Foto-Foto Kegiatan MasterMind TNM-E20

Desember 30, 2007

Berikut ini adalah sebagian foto-foto acara Mastermind TNM-E20 yang diadakan pada tanggal 14 Desember 2007 lalu di ruko (calon) Toko Addina V.2.0.

Untuk cerita lengkapnya bisa dibaca di blog-nya Pak Adi Prayitno atau di blog-nya Pak Roni Yuzirman.

Untuk yang penasaran apa artinya TNM-E20, silahkan tengok blog-nya Pak Endro.

Mastermind TNM-E20

Mastermind TNM-E20

Pak Endro (paling kiri) sedang menceritakan kisahnya mendapatkan pinjaman 1 Milyar.
Pak Tatang (Paling Kanan) sampai terbengong-bengong. Tenang ya.. Pak Tatang… sebentar lagi tiba gilirannya Pak Tatang dapat pinjaman M-M-an

Mastermind TNM-E20

Pak Hueez (tengah, kaos hitam), salah satu member baru, sedang memperkenalkan diri.
Untuk acara MasterMind kali ini boleh dibilang cukup lengkap, selain kedatangan member baru, hadir juga ibu-ibu, dan seorang anak.

Mastermind TNM-E20

Pak Asep Triono (tengah, kaos coklat) sampai terkaget-kaget :-) atau ngantuk yaa Pak, sedang mendengarkan kisah-kisah perjalanan bisnis anggota MasterMind TNM-E20

Mastermind TNM-E20

Puncak acara, diisi wejangan oleh Pak Hantiar (kaos merah), mengenai perjalanan bisnis beliau dan tips-tips membesarkan usahanya.

Bravo TDA
Bravo TNM-E20
Salam FUNtastic
Fuad Muftie
2007, http://fuadmuftie.wordpress.com/


Menyiasati Keterbatasan Modal Dana

Desember 28, 2007

Saya masih sering menerima pertanyaan atau permintaan masukan dan juga keluhan tentang sulitnya memulai usaha karena minimnya modal dana. Sepertinya modal (uang) benar-benar menjadi penentu sukses tidaknya suatu usaha. Kalau tidak ada modal dana seolah-olah pintu usaha sudah terkunci mati.

Padahal sudah sering ditulis baik di blog saya sendiri maupun oleh para entrepreneur dalam beragam tulisan bahwa modal uang memang penting, tapi bukan segala-galanya untuk memulai suatu usaha. Rumus jitu yang selalu diberikan untuk mengatasi keterbatasan modal dana adalah mulai saja sesuai kemampuan, atau dengan kata lain sesuaikan skala usaha kita sesuai dengan kemampuan kita.

Atau alternatif lainnya, kalau memang yakin dengan rencana bisnisnya, bisa pinjam modal dari pihak ke tiga. Tapi saya pribadi tidak terlalu menganjurkan untuk memaksakan diri meminjam dari pihak ke tiga kalau memang kita bisa mengatasinya dengan cara pertama, apalagi bagi pemula.

Kalau usaha sudah jalan dan sudah tampak memberikan hasil, barulah pikirkan untuk memanfaatkan dana pihak ketiga untuk mengungkit dan membesarkan usaha yang sudah jalan.

Tapi rupanya anjuran-anjuran tersebut masih belum mempan bagi sebagian orang dan tetap berkeyakinan bahwa sangat sulit memulai usaha karena tidak punya modal. Nah untuk meyakinkan Anda sekalian yang masih berkeyakinan demikian, berikut ini penuturan dari salah seorang pembaca blog ini yaitu dari Bu Idah yang berkenan menceritakan perjalanannya dalam merintis usaha dengan modal yang sangat-sangat terbatas. Berikut penuturan beliau:

