Komoditas Paling Mahal Di Dunia

Juni 21, 2007

Kira-kira apa ya komoditas paling mahal di dunia? Kalau kita bisa memilikinya dan memberdayakannya pasti kita bisa kaya raya. Barangklai emas…, tapi untuk menjadi pemilik dan jadi pemain di bidang trading emas, haruslah punya sumber daya lain yang juga besar. Mungkin produk nuklir…, kalau kita bisa menguasainya tentu akan ditakuti Amerika Serikat dan tentu bisa dijual dengan harga yg sangat-sangat mahal.

Rasanya untuk menguasai komoditas yang paling mahal di dunia, kita harus memiliki sumber daya yang kuat. Benarkah demikian..?

Kalau kita renung-renungkan, kita teliti, dan kita kaji, sebenarnya komoditas paling mahal di dunia sudah kita miliki dan kita sudah mendapat jatah untuk dimanfaatkan dengan baik. Apa itu, tidak lain adalah WAKTU. Ya, waktu adalah komoditas paling mahal di dunia.

Beda orang terkaya di dunia dan termiskin di dunia adalah dalam penggunaan waktunya. Kita sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari, tapi apa yang kita usahakan dalam waktu yang sama bisa memberikan hasil yang jauh berbeda bagaikan langit dan bumi.

Ada orang yang dari nggak punya apa-apa bahkan minus sehingga menjadi milyarder, sementara ada juga orang kaya-raya yang tiba-tiba jadi melarat-rat-rat, itu juga karena perbedaan dalam penggunaan waktu yang sama-sama 24jam X 7 hari.

Nah sudah barang tentu, pasti ada rahasianya kenapa kita sama-sama diberi jatah waktu 24 jam sehari. Kenapa tidak 30 atau 50 jam sehari biar lebih banyak yang bisa kita lakukan. Ach… kita saja yang mencari-cari alasan, karena tidak bisa mengelola waktu yang kita miliki. Toh kalaupun kita diberi jatah waktu 100 jam sehari, juga nggak akan puas (mungkin lho).

Itulah perenungkan saya belakangan ini. Ditengah kesibukan sana-sini sering merasa kurang waktu. Padahal bukannya kurang waktu, kitalah yang kurang bisa mengelola waktu, kurang bisa membagi tugas. Sering juga berangan-angan, ahh andaikan aku masih muda seperti dulu lagi…, Sementara waktu terus berlalu, nggak peduli dengan angan-angan kita.

So, marilah kita kembali berdayakan sumber daya yang mahal ini, karena kalau kita bisa menjualnya, tentu banyak orang yang rela membelinya dengan harga yang sangat-sangat mahal. Terus bagaimana mengelolanya? Sebenarnya intinya adalah bagaimana kita mengambil keputusan-keputusan setiap saatnya. Apakah kita akan memanfaatkannya, atau ‘membunuhnya’ atau membiarkan lewat, semua ditangan kita. So be wise…

Salam FUNtastic!

Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com


Tantangan Pengecer / Retailer – Part I

Juni 14, 2007

Tidak terasa sudah sembilan bulan, perjalanan usaha kami di kios Addina tercinta. Alhamdulillah sampai saat ini perjalanananya mulus dan mulai stabil. Memang ingin rasanya bisa lari lebih kencang lagi dengan omset dan keuntungannya yang terus berlipat ganda (Semoga).

Beberapa pekan terakhir omset dan keuntungan memang mulai tampak naik. Justru dengan bertambahnya omset dan keuntungan, muncul tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi. Beberapa tantangan yang cukup signifikan antara lain masalah permodalan, pengelolaan stok, hubungan dengan suplier, dan hubungan dengan member / pelanggan.

Masalah modal memang sering menjadi kendala klasik bagi pengusaha pemula. Yang menjadi tantangan bagi kami bukanlah jumlahnya modal. Masalah jumlah modal, sebisa mungkin selalu kami sesuaikan dengan kemampuan kami dan kami usahakan tidak mengambil bagian keuntungan usaha untuk tetap bisa kami putar dalam usaha kami.

