Curhat Bisnis

September 28, 2007

Saya bekerja di swasta sudah hampir x tahun. Jujur saya bosan dan jenuh tapi no choice karena tuntutan hidup. Saya ingin sekali bisa punya usaha dan resign bekerja. Cita-cita saya ingun punya toko perlengkapan muslim, tapi saya tidak punya uang untuk sewa toko. Apalagi untuk menjadi agen ra***** yang butuh modal 5 juta. Dua tahun terakhir saya jualan baju muslim anak setiap Ramadhan, hasilnya kurang menggembirakan karena pembeli maunya kredit 2 bulan karena harga diatas 100 (ribu). Minta advice dan masukan. Terimakasih

08XXX036XXX

Demikian bunyai SMS yang saya terima sehabis sholat Jumat 28 September 2007. Saya coba membalasnya, tapi ternyata pulsanya sudah masuk waktu tenggang sehingga tidak terkirim :-( . Mau isi pulsa, uangnya lagi kepakai buat yang lain. Saya tulis saja di blog, mudah-mudahan yang bersangkutan mampir lagi di blog ini. Lagian mau dibalas pakai SMS, kurang fleksibel.

Saran saya buat pengirim SMS, pertama-tama bukalah pikiran (be open mind), karena pikiran bekerja sama seperti parachut. Baru bekerja kalau dibuka.

Maksud saya, biasanya orang kalau sedang terhimpit pikirannya kurang jernih, mudah sekali memvonis, menyalahkan keadaan dan lain sebagainya yang justru menjadi kontra produktif. Bukalah pikiran dan peluang-peluang baru insyaAlloh akan mudah ditangkap.

Hidup adalah pilihan. Apapun kondisi kita saat ini adalah hasil dari pilihan-pilihan kita di waktu lalu. Kalaupun sekarang mengatakan “saya tidak punya pilihan / i have no choice” itu juga pilihan Anda sendiri. Jadi sekarang mendingan berpikir, “saya harus punya pilihan yang lain untuk memenuhi tuntutan hidup”. Dengan begitu, semoga akan muncul banyak pilihan, akan lebih bisa menangkap pilihan-pilihan lainnya, dan bisa melihat peluang-peluang baru.

Untuk beralih dari pekerja menjadi pengusaha, banyak sekali jalan dan variasinya. Bisa saja sekarang langsung keluar kerja dan berjuang mencari jalan menjadi pengusaha. Tapi saya tidak menyarankan, mendingan sekarang jalani dulu jalan hidup sebagai karyawan, syukuri bahwa Anda masih ada yang mempekerjakan kita (banyak lho yang masih berjuang mendapatkan pekerjaan), sambil tentunya berusaha merintis usaha di luar.

Kalau sudah ada niat mau keluar kerja, yang penting adalah komitment. Setidaknya saat ini harus jelas komitment Anda untuk membuka usaha. Sekarang sudah ada modal berapa? Manfaatkan saja dulu modal yang ada tersebut. Kemudian tiap bulan coba sisihkan dari gaji sebagai karyawan untuk tambahan modal.

Ada salah satu contoh, rekan saya sendiri, Beliau memulai usaha garment dengan modal Rp 800.000,- dengan berjualan dari rumah. Kemudian uang hasil penjualan terus diputar, terus tiap bulannya sebagian uang gajinya disisihkan untuk menambah modal. Dan sekarang sudah punya satu toko. Pernah punya dua toko tapi yang satu ditutup. (Mudah2an beliau ikut membaca blog ini)

Untuk memulai usaha tidak perlu menunggu kondisi ideal (begitu kata-katanya yang selalu saya ingat). Kalau Anda sudah memulai dengan berjualan busaha anak, tapi hasilnya belum menggembirakan, jangan putus asa. Itu adalah proses. Cuma menurut Anda mungkin itu proses yang tidak enak. Sekarang tinggal tugas Anda mengubah proses yang tidak enak biar bisa menjadi enak. Evaluasi lagi sistem bisnis Anda. Kalau dengan sistem cicilan, menurut Anda kurang menguntungkan, coba dengan cara cash dan jual ke orang lain.

