Mamaknai Kegagalan

Februari 29, 2008

Ngomongin gagal v.s. sukses memang tidak akan ada habisnya. Sudah banyak pula pepatah yang menggambarkan tentang gagal dan sukses ini. Pasti kita pernah mendengar: “Gagal adalah sukses yang tertunda”, “Kegagalan adalah ibunya kesuksesan”, dan masih banyak lagi.

Saking eratnya hubungan antara gagal dan sukses, malah ada yang mengatakan “belum sukses namanya, kalau belum pernah gagal”, nah lho. Bahkan ada yang menantang kita untuk berani gagal (Dare to Fail)!

Mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini kadang membuat hati dag-dig-dug juga. Gimana tidak, sekali-kalinya kami membuka usaha yaitu kios jilbab, Alhamdulillah usaha kami langsung bisa berjalan lancar (Terimakasih Yaa Alloh…). Dan mudah-mudahan bisa terus berkembang, maju, dan barokah, aamiin..

Kembali mengenai kegagalan, pepatah-pepatah tadi memang bagus untuk menyemangati dan memotivasi kita untuk siap bangkit lagi kala mengalami kegagalan. Tapi jujur saja, hati kecil saya sering menjadi berpikiran negatif dan khawatif. Apakah untuk mencapai sukses harus dan mesti gagal dulu? Apa tidak bisa sukses terus-terusan?

Tentu saja pikiran negatif seperti ini dari kaca mata LoA (Law of Attraction), amat sangat tidak dianjurkan. Kita harus terus berpikiran positif dan yakin akan sukses terus.

Nah saya mulai menemukan pencerahan setelah kembali membaca-baca referensi tentang NLP. Salah satu asumsi dasar (presupposition) dalam NLP adalah “There Is No Failure, Only Feedback“ yang artinya kurang lebih “Tidak ada kegagalan, yang ada hanya umpan balik“.

Memaknai kegagalan sebagai umpan balik, memberikan persepsi baru bagi saya. Semula persepsi saya atas kegagalan mirip /saya analogikan seperti terminal atau stasiun atau tempat pemberhentian (pit stop). Maksudnya kalau kita mengalami kegagalan, berarti langkah kita mesti terhenti sebentar, atau bisa juga berhenti lama, untuk menyiapkan perjalanan yang baru lagi.

Persepsi saya seperti ini, diperkuat lagi dengan banyaknya contoh orang yang gagal dalam satu usaha, terus banting stir ke usaha lain. Dan bila kembali gagal, akan mencoba lagi usaha yang lain. 

Tetapi dengan persepsi baru saya, bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, sangat cocok dengan tipikal saya, yang cenderung teknikal. Saya jadi ingat waktu SMA punya hobby elektronika, kalau sudah mengutak-atik rangkaian elektronika, saya selalu terpacu untuk bisa berhasil. Karena kalau sedang ngoprek ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan, maka akan dicari letak penyebabnya (feed back). Dari umpan balik-umpan balik yang bisa dikumpulkan, hampir 90% proyek-proyek kecil saya bisa diteruskan dan membuahkan hasil. Ach jadi nostalgia SMA :-)

Dengan persepsi baru saya bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, membuat saya bertambah optimis. Apapun yang nanti terjadi pada bisnis, saya siap menghadapinya. Kalau orang lain mengatakan gagal, saya akan menyikapinya sebagai umpan balik yang memberitahu saya bahwa ada strategi yang keliru atau strategi tidak tepat dijalankan. Sehingga proses harus terus berjalan dan tidak boleh terhenti, karena yakin tidak akan pernah gagal. Yang ada hanya umpan balik.

Demikian juga kalau orang lain bilang saya sukses, saya memaknainya sebagai umpan balik yang menunjukkan bahwa strategi yang dijalankan sudah tepat dan sudah pas. Jadi fokusnya tetap pada proses bukan pada hasil.

Jadi, tetap jalani prosesnya, nikmati pencapain-pencapaiannya.

Salam FUNtastix!

Fuad Muftie
© 2008,
http://fuadmuftie.wordpress.com/

@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur
► Distro Jilbab, Busana Muslimah / Anak, Produk Herbal, dll


Cukup Satu Alasan

Februari 27, 2008

Satu hal fundamental yang perlu kita sadari sebelum mulai memasuki dunia wirausaha, yaitu "alasan". Bukan alasan yang asal-asalan, tapi alasan yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Sudahkan kita memiliki satu alasan yang benar-benar kuat yang bisa menjawab kenapa kita mesti membuka usaha. Bukankah pekerjaan di kantor sudah nyaman dengan gaji yang tinggi?

Memang butuh perenungan khusus. Kadangkala niat awal kita membuka usaha hanya karena alasan yang ’semu’. Ingin mendapat penghasilan tambahan, ingin membuat istri punya aktifitas, ingin membantu Saudara, ingin keluar dari pekerjaan sekarang, dan lain-lain.