Yang menjadi kendala justru dalam pengelolaannya. Kami masih belajar bahkan kadang trial & error, khusunya dalam mengalokasikan / memutar modal dalam pembelian barang dagangan. Dengan bertambahnya pelanggan, tuntutan untuk melengkapi item barang dagangan juga meningkat. Kami masih mencari pola belanja barang yang pas. Pinginnya sich barang yang dibeli bisa semuanya laku, hal seperti ini sudah bisa dipraktekkan untuk barang-barang pesanan. Beberapa pelanggan sering memesan item-item barang tertentu dan setelah terkumpul baru kami belanjakan ke suplier. Setelah dapat barangnya, bisa langsung terjual.

Sementara untuk item-item tertentu, masih sering terjadi beberapa item barang yang kami beli tidak semuanya bisa cepat terjual. Belum lagi beberapa suplier mensyaratkan minimal pembelian dan target bulanan. Kesulitan akan muncul untuk menentukanjumlah dan tipe item yang mau dibeli agar kemungkinan / peluang terjualnya barang tersebut bisa besar. Kadang harus memaksakan diri membeli item-item yang belum perlu, demi memenuhi target pembelian dan target bulanannya.

Tuntutan dari pelanggan untuk menambah item barang dari merk yang lain juga sering muncul. Begitu kami ingin realisasikan, benturan kembali muncul dengan adanya persyaratan dan ketentuan pembelian yang cukup memberatkan dari suplier. Kadang jadi berpikir, enak ya jadi suplier, bisa mendikte agen dan retailer. Cuma memang ini terjadi untuk produk-produk yang sudah ngetop. Dan harus diakui suplier seperti ini juga tidak asal-asalan menetapkan target, pasti ada perhitungan dan pertimbangannya, toch mereka sudah berpengalaman.

Hal-hal seperti ini juga yang memunculkan keinginan untuk membuat produk sendiri, mendistribusikannya, atau paling tidak bisa bermain di area grosiran. InsyaAlloh keinginan sudah ada, yang penting saat ini benar-benar kami jadikan sebagai momentum untuk belajar dan sering kami biarkan mengalir begitu saja sebagai cara belajar kami. Tentunya evaluasi harus selalu berjalan secara kontinyu.

Semoga bisa menjadi bahan belajar bersama, atau ada pembaca yang juga mengalami tantangan yang sama dan bisa melalui dengan sukses boleh kita berbagi cerita.

Salam FUNtastic

Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina Jakarta Timur


Thank’s God ada siaran Televisi Elshinta

Juni 7, 2007

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang seneng nonton Chanel Elshinta TV. Saya kurang tahu persis sejak kapan Elshinta TV mengudara dan sudah menjangkau mana saja. Karena memang saya jarang nonton TV. Saya menemukan Chanel Elshinta TV juga waktu lagi iseng-iseng seaching, setelah bosan nonton siaran yang begitu-begitu saja. Mungkin ini juga akibat Law of Attraction, karena siaran Elshinta TV sungguh berbeda dengan chanel-chanel yang lain, suatu stasiun yang sejak lama saya dambakan yang sarat dengan siaran yang bisa memberi pencerahan penontonnya.

Siaran Elshinta bisa dipantau di 35 UHF (Jakarta) dan saat artikel ini saya tulis masih dalam siaran percobaan, mulai pukul 16.00 s.d. 21.00 WIB.

Kalau dibanding dengan stasiun swasta lainnya, memang kesannya Elshinta TV belum ‘wah’ seperti yang lain, yang banyak bertabur bintang dengan acara yang heboh. Elshinta TV tampil dengan bersahaja tetapi berisi liputan yang sangat berharga (valuable).

Apalagi bagi kita-kita yang baru mengasah jiwa entrepreneur, liputan Elshinta TV bisa sedikit menjadi pelepas dahaga ilmu kewirausahaan. Memang acaranya tidak dirancang untuk mengajari bagaimana menjadi pengusaha dan pebisnis, tapi dengan gayanya yang mirip liputan dokumenter, Elshinta TV mampu memberi informasi-informasi yang selama ini mungkin kita butuhkan dan tidak bisa kita peroleh dari sumber-sumber yang selama ini ada.