Kalaupun dijual dengan kredit, Anda berhak mendapatkan kompensasi dari sistem kredit. Misalnya harga anda naikkin dulu baru di jual kredit. Itu juga yang dipraktekkan para penjual kendaraan bermotor kan? Kalau beli cash harganya 100 ribu, kalau kredit 1 bulan harganya 110 ribu, kalau kredit 2 bulan harganya 125 ribu. Asal kedua pihak sepakat, saya pikir syah-syah saja dan insyaAlloh halal.

Kalau ingin menjadi salah satu agen ternama, menurut Anda masih berat, ya nggak usah dipaksakan. Selalu ada jalan yang lain. Begitu juga kalau mau sewa toko, dirasa masih berat, ya tidak usah dipaksakan. Mulai saja dari rumah.

Oh ya saat ini konon katanya sedang memasuki Era Industri Kreatif. Orang-orang yang bisa maju bukan lagi yang menguasai modal, menguasai industri manufaktur, dan menguasai informasi saja, tapi orang-orang yang KREATIF. Bisa saja orang memiliki banyak keterbatasan, tapi kalau dia kreatif mengatasi keterbatan menjadi peluang, maka ia berpeluang sukses.

Jadi kembali lagi, buka pikiran, gunakan kreatifitas Anda. Mulai lagi dari yang kecil dan mulai juga saat ini. Saya yakin kalau Anda benar-benar memiliki komitment untuk keluar dari pekerjaan dan komitment untuk membangun usaha sendiri, halangan sebesar apapun akan mudah dilalui. Keterbatasan modal bukan halangan untuk membesarkan usaha.

Semoga bisa mencerahkan

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Process Oriented : Dalam bisnis semuanya adalah Proses

September 27, 2007

Pembaca yang budiman, saya ingin sedikit cerita, belakangan saya kembali tertarik untuk belajar salah satu bahasa pemrograman komputer. Memang saya tidak ada latar belakang pendidikan IT, cuma senang utak-atik komputer. Inipun saya lakukan sekadar menyalurkan hoby saja (atau mungkin obsesi ya?). Itung-itung sekalian mengasah otak kiri :-)

Saat mulai berinteraksi dengan Ubuntu Linux saya tambah penasaran ingin mencoba belajar bahasa pemrograman. Pilihan jatuh pada salah satu bahasa yang katanya Object Oriented Programming (OOP). Inti dari OOP adalah semuanya diperlakukan sebagai Object, data juga diperlakukan sebagai Object.

Saya tidak ingin membahas panjang lebar tentang bahasa pemrograman tersebut. Cuma setelah sedikit belajar ada yang menarik untuk dijadikan analogi dalam kaitannya dengan dunia bisnis. Kalau di bahasa program tersebut semua diperlakukan sebagai Object, maka dalam bisnis boleh saya analogikan “Semua Adalah Proses“.

Saat mulai berencana merintis usaha, saat mengawalinya, saat mendapat masalah, saat menerima keuntungan, bahkan saat jatuh rugi-pun semuanya adalah PROSES. Mungkin selama ini kita hanya terpaku pada tujuan atau motivasi awal merintis usaha, entah untuk mendapatkan tambahan income, agar bisa cepat kaya raya, dan lain-lainnya, jadinya malah mengabaikan prosesnya. Akibatnya ingin yang serba instan, begitu buka usaha maunya langsung bisa beli mobil dan rumah rumah baru.

Tidak salah sich, kalau memang pilihan bisnisnya menjanjikan dan berhasil. Tapi secara umum, kalau cuma fokus ke tujuan dengan mengabaikan proses akan banyak menimbulkan rasa frustasi kalau gagal mencapainya. Atau akan mengambil langkah-langkah yang sembrono, pokoknya asal tujuannya tercapai. Terus yang berbahaya umumnya juga berlaku “easy come, easy go“. Kalau sukses diperoleh secara instan, bersiaplah untuk gagal secara instan juga.

