kita. Ini sudah hukum alam, ingat hukum kelembaman Pak,semua benda kalau disuruh bergerak, pertama kali terasa berat, tapi setelahjalan akan enteng, bahkan banyak yang nggak mau berhenti.

Begitu juga dalam memulai bisnis, selalu banyak alasan untuk menunda-nunda,dan selalu terasa berat untuk memulai. Salah satu alasan yang sering munculadalah BINGUNG dan TAKUT seperti yang Pak MA alami. Saya dulu jugamengalami hal yang sama Pak, Bingung dan Takut! Kalau saya ingat-ingat mungkindulu saya kurang ilmu, karena memang tidak pernah ada yang ngajari bagaimanamemulai usaha. Dan ini bisa diatasi dengan banyak-banyak menimba ilmu pada orang yang sudah memulai terlebih dulu, atau lewat membaca buku, artikel, tabloid, dan majalah tentang kewirausahaan.

Sama saja waktu kita pingin bisa nyetir mobil, pasti ada rasa takut danbingung saat pertama kali kita berada di kursi sopir. Tapi setelah mencoba danbisa, rasa takut dan bingung lama-lama akan dengan sendirinya hilang. Begitu juga dalam bisnis, setelah kita berani menjalankan usaha maka kebingungan dan ketakutan akan hilang dengan sendirinya.

Untuk memilih jenis usaha mana yang cocok buat kita, rumusnya : pilih bidang yangpaling Bapak minati, sukai, gemari, cintai, dan syukur-syukur paling dikuasai. Karena melakukan kegiatan yang kita sukai, akan membuat kita enjoy dan kalaupun gagal, tidak akan pernah membuat kita surut. Yang penting ketemua dulu bidang yang digemari, nanti perlahan-lahan bisa belajar segala seluk beluk bisnis yang terkait dengan kegemaran Pak MA. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa pengusaha yang melakukan usaha dibidang yang dicintainya, akan memberikan hasil keuntungan yang lebih besar dan berlipat dibanding menjalankan usaha dibidang yang kurang diminati.

Langkah mudahnya, coba Bapak bandingkan kondisi perumahan Bapak dengan perumahan-perumahan yang lain, usaha apa yang bisa jalan di perumahan yang lain dan belum ada di perumahan Bapak. Atau Bapak bisa bandingkan usaha yang sudah ada di sekitar rumah Bapak, tapi bisa dijalankan dengan cara yang berbeda di perumahan yang lain dan berhasil. Pak MA bisa banding-bandingkan dulu syukur-syukur ketemu jenis usaha yang benar-benar diminati. Nanti kalau sudah ketemu tinggal terapkan pola ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

Apalagi lokasi rumah Pak MA strategsi, Bapak bisa leluasa bereksperimen, atau coba-coba dulu dalam salah satu usaha dengan skala kecil dulu. Kalau sudah ada pembeli, tanyakan pada mereka, produk atau jasa apa lagi yang bisa Pak MA layani yang belum ada di perumahan. Biasanya nantinya akan berkembang.  Mungkin juga nantinya akan bergeser atau berganti jenis usaha lain yang lebih menguntungkan.

Misalnya usaha voucher HP, mungkin yang lain baru jualan pulsa dan asesoris saja. Pak MA bisa buat yang lebih baik lagi misalnya ada fasilitas down load ring tone atau lagu, atau beri fasilitas lainnya yang menarik (fasilitas antar-jemput, service HP, dll).

Yang penting lagi sebelum memulai usaha adalah perubahan pola pikir (Mind Set) kita tentang bisnis. Perbedaan pola pikirlah yang akan membedakan pengusaha yang berpola karyawan dan karyawan yang berpola pengusaha. Mungkin Pak MA pernah melihat orang jualan suatu produk, dari jaman dulu sampai sekarang usahanya segitu-gitu aja tidak berkembang. Misalnya dulu jualan bakso pakai satu gerobag dorong, sekarang tetap jualan bakso dengan satu gerobag, dan mungkin 10 tahun lagi tetap jualan bakso dan tetap dengan satu gerobag dan tetap dijalani sendiri.

Semoga bisa membantu

Salam
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Einstein Aja Milih Dagang

April 20, 2007

Mungkin anda pernah mendengar tentang hal ini. Tapi saya benar-benar tertegun dan berhenti membaca saat membaca kutipan pernyataan Einstein yang tercantum dalam buku elektronik Instant Cash-Flow, karangan Mark G. Nolan. Kutipannya berbunyi sebagai berikut:

Albert Einstein once wrote, "If I had my life to live over again, I would elect to be a trader of goods rather than a student of science. I think barter is a noble thing. I need to know more about it."

