Pelajaran dari ‘Master’ Jilbab

Oktober 30, 2007

Pekan lalu saya berkesempatan berkunjung ke salah satu suplier jilbab di Bandung. Tujuannya: pertama dalam rangka memilih dan membeli produk-produknya langsung di tempat (selama ini cuma lewat SMS dan TIKI), biar toko kami kembali terisi dengan produk-produk yang fresh. Yang kedua, untuk meminta penjelasan atas tawaran beliau agar toko kami bisa menjadi agen utama produknya untuk wilayah Jakarta Timur.

Sesampai di tempatnya, meskipun dengan cuaca hujan dan dingin, kami disambut dengan  antusias dan sangat hangat. Dengan penuh semangat beliau menjelaskan tentang skema atau sistem baru atas penjualan jilbab dan produk-produknya. Selama ini siapa saja bisa menjadi agennya dan tidak ada proteksi. Tetapi sekarang akan diprotek wilayah distribusinya karena tanpa proteksi ternyata banyak agen yang bersaing dengan banting harga sehingga tidak kompetitif dan malah merugikan.

Dengan sistem yang baru, di satu wilayah hanya ada satu agen utama dan agen lainnya akan menjadi sub agen. Memang ada plus minusnya bagi produsen dan agen-agen lainnya. Prinsipnya mirip seperti yang dilakukan oleh produsen Kerudung Rabbani, tentunya dengan beberapa perbedaan.

Setelah selesai memborong produknya dan selesai menerima penjelasan beliau, kamipun berbagi cerita dan pengalaman tentang usaha kami masing-masing. Dalam waktu yang singkat dan terbatas, tidak banyak yang saya ceritakan, saya memilih untuk lebih banyak mendengar. Banyak hal yang bisa saya jadikan pelajaran dari beliau.

Saya sempat takjub juga ternyata latar belakang pendidikan beliau sangat prestisius. Lulusan Teknik Elektro ITB dan telah mendapatkan Master di Luar Negeri (Inggris kalau tidak salah). Pernah bekerja di IPTN dan sekarang memilih untuk fokus ‘berjualan jilbab’! Saat istri saya menanyakan “sayang Pak sudah master, apa tidak sambil ngajar saja?”. Jawabanya “Dulu saya sudah mengajar di hampir semua perguruan tinggi di Bandung. Tapi sekarang saya tinggalkan semua dan saya memilih fokus menjalankan usaha.”

Beliau punya pengalaman, setiap mencoba ‘nyambi’ dengan mengajar atau pekerjaan lain, roda usaha menjadi mundur. Dan kalau kembali fokus menjalankan usaha, usahanya bisa terus bergerak maju. “Dalam dunia jilbab, saya masih anak kemarin sore” katanya, “makanya saya harus fokus”. “Sekarang saya malah harus mengurusi semua agen di seluruh Indonesia. Itu sudah luar biasa.”

Keinginan berwiraswasta, katanya, sudah lama muncul. Awalnya pernah berjualan makanan. Tapi tidak berkembang karena tidak sesuai dengan minatnya. Memulai usaha garment (kaos, busana, dan jilbab) di awal 2000-an, semula hanya dijual di Bandung dan sekitarnya. Baru sekitar tahun 2004-2005 berusaha mengembangkan pasarnya secara nasional.

Usaha garmennya dimulai hanya dengan sebuah mesin jahit di rumahnya. Saat ini sudah menyewa tempat sendiri untuk memproduksi garment-nya dengan banyak karyawan tentunya.

Ia mendesaian busana dan jilbabnya bersama istrinya. Konon, istrinya sudah punya minat dibidang desain sejak SMA, tapi terdampar dulu kuliah di Psikologi UNPAD. Memang dunia sering terbolak-balik begini ya…

Beberapa pelajaran yang bisa saya petik antara lain:

1. Tidak perlu gengsi dengan latar belakang (pendidikan) kita, meskipun kita sudah master, doktor, atau profesor, kalau memang sudah punya keinginan terjun di bisnis… masuk, dalami, dan jalani saja.

2. Dalam bisnis harus fokus. Terlena sedikit saja dengan fokus usaha kita, siap-siap usahanya mundur. Tidak mungkin mengerjakan segala hal bagi siapa saja, harus ada yang dipilih dan ditekuni (difokusi).