Menikmati proses itu mungkin kata kuncinya. Kalau kita perhatikan para pengusaha sukses juga mereka tidak pernah berhenti berproses. Selesai satu urusan dilanjutkan dengan urusan yang lain. Sukses dengan bisnis yang satu, dilanjutkan dengan bisnis yang lain. Saat mengalami kejatuhan juga tidak menjadikan dunia serasa kiamat. Kembali proses dilanjutkan untuk kembali bangkit. Saat materi sudah berkelimpahanpun, proses bisnis tetap jalan.

Analogi lain, mungkin sama seperti pohon. Untuk menjadi pohon yang tinggi besar dan kokoh, pohon tadi pasti melalui serangkain proses, dari benih->kecambah->pohon kecil->tumbang->bangkit lagi->kena badai->patah ranting->bangkit lagi->sampai akhirnya menjadi pohon yang besar. Setelah besarpun masih terus berproses. Itulah kehidupan, berhenti berproses berarti mati.

Kita manusiapun untuk menjadi dewasa melalui banyak proses kan?

Jadi bagi yang baru mau akan memulai bisnis, atau bagi yang bisnisnya belum maju-maju, jangan khawatir itu adalah proses. Dan bersiaplan untuk melewati proses berikutnya. Bergerak maju terus mengikuti proses. Asal jangan lupa untuk memprogam proses bisnis anda, karena Andalah yang memiliki kuasa atas maju mundurnya bisnis Anda.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Obral : Jurus ampuh membersihkan stok mati

September 19, 2007

Mendengar kata Obral, mungkin yang pertama kali terpikir adalah ‘menjual barang reject’. Memang ada benarnya, sering kita lihat barang-barang yang diobral adalah barang reject atau cacat produksi.

Tapi tidak selamanya benar lho, sering juga yang diobral adalah barang-barang bagus dan berkualitas. Cuma memang ada embel-embelnya, biasanya sudah dianggap ‘tidak sempurna’ lagi. Bisa karena serie-nya yang sudah tidak lengkap, modelnya yang sudah ketinggalan, lama tidak laku, dan lain-lain.

Kios Addina-pun saat ini sedang melakukan obral. Beberapa produk yang sudah lama numpuk di toko, kami pisah-pisahkan buat diobral. Kondisi barang dijamin masih bagus dan tidak ada cacat. Cuma ya itu, karena sudah lama tidak laku, pingin kami ganti dengan model yang lebih baru dan lebih laku.

Beberapa produk kami jual dengan harga sebesar harga pokoknya dan sebagian lainnya kami jual rugi. Penjualan sebesar harga pokok, tujuannya jelas, agar modal bisa kembali ditarik utuh.

Sedangkan penjualan rugi, kami lakukan untuk menekan dan menghindari kerugian yang lebih besar lagi. Umumnya adalah produk yang kami beli saat awal-awal buka kios alias hampir satu tahun nggak laku.

Hitungan kasarnya, dari satu serie barang yang dulu kami beli, sebagian sudah ada yang laku dan menghasilkan laba. Maka diharapkan penjualan rugi tadi bisa ketutup dari laba yang sudah didapat. Memang perhitungan kami belum presisi, karena ini hal baru bagi kami dan kami masih belajar. Just do it… baru nanti dievaluasi. Atau paling tidak diharapkan uang hasil penjualan obral bisa secepatnya dibelanjakan lagi dengan barang yang cepat perputarannya, laba penjualan berikutnya bisa menutup kerugian obral.

Tadinya kami belum terpikir untuk mengobral barang-barang dagangan kami. Setelah mendapat nasehat dari senior dan membaca blog rekan pengusaha yang lain, kami jadi berani melakukan obral.

