Blog Walking, Distro Walking, & Kunjungan Kerja

Agustus 31, 2007

Sebagai pemula bisnis, satu hal yang wajib dan sangat harus dilakukan adalah kemauan untuk terus belajar. Belajar bisnis memang tidak seperti belajar di sekolah dan universitas, yang harus datang ke kelas, sudah disiapkan kurikulumnya, ada dosen dan profesornya, ada penjurusannya, dan banyak tersedia buku referensinya.

Meskipun buku-buku tentang bisnis sekarang sangat banyak, belajar bisnis tidak cukup dengan membaca buku referensi atau bahkan tidak juga cukup dengan ikut kuliah jurusan bisnis. Bisnis sangat dinamis, banyak ilmu-ilmu yang tidak bisa diperoleh di dalam bangku kuliah. Belajar bisnis yang praktis adalah dengan terjun langsung di dunia bisnis, entah memulai sendiri, ikut magang pada bisnis orang lain, atau bisa juga lewat perusahaan tempat kita bekerja. Setelah terjun baru lakukan perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan-penyempurnaan yang sekaligus sebagai media pembelajaran. Bisnis adalah proses sehingga belajar bisnis juga harus mengikuti proses tadi.

Sangat bersyukur di era sekarang, belajar bisnis menjadi lebih mudah dan murah. Referensi di Internet sudah sangat banyak, lebih fresh, dan beragam. Dari yang berisi informasi umum, motivasi, sampai tips-tips praktis banyak bertebaran di dunia maya. Semua berada dalam genggaman Anda dan siap untuk Anda manfaatkan. Banyak pengusaha baik pemula maupun senior secara suka rela membagikan ilmunya lewat website pribadi maupun blog.

Satu hal yang membuat saya sangat semangat dan senang adalah mengunjungi blog-blog rekan-rekan pebisnis atau blog walking (silahkan lihat tautan-tautan di samping). Hampir setiap hari selalu ada yang baru. Ada yang curhat, cerita pengalaman pribadi, tips bisnis, dll. Semua bisa kita jadikan sebagai rujukan, motivasi, dan bahan pembelajaran.

Saya ingat salah satu pesan guru saya “Pengalaman adalah guru yang baik, tapi lebih baik tidak mempunyai pengalaman (yang sama), asal mau belajar dari pengalaman orang lain.” Maksudnya pengalaman kita jatuh bangun dalam bisnis adalah sangat baik dan sangat berharga, tapi alangkah lebih baiknya kalau kita tidak usah ikut jatuh bangun sama seperti yang pernah terjadi pada orang lain, cukup kita ambil pelajarannya agar bisa terhindar dari hal yang sama.

Model pembelajaran bisnis lainnya yang menyenangkan adalah mengunjungi langsung rekan-rekan yang sudah memulai bisnis lebih dulu atau orang lain yang sudah banyak pengalaman di bisnis. Ini akan memotong biaya dan waktu belajar kita. Kalau mengunjungi blog disebut blog walking, maka mengunjungi toko / distro orang lain sebut saja distro walking :-) Ini bisa kita manfaatkan sebagai “Mentoring terselubung” atau minta diajari bisnis secara gratis.

Saya selalu bersemangat mengajak istri mendatangi rekan-rekan yang memiliki usaha yang sama. Selau ada pencerahan baru, ilmu baru, sudut pandang baru, dan jelas akan menambah semangat baru. Selain itu ada effek yang sangat dahsyat yaitu bertambahnya rejeki. Ini secara langsung maupun tidak langsung bisa kami rasakan. Jadi memang benar silaturahim akan menambah rejeki.

Satu lagi sumber kita belajar adalah kunjungan kerja. Saat kita sedang belanja barang dagangan pada suplier atau agen atau distributor, di situ ada ilmu yang sering belum kita ketahui. Bagaimanapun dibanding kita yang baru saja merintis usaha, seorang suplier umumnya memiliki pengalaman yang lebih banyak dari kita. Tinggal pinter-pinternya kita menggali ilmunya. Dari obrolan ringan sampai pertanyaan yang to the point bisa kita ajukan dan biasanya kita akan mendapat jawaban-jawaban yang mencerahkan.

Tentunya masih banyak cara kita belajar bisnis, cuma harus diingat belajar banyak-banyak tidak akan ada gunanya kalau tidak diamalkan atau dipraktekkan.