Yang kalau diterjemahkan bebas kurang lebih berarti :

Einstein pernah menulis, "Kalau saya bisa mengulangi hidup saya, saya akan memilih untuk menjadi seorang pedagang daripada menjadi seorang pelajar / ilmuwan. Saya kira barter adalah sesuatu yang mulia. Saya perlu tahu lebih banyak tentang hal ini"

Saya baca berulang-ulang, nggak salah nich Mbah Einstein "nyesel" jadi ilmuwan dan mengakui berdagang sebagai jalan hidup yang lebih baik / lebih mulia?

Kalau direnung-renungkan mungkin bener juga. Saya cuma berspekulasi apa yang ada dalam pikiran Einstein hingga sampai pada kesimpulan tersebut. Mungkin dalam pandangan Einstein, orang-orang yang berdagang (pengusaha) lebih enak hidupnya. Mereka bisa punya harta yang melimpah, bisa mensponsori penelitian ilmiahnya, bisa membeli hasil penelitian para ilmuwan / peneliti, bisa mengatur politik suatu negara, dan sebagainya. Sesuatu yang mungkin sulit dilakukan oleh seorang ilmuwan.

Dan memang harus diakui di dunia ini perputaran roda ekonomi dikendalikan oleh para pengusaha. Perputaran uang sepenuhnya dalam genggaman para pengusaha. Pemerintah boleh mengatur dan mendistribusikan uang, tapi kalau pengusaha tidak bergerak, sistem ekonomi akan lumpuh, politik akan kacau, pendidikan akan terganggu, dan penelitian ilmiah akan mandeg.

Pedagang / pengusaha tentu saja bisa menjadi profesi yang mulia, ketika mereka bisa memenuhi hajat hidup orang banyak, bisa memberi nilai tambah bagi masyarakat, dan bisa meningkatkan taraf hidup banyak orang. Sesuatu yang sulit dilakukan oleh ilmuwan sendirian tanpa bantuan entrepreneur.

Ah jadi ngelantur, tapi tetap diakui tanpa kehadiran para ilmuwan dan peneliti, pedagang dan pengusaha juga akan sulit mendapat produk-produk yang berkualitas. Pengusaha dan ilmuwan masing-masing tetap memiliki posisi yang strategis dalam hidup kita. Masing-masing punya sumbangan yang penting dalam hidup kita.

Setidaknya menurut saya pribadi menjadi pengusaha jauh lebih mudah dibanding menjadi jadi ilmuwan. Untuk menjadi pengusaha tidak perlu kecerdasan yang tinggi dan tidak harus mengenyam pendidikan yang tinggi-tinggi. Tapi kalau punya kecerdasan yang tinggi dan mau berbisnis pasti hasilnya lebih dahsyat :-)

Saya jadi semakin yakin, jalan hidup yang kami tempuh dengan membuka usaha sendiri, merupakan jalan hidup yang mulia. Dan mudah-mudahan bisa memberi sumbangan yang positif bagi masyarakat luas

Semoga bermanfaat.

Salam
Fuad Muftie
© 2007,http://fuadmuftie.wordpress.com
TNM-E20


Bantuin Rakyat Indonesia Yuk!

April 19, 2007

Rasanya saya sudah lama tidak mengikuti berita-berita di koran dan televisi. Paling-paling denger lewat radio di kantor. Saya sengaja mengurangi porsi menonton dan membaca berita, karena kebanyakan nonton berita akan membuat banyak berpikir negatif dan apatis (ingat : There’s no news but bad news!). Kalaupun melihat sepintas saja tidak sampai terlalu dalam mengikuti.

Kemarin pas sepintas lagi nonton TV, saya sempat baca teks berita di salah satu TV yang mengatakan bahwa Pemerintah RI sedang pusing memikirkan pengangguran (baca : pencari kerja) di Indonesia yang mencapai 11 Juta orang. Padahal pemerintah baru mampu mengentaskan 1 juta orang, itupun lewat jalur penerimaan PNS.

Pemerintah kembali meminta sektor riil untuk bisa membantu mengentaskan angkatan pencari kerja tersebut. Sedih juga mendengar bertumpuknya masalah di Indonesia yang belum terpecahkan.

Saat ini saya sangat bersyukur, karena sejak empat hari yang lalu, Kios Addina kembali mempekerjakan karyawati untuk melayani pelanggan di Kios. Keputusan ini kami ambil karena istri saya mulai harus konsentrasi menyelesaikan kuliahnya, sehingga tidak bisa lagi sepenuhnya menjaga kios.

Saya bersyukur karena meskipun baru satu orang yang saya pekerjakan, saya sudah ikut ambil bagian mengurangi pengangguran. InsyaAlloh kalau memang jodoh dan karyawati saya jujur, amanah, dan mau berkembang, kami siap menularkan virus wirausaha kami ke karyawati saya sehingga dia tidak lama-lama ikut bekerja dengan kami dan bisa ikut ambil bagian mengentaskan pengangguran.

Saya juga jadi berpikir seandainya dari para pembaca blog ini bisa ikut mengentaskan satu atau dua orang untuk dipekerjakan dalam bisnis yang pembaca rintis, sungguh sangat dahsyat efeknya. Kita bisa membantu banyak rakyat Indonesia hidup lebih layak lagi.