Hal ini juga pengaruh dari keinginan kami untuk menambah stok sebelum puncak belanja pra-lebaran. Tadinya tambahan stok kami peroleh dari modal yang kami pasok dari uang tabungan. Tapi karena tabungan juga terbatas, mesti putar otak. Jurus obral akhirnya kami tempuh. Itung-itung, daripada terus menambah pasokan dana segar, mendingan muterin dana dari stok yang ‘mati suri’.

Manfaat lain dari obral adalah sebagai salah satu strategi promosi. Melihat tulisan Obral, membuat orang yang lewat menjadi tertarik untuk datang melihat-lihat. Dari sini, sudah bisa menghasilkan Lead baru. Setelah itu, Lead tinggal dikonversi agar terjadi transaksi. Selanjutnya, setelah ada transaksi obral, bisa kita tawari dengan produk non-obral lainnya.

Efek lainnya adalah pembeli akan bercerita ke keluarga, teman, dan tetangga, sehingga diharapkan dengan “promosi dari-mulut-ke-mulut” ini akan menambah Lead baru lagi.

Jurus obral ini sangat efektif, terbukti setiap hari selalu saja ada yang beli. Bahkan ada yang langsung memborong barang obralan, “Buat dibagi-bagi, sekalian buat THR” katanya. Ada juga yang borong buat oleh-oleh pulang kampung lebaran nanti.

Yuk, obral… obral… obral….

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Satu Tahun Membangun Pondasi

September 17, 2007

Bulan September, bagi kami saat ini menjadi bulan yang istimewa. Ingat bulan September, ingatan kami akan kembali ke tahun 2006 setahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 14 September 2006, itulah hari pertama debut kami di blantika bisnis, dengan meluncurkan album perdana berjudul Kios Addina.

Tanpa perencanaan yang rumit, tanpa business plan yang rapi, tanpa sponsor yang besar, kami nekat terjun membuka usaha. Teringat benar pagi itu 14-09-2007, saya dan istri masih capek dan ngantuk setelah beberapa hari secara marathon membereskan kios, mempersiapkan peluncuran kios Addina. Godaan muncul untuk menunda pembukaan kios, “Sudah … buka besok saja, sekarang istirahat dulu”. Untungnya ada Mertua yang muring-muring. “Gimana sich, serius nggak mau buka usaha! Sudah cepetan buka sana..!”.

Hari pertama pembukaan kios Addina, Alhamdulillah omset langsung naik dari Rp.0 menjadi Rp. 150.000,-. Padahal target minimal Rp. 300.000 biar bisa impas. Dasar pengusaha pemula, sempat down juga, wah kalau gini terus bisa rugi. Untung ada Mertua yang negur “Harusnya kamu bersyukur, hari pertama buka sudah ada yang beli, coba ingat tuch tante X, hari pertama nggak ada yang beli, tapi sekarang sudah bagus”.

Bersyukur, support datang dari semua pihak, kami terus kuatkan diri untuk jalan, maju pantang mundur. Alhamdulillah perlahan dan pasti omset berangsur-angsur naik, profit mulai tampak. Kamipun bertekad untuk tidak mengambil bagian keuntungan agar bisa diputar terus biar usaha cepat besar.

Hari berganti, minggu berganti, bulan berganti, tidak terasa saat ini memasuki titik aman pertama. Ngeri juga kalau mendengar statistik: banyak pengusaha pemula akan gagal di tahun-pertama sampai lima-tahun-pertama. Statistik biarlah jadi statistik, jadikan saja sebagai pemicu agar bisa terus bergerak maju.

Tantangan, hambatan, ancaman, dan gangguan-pun datang silih berganti. Ada yang cuma bikin nyengir, ada juga yang sempat bikin nangis dan shock. Tapi itulah dunia bisnis, dunianya para problem solver, bukan dunianya para pemburu kambing hitam Satu persatu masalah berhasil kami lalui, tentunya dengan bersiap menghadapi tantangan berikutnya.