“Disini banyak beberapa saya baca “mengeluh”tentang modal. Memang modal dengkul gak bisa, tapi usaha tidak juga harus dengan modal besar. saya punya sedikit cerita pengalaman saya yang mungkin bisa menjadi sedikit “motivasi”. 3 tahun yang lalu saya pengen sekali buka usaha, tapi modak cekak banget. Lalu saya liat ada spanduk dijalan berbunyi “dengan modal 250 rb anda sudah bisa berjualan pulsa”. Saya datangi tempat itu. dalam pikiran saya toh kalo tidak laku saya pakai isi HP suami saya. Uang 250 rb saya “pinjam” dari jatah pulsa suami saya utk 3 bulan (per bulan maks 100 rb :) ). HP utk transaksi juga pinjam suami saya. Per transaksi saya hanya mengambil keuntungan paling buanter 500 rupiah. Transaksi pertama saya salah memasukkan nomor orang, melayanglah pulsa as 50 rb (harga 54 rb). hampir nangis rasanya. Saya hampir putus asa, tapi saya lupa alasannya akhirnya saya tetap jualan. Learning by doing akhirnya saya tau mana kulakan yang murah, bagaimana caranya, dsb dsb singkatnya.

Sekarang sehari minimal saya dapat 500 transaksi perhari. Akhirnya saya mulai butuh komputer, sofwtware dsb. Komputer adik saya, saya boyong ke toko (walaupun awalnya sempat protes). Alhamdulillah sekarang sudah ada komputer khusus utk jualan. Bisa langganan speedy sampai saya bisa nyasar kesini. Sekarang mulai buka all operator kecil2an, semoga bisa berkembang. amin.

Intinya saya ingin share bahwa mau usaha jangan muluk2 dulu. Harus begini, harus begitu. Modal harus segini, harus untung segitu. Ya susah mulainya kalau begitu. Liat sekitar kita, apa yang mungkin bisa laku. Memang gak mungkin modal degkul. Tapi dengan uang 100 Rb plus ikhtiar plus doa, saya yakin kita akan bisa melakukannya."

Nah, masih belum yakin bahwa untuk memulai usaha bisa dilakukan dengan modal yang sangat minim? Masih juga memaksakan diri untuk merintis usaha dengan modal yang jauh diluar kemampuan kita?

Dalam beberapa komentar saya juga ingin mengingatkan bahwa yang menjadi kendala sebenarnya bukanlah MODAL DANA, yang menjadi penghalang sebenarnya adalah pikiran kita sendiri, keyakinan kita sendiri, mind-set kita sendiri. Belenggu pikiran inilah yang harus diatasi lebih dulu.

Akhirul kalam, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Bu Idah yang telah berkenan bercerita di blog saya, saya ikut mendoakan semoga usaha yang Bu Idah rintis bisa terus maju, berkembang, barokah, dan bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia.

Wassalam
Fuad Muftie
© 2007, http://fuadmuftie.wordpress.com/

PS: Saya sangat bersyukur disaat pikiran sedang banyak tercurah untuk persiapan pembukaan toko Addina V.2.0 dan kurang fokus mengisi blog, ternyata banyak pembaca yang berkenan membagikan ide-ide dan pengalamannya di blog ini, terimakasih semuanya. Semoga bermanfaat.


Kreatif Membuka Usaha

Desember 18, 2007

Hari ini blog saya kembali mendapat hadiah istimewa dari seorang ibu di Semarang yaitu Ibu Fauziah. Bukan hadiah berbentuk barang, tapi hadiah "komentar" yang sangat istimewa, karena bisa memberi kita (pengusaha pemula) suatu wawasan baru tentang bagaimana memulai usaha.

Saya yakin apa yang Bu Fauziah lakukan bisa dilakukan oleh siapa saja yang benar-benar MAU memulai. Kata MAU sengaja saya buat huruf besar, karena tanpa kemauan yang kuat, biasanya ide-ide hanya menjadi wacana, alias NATO (No Action Talk Only). Dan Bu Fauziah tidak berwacana tentang ide-ide bisnis, tapi mengambil tindakan nyata dengan langkah yang mudah dan terjangkau, tapi bisa memberi hasil yang melebihi perkiraan semula.