Alasan tersebut tidaklah salah, tapi apakah alasan tersebut menjadi alasan yang sangat kuat dan powerful. Satu alasan yang akan membuat kita terus bersemangat, membuat kita siap menyelesaikan segala tantangan dan hambatan, membuat tindakan kita tidak bisa terhentikan dan pantang mundur.

Sebenarnya cukup Satu saja Alasan. Satu alasan yang membuat kita berani mengambil tindakan-tindakan yang tidak logis di mata ‘orang normal’. Satu alasan yang membuat kita mau tidur larut malam dan bangun dini hari. Satu alasan yang terus terngiang-ngiang di telinga. Yang membuat energi kita terus membuncah.

Saya sendiri mulai ragu dengan alasan semula saya membuka usaha. Sepertinya belum benar-benar suatu alasan yang membuat saya berani mengambil langkah apapun untuk mewujudkan keinginan dan impian. Belum benar-benar menjadi alasan yang menembus alam bawah sadar dan menusuk relung hati paling dalam.

Kalau kita lihat orang-orang yang mampu mencapai kehidupan yang bernilai, mereka selalu punya satu alasan itu. Dan saya juga ingin seperti mereka….

Inilah PR saya saat ini…., merenung, merenung, dan merenung… kenapa, kenapa, dan kenapa? Demi anakkah, demia istrikah, demi orang tuakah, demi rakyatkah, demi negarakah, atau cuma demi perut?

Salam FUNtastic!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur
► Distro Jilbab & Busana Muslimah / Anak


Tiga Langkah Mudah Untuk Memulai Bisnis

Februari 25, 2008

Setelah memiliki usaha sendiri yang Alhamdulillah bisa jalan lancar dan setelah merenungkan kembali dari awal perjalanan bisnis saya serta dengan ditambah ilmu-ilmu yang saya peroleh dari komunitas TDA, beberapa milis bisnis, blog, dan buku-buku, saya memberanikan diri menyimpulkan bahwa ternyata untuk memulai sebuah bisnis tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Hanya dengan tiga langkah ini saya berani menjamin Anda yang masih bingung memikirkan mau usaha apa, bisa segera mengambil langkah pertama untuk mengawali kerajaan bisnis Anda.

Bukan bermaksud menggampangkan masalah, justru kita manusialah yang sering mempersulit keadaan. Tiga langkah ini bukanlah hal yang baru, barangkali yang sudah terbiasa dengan proses penetapan tujuan (goal setting) bisa segera mengaplikasikannya. Memang ini saya adopsi dari proses penetapan tujuan, yaitu:

1. Ketahui kondisi Anda saat ini

Langkah pertama sebagai persiapan adalah mengetahui kondisi Anda saat ini. 

Perhatikan dan sadari kondisi diri pribadi, keluarga, lingkungan yang ada dalam kendali Anda. Perlu juga diinventarisir sumber daya dan potensi yang dimiliki, baik potensi diri (minat, bakat), kemampuan keuangan untuk modal, dan sumber daya yg lainnya. Sadari juga pengetahuan Anda tentang bisnis. Dengan membaca email-email yang masuk dan blog rekan2, mudah sekali meningkatkan pengetahuan kita tentang bisnis.

Tujuan langkah ini agar kita bisa optimal dan efisien memanfaatkan sumber-sumber daya (keuangan, informasi, jaringan, dll) dalam melangkah nantinya. Tanpa langkah ini sering menjadi penghambat dengan munculnya keluhan “tapi saya tidak punya modal”, “tapi saya tidak ada pengalaman”, “tapi …”, “tapi….”, “tapi ….”.

Juga jangan kaget kalau ternyata kita baru menyadari bahwa kita punya banyak potensi dan peluang yang bisa digarap. Beruntunglah kalau kita bisa menemukan potensi-potensi ini, misalnya ternyata kita punya banyak kenalan para produsen, punya Saudara yang siap menyalurkan modal, dll.

2. Ketahui tujuan akhir yang Anda inginkan

Saya pikir semua sepakat, kalau mau melangkah dan berjalan kita harus tahu dulu mau melangkah ke mana. Tanpa tujuan akhir perjalanan akan tidak terarah dan tidak efisien.

Beranikan diri untuk bermimpi, ciptakan tujuan-tujuan yang menantang dan menggairahkan. Dengan memiliki tujuan sendiri, akan membuat bisnis kita bisa kita buat unik, tidak hanya ikut-ikutan saja.

Nah dari dua langkah ini, akan tercipta kesenjangan yaitu antara kondisi saat ini dengan tujuan akhir. Gap inilah yang harus diatasi dan kita cari tahu bagaimana caranya melangkah dari kondisi saat ini ke tujuan akhir, untuk itu perlu adanya langkah ketiga:

3. Rencanakan dan Jalankan strategi mencapai tujuan

Setelah tahu tujuan yang ingin dicapai, susun dan jalankan strategi menuju tujuan. Strategi disini merupakan howto-nya yaitu bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada agar bisa sampai ke tujuan. Kalau sumber daya tidak mencukupi, buatlah strategi menciptakan sumber daya yang dibutuhkan. Contoh, mau usaha tidak punya modal, ya.. pertama-tama kumpulkan modal atau olah modal seadanya dulu.