Semoga yang belum punya usaha, bisa cepat-cepat terealisir keinginannya untuk mulai berbisnis.

Salam
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


No Instant Success!

April 16, 2007

Satu lagi pelajaran yang saya peroleh dari teman-teman mastermind, bahwa tidak ada kesuksesan instan (No Instant Success). Untuk mencapai tangga sukses, butuh waktu dan proses bertahap. Jatuh bangun merupakan hal yang lumrah untuk menggapai sukses.

Memang ada beberapa orang atau tokoh yang kelihatan begitu cepat mencapai puncak kesuksesan. Tapi kalau digali dan ditelusuri lagi perjalanan hidupnya, pasti pondasi-pondasi sukses sudah dibangun jauh-jauh hari sebelumnya.

Adalah Pak Hadi Kuntoro yang kemarin (13-04-2007) secara tidak langsung kembali memberi penegasan bahwa tidak ada kesuksesan instan. Kalau dilihat perjalanan terakhir Pak Hadi Kuntoro memang tampak fantastis, dalam waktu beberapa bulan berhasil membangun empat gerai rabbani dan berhasil menjadi agen platinum rabbani dalam waktu singkat. Bahkan saat ini beliau sedang membangun cabang rabbani untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY. Sungguh prestasi yang luar biasa.

Namun setelah mendengar cerita beliau bagaimana sebelumnya sempat jatuh bangun berjualan dari salak, sprei, celana dalam, dan gagal beternak sapi barulah kita mahfum, wajar kalau saat ini perjalanan Pak Hadi bisa melesat. Jatuh bangunnya Pak Hadi tersebut menjadi pondasi untuk mencetak mind set dan blue print sebagai pengusaha sukses saat ini.

Kabar baiknya bagi kita yang hidup di era informasi dan internet saat ini adalah waktu untuk mencetak mind set sebagai pengusaha dan membangung pondasi kesuksesan bisa dipersingkat. Pertukaran informasi yang begitu cepat dengan konten yang beragam dan melimpah membuat kita bisa cepat belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus kita menjalani pengalaman yang sama.

Kita bisa cepat belajar membangun keyakinan dan memotivasi diri untuk sukses. Kalaupun kita sempat mengalami kegagalan kita bisa cepat belajar bagaimana orang lain yang lebih dulu sukses bisa menyikapi kegagalan-kegagalan yang dialaminya.

Dari cerita / sharing pengalaman rekan-rekan mastermind membuat saya harus banyak bersyukur, meskipun baru setengah tahun terjun secara serius berbisnis, telah diberi kemudahan-kemudahan dan kelancaran dalam usaha kios Addina kami. Meskipun harus saya akui sering sekali kami mengalami rasa "down" saat kondisi kios begitu sepi pembeli. Dan alhamdulillah saya masih punya teman-teman yang terus menyemangati.

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Strategi Bisnis Pisang Goreng ala Uya Kuya

April 12, 2007

Tanggal 03 April 2007 yang lalu secara tidak sengaja saya mendengarkan siaran i-radio Jakarta yang sedang mengudarakan talk show dengan salah seorang selebritis yaitu Uya Kuya. Talk show itu menarik perhatian saya karena yang dibahas bukan gosip-gosip murahan, tapi ilmu bisnis yang pernah dilakukan Uya Kuya.

Talk show tersebut menghadirkan Uya Kuya dalam kapasitasnya sebagai pemilik gerai Pisang Goreng Mr Banana. Kalau tidak salah saat ini Uya Kuya punya delapan gerai Pisang Goreng di Jakarta. Dalam talk show ini Uya Kuya membeberkan beberapa strateginya dalam mengembangkan bisnis Pisang Goreng Mr Banana miliknya.

Karena saat mendengarkan radio, saya tidak sepenuhnya konsentrasi, jadi mungkin yang saya sampaikan tidak lengkap. Saya coba menyampaikan dengan bahasa saya sendiri dan maaf kalau kurang sistematis. Setidaknya saya berharap bisa sedikit memberikan inspirasi bagi yang memiliki bisnis serupa atau pingin menjalankan bisnis pisang goreng, atau mungkin bisa diterapkan di bisnis yang lainnya juga. Buat Mas Uya terimakih ya tips-tipsnya, meskipun saya tidak jualan pisang goreng tapi tips Anda sangat isnpiratif.

1. Pemilihan Lokasi Usaha

Lokasi usaha sangat penting. Dalam menentukan lokasi untuk bisnis pisang goreng, yang dipilih Uya adalah lokasi yang berada di pinggir jalan yang arus lalu lintasnya ramai tapi jalannya kendaraan cenderung pelan. Kalau kondisi jalannya ramai dan arus kendaraannya cepat / kenceng, maka kecil kemungkinannya orang-orang yang melewati jalan tadi akan memperhatikan gerai pisang gorengnya, karena konsentrasi untuk ngebut.