Saya ingat kedua anak saya, kalau menginginkan sesuatu dan kemudian saya beri tantangan, kalau sudah ada kata MAU apapun tantangannya akan dilakukan. Demikian juga, kalau Anda pembaca yang budiman MAU segera melangkah / mengambil tindakan nyata untuk memulai membuka usaha, saya yakin akan ada hasil yang akan Anda petik … cepat atau lambat.

So.. tidak perlu berpanjang lebar, saya kutip komentar Ibu Fauziah berikut ini :

"aww,

saya seorang ibu rt biasa, ingin memberi sedikit pengalaman yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi rekan2 lain yang ingin buka usaha dan masih ragu memulainya…..Saya baru memulai usaha hmpr 2 bulan, tepatnya sejak tanggal 24 Okt 07, berjualan apa saja…dari pakaian wanita, mukena, baju anak, batik,jilbab, dll…Bermula secara spontan tanpa banyak pertimbangan, dari niat membantu seorang teman yang ingin usaha tapi tak punya modal, jadi saya bantu dengan produk2 yang saya beli grosiran dari jakarta (kebetulan saya sering mondar mandir jakarta-semarang), lalu dia jual ke kantor dengan sistem cash maupun credit max 2bulan. Dari satu teman,berlanjut ada teman lain yang jg mau menjual barang2 saya , bahkan saya tawarkan ke guru anak saya…terus begitu hingga ada 5 orang yang saya percaya yang mau menjualkan barang2 saya.  Karena target saya bulan pertama hanya baru "mencari pasar", saya hanya mengambil keuntungan sangat minim dan membiarkan mereka menentukan harga penjualannya.

Satu bulan pertama, berdasarkan pantauan dari teman2 marketing atas produk yang diinginkan pasar, saya selalu mendatangkan produk2 baru tiap hari senin dan/rabu dan merolling produk2 tersebut setiap hari jumat ke masing2 marketing…sehingga produk tidak terlalu lama dipegang oleh 1 marketing dan variasi produk bisa dinikmati semua marketing dengan adil.. Genap 1 bulan, semua produk dikembalikan pada saya, saya istilahkan "opname produk" jg hari untuk setor hasil penjualan, sehingga saya bisa menghitung secara tepat omzet dan profit saya dalam satu bulan…sungguh terkejut saya mendapatkan omzet yang 4x lipat dari target yang saya rencanakan…, dan jumlah produk yang terjual mancapai 200pcs, shg saya berkesimpulan: dari modal yang saya keluarkan, bila bulan2 berikutnya dapat saya (dan teman2) pertahankan, saya cukup optimis  dalam 2-3 bulan akan bisa tercapai BEP,.. Padahal saya memulai usaha setelah lebaran, dimana sebenarnya pasar biasanya kurang bergairah…tapi ternyata sistem yang saya jalankan cukup efektif karena "menjemput bola"…walaupun terus terang saya hampir tidak mengeluarkan "keringat" karena saya hanya memanage saja, memberi sedikit training dan tentunya menerapkan open managemen…tak akan tercapai kesuksesan bila tanpa kerjasama yang baik dan ikatan yang kuat antar personal…sebagai ibu yang punya anak batita, tentunya waktu saya jd masih cukup banyak untuk mengurus keluarga. Semoga pengalaman saya membawa inspirasi dan semangat untuk yang membutuhkan…terutama bagi ibu2 rt yang lain,…

selamat memulai usaha…

wassalam"

Demikian komentar Bu Fauziah. Terimakasih banyak ya Bu atas komentarnya. Ada banyak aspek yang bisa kita perlajari dari langkah-langkah yang sudah Bu Fauziah ambil, khususnya bagi ‘pengusaha’ pemula, antara lain:

# Niat awal membuka usaha: bukan hanya mencari keuntungan. Ada niat mulia dibalik itu, mungkin niat yang sederhana yaitu ingin membantu orang lain, tapi itu mencerminkan sifat yang mulia. Untuk memulai usaha jangan egois memikirkan untung untuk diri sendiri saja.