Kalau tujuan yang kita buat memang tinggi, jalankan strategi-strategi kecil dulu untuk mendekatkan pada tujuan dan untuk menciptakan tonggak-tonggak atau titik-titik aman pertama, kedua, dan seterusnya. Think big, act small. Sama seperti bagaimana caranya makan seekor sapi, tentu tidak langsung ditelan bulat-bulat sapinya, caranya ya dimakan sepotong demi sepotong.

Dalam menjalankan strategi-strategi tersebut setidaknya dibutuhkan dua hal yaitu
umpan balik dan fleksibilitas. Kalau strategi belum berhasil mengantarkan Anda pada tujuan, bukan berarti Anda gagal, Anda hanya menjalankan strategi yang kurang tepat. Jadikan setiap kegagalan sebagai umpan balik dan sebagai pembelajaran. Ganti dengan Strategi yang lain secara fleksibel.

Seperti yang dinasehatkan oleh para pebisnis senior: nikmati prosesnya, nikmati pencapaian-pencapaiannya, dan nikmati petualangannya. Harta, kekayaan, dan sukses adalah hasil samping dari setiap proses yang kita jalani.

Semoga bermanfaat

Wassalam & Salam FUNtastic!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/


Periksa Kondisi Anda

Februari 20, 2008

Saat ini saya sedang membaca ebook berjudul "NLP Workbook" karangan Joseph O’Connor. Di salah satu bab ada latihan untuk mengecek kondisi (state) kita saat ini. Di situ kita diminta untuk mengambil sembarang buku (buku apa saja, fiksi/non fiksi, dll), kemudian dengan mata tertutup, secara acak kita buka sembarang halaman. Masih dengan mata tertutup, gunakan jari tangan kita untuk menunjuk kata atau kalimat pada halaman yang terbuka tadi.

Gunakan mata hati, mana buku yang dipilih, mana halaman yang mau dibuka dan mana kata yang akan ditunjuk. Usahakan benar-benar dengan hati dan perasaan yang tenang (feel good), sehingga pikiran bawah sadar kitalah yang akan menuntunnya.

Setelah mantap dengan pilihan kita, buka mata, lihat dan bacalah kata apa yang ditunjuk, kalau perlu baca kalimat di sekitar kata yang ditunjuk. Coba renungkan dan rasakan baik-baik. Adakah hubungannya antara kata atau kalimat di buku tadi dengan kondisi atau keadaan kita saat ini.

Waktu saya praktekkan, saya ambil buku yang paling dekat dengan saya, saya tengak-tengok, koq ya ketemunya buku tejemahan "Unlimited Power" karya Anthony Robbins. Kemudian dengan mata tertutup, buka sembarang halaman, dan ternyata jari saya menunjuk pada kalimat yang berbunyi "Manusia bukanlah mahluk ciptaan keadaan, tapi keadaanlah mahluk ciptaan manusia - Benjamin Desraeli".

Setelah saya renungkan dan bayangkan, kelihatannya memang pas dan kena banget dengan kondisi saya. Terus terang saya masih sering terbawa larut oleh keadaan di sekitar kita. Misalnya saja, kalau keinginan tidak terpenuhi biasanya akan cepat marah, he.. he.. he.. Padahal yang namanya kejadian, sebenarnya tidak mengandung arti apa-apa dan tidak berhak mengatur kondisi (state) kita. Kitalah yang menginterpretasikan kejadian yang menimpa kita, sesuai ilmu, keyakinan, pengalaman, dan prasangka kita sendiri. Itulah makanya kejadian yang sama bisa diartikan beda-beda oleh orang yang berbeda.

Saya resapi kembali kalimat kedua, keadaanlah yang seharusnya kita ciptakan. Kejadian boleh sama, tapi kita bisa menafsirkan dengan cara yang berbeda-beda dan lebih positif. Penafsiran yang berbeda akan memberikan kondisi (pikiran dan hati) yang beda. Sehingga diharapkan bisa menggerakkan kita untuk mengambil tindakan yang berbeda, tindakan yang lebih memberdayakan tentunya.

Seharusnya respon-respon seperti inilah yang saya ambil, agar bisa menciptakan kondisi dan keadaan yang lebih baik dan sesuai keinginan, bukannya dikendalikan oleh kondisi dan keadaan eksternal.

Dari latihan singkat ini banyak refleksi dan pencerahan yang saya peroleh dan sepertinya layak Anda coba.

