LoA Cepat Terwujud. Hati-hati dengan ucapan Anda!

Maret 19, 2008

Kali ini saya ingin kembali mengingatkan, khususnya bagi diri saya sendiri untuk berhati-hati mengeluarkan kata-kata dari mulut sendiri. Sekali kata terucap, itu akan menjadi energi yang beresonansi dengan diri kita sendiri, dengan orang lain, dan dengan alam semesta, dan mungkin akan benar-benar mewujud jadi kenyataan.

Contoh saja, kalau saya mengucapkan kata “Durian”, sekarang di benak Anda pasti langsung terbayang dengan buah yang penuh duri dengan rasa dan baunya yang khas. Energi dari kata “Durian” tadi tidak mungkin Anda halangi masuk ke Otak Anda.Otak akan memproses gambaran Durian.

Otak tidak mungkin menyetop dan menghentikan energi kata yang terucap dan terdengar. Ketika terucap kata Durian maka tidak mungkin otak Anda tetap blank (Kecuali Anda tidak bisa bahasa Indonesia,… lho koq baca blog ini).

Begitu juga dengan guyonan-guyonan atau ceplosan-ceplosan mulut kita, sering sekali menjadi vibrasi dan bisa benar-benar terwujud. Seperti pernah saya tulis di blog ini, bahwa semua berawal dari pikiran, yang berarti sesuatu terjadi pada diri kita maupun orang lain karena berawal dari vibrasi pikiran sendiri.

Contoh nyatanya saya alami kemarin malam (17-03-2008), saya, istri, dan anak sedang ngumpul dan bercanda. Pas kami lihat di hidung anak saya, koq ada noda merah. Saya amati, ternyata cuma noda terkena lipstik milik istri saya. Kamipun dengan bercanda menakut-nakutinya “Kenapa nih hidung abang, koq hidungnya berdarah!”. Dengan rasa penasaran anak saya mengusap-usap hidungnya dan mendapati itu cuma noda lipstik. Kamipun kembali ketawa-ketawa dengan tingkah anak kami.

Saya pikir itu guyonan biasa, nggak tahunya sekitar dua jam kemudian anak saya terjatuh, dan benar hidungnya berdarah! Sayapun agak panik membersihkan hidungnya, menenangkannya biar berhenti menangis, dan mengobatinya. Setelah semua tenang sayapun tercenung dan bilang ke istri saya “Nah lho, gara-gara tadi nich … pakai bilang-bilang hidung abang berdarah, jadi beneran kan?!”

Nah, moral ceritanya, yang jelas kita mesti hati-hati dengan kata-kata yang negatif apalagi saat kita diliputi kondisi emosi yang kuat (marah, sedih, gembira, kaget, dll). Akan jauh lebih baik kalau kita bisa banyak-banyak mengucap kata yang positif. Kata-kata negatif tetap ada manfaatnya, gunakan pada tempatnya.

Demikian juga dalam menjalankan bisnis. Usahakan kurangi kata-kata negatif. Saat toko sepi, alangkah lebih baiknya tidak mengeluh “aduh tokonya lagi sepi”, mendingan “mudah-mudahan nanti tambah ramai”. Saat tidak dapat barang dari suplier tidak perlu didramatisir “barang-barang sekarang lagi susah dicari, kemana-mana nggak dapet”, cukup bilang “mudah-mudahan besok bisa dapat barangnya”.

Di blog ini, saya juga sering mendapat pertanyaan dan komentar yang cenderung negatif, misalnya saja :

-> “bagaimana memulai usaha, padahal tidak punya modal“,

-> “kondisi saya saat ini, membuat saya sulit sekali memulai usaha“,

-> “saya selalu gagal

Mungkin benar demikian adanya kondisi Anda, tapi alangkah bijaknya kalau bisa memilih kata-kata yang lebih enak dan lebih powerful, contohnya:

-> “bagaimana memulai usaha, padahal modalnya belum terkumpul, modalnya masih terbatas”;

-> “kondisi saya saat ini, membuat saya belum bisa menemukan cara untuk memulai usaha”

-> “saya sudah beberapa kali ganti usaha, cuma belum ketemu yang berhasil”

Begitulah, kata-kata tidak sekedar bunyi yang keluar dari mulut, ada maknanya, ada energinya, serta bisa menjadi do’a dan LoA yang mustajab. Dan sebagai manusia yang sempurna, kita diberi kemampuan untuk memilih kata-kata yang akan terucap dari lisan kita.

Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Pembicara Publik, kenapa tidak?

Maret 17, 2008

Hari ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Sebuah pengalaman yang mungkin saja akan mengubah hidup saya dan mendekatkan pada mimpi / dream saya.

Dulu saya pernah punya keinginan untuk terjun di dunia pendidikan dengan menjadi pengajar atau guru atau dosen. Keinginan itu kemudian saya kesampingkan, karena jangankan untuk mengajar, untuk bicara di depan orang saya takut sekali.

Waktu masih SMP saya pernah memberanikan diri ikut lomba pidato. Pesertanya cuma berapa gelintir siswa, bisa dipastikan, kalau bisa ngomong lancar, akan dapat juara. Dan yang terjadi adalah saya mati kutu di depan juri. Baca “Assalamu’alaikum Wa Rohmatullohi Wa barokaatuh” saja sudah gemetar, suara tidak keluar, sampai harus diulang, he.. he.. he..

Pernah juga coba-coba jadi MC, tapi saya cuma berani jadi MC dalam acara yang dihadiri teman-teman sendiri yang sudah dikenal. Jangan harap saya mau jadi MC di acara-acara resmi, apalagi dihadiri orang-orang yang tidak saya kenal, wuih.. serem kali.

Di kantor saya pun sering dihadapkan pada situasi ’sulit’, harus ngomong di rapat dll. Bisa dipastikan saya cuma bisa ngomong seperlunya. Sekali buka mulut, otak langsung kram, ide-ide membeku, dan pingin cepat2 berhenti bicara. Jika perlu mendingan mengambil posisi diam dan duduk manis saja.

Mungkin pembaca tidak percaya, ya. Koq bisa nulis banyak artikel, tapi nggak bisa bicara. Itulah kelebihan bahasa tulisan, bisa diedit dan bisa ditulis saat lagi mood. Tapi kalau urusan ngomong di depan publik, tidak bisa diedit dan tidak bisa nunggu mood kan?

Begitu juga pagi ini (17 Maret 2008), tiba-tiba saya dipanggil atasan saya di tempat kerja saya. Saya diminta mewakili beliau hadir di salah satu acara. Saya pikir saya diminta mewakili untuk menghadiri rapat. Ternyata setelah membaca undangannya, saya harus mewakili menjadi “pengajar” dan harus ngomong di depan puluhan pengusaha. Oh My God!

Lemes deh, hati berdegup kencang, tidak tahu apa yang nanti mau diomongin. Karena tidak bisa lagi mengelak dan sudah berada di kondisi kepepet, sayapun meluncur menuju lokasi, sambil terus berpikir apa yang mau disampaikan, dan sambil terus mencoba menenangkan diri. Sampai di lokasi, belum banyak peserta yang datang. Melihat deretan kursi dan meja pembicara, tambah berkecamuk pikiran saya.

Untunglah beberapa minggu ini saya sedang semangat belajar NLP dan beberapa kali ikut sharing dengan para master NLP. Sehingga sebisa dan seingatnya saya memanfaatkan teknik NLP untuk mengatasi kesulitan saya ini. Saya coba Time Line Theraphy, Swish Pattern, Map Accross, dll, pokoknya seingat dan sebisanya saja.

Saya cari-cari pengalaman masa lalu saya saat pernah berhasil ngomong di depan publik. Saya ingat waktu kuliah pernah diharuskan melakukan presentasi dan berhasil. Saya ingat-ingat bagaimana situasi dan kondisi saya waktu itu. Dalam terminologi NLP, saya bisa memanfaatkan kondisi sewaktu presentasi di kuliah, agar bisa melakukan hal yang sama di saat ini, saat saya harus bicara di depan puluhan pengusaha yang tidak saya kenal.

Alhamdulillah saya bisa menguasai diri. Untunglah materi yang harus saya sampaikan cuma sedikit. Dalam hitungan beberapa menit saya berhasil menyampaikan pidato saya di depan orang yang belum saya kenal. Selesai bicara, saya hampir-hampir takjub pada diri sendiri, kepala terasa ckot-ckot, tapi seperti ada beban berat yang berhasil saya lepaskan.