Salam FUNtastic
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Kunjungan Pebisnis Senior

Agustus 30, 2007

Hari Rabu 29 Agustus 2008 kemarin toko kami mendapatkan kunjungan salah seorang tokoh penggerak TDA Joglo (Jogja – Solo) yaitu Pak Bambang Triwoko (pemilik Betiga Corporation). Kunjungan beliau termasuk istimewa, disamping karena perjalanan jauh yang beliau tempuh dari Klaten / Jogja – Bekasi – Jakarta, tapi juga ini merupakan kunjungan pebisnis senior pertama di kios kami.

Sebelumnya kami hanya sering berkomunikasi dengan Pak Bambang lewat blog (blog walking) dan saya juga banyak belajar dari blog Pak Bambang. Yang saya tangkap dari tulisan-tulisan di Blognya, Pak Bambang pastilah sudah banyak makan asam garam dalam menjalani bisnisnya. Lihat saja portofolio bisnisnya, dari distributor aqua dan elpiji, penyewaan tenda, suplier bahan bangunan, dan tinta isi ulang.

Kunjungan beliau juga istimewa karena ini kunjungan pebisnis dengan bidang yang berbeda dari bidang usaha kami. Selama ini yang sering berkunjung ke kios saya dan yang juga sering saya kunjungi adalah mereka-mereka yang bergerak dibidang garmen.
Sharing diantara kami juga mengalir, ibarat frekuensi sudah satu gelombang sehingga mudah beresonansi. Cerita tentang aktifitas TDA Joglo vs TDA Jaktim, suka duka menjalankan bisnis, transisi dari TDB ke TDA, sampai tentang cara-cara mengajukan pinjaman ke Bank juga mengalir. Terus terang saya dan istri banyak sekali mendapat ilmu baru dan pencerahan dari Pak Bambang.

Saya dan istri jelas sangat bahagia dan tersanjung dengan kunjungan Beliau. Saya jadi berpikir, mana ada pengusaha senior bela-belain mengunjungi pengusaha junior dan tanpa kepentingan, kalau bukan di komunitas TDA :-) .

Disamping support beliau ke kami, kami juga diberi oleh-oleh agar bisa segera menggunakan pinjaman bank untuk mengungkit (leverage) usaha kami. Untuk yang satu ini, insyaAlloh saya akan segera ambil tindakan, saya akan manfaatkan waktu-waktu kunjungan ke Bank, yang selama ini hanya buat setor dan ambil tabungan, akan saya gunakan juga untuk konsultasi tentang pinjaman-pinjaman yang bisa kami manfaatkan untuk memajukan usaha kami. Mudah-mudahan bisa mendapatkan tawaran yang terbaik buat kami.

Saya jadi ingat salah satu judul buku “Kalau mau kaya ngapain takut ngutang” yang selama ini belum sempat saya cari & beli. Mungkin bisa saya jadikan sebagai salah satu rujukan.

Buat pak Bambang, terimakasih banyak Pak atas kunjungannya serta atas sharing ilmunya, mohon maaf kalau sambutan kami seadanya.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Hati-Hati Dengan Ide Anda

Agustus 28, 2007

Coba perhatikan apa yang ada di hadapan Anda, mungkin seperangkat komputer, laptop, atau PDA. Beberapa tahun yang lalu perangkat tersebut belumlah ada. Bagaimana sampai bisa ada, pastilah diawali dari sebuah ide yang kemudian diwujudkan. Ya… apapun produk buatan manusia, yang awalnya tidak ada, terus menjadi ada, selalu diawali oleh sebuah lintasan pikiran yang dinamakan Ide.

Ide atau lintasan pikiran atau gagasan sering sekali datang dan pergi dalam benak kita. Kadang sebuah ide susah payah kita usahakan muncul untuk mengatasi masalah. Dan kadang tanpa kita inginkan, ide-ide brilian muncul begitu saja di kepala. Saat ide datang, kadang kita tidak siap menerimanya, dan akhirnya sering kita anggap sebagai angin lalu, sebagai ide gila, atau apalah yang kemudian kita abaikan.

Lalu pernahkah Anda mengalami kejadian, misalnya saat sedang jalan-jalan Anda menemukan atau melihat sesuatu yang baru dan Anda baru tersadar.. “Hah.. ini kan ideku waktu dulu”. Mungkin sebuah ide bisnis yang belum juga Anda realisasikan, tahu-tahu sudah ada orang lain yang mewujudkannya. Koq bisa, orang ini “mencuri” ide saya.