Wassalam
Fuad Muftie
© 2008,
http://fuadmuftie.wordpress.com/


Mencoba Senyum Saat Bangun Tidur di Pagi Hari

Februari 19, 2008

Bangun tidur di pagi hari tanpa kita sadari merupakan momen yang sangat kritis. Kenapa kritis, karena ‘nasib’ kita seharian bisa ditentukan sesaat setelah kita terbangun.

Kalau bangun tidur langsung teringat beratnya beban kerja dan menjemukannya tugas yang akan kita lakukan seharian, biasanya akan membuat kita BT atau nggak mood. Kalau pagi-pagi sudah BT, bisa-bisa perasaan tersebut benar-benar terbawa seharian!

Agama Islam telah menuntun, saat kita terbangun segera berdoa “Alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatana wailaihin nusyuur” Artinya: Segala Puji bagi Alloh yang menghidupkan kami sesudah mati / tidur kami, dan kepada-Nya kami kembali. [ Mudah2an saya istiqomah membaca doa ini :-) ]

Itulah kalimat pertama yang diajarkan Islam saat kita bangun tidur, yaitu Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Alloh SWT. Begitu bangun kita langsung BERSYUKUR. Dan bagaimana ekspresi dan suasana hari orang bersyukur. Wajahnya penuh senyum dan hatinya tentram, tenang, dan damai.

Saya perhatikan diri saya sendiri, saat bangun expresi wajah saya, terutama bibir masih datar, bahkan cenderung seperti cemberut. Untuk itu saya mencoba melatih diri agar saat bangun tidur langsung tersenyum, meskipun terasa dipaksakan lakukan saja. Rupanya posisi tubuh kita bisa mengubah suasana hari kita. Kalau kita mulai tersenyum, hati juga akan mulai terbawa untuk ikut bahagia, meskipun tidak tahu bahagia karena apa?

Setelah itu biasanya saya coba bayangkan yang enak-enak saja, bayangkan saja usaha tambah maju dan laris manis, bayangkan rumah idaman, kerjaan semuanya lancar, rejeki juga ikutan lancar, dll. InsyaAlloh mood seharian akan terjaga.

Dalam pandangan LoA (Law of Attraction), senyuman kecil di pagi hari ini akan menimbulkan vibrasi positif pada otak, hati, dan perasaan kita (feel good). Dengan perasaan dan emosi yang baik dan positif, peluang untuk menarik (attract) hal-hal yang kita inginkan akan lebih besar lagi.

Wassalam

Fuad Muftie
© 2008,
http://fuadmuftie.wordpress.com/


Oleh-Oleh Milad II TDA : Membuka Pasar, Membuka Peluang Usaha Baru

Februari 18, 2008

Melanjutkan cerita pengalaman dan ilmu yang saya peroleh dari acara Milad II Komunitas TDA, sayang kalau tercecer. Masih seputar pencerahan yang saya peroleh dari Raja Factory Outlet, Pak Perry Tristianto. Dengan gaya yang santai Pak Perry banyak memberi kejutan-kejutan dengan ilmu-ilmu yang mungkin selama ini jarang kita perkirakan dan pikirkan. Yang disampaikan Pak Perry bukanlah teori-teori semata tapi benar-benar dari pengalaman beliau.

Contohnya, pengalaman beliau dalam membuka pasar baru. Sebagai pemula kita cenderung untuk membuka usaha yang sudah jelas pasarnya. Butuh keberanian untuk menerobos dan merintis pasar sendiri yang belum tampak. Dan kita akan merasa lebih aman kalau masuk berjualan di pasar yang sudah ada, padahal ternyata membuka pasar sendiri bisa memberikan hasil yang lebih dahsyat.

Pak Perry memberi alasan kalau masuk ke pasar yang sudah ada, kita cenderung akan berhadapan dengan persaingan yang sudah ketat. Membuka usaha garmen di Pasar Tanah Abang misalnya, kita akan langsung berhadapan dengan pengusaha besar yang sudah berpengalaman dengan modal yang lebih besar, sementara kita masih miskin pengalaman. Akhirnya kita kemungkinan akan pasang strategy perang harga yang jelas tidak sehat bagi pemula. Sedangkan kalau mau membuka pasar baru, kita bisa lebih leluasa menetapkan harga dan margin yang lebih tinggi.

Di mata Pak Perry membuka pasar baru bukanlah hal yang sulit, hanya dibutuhkan pikiran kreatif, thinking out of the box. Pak Perry mencontohkan pengalamannya berjualan kaos-kaos bertema musik di toko kaset. Kalau berjualan kaos di pasar-pasar, tentu persaingan sudah banyak, sedangkan berjualan kaos bertema musik di toko kaset, pesaingnya sedikit, terget pasar (segment) sudah terbidik, dan harga bisa ditetapkan lebih tinggi.