3. Kerjasama dan sinergi suami - istri (plus keluarga) sangat penting dalam membangun usaha sendiri.

Semoga bermanfaat

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Pernak-Pernik Menarik, Setelah Menjalankan Usaha

Oktober 26, 2007

Dalam merencanakan usaha dan memulainya, umumnya yang dipikirkan adalah hal-hal yang besar dan prinsip lebih dulu. Biasanya terpikir pertama-tama adalah apa jenis usahanya, jenis barang / jasanya, suplier, lokasi, modal, karyawan, dan lain-lain. Hal-hal kecil yang tidak prinsip umumnya tidak terpikir dan memang seharusnya tidak terlalu dipikirkan agar rencana pembukaan usaha bisa jalan dan tidak tertunda.

Setelah usaha bisa berjalan, barulah hal-hal kecil mulai muncul minta diperhatikan. Yang mesti diingat, jangan sampai hal-hal kecil atau remeh temeh sampai dibesar-besarkan dan mengganggu jalannya usaha.

Beberapa hal yang tampak remeh tapi kadang cukup merepotkan dalam menjalankan bisnis retail misalnya masalah uang receh.

Dalam menetapkan harga, semula kami membuat harga-harga produk seperti jilbab, busana, dan aksesoris bisa genap dalam kelipatan ribuan, atau setidaknya dalam kelipatan lima ratusan rupiah. Tujuannya agar lebih mudah dalam menyiapkan uang kembalian. Selain itu karena memang lebih mudah untuk menukarkan uang pecahan Rp1000, Rp.5000, Rp10.000, dan Rp20.000 di Bank manapun.

Tapi sayangnya tidak semua produk bisa dibuat genap harganya, ada beberapa produk yang sudah dipatok harganya dari suplier dengan angka Rp.900 dibelakangnya. Ini sesuai prinsip harga psikologis agar harga tampak lebih murah, misalnya Rp.49.900 tampak lebih murah daripada Rp.50.000. Ditambah lagi adanya program diskon bagi para reseller, mengakibatkan harga tidak lagi bulat dan menjadi pecahan.

Konsekuensinya kami harus menyiapkan uang receh pecahan 100, 200, dan 500-an. Masalahnya tidak mudah mendapatkan, mengumpulkan, dan menjaga stok uang receh tersebut. Hanya beberapa Bank yang menyediakan, itupun terbatas. Tadinya kami sering kehabisan stok uang pecahan 100, 200, dan 500-an.

Ada yang menyarankan untuk menukarkan uang receh di BI, tapi lokasinya lumayan jauh dari kami. Ada juga yang menawarkan untuk menukar ke perusahaan jasa penukaran uang, tapi waktu saya telpon ternyata uang receh jumlahnya juga terbatas.

Saya pikir, banyak pengusaha ritel yang mengalami hal yang sama sehingga menggampangkan dengan memberi kembalian berupa permen. Hal ii tidak ingin saya lakukan di kios saya, karena saya juga tidak suka diberi  kembalian permen. Kalau saya sebagai pembeli mending diikhlasin saja buat pedagangnya. Tapi sebagai penjual dan untuk memberi pelayanan yang terbaik, saya usahakan harus mendapatkan uang recehan dalam jumlah yang cukup.

Beberapa kali saya mendapatkan uang receh dari para pedagang asongan. Setelah berulang kali menukar, mulai muncul rasa sungkan. Bagaimanapun mereka juga butuh uang recehan tersebut.

Alhamdulillah beberapa waktu lalu, istri saya curhat mengenai uang receh ini dengan salah satu pelanggan. Koq ya pas banget, pelanggan tadi bisa menyediakan uang receh dalam jumlah banyak yang diperolehnya dari salah satu yayasan sosial. Saat ini selain menyimpan stok barang dagangan, saya juga menyimpan stok uang receh satu tas jinjing! Nilainya sich kecil tapi beratnya minta ampun… he.. he.. he…

Sekali lagi, hal semacam ini hanya hal yang kecil dalam berbisnis. Bagi Anda yang baru mulai jangan sampai hal-hal kecil seperti itu dibesar-besarkan. Tetap prioritaskan pada hal-hal yang lebih strategis bagi kelangsungan dan kemajuan usaha kita.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Oleh-Oleh Lebaran dari Kampung Wonosobo

Oktober 25, 2007

Lebaran baru saja berlalu. Capek mudik juga baru ilang. Aktifitas kerja dan usaha berangsur normal.