Sepulang acara, pikiran saya kembali berkecamuk dengan pikiran yang berbeda tentunya. Saya sepertinya kembali diingatkan dengan cita-cita saya dulu untuk jadi pengajar. Suatu saat InsyaAlloh saya akan terjun di dunia ini, dunia pengajar, dunia publik speaker, dunia trainer, atau apalah nama dan bentuknya. Akan saya arahkan jalan hidup saya menuju dunia berbagi dengan omongan, tidak hanya berbagi dengan tulisan seperti blog ini. Tentunya saya masih harus banyak belajar dan memperbanyak jam terbang dulu. Semoga….

Do’akan ya :-)

Salam FUNtastic dan Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Rejeki Tidak Terhalang Oleh Hujan

Maret 12, 2008

Masih dalam suasana musim hujan, pernahkah Anda mendengar keluhan seperti ini “Dagangan sepi! hujan sich seharian”. Atau malah ada yang langsung menyalahkan hujan dengan mengatakan “Gara-gara hujan seharian, dagangan banyak yang nggak laku”.

Kalau saya mendengar keluhan seperti ini, langsung saja cepat-cepat istighfar. Meskipun hujan sering mengakibatkan “kesulitan” bagi kita seperti banjir, becek, dll, bukankah hujan juga menjadi anugrah bagi kita. Bagaimana rasanya setahun nggak ada hujan? pasti kering kerontang.

Manusia yang sudah diberi akal budi, justru malah sering terbelenggu oleh akalnya sendiri. Secara logika memang tampak benar ada hubungannya antara hujan dengan dagangan sepi. Tapi bukankah keduanya diatur oleh Alloh SWT. Sepi-ramainya dagangan, pasti ada campur tangan dan kehendak-Nya. Demikian juga turunnya hujan juga telah diatur oleh Yang Di Atas. Kalau kedua kejadian sudah diatur oleh Alloh SWT, lalu kenapa kita menyalahkan hujan. Hati-hati lho, jangan-jangan kita jadi menyalahkan kehendak-Nya, naudzubillahi min dzalik.

Alhamdulillah saya dan istri saya punya pemahaman yang sama tentang hal ini. Meskipun saat hujan turun tidak ada pelanggan yang masuk toko, ini tidak kami jadikan masalah besar. Saat seperti ini bisa dijadikan kesempatan merapikan dagangan, mengganti display, mengepel lantai, dll. Karena kami yakin rejeki tidak terhalang oleh hujan.

Dan benar bahwa “Alloh sesuai persangkaan hamba-Nya”, ada kalanya begitu hujan reda, pelangganpun kembali berdatangan. Kalaupun pada hari itu tampak sepi, di lain hari kami bisa merasakan kenaikan dan lonjakan-lonjakan omset. Dan memang benar bahwa kuncinya adalah “Kalau kita bersyukur, Alloh akan menambah nikmatnya”. Wallohu a’lam.

Salam FUNtastic dan Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll


Jebakan Selera Pribadi Saat Memilih Barang Dagangan

Maret 10, 2008

Keberhasilan berjualan produk-produk garmen banyak sekali faktor penentunya. Mulai dari suplier, produk, pemasaran, pembeli, sampai detail-detail transaksi jual-belinya. Tentang suplier, kemarin sempat saya ceritakan di sini mengenai cara kita menemukan suplier yg cocok. Nah yang menarik adalah pada pemilihan produknya itu sendiri. Karena itulah komoditi jualan kita, itulah yang akan mengisi toko kita, dan produklah yang akan menjadi profit generator bagi toko retail kita.

Pemilihan produk garmen untuk dipajang dan di jual di toko, juga memiliki banyak variable yang perlu diperhatikan. Mulai dari model, corak, warna, bahan, merk, sampai ke harganya. Bagi pemula bisnis ritel garmen pasti awalnya akan bingung memilih produk yang mana yang cocok dan pass di jual di toko kita.