Contoh lainnya dari pengalaman Pak Perry adalah membuka FO di rest area jalan Tol. Sebelumnya belum ada pengusaha yang berani menjalaninya karena secara logika tidak masuk akal dan tidak prospektif. Orang-orang yang mampir di rest area umumnya ingin mengisi bahan bakar, istirahat, sholat, dan makan. Tapi bagi Pak Perry ternyata di rest area ada peluang-peluang potensial lainnya yang bisa digarap seperti membuka FO. Pak Perry juga menantang kenapa nggak coba jualan busana muslim di rest area jalan tol.

Banyak sekali contoh-contoh strategi membuka pasar baru yang disampaikan Pak Perry baik dari pengalamannya langsung maupun dari analisanya. Ada satu lagi contoh yang masih saya ingat yaitu jualan kue bolu di Apotek. Jualan kue bolu di Pasar Senen sudah banyak pesaingnya, akibatnya harga harus ditekan agar bisa bersaing sehingga margin keuntungan juga kecil. Tapi menjual kue bolu di Apotek bisa menjadi solusi bagi pembeli obat yang sedang antri (karena lapar) dan juga harga jualnya bisa ditetapkan lebih tinggi dibanding harga bolu di Pasar Senen.

Bagi saya, pemaparan Pak Perry benar-benar menjadi pencerahan baru. Selama ini tidak terpikir untuk mencoba membuka pasar sendiri, kepikiran juga belum. Yang dibutuhkan tentunya kreatifitas kita dan keberanian untuk memulai.

Semoga bermanfaat dan Salam FUNtastic

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Kunjungi Toko Addina, Jalan Wijaya Kusuma Raya No. 40 Perumnas Klender Jakarta Timur


Oleh-oleh Milad II TDA : Menyikapi Sukses Orang Lain

Februari 14, 2008

Kembali saya ingin berbagi cerita tentang acara Milad II TDA. Kali ini saya ingin sedikit mengulas salah satu dialog antara moderator dengan nara sumber dalam salah satu acara Talk Show di Milad II TDA. Dialog ini bukan dialog utama dari tema Talk Show tersebut, tapi hanya prolog perkenalan salah satu nara sumber, tapi sangat berkesan bagi saya.

Saat itu moderator sepintas menanyakan salah satu nara sumber tentang perjuangan nara sumber dalam mencontoh kesuksesan orang lain. Mungkin karena terbatasnya informasi atau strategi yang kurang lengkap, akhirnya nara sumber belum berhasil mengikuti kesuksesannya.

Memang bagi pemula (seperti saya), kisah sukses orang lain dalam menjalankan investasi atau bisnis bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk bergerak dan mencontohnya. Namun tidak jarang, bukan kesuksesan yang kita raih, malah ‘kegagalan’. (Sebenarnya tidak ada kegagalan, hanya umpan balik atau pelajaran bahwa kita belum tepat melakukan strategi tersebut).

Apalagi kalau kisah suksesnya fenomenal dan menurut perhitungan kita "Saya juga bisa seperti itu", maka tidak jarang akan menjebak kita untuk mengambil jalan pintas dalam mengikuti jejaknya. Misalnya ada orang yang berhasil merintis sebuah usaha yang tampak spektakuler, kitapun tidak jarang jadi latah ingin ikutan.

Informasipun kita cari untuk mengetahui bagaimana caranya usaha tersebut dirintis. Kemudian setelah dihitung-hitung, kita punya modal yang cukup, kitapun memberanikan diri membuka usaha yang sama. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.

Nah ada sepotong nasehat dari moderator yang melekat diingatan saya bahwa dalam melihat kesuksesan orang lain, jangan cuma dilihat hasil akhirnya atau cuma mengikuti langkah spektakulernya. Tapi perlu juga diketahui bagaimana latar belakangnya kenapa orang tadi bisa dan berani mengambil langkah-langkah yang tampak spektakuler.

Sama seperti analogi membangun rumah. Melihat ada rumah bagus, muncul keinginan kita mencontohnya. Setelah dicontoh persis, tenyata rumah yang kita bangun cepat runtuh dan roboh. Ternyata kita lupa mencontoh pondasinya!

Ini jadi mengingatkan pada diri saya sendiri, sebelum berekspansi lebih lanjut, saya harus menyiapkan pondasi yang mantap dulu.

Semoga bermanfaat & Salam FUNtastic

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Owner Toko Addina di Jalan Wijaya Kusuma Raya No. 40 Perumnas Klender Jakarta Timur


Break The Pattern : Teknik NLP yang masih saya ingat

Februari 13, 2008

Saat ini saya kembali tertarik untuk belajar NLP (Neuro-Linguistic Programming). Awal perkenalan saya pada NLP adalah pada tahun 2004 yang lalu yaitu dari upline saya di salah satu MLM. Saat itu kami belajar NLP agar bisa dimanfaatkan untuk menambah tingkat kesuksesan dalam prospecting. Setelah jenuh ber-MLM, sayapun sejenak melupakan NLP.