2. Libatkan masyarakat sekitar untuk pembukaan sampai pengelolaan Gerai

Dengan melibatkan masyarakat sekitar, akan ada rasa memiliki oleh masyarakat sekitar. Dampaknya dari segi keamanan akan lebih terjamin. Jika perlu libatkan preman-preman sekitar untuk ikut menjaga keamaanan. Tentunya dengan jaminan mereka tidak akan mengganggu usaha dan tidak menggerogoti usaha.

3. Berbisnis Harus Sepenuh Hati

Apapun kalau dilakukan dengan sepenuh hati hasilnya akan nyata. Meskipun kita merintis usaha dengan niat sebagai sumber penghasilan tambahan (usaha sambilan/sampingan), tapi menjalaninya jangan sampingan, karena hasilnya juga akan sampingan.

Usaha juga layaknya seperti mahluk hidup, kalau terus diperhatikan, usaha akan memberikan perhatian kepada kita dalam bentuk untung, laba, terus maju, dll. Bahkan Uya dalam talk show tersebut pernah mengalami, pada saat ia mendatangi salah satu gerai pisang gorengnya, tiba-tiba pengunjung menjadi ramai. Meskipun pengunjung tadi bukan datang karena ada Uya Kuya, melainkan benar-benar dengan motif ingin membeli pisgor.

4. Produknya Dijamin Berkualitas

Menjual produk yang berkualitas bisa menjamin orang-orang yang datang akan puas dan kemungkinan nantinya akan datang dan membeli lagi (repeat buying). Demikian pula dengan pisang gorengnya, Uya Kuya berani menjamin pisgornya enak, karena sebelum menjualnya dia benar-benar telah yakin dulu kalau produk pisang gorengnya berkualitas.

Bisa saja dalam berbisnis, kita menjual produk yang tidak berkualitas, dan bisa saja kita buat laku keras dan menguntungkan. Tapi tidak akan ada jaminan pembeli menjadi puas, mau datang kembali, dan mau membeli lagi.

Setelah yakin produknya berkualitas, maka tugas kita memberitahu sebanyak mungkin orang tentang produk kita. Meskipun makanan / pisang gorengnnya dijamin berkualitas dan enak, kalau orang nggak ada yang tahu juga percuma. Makanya diperlukan strategi memberitahu khalayak ramai dan strategi mendatangkan pelanggan.

Kalau nggak salah dengar, waktu di talk show, Uya Kuya menceritakan dua strategi yang digunakan pada bisnis Pisang Gorengnya yaitu :

1. Agar orang-orang yang sering lewat di jalan tempat gerai pisang gorengnya berada, Uya Kuya pernah membuat jalanan menjadi tersendat dan agak macet. Caranya dengan memarkir tiga buah mobil di pinggir jalan di sekitar gerainya. Parkirnya bukan didepan gerainya, tapi agak berjauhan. Sehingga orang-orang tidak tahu kalau yang membuat macet adalah mobil pemilik Gerai Pisang Goreng. Strategi ini hanya dilakukan dua hari pada awal-awal dibukanya salah satu gerai di Jakarta Timur (Wah, kalau tiap hari bisa bikin orang stress dong).

2. Agar orang-orang di perumahan sekitar gerainya tahu ada gerai pisang goreng yang enak, Uya Kuya menggunakan brosur / leaflet yang disebar di sekitar gerainya berada. Menyebarkan brosur juga ada strateginya. Menyebar brosur akan efektif kalau dilakukan di weekend (sabtu minggu) karena biasanya akan dibaca oleh pemilik rumah yang sedang liburan. Kalau menyebar brosur di hari kerja, biasanya yang membaca pembantu rumah tangga dan belum tentu disampaikan kepada majikannya, alias dibuang begitu saja.

Itu poin-poin yang masih saya ingat, mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menginspirasi. Buat Mas Uya Kuya, terimakasih sharingnya di i-radio Jakarta. Semoga terus maju usahanya.

Salam Fuuuuntastic!

Fuad Muftie
Owner Kios Addina, Jakarta Timur
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Menggabungkan kedahsyatan Law of Attraction dan EFT / S-EFT

April 11, 2007

Setelah menonton film The Secret tentu kita semakin yakin akan adanya Law of Attraction (LoA). Bahkan sebagian dari kita sudah membuktikan kedahsyatan LoA baik untuk hal-hal yang ‘kecil’ maupun hal-hal yang ‘besar’. Tapi bagi sebagian yang lain mungkin masih bertanya-tanya benarkah saya bisa memanfaatkan LoA untuk mencapai kesuksesan? Lha wong saya sampai saat ini banyak keinginan saya yang belum kesampaian.