Bagaimanapun momen lebaran dan mudik menjadi momen yang istimewa bagi saya. Disamping kesempatan berkumpul dengan saudara yang merantau di beberapa kota : Jakarta, Bekasi, Semarang, Yogya, dll, momen mudik dan pulang kampung bisa menjadi kesempatan untuk bersilaturahim sekaligus menimba ilmu.

Kesempatan bersilaturahim dengan orang-orang yang lebih sepuh (senior) saya jadikan kesempatan untuk minta do’a restu dan bimbingan agar usaha kami di Kios Addina bisa terus maju dan langgeng. Bagaimanapun semakin banyak yang mendo’akan, insyaAlloh dan mudah-mudahan akan ada yang terkabul. Saat beliau-beliau mendo’akan dan mengamini do’a kami, rasanya hati menjadi semakin kuat, teguh, dan mantap untuk meneruskan usaha kami.

Dengan waktu yang terbatas, saya juga sempatkan diri mampir ke salah satu member TDA di Wonosobo. Alhamdulillah bisa mampir ke Markas Rabbani di Wonosobo dan bertemu Pak Yoyok. Dalam kunjungan yang singkat, saya dan istri banyak mendapat pelajaran dari beliau dan dari Markas Rabbani-nya. Terimakasih Pak Yoyok dan maaf kalau merepotkan. Kesempatan ingin bersilaturahim ke Pak Hadi Kuntoro tidak kesampaian karena pas datang beliau sedang keluar.

Semula ada juga rencana berwisata ke Yogya, sekaligus mampir ke tempatnya Mas Bambang Triwoko di Klaten dan rekan-rekan TDA Joglo, tapi belum kesampaian. Mudah-mudahan di lain kesempatan.

Yang paling berkesan dari setiap kesempatan mudik adalah pelajaran tentang kesederhanaan dari saudara-saudara saya di kampung di Wonosobo. Setelah setahun beraktifitas di Jakarta, sering kita menjadi silau dengan harta dunia, ada keinginan punya mobil bagus, rumah bagus, dan barang-barang bagus lainnya. Tapi setiap kali pulang kampung, hati dan emosi saya seperti di rem dan kembali diingatkan untuk lebih banyak lagi bersyukur. Dalam kesederhanaan mereka bisa menikmati hidup, sementara saya yang (oleh sebagian mereka) telah dianggap mapan sering masih merasa kurang.

Memang tidak ada salahnya punya ambisi untuk menguasai harta dunia, tapi kalau tidak direm bisa-bisa tergelincir menjadi kufur nikmat. Saya kembali diingatkan agar harta dunia jangan dijadikan tujuan, itu hanya alat atau sarana saja yang setiap saat bisa datang dan pergi sesukanya.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1428 H

Oktober 11, 2007

Fuad Muftie, Keluarga, dan Addina Corp Mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1428 H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin”

Taqabbalallahu Minna wa Minkum
Shiyamana wa Shiyamakum
Kullu ‘amin wa Antum Bikhoir.

Wassalam
Fuad Muftie


The Power of Gift

Oktober 10, 2007

Pernah mendengar ungkapan “Retail is Detail”? Memang dalam menjalankan usaha retail, detail-detail dalam berbagai aspek harus diperhatikan. Banyak aspek yang harus selau diperhatikan detailnya, mulai pemilihan barang dagangan, display, harga, pelayanan, dan lain-lain. Salah satu aspek yang penting adalah perhatian kita kepada customer atau pelanggan.

Kita sebisa mungkin harus memperhatikan detail-detail tentang pelanggan kita. Mulai dari golongan / kelompok yang menjadi target marketnya, sampai individu-individu yang datang ke toko, perlu kita perhatikan sifat dan karakternya. Sehingga dalam memberikan pelayanan kita bisa memberi layanan yang spesifik kepada setiap pelanggan. Itu mungkin tampak terlalu ideal kalau sampai harus memperhatikan satu-persatu pelanggan kita, tapi kalau bisa dilakukan kenapa tidak.

Setidaknya kita perlu mengetahui bagaimana respon pelanggan dengan service yang kita berikan. Pelanggan yang keluar dari toko dengan perasaan puas dan senang tentu akan memberi dampak yang lebih baik daripada pelanggan yang keluar toko tanpa kesan khusus atau malah kecewa.

Memang sudah ada studi khusus mengenai kepuasan pelanggan dan bagaiamana kita sebisa mungkin memberikan pelayanan yang maksimal. Cuma, dalam prakteknya kita harus kreatif mengemas layanan kita kepada customer. Kita perlu mencari cara agar langkah atau SOP yang kita susun bisa memuaskan seluruh atau paling tidak sebagian besar customer.