Saat ini kembali tertarik dengan NLP setelah blogwalking ke tempatnyaPak Ronny FR,Portal NLP, danIdNLPsociety. Berbeda dengan pengalaman belajar NLP dulu, belajar NLP dari blog-blog tersebut lebih enak atau lebih membumi karena menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan contoh-contoh yang ‘Indonesia banget’. Kemudian saya juga memutuskan untuk bergabung di milisIdNLPsociety.

Banyak teknik-teknik NLP yang kalau kita sukses menggunakannya bisa menjadi senjata ampuh dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Dalam bidang bisnis, teknik-teknik NLP jelas banyak manfaat positifnya. Sangat bermanfaat dalam kita berhubungan dengan pelanggan, suplier, dan sesama pelaku bisnis lainnya, juga dalam bernegosiasi sampai untuk menyelesaikan masalah. Cuma sayang dulu saya tidak serius mendalami NLP dan seingat saya tinggal satu teknik NLP saja yang masih sering saya gunakan!.

Satu-satunya teknik NLP yang masih secara sadar / secara sengaja saya terapkan adalah teknik break the pattern atau interupt the pattern. Sementara teknik-teknik yg lain masih belum saya pahami sepenuhnya dan beberapa masih belum berhasil saya coba. Atau bahkan terjadinya malah secara tidak sengaja (misalnya rapport, pacing & leading). Mungkin butuh bimbingan langsung dari pakar NLP nich :-)

Teknik Break The Pattern paling sering saya terapkan pada kedua anak saya. Khususnya saat anak-anak rewel baik menangis atau merengek minta sesuatu. Kalau anak nangis tentu tidak langsung harus di potong pola nangisnya. Lebih dulu di cek kenapa anak nangis, kalau karena terluka atau sakit yaa.. tentunya harus diobati.

Teknik ini efektif kalau anak saya nangis karena ‘manja’ atau rewel minta perhatian atau minta sesuatu. Caranya sangat sederhana. Yang penting saya sudah tahu sifat / pembawaan dan kesukaan masing-masing anak. Contohnya anak pertama saya namanya Kamal dan kami biasa memanggilkan Abang Kamal yang senang pada detail-detail kecil.

Berikut beberapa contoh saya memotong pola rewel anak:

1. Saat Kamal nangis, langsung saya lihat di lantai cari ada semut nggak, kalau ada semut langsung saya teriak "Abang lihat nih ada semut lagi kejar-kejaran!, semutnya hitam banget dan larinya kenceng banget!" Karena Kamal senang dg binatang dan suka detail, biasanya Kamal akan tertarik dan berhenti nangis dan akan ikut mengamati semut2 yg berbaris di lantai.

2. Pernah suatu ketika kepala saya kepentok tembok dan Kamal malah tertawa. Nah saya manfaatkan pengalaman ini (anchor?). Pada saat Kamal menangis, pura-pura saya terbentur tembok dan sambil merasa kesakitan minta tolong anak saya. Yg terjadi anak saya akan tertawa terpingkal-pingkal dan lupa nangisnya.

3. Anak saya sudah mulai besar (TK) dan kadang masih sering minta digendong kalau rewel. Nah cara memotong pola rewelnya, saya coba ikuti kemauannya dan pura2 mau menggendong. Saat mau diangkat saya bilang "wah abang sudah gede, berat banget nich!" sambil sedikit diangkat lalu merasa keberatan saya jatuhkan badan saya sehingga kami berguling di lantai sambil sedikit didramatisir, maka anak saya akan tertawa.

Tidak selamanya usaha tersebut bisa berhasil. Tapi seperti nasehat NLP tidak ada kegagalan yang ada umpan balik. Kalau cara tadi tidak berhasil berarti kreatifitas saya ditantang, bagaimana cara mengatasi rewelnya? Coba dan cari lagi cara lain. Kalau nggak berhasil juga, berarti anak saya yang menang.. he… he… he…

Demikian sedikit pengalaman saya menggunakan NLP. Saya sadar pengetahuan saya tentang NLP masih cekak dan baru tahu kulitnya. Masih banyak yang harus dipelajari dan dipraktekkan. Mudah-mudahan bisa menginspirasi. Saran, kritik, koreksi, dan masukan dengan senang hati siap saya terima.

Wassalam
Fuad Muftie
http://fuadmuftie.wordpress.com/


Kekuatan Tujuan: belajar dari Sholat

Februari 11, 2008

Sabtu 09/02/2008 kemarin kembali saya mengunjungi kota Bandung. Kali ini agak berbeda karena ditemani kedua orang tua saya yang datang jauh-jauh dari Wonosobo. Tujuan kami ke Bandung buat belanja isi toko dan sekalian refreshing.

Setelah berpacu adrenalin di jalan tol dan menghabiskan sebagian besar uang di kantong buat shoping (he.. he.. he..) kami mengunjungi Pondok Pesantren Daarut Tauhid di Geger Kalong. Beruntung kami berkesempatan sholat Ashar berjamaah di masjid DT yang diimami langsung oleh Aa Gym.