Kalau kita setuju dengan teori yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah energi, maka kita akan mudah memahami fenomena “pencurian” ide ini. Sebenarnya bukanlah pencurian, tapi memang orang tadi mendapatkan ide / gagasan yang sama seperti yang Anda pikirkan. Ide juga sebuah getaran energi yang beresonansi dengan otak / pikiran Anda yang sudah satu frekuensi. Energi tadi juga beresonansi dengan otak / pikiran orang lain juga. Tinggal siapa yang duluan mewujudkan ide tadi, dialah pemenangnya.

Saya pernah membaca tentang bagaimana proses pendaftaran paten telpon. Setelah Graham Bell mendaftarkan pesawat telpon yang diklaim sebagai temuannya, ada orang lain lagi yang bermaksud mendaftarkan paten pesawat telpon. Tentu saja yang diakui adalah temuannya Graham Bell. Jadi siapa cepat dia dapat.

Kemudian kalau mengikuti hukum kekekalan energi, maka energi ide tadi tidak akan habis atau hilang, sampai ada yang menangkap, memanfaatkannya, dan mengkonversikannya menjadi bentuk energi yang lain. Kalau kita punya ide dan kita tidak mau merealisasikannya, ide tadi akan tetap ada. Dan mungkin akan berpindah-pindah ke orang lain, sampai ide tadi berwujud.

Sebagai mahluk yang percaya pada Tuhan, Alloh SWT, tentu kita yakin ide tadi muncul tidak dengan sendirinya. Pasti ada maksudnya Tuhan memberikan lintasan ide kepada kita.

Mungkin ini merupakan salah satu rahasia dari diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Manusia diminta untuk mengurus dan mengelola bumi dengan baik. Dan Alloh SWT memberikan ide-ide atau ilham kepada manusia tentang bagaimana mengelola dan memajukan alam ini. Tuhanpun ingin kita mengelola secara bertahap sesuai perkembangan jaman. Itulah makanya kenapa ide pembuatan komputer tidak muncul di abad 18 dan baru muncul di abad 20.

Jadi kalau kita dapat ide meskipun ide yang kita anggap remeh, hati-hati siapa tahu ide yang dianggap remeh bisa bernilai sangat tinggi saat diwujudkan. Kalau Anda bisa mewujudkan ide dan berhasil, bersyukurlah, berarti Anda telah menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk mewujudkan proses penciptaan. Ada ide bisnis apa hari ini?

Salam FUNtastic

Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com

PS: Maaf kalau teorinya ngawur :-) any comment?


Lagi seneng …

Agustus 27, 2007

Pekan ini menjadi pekan yang menggembirakan bagi kami. Omset + profit Addina lagi naik daun. Aroma Ramadhan mulai merebak. Banyak pelanggan yang mulai mempersiapkan bekal memasuki bulan penuh berkah ini, termasuk dengan belanja jilbab dan busana. Banyak juga yang membeli untuk dijual lagi (reseller), karena memang sebentar lagi akan booming.

Jadwal belanja juga bertambah padat. Nggak enak membiarkan uang omset ditabung begitu saja. Pinginnya cepat-cepat diputar lagi. Tapi tetap, seperti anjuran para senior agar uang omset diampirin dulu di Bank, biar Bank yang mencatat keuangan kita. Nanti kalau saatnya butuh bantuan bank, bank akan percaya kalau kita bisa dan pinter memutar uang.

Kendala tetap ada, barang-barang dari suplier juga mulai berat, ada yang harus inden dulu, ada yang sudah menipis persediannya. Tapi tetap harus semangat, selalu ada jalan kalau kita mau.

Efek lain, bagi karyawan saya juga ikut semangat. Jam kerja dengan sukarela dilebihin, dengan harapan bonusnya ikut bertambah :-) Memang ini efek dari insentif bonus setiap interval kenaikan omset.

Kalau pas kondisi seperti ini rasanya sangat optimis bisnis akan jalan kencang, dan sedikit melupakan masa-masa penantian (baca : masa sepi) beberapa waktu lalu. Tapi tetep, seperti anjuaran para senior, agar dalam bisnis tidak terlena, kuncinya kelola naik-turunnya usaha agar keuntungan di masa sulit dan keuntungan di masa ramai terus seimbang.

Mudah-mudahan memasukan bulan Ramadhan nanti, kami bisa tetap seimbang menjalankan ibadah dan mengelola bisnis. Tapi tetap, prioritaskan ibadah di bulan puasa, semoga ibadah tidak rusak karena memikirkan bisnis.