Satu hal yang mungkin sedikit kita abaikan dalam menerapkan LoA untuk mewujudkan impian-impian kita adalah kondisi mental dan emosi kita. Dan ngomong-ngomong tentang emosi, kita akan teringat dengan Emotional Freedom Technique (EFT) atau yang di Indonesia dipopulerkan dengan nama Spiritual-EFT (S-EFT).

Barangkali yang selama ini kita dengar, EFT sangat efektif untuk menyembuhkan berbagai penyakit, baik penyakit mental dan fisik dengan hasil yang menakjubkan. Nah, apa hubungannya EFT dengan LoA? Mungkinkah kita mengkombinasikan EFT/S-EFT dengan LoA untuk mewujudkan cita-cita kita.

Seperti saya kemukakan diatas, bahwa LoA sangat bergantung pada kondisi mental / emosi kita. Jika mental dan emosi kita cenderung negatif maka LoA akan manarik hal-hal yang negatif dalam kehidupan kita. Agar bisa mewujudkan impian kesuksesan kita, kita dituntut untuk selalu punya mental dan emosi yang positif. Nah disinilah kita bisa memanfaatkan EFT untuk selalu mengkondisikan mental dan emsosi kita dalam keadaan yang selalu positif.Ini sejalan dengan pesan pendiri EFT yang selalu menyatkan "Try it (EFT) on everything!"

Berikut ini contoh yang sedang saya coba aplikasikan dalam mengkombinasikan LoA dan EFT. Seperti yang kita baca dalam buku maupun film The Secret, ada Creative Process dalam menerapkan LoA yaitu Ask, Believe, Receive, dan ada Powerful Process: Visualization dan Gratitude. Dalam tahap-tahap penerapan LoA tersebut, pada intinya kita diminta untuk menyampaikan apa benar-benar kita inginkan, kemudian meyakininya, bersyukur dengan apa yang sudah ada, dan terus fokus pada apa yang kita inginkan bukan pada apa yang tidak diinginkan.

Masalahnya kadang kita sendiri takut mengungkapkan keinginan kita sebenarnya. Contoh saja saat ini saya baru punya bisnis senilai 50 Jutaan Rupiah, dan saya menginginkan punya bisnis senilai 10 Milyar Rupiah. Apa yang terjadi dalam benak saya, kadang dan sering muncul konflik batin: benar nggak saya bisa memiliki bisnis 10M? Siapa sih saya ini koq berani-beraninya mimpi punya bisnis 10M? Bagaimana mungkin saya bisa punya bisnis 10M? Dan banyak keraguan dan ketakutan lainnya.

Dengan EFT kita bisa menghapus keraguan dan ketakutan tersebut.Sehingga kita bisa yakin dan nyaman dengan tujuan kita yang tinggi. Sehingga diharapkan LoA bisa mewujudkan impian kita dengan lebih mantap.

Dengan contoh diatas, kita bisa buat Statement Phrase dalam EFT seperti:

"Meskipun saya tidak tahu bagaimana cara mewujudkan bisnis 10M, saya ikhlas dan saya pasrah"

atau bisa kita pakai metode Choice-nya Dr Patricia Carrington :
"Meskipun saya tidak tahu bagaimana cara mewujudkan bisnis 10M, saya memilih untuk menemukan cara-cara yang kreatif untuk mewujudkannya"

Dalam tahap Believe, kita juga bisa mengalami ketidakyakinan dengan tujuan kita, kita bisa lakukan tapping dengan pernyataan :

"Ya Alloh, meskipun saya tidak yakin bisa memiliki usaha senilai 10M, saya ikhlas dan saya pasrah kepada-Mu ya Alloh"

Kemudian kita lakukan tapping sampai kita benar-benar merasa nyaman dengan tujuan kita. Lakukan terus setiap hari sampai keyakinan kita benar-benar ter-install dalam otak bawah sadar kita. Dan kalau keyakinan sudah berubah, tentu tindakan akan berubah, dan hasilnya juga ikut berubah.

Demikian salah satu contohnya. Masalah nantinya terwujud atau tidak kita pasrahkan dan kita serahkan sepenuhnya kepada alam semesta (Alloh SWT) untuk memberikan yang terbaik kepada kita.

Dan satu hal yang menarik dalam EFT adalah teknik EFT sangat fleksibel dan bisa digabungkan dengan teknik-teknik lainnya seperti NLP, Hypnoterapi, Afirmasi, dan lain-lain. Kita bisa memanfaatkan EFT untuk mengeliminasi segala bentuk keraguan, ketakutan, rasa tidak PD dalam setiap tindakan kita untuk mewujudkan impian kita.

Semoga bermanfaat.

Salam
Fuad Muftie
© 2007,
http://fuadmuftie.wordpress.com


Bahaya Comfort Zone!

April 9, 2007

Sejak lahir kita dilatih untuk senantiasa berada di dalam comfort zone (daerah aman dan nyaman). Bagaimana kita diberi ASI dan diberikan tempat tidur yg aman dan nyaman oleh orang tua kita, merupakan comfort zone yang pertama kita peroleh setelah terlahir di dunia ini.