# Nothing To Loose, atau mungkin lebih tepatnya Ikhlas menjalaninya, ikhlas mendapatkan untung yang kecil asal orang lain bisa dapat untung. Bisa juga diartikan, buka usaha boleh dan syah-syah saja berharap dapat untung, tapi kalaupun gagal, kita siap menerima akibat / resikonya.

# Target yang terjangkau: Seperti yang Bu Fauziah tulis, target pertama hanya mencari pasar. Coba kalau target pertama sudah dipatok terlalu tinggi misalnya harus untung sekian juta, mungkin ceritanya akan lain. Demikian juga kami di Kios Addina, awalnya kami membuat target yang realistis dan boleh dibiliang sangat kecil. Sekali kita bisa mencapai target pertama, maka untuk menetapkan target berikutnya yang lebih besar kita bisa semakin yakin. Sama seperti naik tangga, selalu diawali dari tangga terendah yang sangat mudah terjangkau.

# Kreatif : Mungkin selama ini kita selalu terpaku pada keinginan sendiri bahwa untuk membuka usaha pakaian harus ada tokonya. Bu Fauziah justru punya ide lain, tidak perlu membuka toko (benar kan Bu?), cukup menggunakan jasa pemasaran yang direkrut dari lingkungan sekitar. Ide yang sederhana, brilian, dan kadang tidak terpikir oleh kita. Padahal sebenarnya contoh model usaha seperti ini sudah banyak, MLM misalnya, atau usaha direct selling lainnya. Tinggal lakukan ATM = Amati, Tiru, Modifikasi.

Demikian juga kreatif dalam memutar barang dagangan. Antar pemasar, barang-barang yang tidak laku saling dipertukarkan. Karena memang sering terjadi di tempat yang satu barang A tidak laku, tapi di tempat lain barang yang sama akan mudah laku.

# Bentuk sistem : Sesederhana apapun usaha kita sebenarnya ada sistem di dalamnya. Masalahnya kadang kita biarkan sistem tumbuh liar, tidak kita arahkan dan tidak kita pelihara. Nah Bu Fauziah, juga sudah membentuk sistem, dari sistem pemasaran, sistem stok opname, sistem perhitungan omset dan keuntungan, sistem manajeman produk dan manajeman tenaga pemasar, ada sistem traningnya juga dan sistem lainnya. Tinggal dikembangkan sistemnya ya Bu.

Itu antara lain yang bisa saya petik hikmahnya dari komentar Bu Fauziah, barangkali ada pembaca lain yang ingin berkomentar atau memiliki ide atau pengalaman serupa, kita bisa saling berbagi.

Wassalam & Salam FUNtastic!
Fuad Muftie
© 2007,
http://fuadmuftie.wordpress.com/


Belanja Dahsyat Akhir Tahun

Desember 17, 2007

Dengan membuka usaha, bersiaplah untuk mengalami kejadian-kejadian yang tidak terduga. Seperti yang kami alami minggu kemarin.

Logikanya bisnis busana muslim dan produk turunannya akan sepi atau turun penjualannya setelah masa lebaran. Pengalaman kami tahun lalu di Kios Addina, memang demikian. Setelah lebaran, penjualan turun. Tapi masih ada beberapa moment yang membuat toko ramai seperti Iedul Adha. Itupun volume penjualannya masih jauh dibanding moment Ramadhan dan lebaran Iedul fitri.

Satu hal yang sebaiknya / seharusnya dihindari adalah menjadikan data seperti itu sebagai keyakinan. Kita harus tetap yakin dan optimis bahwa dengan membuka usaha, peluang penjualan bisa terjadi setiap saat tidak tergantung musim. Mungkin saja peluangnya sangat kecil, tapi itu tidak berarti sudah tertutup peluangnya. Mungkin peluangnya cuma 0.1%, tapi kalau yang 0.1% itu jatuh pada diri kita, … bersiaplah… dan bersyukurlah….