Marhaban ya Ramadhan

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Satu Lagi Cara Mudah Memulai Bisnis

Agustus 24, 2007

Seperti pepatah Banyak Jalan Menuju Mekah, begitu juga dalam mengawali langkah untuk berbisnis atau membuka usaha, banyak sekali jalannya. Kali ini saya ingin bercerita tentang dua orang teman saya yang ternyata sudah duluan mengawali debut bisnisnya dan itu dilakukan sebagai usaha sambilan disamping profesinya sebagai karyawan.

Kedua teman saya ini (Laki-laki dan perempuan) memilih jalan yang mirip atau sama dalam menjalankan usahanya. Mereka memanfaatkan teman-teman dan kenalannya sebagai suplier sekaligus sebagai pasarnya. Keduanya mengambil jalan direct selling dan kadang cuma jualan gambar katalog. Barangnya baru ada setelah ada pesanan.

Produk yang dijualpun serabutan. Kadang busana/garmen kadang obat-obatan herbal, dan juga produk elektronika. Yang dijadikan pasar sasaran juga masih sekitar keluarga, tetangga, dan teman-temannya. Yang menarik yang menjadi suplier juga keluarga, tetangga, dan teman-temannya.

Jadi untuk produk A dia mengambil dari si X dan menjualnya ke si Y. Sedang untuk produk B dia mengambil dari di Y dan menjual ke si Z, begitu seterusnya. Tentu jaringannya tidak linier seperti itu. Tapi saya perhatikan unik juga, kadang keduanya kerjasama mendapatkan produk, dan kadang keduanya jadi penjual dan pembeli.

Memang usahanya tersebut belum dilakukan secara serius. Tapi banyak sekali nilai yang telah mereka peroleh dengan berbisnis sambilan seperti itu. Ketika terlontar gagasan untuk membuka usaha yang lebih serius dengan membuka toko, keduanya telah siap, tinggal nunggu waktu katanya.

Dari cerita kedua teman saya tadi, menurut saya yang penting untuk memulai usaha adalah segera ambil tindakan dan manfaatkan peluang seadanya. Tidak perlu menunggu kondisi-kondisi yang ideal.

Bisnis adalah PROSES. Kedua teman saya sudah mengawali proses menjadi seorang pebisnis atau pengusaha. Dibandingkan dengan orang yang “cukup sebagai karyawan” kedua teman saya tadi jelas memiliki keunggulan atau nilai tambah. Setidaknya mereka sudah memiliki jiwa bisnis. Mereka sudah bisa membaca adanya peluang dan bisa memanfaatkannya, meskipun belum optimal.

Sedangkan orang yang belum pernah terlibat dalam kegiatan penjualan atau sales, sering merasa takut saat muncul keinginan berbisnis. Keluhan yang muncul biasanya “Saya tidak punya jiwa bisnis, saya tidak punya darah bisnis, keluarga saya pegawai semua, tidak ada yang punya usaha, dll”. Padahal jiwa bisnis bisa digali, bisa dimunculkan, dan bukan merupakan garis keturunan yang saklek.

Satu hal lagi yang sering dikeluhkan calon pengusaha adalah tidak adanya modal. Dari cerita teman saya tadi, modal bukan lagi jadi masalah, dia bisa berjualan tanpa ada barangnya, artinya tidak perlu keluar uang untuk modal beli barang. Setelah ada permintaan, baru dilakukan pengadaan, kalau tidak punya uang, saya pikir akan banyak yang siap membantu, karena bisa diyakinkan akan terjadi transaksi sehingga pengembalian pinjaman bisa cepat.

Nah, bagi yang masih takut-takut, cobalah berjualan ke teman-teman, sahabat, keluarga, tetangga dulu. Kecil-kecilan dulu dengan menjual barang yang benar-benar mereka butuhkan, sehingga tidak menimbulkan transaksi yang cuma karena kasihan “Kasihan teman gua jualan, gua beli dech daripada nggak laku” :-( Tapi kalau berjualan barang yang menjadi kebutuhan kemungkinan terjadi pesanan ulang (repeat order) akan semakin besar.

Setelah terjadi beberapa transaksi, saya yakin Anda akan merasakan yang dikatakan “jiwa bisnis” karena sudah bisa membuka transaksi sampai menutup transaksi, melihat dan menggali peluang sekaligus memanfaatkannya, dan sudah bisa melihat mana untung dan mana rugi.