Tapi bagaimana kalau alam semesta sudah menganggap kita tidak pantas lagi berada di dalam comfort zone? Alam semesta akan memaksa kita untuk keluar dari comfort zone kita. Misalnya, orang tua kita akan menghentikan pasokan ASI dan akan menempatkan kita ke tempat tidur tersendiri setelah kita agak besar. "Paksaan" ini akan membuat kita si bayi merasa terancam dan berada dalam bahaya. Kita awalnya akan protes, meronta, dan mungkin menagis dan marah-marah. Meskipun setelah kita jalani semua, kita akan kembali masuk ke comfort zone berikutnya.

Demikian seterusnya, setelah kita sekolah, kuliah, bekerja, dan berbisnis, kita sadar tidak sadar selalu keluar masuk dari comfort zone satu ke comfort zone berikutnya. Dan sudah menjadi fitrah, setiap keluar dari comfort zone selalu ada harga yang harus dibayar, yaitu ketidaknyamanan, bahaya, dan ancaman.

Alam semesta memiliki mekanisme seperti ini karena fitrahnya alam semesta adalah bertumbuh. Seperti tubuh fisik kita yang terus bertumbuh, demikian juga dalam karir, bisnis, dan berbagai dimensi hidup kita. Sehingga siapa saja yang berkeinginan mempertahankan comfort zone yang dimiliki sekarang hanya akan sia-sia, karena alam semesta punya mekanismenya sendiri untuk mengeluarkan kita dari comfort zone saat ini.

Orang yang menganggap bekerja sebagai PNS atau bekerja dalam perusahaan multinasional merupakan daerah aman / comfort zone, harus mengevaluasi lagi keyakinan tadi. Meskipun kita telah menduduki jabatan penting, kita hanya berada dalam comfort zone untuk sementara waktu. Setelah alam semesta menganggap kita tidak pantas lagi dalam comfort zone tadi kita akan dipaksa keluar. Bisa berupa mutasi, pemecatan, dan pensiun. Bahkan sejak pertama kita masuk sebagai pegawai kita sebenarnya juga digiring untuk keluar masuk comfort zone dalam bentuk mutasi, promosi, proyek, dan lain2.

Dalam bisnis-pun demikian, setelah kita berhasil mencetak keuntungan dalam usaha kita, kita akan cenderung mempertahankan posisi usaha kita agar tetap menguntungkan. Tapi kalau alam semesta menganggap kita tidak pantas lagi berada di posisi tersebut, kita akan dipaksa untuk beralih ke comfort zone berikutnya. Dan bentuknya sangat tidak enak, bisa berwujud kerugian, datangya pesaing, kesalahan manajemen, bencana, dan lain-lain.

Dari sudut pandang ini, wajar jika orang yang sudah berkecimpung lama dalam dunia usaha, mengatakan bahwa "tidak ada kegagalan, yang ada adalah sukses tertunda". Ini mungkin bentuk mekanisme alam semesta yang memang sedang menggiring kita menuju comfort zone yang lebih tinggi yaitu SUKSES (ingat: MESTAKUNG). Tapi kalau saat tampak gagal kita mundur, berarti GAME OVER!

Yang unik dalam dunia usaha adalah kita bisa menciptakan sendiri perpindahan dari comfort zone satu ke comfort zone berikutnya. Kita tidak perlu menunggu alam semesta memaksa kita pindah comfort zone. Kita bisa membuat diri kita tidak nyaman dan tidak aman sesuka kita untuk menggapai comfort zone berikutnya. Pengusaha bisa melakukan expansi usaha, membuka cabang baru, mempertaruhkan modal yang lebih besar yang pada awalnya merupakan ketidaknyamaan dan ancaman baru. Dan kalau ini berhasil maka somfort zone berikutnya siap menanti.

Ini juga yang saya alami bulan yang lalu, saya seperti terlena menikmati keuntungan usaha kios Addina, yang meskipun masih kecil tapi membuat kami merasa puas. Rupanya alam semesta mengingatkan saya dengan memberi hadiah kepada kami berupa hasil usaha yang minus alias rugi. Berarti saya sudah ‘kelamaan’ berada di comfort zone tadi. Alam semesta menginginkan saya untuk kembali bergerak dan mengambil tindakan yang berbeda untuk mencapai comfort zone berikutnya.

Jadi kalau kita sekarang merasa ada dalam daerah aman dan nyaman, berhati-hatilah. Persiapkan diri kita untuk untuk pindah comfort zone, dengan mempersiapkan harga yang harus dibayar. Atau tetap menunggu alam semesta memaksa kita pindah comfort zone, dengan tetap membayar harga ketidaknyamanan, ancaman dan bahaya.

Setidaknya ini kesimpulan sementara saya pribadi, ditunggu komentarnya. Selamat buat yang telah memilih jalan sendiri untuk berpindah-pindah comfort zone sesukanya dengan menanggung semua resikonya. Semoga saya pribadi bisa semakin berani take the risk (baca: take the RIZQi) untuk kembali berpindah2 comfort zone.