Begitulah kira-kira yg kami alami. Minggu kemarin tiba-tiba kami mendapat order jilbab yang cukup signifikan dan pembeli minta barang cepat disediakan. Melihat stok di kios Addina, jelas sangat terbatas karena yang dipesan cuma satu tipe dan nggak mau dicampur… Agar peluang tidak sia-sia, kami iyakan saja tawarannya. Perburuan jilbabpun dimulai…

Dengan asumsi, pusat distribusi jilbab tersebut ada di Bandung, Minggu 16-12-2007 pagi hari kami langsung meluncur ke Bandung. Sampai di Bandung ternyata barang sudah banyak keluar, tipe yang kami cari cuma ada sebagian. Akhirnya di Bandung, kami berhasil memboyong beberapa karung kecil berisi jilbab.

Karena, masih kurang, kami telpon ke Depok ke distributor yang lain, Alhamdulillah stok masih ada. Masalahnya di Depok tokonya tutup jam 5 sore, sementara pesanan harus sudah siap malam harinya. Tanpa membuang waktu, siang itu dari Bandung kami langsung ke Depok.

Masalah timbul, karena mobil yang kami pakai sudah cukup uzur, tidak mau lagi diajak lari sprint. Ketika diajak lari diatas 110kpj, mobil bergetar hebat, kami harus puas lari maksimal di 100kpj, itupun harus terus berzikir.. he.. he.. he… Masalah berikutnya.. memasuki Jl. Margonda Raya, jalan lagi macet-macetnya. Kami jelas gelisah, tapi saya ingat prinsip LoA, semakin gelisah semakin cepat terwujudnya apa yang kami gelisahkan. Kami coba tetap tenang, cool, dan FSG (Feel So Good)…..

Sampai di Depok, kami memasuki injury time. Pas istri saya masuk ke toko, penjaga bilang "Ooo… tadi Ibu yang telpon ya, padahal saya sudah mau pulang nich Bu" Dan Alhamdulillah penjaga toko masih bersedia melayani kami.

Bersyukur sekali pesanan bisa kami penuhi. Keluar dari Depok, mobil telah penuh dengan jilbab. Itung-itung sekalian buat persiapan stok di calon toko yang baru. Dan setelah dipikir2 belanja kemarin bisa menjadi belanja yang dahsyat di akhir tahun bagi kios mungil kami, karena bisa menyaingi belanja kami di bulan Ramadhan. Terimakasih ya Alloh…. What a beautiful day!

Wassalam
Fuad Muftie
© 2007 http://fuadmuftie.wordpress.com/


Bingung Menentukan Jenis Usaha

Desember 11, 2007

assalamu’alaikum…

saya sangat berkeinginan untuk mempunyai usaha. saat ini saya bekerja dan masih mempunyai waktu luang. akan tetapi saya bingung usaha yang cocok untuk saya.  jika ada yang menarik maka saya kepingin usaha tersebut, akan tetapi jika ada yang lain maka saya juga ingin kembali akan tetapi hal tersebut membuat bingung dan hingga saat ini belum melangkah untuk menentukan usaha apa yang akan saya lakukan.

sedangkan ada saran yaitu usaha hal yang diminati saya pun hingga saaat ini tidak tahu apa yang saya minati. jadi mungkin ada masukan apa ang musti saya pikirkan dan lakukan agar saya bisa segera memulia apa yang ada diangan-angan. terima kasih.

wassalamu’alaikum

Zainal

================***=================

Wa’alaikum salam Wr Wb

Pak Zainal, Anda tidak sendirian memiliki kebingungan seperti itu. Saya yakin banyak yang masih mengalami kebingunan seperti itu. Sayapun dulu seperti Bapak, bingung… mau usaha apa, gimana memulainya, bagaimana modalnya, dll.

Yang saya lakukan saat bingung seperti Anda adalah mengumpulkan informasi tentang usaha-usaha yang kira-kira bisa saya jalankan sesuai kemampuan finansial saya. Saya buat catatan di buku saya tentang berbagai peluang yang mungkin saya ambil nantinya.

Kemudian saya datangi salah satu pemilik franchise burger dengan pertimbangan biaya memulainya murah. Saya tanyakan detail mengenai bagaimana cara mengambil franchise-nya (tepatnya sich business opportunity). Saya datangi juga pihak yangmenawarkan franchise es cendol. Saya datangi pemilik franchise mie ayam, dll.