Semua kejadian besar selalu diawali dari prose kecil. Demikian juga untuk menjadi pengusaha besar, awalilah dari transaksi-transaksi kecil.

Apalagi sebentar lagi Puasa dan Lebaran, permintaan busana dan sembako pasti melonjak. Ayo manfaatkan peluang emas ini untuk mengawali debut bisnis Anda.

Semoga bisa menginspirasi

Salam FUNtastic

Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com
Owner Kios Addina Jakarta Timur


Belanja Terbesar Tahun Ini

Agustus 23, 2007

Minggu ini Kios Addina mencetak sejarah dalam pembelian / belanja barang dagangan. Selama hampir setahun ini besaran nilai belanja untuk satu suplier dalam satu kali belanja berkisar ratusan ribu sampai beberapa jutaan, paling top 5 Juta-an. Dan Alhamdulillah minggu kemarin kami mulai berani menaikkan angka uang belanja kami yang hampir mendekati 10 juta untuk satu suplier dalam sekali belanja.

Angka segitu bagi sebagian Anda pembaca yang budiman mungkin tergolong kecil, tapi bagi kami angka tersebut cukup besar juga. Istri saya sampai deg-degan ketika sedang menyaksikan penghitungan barang belanjaan. Maklum selama ini kami jarang belanja dalam jumlah besar dan lebih senang belanja ’sesuai kebutuhan’ alias sesuai kondisi keuangan.

Teringat juga waktu pertama kali belanja senilai 5 Juta sekali belanja, waktu itu kami juga deg-degan berjuta rasa :-) . Tapi lama-lama terbiasa juga, dan mudah-mudahan momen belanja kemarin menjadi pertanda semakin membaiknya usaha kami dengan nilai belanja yang terus meningkat.

Keputusan belanja dalam jumlah agak besar tadi kami ambil sebagai persiapan bulan Ramadhan dan Iedul Fitri yang kita tahu sebagai peluang emas bagi pengecer jilbab & busana muslim. Momen tahunan tersebut harus dimanfaatkan secara optimal. Kami belajar dari tahun lalu, saat kami baru saja buka toko, banyak sekali permintaan pelanggan yang tidak bisa kami penuhi, karena memang persediaan barang dagangan sudah sulit dipenuhi. Sehingga kali ini kami putuskan memperbanyak stok barang-barang yang cepat laku.

Sebenarnya kami masih ingin memperbanyak stok untuk produk yang lain, tapi kami harus pintar-pintar mengatur dan mensiasati keuangan yang ada, agar bisa optimal.

Sebenarnya momen belanja kami termasuk terlambat. Terbukti pada suplier tersebut sudah banyak barang yang kosong. Menurut penjual, sudah banyak yang borong duluan. Ketika mencari barang ke suplier lain, hal yang sama juga terjadi banyak barang yang sudah diborong.

Indikator lainnya peningkatan aktifitas bisnis garmen bisa tampak di pusat-pusat perbelanjaan grosir garment. Seperti yang diceritakan istri saya, di Tanah Abang sudah banyak muncul lapak-lapak baru di pelataran antara Blok A dan Blok F Tanah Abang.

So, bagi yang bisnis garmen siap-siap booming dan mudah-mudahan stok mencukupi dan kalaupun kurang, semoga masih bisa tetap belanja dan dapat barangnya.

Salam
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Cash Flow Is The King; Profit Is The Queen

Agustus 21, 2007

Dalam menjalankan usaha, perhatian kita sering hanya tertuju pada omset, karena memang setiap terjadi transaksi dan setiap melakukan rekapitulasi harian yang dihitung pertama adalah omset. Rasanya puas kalau omset harian mencapai titik-titik kritis atau titik psikologis dan bahkan melampuainya. Kita merasa plong saat omset harian bisa mencapai target misalnya sekian juta. Padahal target yang kita tetapkan juga hanya berdasarkan asumsi bahwa profit yang bisa diambil rata-rata sekian persen dari omset.

Dalam prakteknya, sering prosentase keuntungan tidak bisa kita pukul rata dan berjalan secara tidak konsisten atau berfluktuasi. Untuk barang A kita bisa mendapatkan misalnya margin profit 40%. Sementara produk lain mungkin cuma bisa ambil 15%. Belum lagi kalau kita memberikan diskon…

Nah dari sini penggunaan omset sebagai patokan, mulai kelihatan ‘tidak rasional’. Oke saja kalau hari itu yg terjual adalah produk-produk dengan margin profit 50%, berarti keuntungan yang didapat cukup besar. Bagaimana kalau banyak produk yg terjual hari itu marginnya cuma 15% atau banyak yang mendapatkan diskon, sehingga margin keuntungan hanya tersisa 5%. Omset boleh besar, tapi profit tipisss, bahkan bisa minus kalau dikurangi biaya operasionalnya.