Salam

Fuad Muftie
© 2007,
http://fuadmuftie.wordpress.com

TNM-E20


Untung tapi Buntung (tapi tetep juga untung sich)

April 4, 2007

Enam bulan menjalankan usaha Kios Addina, membuat saya dan istri saya bertambah banyak wawasan tentang kewirausahaan / entrepreneurship. Setelah menikmati manisnya keuntungan diawal-awal membuka kios, kami harus mulai mencicipi asin-pahit-asamnya kerugian berbisnis.

Setelah beberapa waktu yang lalu saya ceritakan tentang kurang suksesnya mengikut dua event bazaar di Jakarta, ternyata efeknya sampai juga ke kios kami. Bulan Maret 2007 kemarin, kios kami boleh dibilang mengalami penjualan (sales) yang fantastis untuk ukuran kios kami. Dan harapan kami tentunya ingin bisa mendapatkan keuntungan yang besar.

Secara hitungan matematis lewat software Omset, kami mendapatkan keuntungan dari penjualan yang lumayan besar. Jumlah keuntunguan (gross) ini sudah melampaui gaji saya sebagai pegawai.

Ceritanya menjadi lain, setelah saya perhitungkan seluruh biaya-biaya yang timbul selama sebulan. Bulan kemarin boleh dibilang bulan dengan pengeluaran untuk biaya yang besar. Keuntungan penjualan yang besar langsung surut menjadi sangat kecil setelah dikurangi biaya-biaya selama sebulan. Bahkan setelah dihitung laba bersihnya langsung menjadi minus alias rugi. Lemes juga sih melihat hasil usaha sebulan harus merugi.

Dengan kepala dingin, satu persatu biaya saya analisa, saya selidiki kenapa sampai harus mengeluarkan biaya sebesar ini, dan diingat-ingat kembali kejadian-kejadian selama sebulan yang mengharuskan kami mengeluarkan biaya tersebut.

Salah satu faktor pengeluaran terbesar disumbangkan oleh dua event bazaar yang kurang sukses. Kami tetap membayar biaya sewa lahan, biaya transportasi, dan ongkos untuk menggaji saudara yang ikut menjaga bazaar. Sementara keuntungan dari bazaar sangat kecil.

Pengeluaran yang lain yang cukup besar adalah transportasi atau ongkos kirim untuk mendapatkan barang dagangan. Ini karena kami sering belanja dalam jumlah sedikit yang harus kami lakukan untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Secara global, ada beberapa faktor yang boleh dibilang sebagai kesalahan kami dalam menjalankan usaha, yang mengakibatkan kami harus merugi, antara lain :

1. Mind Set kami yang sejak awal membuka usaha terobsesi untuk mendapatkan omset yang besar. Padahal setelah saya selidiki, omset yang besar tidak menjamin profit yang besar. Saya jadi setuju dengan tulisan Pak Roni Yuzirman bahwa yang dicari dalam bisnis jangan cuma omset-omset-dan-omset tapi harus profit-profit-dan-profit. Profitlah yang harus kami jadikan sebagai mind set agar usaha bisa bertahan dan terus berkembang.

2. Kontrol pengeluaran kas yang lemah. Seringkali yang kami lakukan adalah asal ada uang langsung dibelanjakan baik untuk belanja barang dagangan maupun untuk menutup biaya-biaya. Tanpa melihat-lihat dulu posisi keuangan secara global. Ini mungkin sebagai akibat dari pola pikir saya yang ingin langsung menginvestasikan kembali porsi keuntungan ke dalam modal usaha atau barang dagangan.

Sebagai akibatnya frekuensi pembelian barang dagangan menjadi sering dengan jumlah/volume pembelian yang kecil. Sementara biaya transportasi atau ongkos kirim akan tetap baik belanja sedikit maupun belanja banyak. Tentu saja akan efektif kalau sekali belanja jumlah/volumenya besar meskipun frekuensi belanja agak berkurang.

3. Pembukuan yg kurang rapi. Ini menjadi faktor terjadinya kesalahan kedua. Pembukuan kami masih sangat-sangat sederhana dan belum mengikuti SAKI (Standar Akuntansi Keuangan Indoensia). InsyaAlloh bulan-bulan kedepan sekecil apapun usaha kami, akan kami terapkan SAKI. Sekalian untuk pembelajaran kami seiring membesarnya usaha kami (Aaamiiin, InsyaAlloh).

4. Masih sering tercampurnya uang pribadi dan uang perusahaan. Saya mencoba sekuat tenaga untuk memisahkan keuangan pribadi dan perusahaan. Tapi dalam prakteknya godaan-godaan untuk "meminjam" uang perusahaan untuk kepentingan pribadi sangat besar. Mudah2an kedepan bisa lebih tahan godaan.