Brosur-brosurnya saya kumpulin. Kemudian saya baca-baca tawarannya, saya bayangkan kalau saya ambil kira-kira nantinya seperti apa, seberapa repotnya saya mengelola bisnis tersebut, mengingat saya juga bekerja di kantoran. Kira-kira nanti gimana cari karyawan, gimana menggajinya, dll. Semua saya pikirkan saja karena saya juga bingung dimana mencari jawabannya dan saya belum tahu jawabannya. Pokoknya pikirkan dan rasakan dulu. Konyol memang, he.. he.. he.. tapi ya begitulah proses yang dulu saya jalani.

Ternyata keinginan saya berubah, saya jadi pingin buka warnet. Hal yang sama saya lakukan, saya mencari tentang peluang bisnis warnet. Ini lebih mudah, karena informasinya banyak tersebar di internet sehingga bisa dicari lewat googling. Saya juga bertanya pada pengelola warnet tentang bagaimana cara membuka warnet. Ternyata mentok juga di modal. Saya tidak kuat mendanai sendiri buat buka warnet. Untuk kerjasama saya tidak ada bayangan dan tidak terpikirkan.

Pikiran berubah lagi, saya pingin buka toko barang-barang petualangan (adventure) karena ada teman yang sudah memulai dan sepertinya menarik untuk dikembangkan. Sayangnya keinginan saya bertepuk sebelah tangan. Jadinya tidak diteruskan. Pokoknya apa saja yang terpikir ingin dijalani, saya kumpulkan informasinya.

Nah setelah berbulan-bulan bergelut dengan kebimbangan/kebingungan, munculah ide buka toko jilbab. Ide itu datang tiba-tiba dari arah yang tidak terduga. Awalnya saya baca salah  satu emailnyaPak Hadi Kuntoro di milis Wonosobo, terus saya lihat-lihat iklan di majalah muslimah, muncullah keinginan buka toko jilbab. Kemudian saya tawarkan kepada istri saya ternyata istri saya sangat berminat dan mendukung. Setelah kami berdua sepakat, maka tindakan2 berikutnya mengalir seperti jatuhnya bola salju, mengalir deras dan tidak mungkin mudur lagi.

Demikian gambaran saya satu-tahun-tiga-bulan yang lalu. Nah kembali kepada kebingunan yang Pak Zainal alami, saran saya tenang saja Pak. Sekarang ambil kertas atau siapkan buku tulis, tulis saja ide-ide bisnis yang ingin Anda jalani, tulis saja secara bebas, seenaknya, senyamannya, dan jangan pakai rasa takut dan khawatir. Ibaratnya Pak Zainal sedang menanam bibit, bibit mana yang nantinya tumbuh dan nantinya akan ditanam jangan terlalu dipikirkan.

Setelah dapat daftarnya, coba sambil jalan-jalan ke kantor, perhatikan orang-orang yang menjalankan usaha yang Pak Zainal catat. Bayangkan kalau saya menjalankan usaha ini kira-kira gimana perasaan saya, gimana kesibukan saya, gimana nanti mempekerjakan karyawan, dll. Cobalah untuk berpikir positif, jangan pikirkan yang negatif. Bayangkan saja gimana rasanya nanti menggaji karyawan sesuai UMR, jangan pikirkan gimana kalau saya nggak bisa nggaji karyawan? Wong coma mikir-mikir koq, jangan mempersulit diri.

Sama saja seperti nanam benih, misalnya benih mangga, bayangkan nanti pohonnya tumbuh lebat, buahnya besar2, ranum, dan manis. Jangan pikirkan gimana nanti kalau pohonnya kena angin, terus tumbang, roboh di atap, terus rumahnya rusak… wah nggak bakalan kita jadi nanam mangga.