Langkah mudahnya sich tinggal tanya pada supliernya, mana produk yang paling laris, itulah yang kita jadikan acuan pada awalnya. Tapi jangan kecewa kalau supliernya menyisipkan produk-produk yang kurang laku. Kan mereka juga ingin semua produknya bisa keluar terjual :-)

Cara lainnya adalah mencoba menempatkan kita pada posisi sebagai ‘calon pembeli’ toko kita sendiri. Kira-kira mereka mau nggak ya memilih dan membeli produk yang seperti ini nantinya. Secara teoretis, inilah proses mencocokkan produk dengan segemen pasar kita.

Dengan cara ini kita juga mesti hati-hati, karena kita sering hanya menggunakan selera pribadi dalam memilih produk yang akan dijual di toko kita. Memang pemilihan produk bisa sangat subyektif, apalagi berkaitan dengan tren dan gaya hidup. Suatu produk bisa saja kita anggap akan mampu kita jual dan sepertinya akan laris. Tapi nyatanya bisa berbeda 180 derajat, bisa-bisa hanya akan lama menghiasi etalasi toko.

Demikian juga produk yang kita pandang sebelah mata, kita malas memilihnya, tidak kita unggulkan, dan kita anggap tidak cocok dengan segmen toko, bisa-bisa malah laris manis. Karena selera orang memang berbeda-beda. Untuk itulah perlunya kita mengesampingkan atau setidaknya "berdamai" dengan selera pribadi saat memilih produk untuk toko kita. Maksudnya, kita bisa tetap gunakan selera kita untuk memilih-milih produk, tapi dalam hal-hal tertentu kita harus mau menutup mata saat menimbang-nimbang pilihan produk.

Cara termudahnya sich dengan cara coba-coba dulu kalau kita tidak yakin produknya cocok atau tidak. Baik terhadap produk yang kita anggap akan laris maupun produk yang tidak kita unggulkan. Kalau itu produk yang baru kita temui, ada baiknya beli dengan kuantitas yang sedikit dulu. Baru kalau terbukti laris, kita kejar lagi stoknya dengan cepat-cepat mengordernya kembali.

Ada juga resiko cara seperti ini. Untuk produk-produk dari produsen yang masih kecil, bisa jadi produk tersebut hanya bisa diproduksi secara terbatas, karena sulitnya bahan baku misalnya. Sehingga kalau kita lihat produknya sepertinya bagus, ada tantangan tersendiri, apakah akan memborongnya atau meninggalkannya saja.

Berbeda kalau produknya berasal dari produsen besar dan ada jaminan kelangsungan produksi. Kita bisa main-main dengan produk yang baru buat toko kita. Awalnya kita beli sedikit dan baru diperbanyak kalau laris.

Salam FUNtastic dan MERDEKA!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll


Berburu Suplier

Maret 6, 2008

Bagi pengelola toko retail seperti kami di Toko Addina, jelas sangat bergantung pada pasokan barang dari suplier. Meskipun terjadi hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) antara peritel dan suplier, bagi peritel pemula seperti kami, suplier masih seperti ‘dewa’ yang di atas angin bagi kami. Apalagi kalau supliernya sudah punya nama dan ‘merasa’ dibutuhkan banyak peritel (karena produknya bagus) maka maju-mundurnya usaha peritel sangat bergantung pada suplier. Sekali suplier menghentikan pasokan barang kepada kita, maka terancamlah usaha kita.

Memang enak sepertinya, punya suplier yang sudah punya nama. Kita bisa ikut diiklankan di majalah-majalah dan konsumenlah yang berburu barang ke tempat kita. Tapi tetap harus disadari dari awal, bergantung pada sedikit suplier bisa membuat usaha kurang fleksibel. Mungkin dalam satu musim suplier bisa menghasilkan produk-produk yang diminati, tapi di musim yang lain belum tentu produknya bisa laris manis.