Salah satu cara yang bisa kita berikan kepada customer adalah memberikan hadiah setelah pelanggan membeli dalam jumlah tertentu. Sering kita juga menjadi tertarik untuk membeli suatu produk karena ada hadiahnya.

Tapi efeknya akan berbeda manakala kita memberikan hadiah secara tiba-tiba kepada pelanggan kita. Hal ini yang sedang kami coba di toko Addina. Untuk mencoba memberikan perhatian khusus kepada pelanggan setia, di bulan Ramadhan ini setiap pembelian dalam jumlah tertentu, kami berikan hadiah tak terduga. Hadiahnya tidak perlu yang mahal-mahal, cukup sabun dan mangkuk dengan harga yang terjangku. Tapi hasilnya ternyata luar bisa, kami bisa memberikan kesan tersendiri bagi pembeli di tempat kami.

Memang program promosi ini tidak kami kampanyekan. Cuma kalau pelanggan sudah belanja dalam jumlah tertentu langsung kami beri hadiah. Efeknya sangat signifikan, menurut karyawati kami, pelanggan yang tiba-tiba diberi hadiah langsung menjadi senang, dan wajahnya menjadi sumringah (ceria).

Padahal dibanding jumlah belanjaan yang telah dibelanjakan, nilai hadiah tidak seberapa. Tapi kami yakin kesan atas perhatian kita kepada pelanggan yang lebih penting. Pelanggan menjadi seperti diistimewakan, karena selain merasa diperhatikan, seolah-olah kita tidak hanya mencari untung saja dari dagangan kita. Ada juga efek timbal-baliknya, artinya pelanggan sudah memberi profit bagi kita dan kita memberi imbalan hadiah kepada pelanggan.

Program ini memang baru pertama kali kami uji cobakan di kios. Selama ini kami lebih sering memberi potongan / diskon. Dibanding memberikan diskon, memberikan hadiah berupa barang efeknya lebih besar dan lebih menguntungkan. Karena nilainya bisa dibuat ‘gelap’, barang seharga Rp. 2.000 bisa tampak seharga Rp. 10.000. Sehingga pelanggan merasa mendapat hadiah sebesar Rp. 10.000. Selain itu dengan memberikan diskon, banyak pelanggan yang tidak puas dan masih menawar lagi. Sudah diberi 10% masih minta 20%, karena memang diskon 10% tampak kecil, padahal nilai rupiahnya bisa besar.

Demikian pengalaman kami dalam memberikan hadiah kepada pelanggan. Selain bisa memberikan perhatian kepada pelanggan, memberikan surprise kepada pelanggan, kami bisa mempertahankan margin profit lebih besar (dibanding memberikan diskon).

Semoga bermanfaat

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Indonesia Butuh Banyak Pedagang (yang tercerahkan) Part II

Oktober 9, 2007

Melanjutkan tulisan kemarin di sini dan kembali ke topik …

Sesuai judul, kalau saja Indonesia memiliki lebih banyak lagi pedagang (yang tercerahkan) saya berkeyakinan Indonesia akan menjadi negara besar yang disegani.

Alasannya simple saja, kalau saya dan istri saya bisa membahagian satu keluarga,maka kalau muncul lebih banyak lagi pedagang, tentu akan bertambah lagi keluarga yang ikut bahagia. Kalau warga negara Indonesia sudah banyak yang bahagia, sudah tidak ada lagi waktu buat saling menyalahkan, saling tuding, dan tindakan negatif lainnya. Mungkin masih ada tapi pasti lebih sedikit.

Alasan lainnya, bisa mencontoh pada sejarah. Pada jaman kejayaan Islam di jazirah arab, banyak tokoh-tokoh Islam yang berlatar belakang pedagang. Bahkan Rosululloh juga pedagang bahkan konglomerat. Kemudian banyak sahabat Rosululloh juga berpofesi sebagai pedagang. Islam besar di Indonesia juga berkat para pedagang yang berdagang ke Indonesia (bukan penjajah lho yang menyebarkan islam di Indonesia).

Kemudian Indonesia sendiri juga dijajah dan diperalat oleh para pedagang yaitu VOC alias Kompeni (company?). Para penjajah bisa menjadi maju dari perdagangan. Dan di jaman sekarang, bisa jadi Singapura contohnya bagaimana negara yang tidak punya sumber daya yang melimpah, bisa maju karena perdagangan.

