Mamaknai Kegagalan
Februari 29, 2008Ngomongin gagal v.s. sukses memang tidak akan ada habisnya. Sudah banyak pula pepatah yang menggambarkan tentang gagal dan sukses ini. Pasti kita pernah mendengar: “Gagal adalah sukses yang tertunda”, “Kegagalan adalah ibunya kesuksesan”, dan masih banyak lagi.
Saking eratnya hubungan antara gagal dan sukses, malah ada yang mengatakan “belum sukses namanya, kalau belum pernah gagal”, nah lho. Bahkan ada yang menantang kita untuk berani gagal (Dare to Fail)!
Mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini kadang membuat hati dag-dig-dug juga. Gimana tidak, sekali-kalinya kami membuka usaha yaitu kios jilbab, Alhamdulillah usaha kami langsung bisa berjalan lancar (Terimakasih Yaa Alloh…). Dan mudah-mudahan bisa terus berkembang, maju, dan barokah, aamiin..
Kembali mengenai kegagalan, pepatah-pepatah tadi memang bagus untuk menyemangati dan memotivasi kita untuk siap bangkit lagi kala mengalami kegagalan. Tapi jujur saja, hati kecil saya sering menjadi berpikiran negatif dan khawatif. Apakah untuk mencapai sukses harus dan mesti gagal dulu? Apa tidak bisa sukses terus-terusan?
Tentu saja pikiran negatif seperti ini dari kaca mata LoA (Law of Attraction), amat sangat tidak dianjurkan. Kita harus terus berpikiran positif dan yakin akan sukses terus.
Nah saya mulai menemukan pencerahan setelah kembali membaca-baca referensi tentang NLP. Salah satu asumsi dasar (presupposition) dalam NLP adalah “There Is No Failure, Only Feedback“ yang artinya kurang lebih “Tidak ada kegagalan, yang ada hanya umpan balik“.
Memaknai kegagalan sebagai umpan balik, memberikan persepsi baru bagi saya. Semula persepsi saya atas kegagalan mirip /saya analogikan seperti terminal atau stasiun atau tempat pemberhentian (pit stop). Maksudnya kalau kita mengalami kegagalan, berarti langkah kita mesti terhenti sebentar, atau bisa juga berhenti lama, untuk menyiapkan perjalanan yang baru lagi.
Persepsi saya seperti ini, diperkuat lagi dengan banyaknya contoh orang yang gagal dalam satu usaha, terus banting stir ke usaha lain. Dan bila kembali gagal, akan mencoba lagi usaha yang lain.
Tetapi dengan persepsi baru saya, bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, sangat cocok dengan tipikal saya, yang cenderung teknikal. Saya jadi ingat waktu SMA punya hobby elektronika, kalau sudah mengutak-atik rangkaian elektronika, saya selalu terpacu untuk bisa berhasil. Karena kalau sedang ngoprek ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan, maka akan dicari letak penyebabnya (feed back). Dari umpan balik-umpan balik yang bisa dikumpulkan, hampir 90% proyek-proyek kecil saya bisa diteruskan dan membuahkan hasil. Ach jadi nostalgia SMA
Dengan persepsi baru saya bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, membuat saya bertambah optimis. Apapun yang nanti terjadi pada bisnis, saya siap menghadapinya. Kalau orang lain mengatakan gagal, saya akan menyikapinya sebagai umpan balik yang memberitahu saya bahwa ada strategi yang keliru atau strategi tidak tepat dijalankan. Sehingga proses harus terus berjalan dan tidak boleh terhenti, karena yakin tidak akan pernah gagal. Yang ada hanya umpan balik.
Demikian juga kalau orang lain bilang saya sukses, saya memaknainya sebagai umpan balik yang menunjukkan bahwa strategi yang dijalankan sudah tepat dan sudah pas. Jadi fokusnya tetap pada proses bukan pada hasil.
Jadi, tetap jalani prosesnya, nikmati pencapain-pencapaiannya.
Salam FUNtastix!
Fuad Muftie
© 2008,
http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur
► Distro Jilbab, Busana Muslimah / Anak, Produk Herbal, dll
Ditulis oleh Fuad Muftie