Selesai sholat Ashar, seperti biasa, Aa memberikan wejangan atau tausiah singkat atau Kultum (kuliah Tujuh Menit). Dan seperti biasa, nasehat Aa yang singkatpun bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Nasehat Aa Gym yang sempat terekam dalam ingatan saya yaitu tentang Kekuatan Tujuan. Kemanapun kita akan pergi kita harus sudah tahu pasti tujuannya. Dengan mengetahui tujuan perjalanan akan efektif. Sebaliknya kalau tidak jelas tujuannya maka perjalanan akan sangat tidak efektif.

Dalam sholatpun tujuannya harus sudah kita ketahui dengan jelas, misalnya untuk mendapatkan pertolongan dan ridho Alloh SWT. Setelah tahu tujuannya maka dalam perjalanan sholat kita harus bisa memastikan perjalanan yang efektif dan sempurna. Kita sempurnakan takbirnya, Al Fatihah-nya, rukuk, sujud, dan doa-doanya. Dan yang penting bagaimana kekhusyu’an sholat kita, apakah dalam sholat kita pikiran sudah fokus dan tidak memikirkan yang aneh-aneh lagi (wah ini bagi saya yang masih berat dilakukan!).

Kalau semua sudah kita penuhi dan sempurnakan, InsyaAlloh pertolongan Alloh SWT akan dekat. Sedangkan kalau bagian-bagian dari sholat kita tidak sempurna dan pikiran kita melayang kemana-mana banyak memikirkan yang tidak perlu, tidak ada jaminan akan datangnya pertolongan Alloh SWT. 

Demikian sekelumit nasihat Aa Gym. Hikmah yang bisa kita terapkan kalau kita kaitkan dengan aktifitas kita berbisnis, jelas kita harus tahu dulu tujuan kita berbisnis. Untuk cari uang saja? Atau punya tujuan lain yang lebih mulia? Kalau tujuan cuma buat cari uang dan untung saja, maka hanya itu yang akan kita peroleh. Sementara kalau kita punya tujuan yang lebih tinggi (untuk beribadah misalnya), kita juga akan mendapatkan tujuan kita, sedangkan uang dan keuntungan akan menjadi efek sampingnya (mudah-mudahan)

Sama seperti sholat, kalau bisnis kita niatkan untuk ibadah, maka kitapun perlu memperhatikan detail-detail dalam bisnis agar pencapaian tujuan kita bisa efektif. Sudahkan kita penuhi timbangannya (banyak kita jumpai orang dengan entengnya mengurangi timbangan!), sudahkah kita menghindari berbohong untuk mendapat keuntungan yang setinggi-tingginya (mengelabuhi pembeli), bagaimana sikap kita dan karyawan kita kepada pelanggan? (sudah sopan? sudah santun?).

Kalau kita analogikan dengan nasihat Aa tentang sholat tadi, kalau dalam berbisnis kita sudah memperhatikan dan menyempurkan detil-detilnya untuk menuju pada tujuan (bisnis untuk ibadah) maka InsyaAlloh pertolongan Alloh SWT akan datang. Sedangkan kalau kita melalaikan detil-detilnya (seperti berbohong, ingkar janji, dll) maka tidak ada jaminan datangnya pertolongan Alloh SWT.

Mudah-mudahan bisa menginspirasi dan membuat kita bisa berhati-hati dalam berbisnis.

Maaf kalau postingan kali ini agak berat, karena ini sekaligus menjadi nasehat bagi diri saya pribadi.

Wassalam & Salam FUNtastic

Fuad Muftie
© 2008,
http://fuadmuftie.wordpress.com/

Pemilik Toko Addina di Jakarta Timur, menjual aneka jilbab, kaos muslimah, busana muslim anak, dll

PS: Mohon maaf buat yang kurang suka dengan sosok Aa Gym, saya sering mengutip NASEHAT Aa Gym di blog ini bukan bermaksud menonjolkan sosoknya, tapi benar2 ingin belajar dari NASEHAT-NASEHATNYA yang mudah-mudahan bisa bermanfaat buat kita.


Sudah Gonta Ganti Usaha, Belum Juga Untung

Februari 8, 2008

Salam kenal pak Fuad,

Sebelumnya perkenalkan saya adalah mahasiswa abadi di sebuah PTS jurusan teknik sipil, usia 25 tahun udah 7 tahun belum lulus…saya ingin menanyakan usaha yang cocok untuk saat sekarang ini apa ya…soalnya saya sudah bergonta-ganti jenis usaha tapi masih belum ketemu ama jalannya. Dari rental komputer, konter HP, bahkan makelar/broker, di bidang design (ulem,amplop,spanduk dsb)

Akan tetapi klo selama ini saya pelajari dan saya perhatikan hanya karena kurangnya modal dan sepi ato lesunya pasar. Waktu itu saya rasakan pasar yang benar-benar sepi…klo boleh dibilang dalam satu tahun kerugaian yang saya alami mencapai +\- 5-6 juta untuk konter HP padahal modal cukup besar +\- 11 jutaan…dan rata² usaha saya bertahan +\- 1 tahun masing².