Nah, kalau sekarang Indonesia bisa mencetak banyak pedagang (entrepreneur), tentu akan lebih cepat dan mudah lagi membangkitkan raksasa yang jatuh ini. Sama seperti ilmu kesehatan holistik, tubuh yang sakit bisa berpeluang sembuh total kalau masing-masing sel-nya kembali normal dan sehat. Ibarat tubuh, kita sebagai individu sama seperti sel. Kalau sel-sel-nya mandiri dan sehat, tentu tubuhnya akan sehat. Kala individu-individu bisa mandiri (sebagai entrepreneur) yang bahkan bisa menolong orang lain pasti tubuhnya (Indonesia) akan cepat bangkit.

Tentu saja tidak hanya sekadar jadi pedagang doang, yang dibutuhkan adalah pedagang yang tercerahkan. Dalam arti pedagang yang memiliki visi dan memegang nilai-nilai yang sesuai hati nurani. Sebenarnya banyak sekali warga negara yang sudah menjadi pedagang, tapi masih sedikit yang mau memikirkan visi dan kemajuan umat lainnya. Kebanyakan berdagan masih berkutat untuk urusan pemenuhan kebutuhan pokok, belum pada tarap berdagan untuk memberi kontribusi.

Oh ya ada lagi tambahan, kenapa Indonesia butuh lebih banyak lagi pedagang. karena apapun industrinya, apapun produknya kalau tidak didukung pedagang yang banyak, hasil produksi kita tidak akan banyak yang laku.

Contoh saja, misalkan saja kita bisa membuat produk agro industri yang bisa mengalahkan produk Thailand, tapi kalau tidak banyak yang bisa menjualnya, akan sia-sia saja. Sejarah Indonesia juga sudah membuktikan, bagaimana produk berkualitas tinggi produksi Indonesia (pesawat terbang) hanya dihargai beras ketan? Barangkali karena kurangnya pedagang di Indonesia sehingga tidak mampu menjual pesawat terbang dengan lebih dahsyat lagi.

Jadi, mari kita rame-rame jadi pedagang, khususnya buat yang sudah punya niat, segeralah wujudkan, banyak warga negara yang siap Anda pekerjakan. Dan lihatlah hasilnya nanti kedepan, mungkin bukan generasi kita yang akan menikmati, semoga anak cucu kita yang akan mempertahankan kejayaan dan kemakmuran Indonesia Raya.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Indonesia Butuh Banyak Pedagang (yang tercerahkan) Part I

Oktober 8, 2007

Setelah berhasil membuka satu usaha, saya jadi sering merenung. Banyak yang saya pikirkan, dari mulai bagaimana memajukan dan membesarkan usaha sendiri, sampai bagaimana saya bisa memberikan sumbangan atau kontribusi yang lebih luas lagi bagi masyarakat.

Pada level yang idealis, sering sekali terpikir apa yang bisa saya berikan sebagai kontribusi bagi bangsa Indonesia. Saya sadar sekali bahwa saat ini peran saya bagi Indonesia masihlah sangat-sangat minim. Bahkan mungkin masih menjadi ‘beban’ bagi negara.

Tapi saya yakin dengan membuka satu usaha, saya bisa meringkankan beban salah satu warga negara Indonesia yang saya pekerjakan di toko saya, dan mungkin juga saya sudah membahagiakan satu keluarga, dari jutaan keluarga di Indonesia.

Pikiranpun sering melayang dan berandai-andai, kalau saja banyak warga negara Indonesia yang mau memberanikan diri memasuki dunia entrepreneurship, banyak warga negara yang bisa ditolong dan banyak yang bisa disumbangkan bagi Indonesia.

Orang masih sering mengatakan kalau Indonesia masih dililit krisis. Mungkin benar bagi yang berpandangan pesimis. Tapi coba kalau kita bandingkan dengan tahun 1998 dulu, kondisi saat ini sudah jauh lebih baik. Dari kaca mata optimis, sebenarnya Indonesia sudah bangkit. Cuma mungkin bangkitnya Indonesia masih pelan, jika dibanding negara-negara yang senasib pada tahun 1998.

Kalau saya pribadi menganggap hal ini wajar (tapi bukan pembenaran lho, sebab harusnya Indonesia bisa lebih cepat lagi bangkitnya). Alasannya begini (lebih enak kalau pakai analogi), untuk membangkitkan Kambing yang jatuh terpeleset jauh lebih ringan dan lebih mudah daripada membangkitkan Gajah yang jatuh terpeleset, kan?