Melihat perjalanan yang boleh dibilang mulus bagi pemula bisnis, pikiran sempat melayang-layang. Ingin rasanya cepat cepat berlari mengejar ‘ketertinggalan’ dari para senior. Bagaimana tidak panas, mendengar ada yang dalam waktu 4 bulan bisa bikin 3 toko. Tapi kami harus mawas diri, BISNIS adalah PROSES. Kembali saya ingatkan diri sendiri “Kamu baru satu tahun berbisnis, apa sudah siap? Kamu tidak melihat bagaimana beliau-beliau telah jatuh bangun dulu membangun pondasi. Kamu tidak lihat bagaimana kokohnya pondasi dan akar mereka hingga saatnya berbuah kamu cuma bisa lihat indahnya bunganya dan ranumnya buahnya?”

Benar juga, saya saat ini masih membangun pondasi. Membangun landasan. Menghujamkan akar ke perut bumi. Agar kami kuat, agar kami siap ketika datang angin dan badai yang lebih besar kami bisa tetap berdiri kokoh. Bunga dan buah janganlah jadikan tujuan. Itu adalah hasil dari PROSES.

Setelah setahun membangun pondasi usaha, memang sudah mulai tampak bagaimana sebaiknya kami bergerak selanjutnya. Visi dan misi mulai berani kami rangkai. Kemampuan untuk menahan diri, ternyata juga penting. Bagaimana agar tidak ‘grubyak-grubyuk‘ ikut arus. Bagaimana agar bisa membangun bisnis yang unik, itulah mungkin sebagian tantangan berikutnya di tahun ke dua ini.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kelangsungan usaha kami. Rekan-rekan pembaca yang budiman, atas support dan do’anya. Semoga pohon yang kami tanam, bangunan yang kami dirikan, bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Selamat datang Ramadhan

September 12, 2007

Setahun sudah kami merindukan bulan yang penuh Berkah.

Alhamdulillah kami masih Engkau beri kesempatan menikmati jamuan-Mu yang istimewa ini, ya Alloh

Ijinkan kami membersihkan diri kami agar jiwa raga kami bisa kembali terlahir fitri

Pembaca yang budiman, selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan. Mohon dibukakan pintu maaf apabila ada tutur kata dan tulisan saya yang menyinggung / menyakiti pembaca.

Wassalam
Fuad Muftie


Happy Problem : Tantangan Retailer II

September 12, 2007

Salah satu tugas atau sifat bawaan pengusaha adalah sebagai problem solving. Karena tidak mungkin dalam menjalankan usaha tidak mengalami masalah. Masalah pasti datang silih berganti setiap harinya bahkan setiap detiknya, dan itu harus diselesaikan dengan solusi-solusi yang jitu agar terus maju. Saking terbiasanya dengan masalah, malah sering jadi tidak sadar kalau sedang menghadapi masalah. Sebaliknya kadang malah sesuatu yang bukan masalah, dianggap sebagai masalah. Atau bahkan masalah sudah bukan masalah lagi…. he.. he.. he.. bingung kan?

Kalau dirunut lebih dalam lagi, sebenarnya hakekat kehadiran seorang pengusaha adalah untuk membantu orang lain menyelesaikan masalah. Misalnya orang lain susah mendapatkan beras, maka tugas pengusaha menghadirkan beras bagi yang membutuhkan. Orang lain ingin berkomunikasi dengan murah, pengusaha menghadirkan SMS. Dan sebagai imbal baliknya pengusaha berhak mendapat untung.

Kami di Kios Addina-pun sudah terbiasa dengan datang dan perginya masalah. Kadang satu masalah bisa cepat diselesaikan, kadang sampai terasa berlarut-larut, sampai urusan rumah tangga menjadi sedikit terganggu. Tapi itu wajar kan, yang penting semangatnya ‘cari solusi’, bukan semangat adu argumen doang.