Itulah pelajaran yang bisa saya ambil selama bulan Maret 2007 kemarin bersama kios Addina tercinta. Bolehlah kali ini kami mengalami kerugian, tapi saya yakin ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk kedepannya. Setidaknya saya sudah mendapatkan keuntungan dengan mengalami kerugian (yang masih kecil ini) di tahun pertama menjalani usaha dan bisa langsung dikoreksi.

Semoga kedepan bisa lebih baik, lebih menguntungkan, lebih maju, lebih besar, dan lebih dahsyat lagi. Aaaaaaamiiiiiin…

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com


Prospek bisnis “Clothing-an” / Garmen

April 3, 2007

Saya alif (21) mahasiswa manajemen bisnis di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Saya sekarang sedang menjalani bisnis pakaian dan konveksi, atau lebih dikenal oleh anak muda “clothing-an”. Hehe.

Awalnya saya ragu dengan bisnis ini karena :
1. sudah banyak pemain dalam bisnis ini.
2. diferensiasi produk masih bingung.
3. mental saya sebagai anak muda yang terkadang kurang konsisten.

Tapi saya dari dulu memang suka bisnis kecil-kecilan, dan sekarang alhamdulillah say sudah dapat modal untuk berbisnis. Jadi saya mencoba bisnis “clothing”, karna bisnis ini yang product knowledge nya cukup saya kuasai.

Yang ingin saya tanyakan adalah :
1. Apakah bisnis ini masih memiliki propsek yang bagus??
2. Bagaimana cara menerapkan sistem syariah dalam manajemenisasi bisnis saya??

Terima Kasih.
Wass.

===== Komentar =====

Mas Alif, salam kenal kembali. Senang rasanya mendengar anak muda sudah getol berbisnis. Saya jadi merasa terlambat banget memulai bisnis, kenapa nggak dari dulu memulainya selagi seumuran Mas Alif ini, selagi masih punya energi yang full power.

Semasa muda memang sering tampak seperti tidak konsisten. Tapi nggak apa-apa. Itu memang jiwanya anak muda yang masih dalam tahap mencari-cari. Dan bersyukur mas Alif sudah menemukan dunia yang disenangi di “clothing-an”.

Menurut saya, bisnis clothing atau garmen masih memiliki prospek yang bagus. Bisnis garment termasuk dalam bisnis yang merupakan kebutuhan pokok manusia yaitu Sandang-Pangan-Papan. Selama kita hidup kita akan terus butuh pakaian untuk menutupi tubuh, untuk memenuhi gaya hidup, untuk menjalankan ibadah, kerja, dll.

Memang ada yang menilai bahwa tahun-tahun belakangan ini bisnis garmen di Indonesia sedang surut. Tapi saya kira itu wajar dalam dunia bisnis yang kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Saat-saat orang lain menilai bisnis sedang turun, justru bisa kita manfaatkan untuk mempersiapkan diri menyambut bisnis kembali naik dan saat diatas kita siap menangguk keuntungan.

Kalau kita menganggap pemain sudah banyak dan persaingan sangat ketat, maka kita dituntut untuk kreatif dan inovatif. Hal ini agar kita bisa membuat posisi yang berbeda dengan pemain yang lain. Setidaknya ada dua kunci agar kita bisa tampil beda yaitu produk/pelayanan yang unik dan pemberian nilai tambah kepada konsumen (Artikel tentang ini pernah saya posting, baca-baca juga ya!). Setidaknya itu teorinya, sedangkan prakteknya ya… tergantung pinter-pinternya kita mensiasati dan memanfaatkan potensi yang kita miliki untuk bisa tetap tampil beda.

Oh ya kadang-kadang sentuhan kecil bisa membuat pembeda yang besar lho. Misalnya sapaan yang manis bagi pelanggan, bungkus produk atau tas belanja yang khas, poster di dinding toko, dan lain-lain. Yaa… pinter-pinter kita lah…

Mengenai “sistem syariah dalam manajemen”, saya kurang paham apa yang Mas Alif maksudkan. Menurut saya kalau Mas Alif menjual barang yang halal, dengan cara-cara yang baik, memperlakukan karyawan dengan baik, memberi pelayanan kepada pelanggan dengan baik, tidak merugikan orang lain, boleh dibilang bisnisnya sudah syariah. Kalau barang yang dijual bukan barang yang membuat pembelinya menjadi terbuka auratnya, itu juga menambah nilai syariah dalam bisnis anda. Terus tidak melakukan penipuan dalam bertransaksi, itu juga syariah.

Menurut saya bisnis yang dilakukan dengan benar dan mengikuti tuntunan Rosululloh SAW itu merupakan bisnis yang syariah, meskipun tidak disebut-sebut sebagai bisnis syariah. Toch kita tahu bahwa Rosululloh dan sahabatnya sebagian besar adalah pengusaha. Kita tinggal ngikutin aja jejak-jejak beliau.

Semoga bisa membantu

Salam

Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com