Indonesia adalah sebuah negara raksasa, sebuah negara besar, yang sedang jatuh. Kalau negara lain lebih cepat bangkit mungkin saja wajar karena urusan yang harus ditangani lebih sedikit dan lebih kecil daripada Indonesia yang multi kultural dengan permasalahan yang multi kompleks.

Tragisnya lagi setiap Indonesia mau bangkit, akan banyak yang menghalanginya. Belum lagi sikap saling menyalahkan dan sebaliknya kalau ada satu bidang yang berhasil maju, semua rame-rame pada mengklaim sebagai kontribusinya.

Ach.. koq jadi ngelantur. Oke dari sisi kewirausahaan apa yang bisa kita berikan sebagai kontribusi?

Bersambung aja yach… lagi ada kerjaan nich….

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com


Banyak Rumah di-Ruko-kan

Oktober 1, 2007

Saya perhatikan di sekitar tempat tinggal saya banyak sekali terjadi perubahan peruntukan rumah. Rumah-rumah yang tadinya murni hanya untuk tempat tinggal, kini banyak disulap menjadi tempat usaha.

Ada yang hanya mengubah garasinya menjadi kios, halaman rumahnya didirikan tenda / kios, tapi banyak juga rumah yang berubah total bentuk dan fungsinya menjadi ruko-ruko baru.

Di salah satu jalan di perumahan saya saja ada puluhan rumah yang sudah berubah fungsinya menjadi ruko. Dan sepertinya setiap bulan selalu saja ada pemugaran rumah yang dibangun menjadi ruko. Coba Anda perhatikan di sekitar tempat tinggal Anda atau kalau Anda sedang jalan perhatikan dikanan-kiri jalan…

Yang menarik adalah macam ragam pemanfaatan ruko baru tersebut juga sangat variatif. Usaha-usaha yang semula tidak terpikir, ternyata banyak diwujudkan oleh orang lain. Bahkan dulu ada salah satu franchise mainan anak-anak yang sudah gulung tikar, ternyata sekarang ada yang berani merintisnya kembali di tempat yang berdekatan dengan eks franchise tadi, dan ternyata sampai saat ini bisa survive. Artinya apa? Berarti peluang usaha memang dan akan selalu ada. Selain itu, akan selalu muncul kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi jenis usaha baru.

Tahun yang lalu saya sempat terpikir untuk mendirikan warnet, tapi dengan perhitungna sudah ada sekitar lima pemain di kompleks perumahan, saya urungkan niat saya. Karena saya pikir sudah ketat persainganya. Tapi sekarang satu tahun kemudian, sudah banyak berdiri warnet baru, kalau tidak salah ada belasan warnet!

Yang menarik lagi hampir sebagian besar ruko bisa terisi. Ada yang digunakan untuk rumah makan, rental play station, mini market, agen sembako, dan lain-lain. Persainganpun menjadi tampak ketat. Tapi koq ya semuanya bisa jalan. Memang ada satu dua yang berguguran, tapi semangat masyarakat untuk berwirausaha tampak sangat kuat.

Dulu saya beranggapan bahwa berdagang adalah langkah terakhir atau diperuntukkan bagi orang-orang yang kepepet. Karena memang saya sering menyaksikan jalan berdagang banyak diambil oleh orang-orang yang sudah tidak bisa diterima bekerja di instansi-instansi pemerintah maupun perusahaan swasta.

Tapi sekarang fenomenanya sangat lain, banyak karyawan yang banting stir membuka usaha, banyak juga lulusan fresh graduate yang tidak lagi semangat melamar pekerjaan dan memilih untuk langsung berwirausaha.

Dari sini menjadi muncul peluang baru, yaitu meningkatkan kebutuhan akan tempat untuk berusaha. Mall-mall dan pusat perbelanjaanpun banyak didirikan dan terbukti banyak yang terisi dan ramai.

Nah bagi yang ingin membuka usaha yang dekat dengan rumah tempat tinggal, maka pilihan ruko-ruko dan kios-kios di sekitar tempat tinggal bisa menjadi salah satu alternatifnya. Atau bagi Anda yang punya rumah dan masih ‘dianggurin’ siap-siap saja dijadikan ruko atau kios, apalagi yang berada di jalan raya dan strategis, saya yakin banyak yang berminat menyewanya.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
©2007, http://fuadmuftie.wordpress.com