Bagaimanapun patut disyukuri kalau omset harian kita bisa nembus titik-titik aman dan mulai stabil, ini menunjukkan usaha kita hidup karena (setidaknya) ada arus kas (cash flow). Tinggal bagaimana kita mengelola agar labanya juga ikut stabil dan kalau bisa terus menanjak. Ini bisa disiasati dengan menggunakan uang omset tadi untuk belanja barang-barang yang cepat laku serta dengan margin keuntungan yang tinggi (cara ini tidak semudah membalik telapak tangan lho, tapi tak sesulit mendaki Himalaya koq).

Setidaknya pergerakan omset harian, mingguan, dan bulanan bisa kita jadikan rujukan untuk melihat potensi keuntungan dan bisa menjadi petunjuk kalau usaha kita jalan. Ibarat aliran darah dalam tubuh kita, begitupun arus kas bagi usaha, arus kas bisa menjadi salah satu indikator sehat tidaknya usaha kita. Cara ini relatif lebih mudah dan praktis bagi kita pemula bisnis untuk memantau usaha kita dengan acuan pergerakan omset setiap harinya.

Nah yang lebih penting lagi adalah PROFIT, percuma buka usaha kalau nggak bisa dapat laba. Gross Profit bisa dilihat dari selisih Total Penjualan dengan Harga Pokok Penjualan. CMIIW. Tapi itu baru gross, masih harus dikurangi biaya-biaya operasional.

Tugas kitalah sebagai pemilik usaha untuk memastikan tiap bulannya dapat profit yang cukup dan berlimpah. Kalau memang belum bisa menaikkan margin, perhatian bisa kita fokuskan pada sisi pengeluarannya. Kita pastikan, uang hasil produksi tidak banyak kepakai untuk konsumsi dan biaya operasional, apalagi yang nggak perlu-perlu, sebisa mungkin ditahan dulu.

Memang menghitung profit secara tepat tidak semudah menghitung omset, diperlukan ketelitian dan pencatatan yang rapi. Saya sendiri masih harus banyak belajar, catatan usaha saya masih sangat sederhana. Pinginnya cepat-cepat didelegasikan ke karyawan biar bisa punya laporan yang profesional. Mudah-mudahan Omset dan Profit terus meningkat pesat sehingga bisa menggaji lagi karyawan baru. Tentunya dengan harapan toko Addina bisa menjadi jalan hidup bagi lebih banyak orang lagi.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Empat Kelompok Manusia berdasar Akalnya

Agustus 20, 2007

Ini oleh-oleh dari salah acara TDA Qolbun Salim waktu diselenggarakan di rumah Haji Alay beberapa bulan lalu. Ide ini disampaikan oleh Pak Edison, orang yang pakar di beberapa bidang, punya jiwa entrepreneur yang tinggi, dan low profile. Beliau sudah melakukan beberapa temuan ilmiah tapi tidak mau temuannya dipatenkan karena menurut beliau Nabi Muhammad SAW saja tidak mempatenkan Kitab suci (Al Quran) dan Hadits-nya. Kalau dipatenkan bagaimana islam akan berkembang pesat? Maka beliau ikutan tidak mempatenkan temuannya agar bisa digunakan secara bebas bagi masyarakat luas, khususnya agar Indonesia cepat maju (semoga).

Ide Pak Edison ini bisa membuat kita tertawa geli, tapi ambillah hikmahnya. Jadi konon manusia terdiri dari beberapa kelompok dilihat dari akalnya, yaitu :

# Manusia yang akalnya sempurna

Manusia pada tingkatan ini dimiliki oleh para petani dan nelayan. Mereka sempurna melakukan aktifitasnya dalam profesinya. Pada musim tanam mereka melakukan ritual-ritual tertentu. Demikian juga pada saat sebelum dan sesudah panen mereka kembali melakukan upacara yang lain. Nelayanpun demikian, sebelum melaut mereka melakukan berbagai ritual yang sudah menjadi tradisi bertahun-tahun yang tidak berubah.