Seperti saat sekarang saat menghadapi ‘panen raya’ Ramadhan dan Iedul Fitri. Di saat sedang larut melengkapi stok toko, masalahpun muncul. Ada suplier yang telat mengirimkan barang, sehingga banyak transaksi di toko menjadi gagal atau tertunda.

Ada yang lebih seru, yaitu mulai banyaknya pelanggan menanyakan produk-produk bermerk yang belum kami sediakan. Mereka yang biasa menggunakan produk middle-low, di momen hari raya tentu ingin yang middle-up. Hal ini tentu mempengaruhi kami, apakah keinginan beberapa pelanggan harus dipenuhi.

Masalahnya buat menambah lini produk baru, harus siap dana segar yang lumayan. Paling tidak harus beli lusinan atau kodian, tidak mungkin beli eceran. Terus kalau sudah menjelang iedul fitri biasanya suplier juga sudah kelimpungan melayani pelanggan lamanya. Pelanggan baru akan dinomorduakan, apalagi kalau stok mereka juga sudah menipis.

Kalaupun bisa kita beli, masalahnya belum ada jaminan nanti semua bisa terserap dan laku. Kalau cuma laku beberapa gelintir, akan terjadi stok yang mati. Pengalaman beberapa kali menambah lini produk baru, awalnya pasti ada beberapa potong yang akan menjadi stok mati. Ada sedikit spekulasi karena stok awal biasanya untuk menguji pasar lebih dulu, mana yang laku dan mana yang kurang laku. Baru untuk stok berikutnya bisa diperbanyak stok yang laku (fast moving).

Karena lebaran kali ini masih termasuk dalam tahun pertama kami memulai usaha, saya mengambil langkah aman dulu. Kami tunda menambah lini produk baru dan fokus di lini produk yang sudah jelas laku. Kami putuskan menambah stok dan variasi produk yang sudah ada. Itupun masih ada kendala, kadang dari suplier sudah kehabisan barang dan tinggal sisa-sisanya :-(.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana memanfaatkan momen Ramadhan-Iedul fitri kali ini untuk menghabiskan stok-stok mati. Belajar dari para senior, momen kali ini bisa digunakan untuk menghabiskan stok mati dengan menjualnya secara obral. Jual tanpa untung atau sesuai pokok modalnya, atau kalau perlu dijual rugi. Yang penting bisa menjadi modal lagi dan diputar lagi.

Begitulah dunia usaha, kalaupun banyak masalah harus tetap bisa happy.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Peluang Usaha Yang Suka Datang Sendiri

September 7, 2007

Dulu sebelum membuka usaha, yang terpikir adalah peluang usaha apa yang bisa digarap. Saat terpikir untuk mencoba satu jenis usaha, ternyata masih juga kepikiran … bisa jalan nggak ya, …menguntungkan nggak ya. Kalau tidak ada keberanian memulai biasanya tinggal menjadi kenangan.

Sementara kita lihat orang lain koq bisa buka usaha ini buka usaha itu, dan semuanya jalan. Yang terpikir kemudian “apa sih rahasianya koq orang itu bisa”.

Ternyata jawabannya bisa saya pahami setelah kami bisa memiliki dan menjalankan usaha sendiri. Sekarang tawaran-tawaran kerja sama sering sekali muncul. Ada yang menawarkan franchise, ada yang menawarkan kios, ada yang menawarkan usaha lainnya. Yang sudah jelas-jelas kami manfaatkan adalah tawaran titip barang atau konsinyasi di Kios. Jelas kami diuntungkan karena tidak perlu keluar modal, kita mendapat barang yang bisa menyemarakkan kios.

Setelah memiliki toko, orang lain jadi percaya dengan kita dan mau sukarela menawarkan kerja sama dengan kita. Jadi kuncinya adalah kepercayaan. Orang sudah percaya kalau kita bisa menjalankan usaha. Dan tentu orang tadi ingin usahanya dijalankan oleh orang yang bisa kan?