Beberapa liputan yang mampu membuat mata saya terbuka dan wawasan bertambah antara lain liputan tentang pusat pembudidayaan Anggrek di Ragunan. Bagi saya yang sudah sepuluh tahun lebih tinggal di Jakarta, bahkan baru mendengar informasi ini dari Elshinta TV. Dalam liputannya disebutkan tentang berbagai macam anggrek yang dibudidayakan dan disebutkan pula bahwa pusat anggrek di Ragunan merupakan sumber / tempat dimana para pedagang dan kolektor anggrek belanja, karena harganya yang murah. Hmm… sungguh informasi yang sangat-sangat berharga bagi kita yang punya usaha tanaman anggrek / tanaman hias.

Liputan lainnya, misalnya liputan tentang workshopnya alat-alat kesehatan di RS Fatmawati Jakarta. Bagi Anda yang ingin terjun dibidang alat-alat kesehatan seperti kursi roda, korset, tangan/kaki palsu, disebutkan bagaimana situasi penawaran dan permintaan di pasar yang belum seimbang. Artinya masih ada peluang untuk segmen-segmen tertentu, sehingga RS Fatmawati harus membuat sendiri alat-alat kesehatan tersebut alias belum ada di pasaran. Dan banyak juga menerima reparasi alat kesehatan, karena memang belum banyak bengkel / workshop alat kesehatan.

Ada juga liputan yang mirip dengan wisata kuliner ala "Mak Nyuss". Dan Elshinta TV mampu membuat liputan yang sangat berbeda. Bagi kita yang punya bisnis kuliner maupun akan membuka usaha kuliner bisa langsung tercerahkan dari liputan Elshinta TV.

Beberapa wisata kuliner ala Elshinta TV yang sempat saya tonton menyajikan informasi tentang usaha-usaha makanan yang unik seperti warung tenda pinggir-jalan di Pejompongan, sate kelinci di Pangkalan Jati Jaktim, Tansu (Ketan Susu) di Kemayoran yang mampu eksis sejak tahun 70-an, dan beberapa tempat lain yang tidak sempat saya catat.

Yang membedakan dengan wisata kuliner lainnya, di Elshinta TV tidak semata-mata  menonjolkan bagaimana enak, sedap, dan mak-nyuss-nya makanan yang disajikan, tetapi mampu menunjukkan bahwa bisnis seperti itu sangat menjanjikan. Sungguh suatu pancingan yang menarik dan merangsang kita-kita yang ingin terjun di bisnis kuliner. Bahkan beberapa tempat yang diliput bukanlah di restoran dan rumah makan yang mewah tapi tempat-tempat yang merakyat dan cocok dijadikan contoh bagi pebisnis pemula.

Masih banyak liputan menarik lainnya, seperti liputan outbond, lingkungan hidup, wisata, pendidikan, dan lain-lain yang bernuansa dokumenter.

Dan yang lebih menarik di Elshinta TV belum banyak bertebaran iklan. Liputan-liputannya juga masih sering diulang-ulang. Ini sangat menguntungkan kalau kita terlewatkan salah satu liputan, masih ada harapan menontonnya di keesokan harinya.

Mudah-mudahan Elshinta TV bisa istiqomah menyajikan liputan-liputan yang berkualitas yang bisa mengobati dahaga anak-anak muda yang akan mengarungi dunia entrepreneurship untuk kemajuan Indonesia.

Ada satu hal yang agak saya sayangkan, saya tidak bisa terus menerus menonton siaran Elshinta TV karena harus bersaing dengan anak saya yang sudah bisa nyari channel kesayangannya yaitu Space-toon :-)

Mohon maaf, saya tidak bermaksud iklan / promosi karena saya sama sekali tidak ada kaitannya dengan Elshinta TV. Artikel ini saya tulis sebagai ungkapan hati saya dan sekaligus harapan untuk mendapatkan tempat alternatif mengistirahatkan mata setelah penat seharian beraktifitas dengan mendapat tayangan-tayangan yang mencerahkan.

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina di Jakarta Timur

PS : Mohon doa restu, kios Addina sedang berbenah untuk beranjak dari pengecer murni menjadi semi grosir untuk produk-produk tertentu dan semoga bisa segera masuk online lewat webstore.