Yang saya tangkap maksudnya adalah akal mereka sudah demikian sempurna sehingga tidak ada lagi inovasi dan kreatifitas (CMIIW)

# Manusia yang akalnya terukur

Manusia dalam kelompok ini adalah para pegawai dan karyawan. Akal mereka sudah terukur yaitu bulanan. Pada saat menerima gaji, mereka akan bahagia. Setelah beberapa hari dan minggu, pikirannya kembali tertuju pada gaji di bulan depan, yang diyakininya pasti diterima. Jadi pikiran / akalnya sudah terukur : bulanan.

# Manusia 1000 Akal

Manusia dalam kelompok ini diduduki oleh orang-orang yang sebenarnya tidak kita inginkan. Yaitu para penipu, penjahat, dan kawan-kawannya. Mereka benar-benar memiliki ribuan akal untuk melancarkan aksinya. Dari pencopet di bus kota sampai penjahat kelas kakap, mereka akan selalu menggunakan seribu akalnya agar ‘berhasil’. Bahkan di saat-saat kritis mereka sering masih bisa lolos menggunakan 1000 akalnya.

# Manusia 1001 Akal

Nah kelompok ini dihuni para pengusaha / entrepreneur. Mereka tidak hanya memiliki 1000 akal tapi 1001 akal. Banyak sekali akalnya, karena di saat sulit mereka bisa berkelit, di saat krisis mereka bisa bertahan bahkan bisa menciptakan peluang baru yang memberi manfaat bagi orang banyak. Apalagi di saat berjaya, akan lebih mudah lagi menggapai sukses. Mereka selalu mempunyai tips dan trik bisnis untuk meraih kesuksesan usahanya. Mereka mempunyai segala cara untuk menciptakan peluang-peluang usaha. Tentunya lebih kreatif daripada para penjahat :-)

Banyak yang bilang kalau pengusaha harus licik agar bisnisnya maju; Pengusaha yang licik bukan masuk kelompok ini tapi masih masuk kelompok 1000 akal. Cukup tambah satu akal lagi, ia akan menjadi pengusaha paripurna. Satu akal ini akan membedakan pengusaha dengan penjahat. Pengusaha dengan 1001 akal ini yang akan banyak memberikan kontribusi dan manfaat bagi masyarakat luas.

Ayo tambah satu akal lagi … :-)

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Lebih Enak Ngomongin Apa Yang Sudah Kita Lakukan

Agustus 16, 2007

Pernah dikatakan OMDO alias Omong Doang? Nggak enak kan. Kita sudah banyak ngomong, tapi orang lain tidak percaya, karena kita belum melakukan apa yang kita omongkan.

Itu juga yang sedikit mengganggu pikiran saya. Hasrat untuk mengisi blog ini sangat besar. Sudah beberapa artikel saya simpan di hard disk. Tapi saya takut mempublikasikannya. Bukan kenapa-kenapa, ada kekhawatiran dikatakan OMDO. Sebab beberapa artikel cenderung teoretis atau cuma wacana karena bukan dari pengalaman pribadi dan tidak didukung pengetahuan yang baik.

Beberapa pertanyaan / komentar pembaca, pingin banget saya bahas untuk memberi jawaban yang lebih detail. Tapi karena saya belum pernah mengalami alias belum punya pengalaman dan tidak ada pengetahuan yang memadai, maka ulasan yang saya buat koq nggak jadi-jadi gitu. Meskipun saya paksakan untuk membahasnya, hasilnya nggak sreg, nggak mengalir, dan terkesan benar-benar dipaksakan.

Ketika membaca ulang hasil tulisan saya tadi, ada perasaan tidak nyaman, ada kesan menggurui, rasanya bukan omongan saya dech, dan beberapa artikel menjadi sulit diselesaikan, tidak mengalir, dan jadi tidak nyambung sama topik bahasan.

Lebih enak kalau menulis pengalaman yang sudah dilakukan dan kejadian nyata. Cerita mengalir begitu saja dan seperti bercerita dengan teman sendiri. Ada ruhnya gitu! Proses menulisnya juga menjadi cepat, tidak merasa sedang menulis artikel, seperti kita bernafas aja, mengalir terus tiada henti.

Saya teringat nasihat A’a Gym, yang ketika ditanya oleh jama’ahnya bagaimana A’a bisa berceramah bagus dan bisa menulis buku-buku bagus. Jawaban A’a kurang lebih juga sama seperti yang sekarang sedang saya pikirkan. Kurang lebih: “Bicarakan apa yang sudah Anda kerjakan, tulis apa yang sudah Anda kerjakan, maka cerita akan mudah dan tulisan akan mengalir”.