Demikian juga kemarin siang, kami mendapatkan tawaran peluang baru yaitu bisnis laundry kiloan. Berbeda dengan laundry & dry cleaning yang sudah ada saat ini. Laundry kiloan menawarkan layanan yang lebih murah. Tentu saja target marketnya berbeda, cenderung untuk mengah bawah.

Kami ditawari untuk menjadi agennya dengan tugas menampung barang yang akan dicuci, pemilik laundry kemudian akan menjemput barang untuk dikerjakan. Setelah selesai barang kembali diantar ke kios dan menungu pelanggan untuk diambil lagi. Kami pikir, boleh juga untuk menambah Lead dan menambah income tentunya. Toch tidak keluar banyak modal.

Yang masih kami pikirkan adalah bagaimana dengan penanganan barang-barang yang akan dicuci yang tentunya akan menumpuk di kios meski cuma sebentar. Sementara kios rasanya sudah penuh dengan barang dagangan. Yang jelas, kami harus tetap fokus di Kios Addina, ini hanya peluang tambahan yang sayang kalau dilewatkan. :-)

Memang perlu pembicaraan dan pemikiran yang mendalam. Perlu menambah S.O.P. buat karyawan dan tentu perlu dipikirkan insentif bagi karyawan. Apakah akan dimasukkan sebagai omset kios atau diperlakukan sebagai usaha yang terpisah. Jalan masih panjang, tapi peluang ini cukup menarik untuk ditindaklanjuti. Sekalian sebagai sarana pembelajaran baru bagi kami, menangani beberapa bisnis sekaligus.

Kesimpulannya, bagi yang masih mikir-mikir nyari peluang usaha, jalani saja apa yang sudah di depan mata, nanti peluang peluang lain akan menghampiri Anda. Nggak percaya, buktikan dech…

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Fenomena Penglaris

September 4, 2007

Di masyarakat Indonesia khususnya para pedagang dikenal adanya istilah penglaris. Istilah penglaris umumnya dikaitkan dengan terjadinya transaksi pertama setelah toko dibuka (di pagi hari). Semakin besar nilai belanja pembeli pertama diyakini akan menjadi pertanda baik bagi kelangsungan usahanya hari itu. Setelah mendapat transaksi pertama, biasanya si pedagang akan mengusap-usapkan uang hasil transaksi pertamanya pada barang-barang dagangannya sambil mengucapkan kata “laris, laris, laris,…”

Fenomena penglaris sudah jamak terjadi pada pedagang-pedagang dari skala kecil sampai yang masuk kelompok pedagang besar. Sebagai pedagang baru, kitapun kadang ikut-ikutan meyakini adanya penglaris.

Yang menjadi pertanyaan “Adakah korelasi antara nilai pembelian pertama dengan nilai total omset penjualan di hari yang sama”. Secara ilmiah saya belum pernah menemukan hasil penelitian yang membuktikan adanya korelasi tersebut.

Setelah hampir satu tahun menjalankan toko Addina, saya dan istri berani mengambil kesimpulan bahwa tidak ada korelasi antara penglaris dengan naik turunnya omset kios. Kami pernah seharian omset terasa berat naiknya, tapi tiba-tiba di malam harinya omset langsung melonjak drastis. Pernah juga di pagi hari kami kebanjiran pembeli, dan di siang sampai malamnya omset menurun.

Saya juga kepikiran, apakah perusahaan-perusahaan besar seperti Matahari, TipTop, Gramedia, Honda, Toyota dll juga meyakini adanya penglaris?. Kalau diperhatikan bagaimana perusahaan tersebut menyikapi adanya pembeli pertama di pagi hari, seperti tidak ada perlakuan istimewa. Saya pikir S.O.P mereka juga tidak mengakomodasi adanya penglaris. Buku-buku referensi bisnis juga tidak pernah menyinggung-nyinggung teori penglarisan.