Falsafah Lima Jari bagi Pengusaha

Juni 5, 2007

Untuk menjadi pengusaha yang sukses, tentu ada pedoman dan arahan yang harus diikuti. Rambu-rambu seperti perintah dan larangan agama dan hati nurani harus kita ikuti. Petunjuk dan arahan dari pengusaha sukses juga perlu kita perhatikan dalam setiap langkah kita dan dalam setiap pengambilan keputusan.

Masalahnya kita sebagai manusia sering lupa dan alpha. Mudah sekali kita menabrak rambu-rambu dan tidak mengikuti nasihat orang-orang bijak.

Berikut ini ada nasihat dan falsafah yang mudah-mudahan bisa diingat untuk dijadikan pedoman agar kita bisa menjadi pengusaha yang sukses. Mudah diingat, karena falsafah ini sangat sesuai dengan jari kita, sehingga setiap kita lihat jari kita, kita akan ingat falsafah ini.

Oh ya, saya mendapatkan falsafah ini dari Pak Hadi Kuntoro, saat bertemu di mastermind TNM-e20 di Jakarta Timur. Pak Hadi sendiri waktu itu tidak ingat dari mana mendapatkan falsafah ini. Jadi kalau kebetulan ada pembaca yang lebih dulu mengetahui, semoga bisa memberi koreksi kalau salah.

1. Falsafah Jari Jempol / Ibu Jari

Ibu jari adalah jari terbesar, ini menandakan dalam berbisnis, kita ingat sesuatu yang besar yaitu potensi diri kita. Kita memiliki potensi yang sangat besar dalam hidup ini yang belum kita manfaatkan. Ahli neuroscience bahkan menemukan bahwa otak kita baru digunakan hanya 1% – 5% saja. Sisanya masih tertidur lelap menunggu dibangunkan. Berarti kalau kita bisa menggunakan potensi yang terpendam ini, pasti hasilnya akan luar biasa.

Disamping itu jari yang besar harus mengingatkan kita akan Alloh SWT yang Maha Besar. Allohu Akbar. Kita hanyalah mahluk yang kecil dan lemah. Sehingga kita dalam berbisnis tidak membuat kita takabur dan besar kepala, kalau sukses.

2. Falsafah Jari Telunjuk

Jari Telunjuk … hmm.. saya koq jadi lupa ya perlambangan jari telunjuk ini … ada yang tahu ???

3. Falsafah Jari Tengah

Jari Tengah, sebagaimana posisinya yang ditengah-tengah, ia tidak berat sebelah, dan penyeimbang. Ini menunjukkan sebagai pebisnis harus menjunjung keseimbangan dalam berbagai hal. Meskipun bisnis membuat sibuk kita harus berupaya seimbang dalam urusan dengan keluarga, seimbang dalam menjalankan ibadah, dan juga memiliki sifat adil.

4. Falsafah Jari Manis

Cobalah anda mengepal dan angkatlah jari manis sendirin, sampai lurus / tegak. Tentu Anda akan kesulitan. Ini melambangkan dalam berbisnis Anda tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Sama seperti jari manis, jari manis baru bisa berdiri kalau jari-jari di kanan kirinya ikut berdiri. Kitapun dalam berbisnis, bisa sukses kalau bersama-sama orang lain bangkin dan menjalankan kerja sama yang baik.

Kita boleh saja merasa membangun bisnis sendiri, tapi ingat, secara langsung maupun tidak langsung ada orang lain yang ikut menyokong Anda. Bisa keluarga Anda, karyawan anda, suplier anda, dan yang terpenting adalah customer anda.

5. Falsafah Jari Kelingking

Jari kelingking adalah jari paling kecil. Dalam bisnis kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil yang bisa berpotensi membesar. Demikian juga jangan menganggap kecil hal-hal yang besar.

Mungkin dalam berbisnis kita dibuat stress dan marah-marah hanya karena hal-hal yang sepele. Begitu juga kita sering membiarkan masalah besar dan kita anggap bukan masalah. Hal-hal seperti ini harus dihindari.

Demikian uraian singkt tentang falsafah dalam berbisnis, semoga bisa bermanfaat. Tapi maaf ada yang kelupaan, nanti dicari lagi dech…

Salam

Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com