Jadi kepada para pembaca yang budiman, kalau ada pertanyaan Anda baik lewat komentar maupun email JAPRI yang tidak bisa saya jawab dengan baik, mohon maaf sebanyak-banyaknya ya?. Karena Fuad juga manusia, punya banyak keterbatasan. Dan itu tadi, saya takut dibilang OMDO, alias Omong Doang…. Saya juga masih harus banyak belajar dari Universitas Kehidupan dan mungkin Anda jauh lebih baik dari saya.

Silahkan nikmati tulisan saya apa adanya (kalau memang bermanfaat) dan gunakan pengalaman saya sebagai masukan bagi Anda yang ingin mengikuti jejak saya, membuka usaha selagi masih menjadi karyawan… Yuk Jadi Pengusaha Yuk!

Peace ach…

Salam FUNtastic.
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Indonesia-ku 62 Tahun

Agustus 15, 2007

Dua hari lagi Indonesia berusia genap 62 tahun, usia yang sudah sangat matang untuk ukuran manusia. Tapi bagaimana realita Indonesia saat ini, Anda tahu sendiri lah.Teringat beberapa tahun lalu salah satu tokoh mengatakan kalau wakil rakyat kita masih kayak anak TK, nah bagaimana dengan yang diwakili?

Sudah dua minggu ini jalan-jalan dan rumah di sekitar saya sangat semarak dengan dipajangi bendera dan umbul-umbul. Geliat bisnis bendera, umbul-umbul, dan tiang bambu juga sangat marak. Banyak penjual musiman barang aksesoris peringatan kemerdekan RI membuka lapak-lapak di pingir jalan raya bahkan banyak yang pakai gerobak menyusuri gang-gang kota Jakarta. Saya yakin di kota Anda juga ada sedikit banyak kemiripan. Setidaknya itulah sebagian berkah dari kemerdekaan Indonesia bagi rakyat (baca: pengusaha) kecil.

Dua hari lagi 17 Agustus 2007, kita akan memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan. Ada yang ikut upacara di sekolah, kantor, dan tempat lain. Dan hampir bisa dipastikan akan diikuti serangkaian acara-acara seperti lomba-lomba, panggung hiburan rakyat, tumpengan, dll.

Sepertinya itu sudah menjadi rutinitas tahunan yang, menurut saya, koq gitu-gitu dowang. Tidak banyak kemajuan, waktu kecil saya disuruh lari gigit sendok+gundu, sekarang anak saya akan disuruh hal yang sama. Dulu saya suruh ikut tarik tambang, lari karung, tandem bakiak… Sekarang anak-anak kecil juga disuruh melakukan hal yang sama.

Memang untuk hiburan dan perayaan kemerdekaan, itu sah-sah saja. Tapi koq ya nggak ada kemajuan, gitu lho…

Kemarin di Ritech 2007 saya sempat melihat satu video tentang lomba / kompetisi robot di Singapura. Pesertanya anak-anak usia belia. Dari Singapura sendiri diwakili oleh (kalau nggak salah) sampai 200 peserta. Sementara dari Indonesia cuma diwakili 20-an anak (CMIIW). Kalau lihat komposisi jumlah penduduk, prosentase jumlah wakil Indonesia di lomba robot tadi akan menjadi sangat-sangat kecil.

Dari situ saya membayangkan, seumpamanya setiap hari kemerdekaan, di tingkat RT RW bisa ada lomba bikin robot, lomba hacking komputer, olimpiade fisika/matematika antar RT/RW dan lomba-lomba yang lebih kreatif dan inovatif tentu akan memberi dampak yang lebih baik bagi Indonesia. Bayangkan kalau Indonesia adalah sosok manusia, mungkin beliau akan berkata “.. duuuhhh.. dulu saya kecil suruh tarik tambang, sekarang sudah kakek-nenek masih suruh tarik tambang lagi .., Capek dech…” :-(

Udah… ach.., maaf kali ini saya bener-bener pingin ngeluarin uneg-uneg ini. Mudah-mudahan lebih banyak lagi entreprenur baru yang tercerahkan yang muncul di Bumi Pertiwi ini sehingga akan banyak muncul orang-orang kaya yang bijak, tercerahkan, bisa go global, dan tentunya akan membawa Indonesia lebih baik lagi…

Salam: DIRGAHAYU RI ke 62
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com