Sebagai seorang muslim, saya juga semakin yakin bahwa penglaris hanyalah sebuah mitos. Islam sebagai agama yang peduli dan mengatur sistem perdagangan yang bersih dan baik, tidak pernah menyebutkan tentang penglaris. Bahkan kalau kita benar-benar meyakini adanya penglaris dan mengikuti ritual-ritual penglarisan, kita akan masuk kategori SYIRIK. Kita jadinya meyakini adanya kekuatan lain selain Alloh SWT. Dan ketahuilah bahwa syirik adalah dosa besar. Kalau kita meyakini kekuatan penglaris, lalu dimana kekuatan Alloh SWT yang Maha Pengatur Rejeki setiap mahluk-Nya.

Sebagai pelengkap saya ingin berbagi cerita tentang seorang penjual donat. Saya dapat cerita ini dari orang lain, sehingga mohon maaf kalau ada perbedaaan versi dan alur cerita.

Ada seorang pedagang donat yang setiap harinya berjual berkeliling dengan sepeda motor. Selain menawarkan donatnya ke pedagang lain untuk titip jual, dia juga keluar masuk gang dan jalan perumahan menawarkan kepada pembeli langsung. Ia tidak lupa menyebarkan fotokopian brosur tentang donatnya dari pintu ke pintu, berharap dapat orderan langsung.

Tidak seperti biasanya pagi itu dagangannya belum ada yang laku, sampai siang hari belum juga ada yang beli. Saat mendengar Adzan Dhuhur, iapun singgah ke Masjid untuk sholat berjamaah. Tidak lupa sehabis sholat ia berdoa, berharap dagangannya laku hari itu. Terbayang wajah anak dan istri di rumah menunggu rejeki hasil penjualan donatnya.

Sehabis Dhuhur iapun kembali berkeliling, sampai sore cuma laku beberapa gelintir donat. Sangat jauh dari target hari itu. Tapi ia tidak menyerah, ia terus keliling menjajakan donatnya. Sampai maghrib dagangannya masih tersisa banyak. Iapun memutuskan pulang.

Sampai di rumah, dilihatnya wajah istrinya tidak sabar menunggu kabar penjualan donatnya hari itu. Iapun dengan berbesar hati mengabarkan donatnya kurang laku hari itu, memang tampak kekecewaan di wajah istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia kemudian menenangkan istrinya dan mengatakan rejeki tidak akan tertukar, InsyaAlloh ada waktunya dagangan kita laris.

Sehabis sholat maghrib, ia hanya bisa memandangi dagangannya dan berharap besok masih enak dan bisa dijual. Tak lupa doa-doa dipanjatkan. Tiba-tiba handphone bututnya bedering, cepat-cepat diangkat, dan terdengar suara “Pak donatnya masih ada nggak?”, cepat-cepat dijawabnya “Masih ada Bu”. Singkat cerita sisa donatnya diborong oleh si Ibu penelpon tadi buat suguhan pengajian di rumah si Ibu. :-)

Cerita seperti tadi, saya yakin banyak terjadi di tengah-tengah kita dengan berbagai versi. Coba kalau si bapak penjual donat tadi meyakini penglarisan, Ia akan mudah putus asa karena dari pagi sampai siang dagangan tidak ada yang laku. Karyawati pertama saya di toko Addina juga tipe orang yang percaya penglaris, sehingga kalau sampai siang tidak ada transaksi, moodnya hilang. Meskipun dinasehati jangan percaya sama penglaris, percaya saja sama Alloh SWT yang mengatur segala hal, tetap saja moodnya nggak membaik.

Jadi, berhati-hatilah dengan keyakinan “penglaris”. Selain tidak ada pijakan ‘hukum dan teorinya’, bagi kita yang beragama Islam bisa menggelincirkan aqidah kita. Jangan sampai niat kita dagang untuk ibadah menjadi rusak hanya karena keyakinan yang tidak mendasar.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com