Saya benar² bingung untuk memulai usaha lagi..yang sekarang ini tanpa modal yang besar apa???yah kisaran 1-2 juta…keuntungan ga perlu besar tapi untuk menyelesaikan kuliah cukup gitu aja.heheh. karena kuliah atas biaya sendiri.

atas pencerahan dari pak Fuad saya ucapkan banyak terima kasih

wassalamualikum

chatur wied

==============================================

Salam kenal kembali Mas Chatur.

Sudah punya pengalaman gonta-ganti usaha tapi belum ada yang cocok bisa menjadi asset yang bernilai bagi Mas Chatur. Satu hal yang pasti adalah Mas Chatur sudah bisa memulai atau mengawali suatu usaha. Bandingkan dengan orang lain yang pingin punya usaha tapi tidak ada keberanian untuk memulai. Dengan demikian kapanpun Mas Chatur ingin kembali membuka usaha, kemungkinan besar Mas Chatur tidak akan setakut orang lain yang belum pernah membuka usaha.

Mas Chatur, dari beberapa usaha yang pernah dijalani pasti ada yang pernah dapat untung kan? Meskipun akhirnya harus di cap merugi, tapi dari setiap transaksi pasti banyak yang memberikan laba. Ini sesuai dengan prinsip dasar berjualan "menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga beli". Kecuali Mas Cathur memang dermawan dengan menjual lebih rendah dari harga beli :-) Nah coba Mas Chatur ingat-ingat kembali kapan pernah mendapatkan untung yang tinggi, bagaimana hal itu bisa terjadi. Terus coba bayangkan kira-kira bisa nggak diulang lagi. Kalau memang bisa, kenapa nggak dicoba lagi, tentunya dengan strategi yang lebih baik lagi.

Kalau kesimpulan Mas Chatur usaha merugi karena lesunya pasar, coba bandingkan dengan usaha serupa di tempat lain, kenapa sampai sekarang bisa jalan, survive, bahkan berkembang. Coba evaluasi lagi dari sisi internal usaha Anda, jangan menyalahkan faktor eksternalnya dulu. Kalau pasar di tempat usaha Mas Cathur lesu, kenapa tidak coba masuk ke tempat lain, ke pasar lain? Kenapa tidak digencarkan promosinya? dll

Oh ya, dari beberapa usaha yang sudah dijalani, ada nggak yang pernah membuat Mas Cathur terus bersemangat? Kalau ada, kemungkinan usaha tadi sudah cocok di jalani. Maksud saya, daripada coba lagi dengan jenis usaha lain yang belum tentu cocok dengan tipe pribadi Mas Cathur, kan lebih enak mengulangi dan mendalami jenis usaha yang bisa membuat Mas Cathur termotivasi. Tapi kalau ternyata dari beberapa usaha tersebut nggak ada yang bisa membuat Mas Cathur semangat, kemungkinannya usaha mundur bukan karena pasar yang lesu tapi karena faktor internal Mas Cathur yang kurang semangat.

Usaha itu seperti mahluk hidup saja, kalau mendapat suntikan semangat dari kita dan mendapat perhatian serius dari kita, umumnya usaha kita akan memberi umpan balik yang positif dengan memberikan laba, keuntungan, dan bisa berkembang.

Memulai lagi usaha jangan semata-mata berpatokan pada modal doang. Modal boleh sedikit, tapi kalau kita serius InsyaAlloh modal bisa terus berkembang. Setahu saya, jual beli pulsa HP bisa dimulai dengan modal kurang dari satu juga (CMIIW). Jasa percetakan juga bisa dimulai dengan modal minim. Tinggal kembali pada diri Mas Cathur mana usaha yang bisa membuat semangat???

Yang terakhir, ini pesan dari orang yang sudah sukses, kalau kita mau terjun berbisnis BERTANGGUNGJAWABLAH. Artinya kitalah yang bertanggung jawab atas sukses tidaknya usaha kita. Jangan pernah menyalahkan faktor eksternal. Pasar boleh lesu, tapi di dalam pasar yang lesu bisa dipastikan akan ada pengusaha yang maju dan melejit. Nah kenapa kita tidak berikhtiar agar di dalam pasar yang lesu kitalah yang maju??

Maaf kalau saya tidak memberi "ikan" atas pertanyaan Anda, tapi saya berusaha memberi "kail" agar Anda bisa dapat "ikan-ikan" yang lebih banyak.

Semoga bisa membantu dan menginspirasi

Wassalam

Fuad Muftie
© 2008,
http://fuadmuftie.wordpress.com/

Owner Toko Addina yang berjualan jilbab, kaos muslimah, busana muslim anak, dll