Coba juga masuk ke Pasar, perhatikan orang-orang yang berjualan produk yang Pak Zainal pikirkan. Perhatikan orang yang jualan bakso, gimana caranya mereka bisa berjualan dan bagaimana kalau nanti Pak Zainal yang berjualan. Perhatikan orang yang jualan koran / majalah, bagaimana mereka berjualan dan bagaimana kalau nanti Pak Zainal yang berjualan. Perhatikan orang yang jualan voucher dan HP, bagaimana mereka berjualan dan bagaimana kalau nanti Pak Zainal yang berjualan.

Coba juga masuk ke Mall dan pusat grosir, perhatikan bagaimana mereka berjualan dan kira-kira bagaimana nanti kalau Pak Zainal yang punya usaha itu. Pokonya sering-sering saja lakukan pengamatan. Nanti saat mengamati mungkin pikiran kita akan menerawang tentang prospeknya, tentang variasi usahanya, tentang persaingannya, dll. Biarkan saja pikiran itu muncul dan rasakan saja. Wong kita juga belum buka usahanya kan. Jadi bebas saja.

Syukur-syukur Pak Zainal punya kesempatan ngobrol dengan pengusaha yang Pak Zainal minati. Obrolan ringan saja Pak. Seperti istri saya, waktu masuk ke toko jilbab, tanya saja mana produk yang laris, berapa harganya. Ketemu sama tukang somay, tanya siapa yang buat, berapa sehari laku, berapa keuntungannya. Obrolan santai yang mengalir dan tidak dipaksakan sering memberikan informasi yang sangat berharga bagi kita.

Nah lama-lama, InsyaAlloh akan muncul perasaan yang kuat dan keyakinan dalam diri kita, "AHA.. ini usaha yang ingin saya jalani!!". Setelah muncul AHA tersebut, segera tindaklanjuti dengan action-action yang lain, misalnya menyewa tempat (kalau mau buka toko), mencari suplier, mencari rekanan, dll. InsyaAlloh kalau sudah begini tidak akan bingung lagi dan akan mengalir seperti bola salju menggelinding semakin kencang.

Itu berdasarkan pengalaman saya lho Pak. Kalau Pak Zainal tidak nyaman dengan cara saya coba cari cara Pak Zainal sendiri. Atau kalau kalau masih bingung juga cobalah mulai dari yang kecil-kecil dulu, misalnya dari jualan burger dengan gerobag atau numpang di depan minimarket. Atau jualan es buah atau es jus di pinggir jalan. Atau coba ikutan bazaar di berbagai event dengan meminjam barang dagangan dari rekan, teman, atau Saudara Pak Zainal.

Minat tidak minat, suka tidak suka, coba saja dulu yang kecil-kecil. Daripada berlama-lama bingung. Toh modalnya kecil, kalaupun tidak lancar usahanya, Pak Zainal sudah dapat ilmu berjualan, sudah bisa merasakan bagaimana berjualan. Dan biaya yang Pak Zainal keluarkan jauh lebih murah dibanding ilmu yang Pak Zainal peroleh. InsyaAlloh dengan pengalaman kecil tadi, Pak Zainal akan lebih siap saat mendapatkan peluang yang lebih besar nantinya. Syukur-syukur dari yang kecil itu bisa berhasil dikembangkan jadi besar dan jadi lebih baik lagi, berarti akan dapat keuntungan ganda, dapat ilmu memulai bisnis dan ilmu membesarkan bisnis.

Mudah-mudahan bisa membantu. Kalau masih bingung juga….. saya juga jadi bingung dech……

Pokoknya gini Pak asal tiap saat, tiap hari, tiap minggu ada action yang Pak Zainal ambil untuk mendekatkan pada tujuan, itulah namanya PROSES. Apapun nanti pilihannya dan berapa lama mengambil keputusannya, itu juga PROSES. Dalam setiap kesempatan jangan cepat-cepat memfonis hasilnya, karena kalaupun sedang rugi atau sedang untung, sedang senang atau sedang bingung, itu juga proses yang harus dijalani. Nikmati setiap prosesnya dan selalu bergerak, maka nanti apapun hasilnya kita akan menilai kalau kita ada progres dari proses-proses yang kita ambil.

Wassalam
Fuad Muftie
© 2007,
http://fuadmuftie.wordpress.com/