Kecuali ada kesepakatan antara kita dan suplier untuk memasarkan produknya secara eksklusif, maka kita bisa suka-suka mencari jalur penyuplai barang sebanyak-banyaknya. Kita bisa menjalin kerja sama dengan sebanyak mungkin suplier. Ingat, semakin banyak pilihan, semakin fleksibel kita menentukan pilihan. Cuma memang, berita buruknya, butuh modal yang besar untuk menjalankan cara ini :-)

Mencari suplier yang sudah punya nama, sangat mudah. Tinggal buka-buka majalah yang sesuai segmen pasar kita atau lewat internet, maka kita akan menemukan iklan-iklan para produsen dan distributor produk-produk yang sudah punya nama. Kita tinggal hubungi mereka dan menjalin kerja sama dengan mereka. Tapi bersiap-siaplah untuk bersaing dengan peritel yang lain dan mendapatkan barang-barang yang sama persis dari suplier yang sama.

Cara lain mendapatkan suplier sekaligus bisa keluar dari persaingan seperti tadi adalah mencari sendiri suplier yang belum punya nama. Banyak sekali produsen-produsen yang bisa memproduksi produk yang bagus, tapi masih lemah di pemasaran. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kita. Seperi kami di Toko Addina, juga sering mencoba menghubungi produsen-produsen yang belum beriklan di majalah tapi punya produk yang berkualitas.

Tidak hanya menantang dalam mencari dan bertemu dengan supliernya, tapi juga tantangan dalam memasarkan produknya. Kalau produk yang sudah punya nama, konsumen sudah yakin dengan kualitasnya dan konsumen datang ke toko dalam posisi ’sedang mencari’. Berbeda dengan produk yang belum punya nama, kitalah yang harus meyakinkan pada konsumen bahwa barang kita juga bagus.

Mencari produsen seperti ini juga gampang-gampang susah. Kita bisa bertemu di sentra grosir seperti pasar tanah abang. Bisa juga dari informasi sesama peritel (yang ini bisa jadi untung-untungan), atau juga informasi dari teman atau Saudara. Yang paling mudah mungkin lewat internet. Tinggal tanya pada google maka akan ketemu informasi terkait.

Ada satu lagi cara mencari suplier seperti ini yaitu dari event-event pameran. Dalam sebuah pameran kita bisa ketemu langsung dengan para pengrajin, UKM, atau produsen dari produk yang kita cari. Kita juga bisa langsung tahu bagaimana kualitas produknya, harganya, dan sistem penjualannya. Memang tidak ada jaminan yang berpameran adalah produsennya langsung. Tapi kita bisa punya lebih banyak pilihan, karena apa yang kita cari sedang berkumpul di satu tempat.

Beruntung kalau kita bisa bertemu produsen dari barang yang berkualitas dan belum dipasarkan dengan bagus. Kita bisa menjalin kerjasama untuk pemasarannya dan langsung jadi distributornya. Untuk yang ini, Toko Addina memang belum sampai pada tahap ini, masih mencari-cari dan masih belajar. Tapi InsyaAlloh suatu saat akan hadir waktunya. Ingat : nikmati prosesnya….

Nah, hari ini saya juga sedang mengutus istri untuk datang ke Islamic Bookfair di Senayan. Karena biasanya tidak hanya pameran buku-buku islam tapi pasti ada stand-stand busana muslimah dan jilbab di sana. Mudah-mudahan bisa ketemu produk yang bagus langsung dari produsennya. Sehingga bisa menambah banyak pilihan suplier dan produk untuk mengisi toko Addina.

Salam FUNtastic!
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Busana Muslimah, Busana Anak, Produk Herbal, dll


Ada-Ada Saja Perilaku Konsumen

Maret 4, 2008

Menjalankan bisnis tidak hanya penuh tantangan. Kadang jalannya bisnis bisa membuat kita gembira dan FUN. Kadang juga membuat kita harus berpikir keras sampai keluar keringat dingin. Kadang membuat tidur kita begitu nyenyak dan lelap karena capek seharian terbayar dengan omset yang melejit. Kadang juga membuat kita tidak bisa tidur, saat ‘demand’ dari suplier lebih besar daripada ’supply’ cash dari customer.

Tapi jangan khawatir, itu semua adalah dinamika dan proses. Yang namanya dinamika, kadang hadir juga kejadian-kejadian yang lucu yang kalau diingat akan menjadi hiburan tersendiri bagi kita. Seperti kejadian yang dialami karyawati di toko saya.

Suatu pagi, ada seorang pembeli di Toko Addina yang tampaknya baru kali ini datang ke Toko. Setelah melihat-lihat produk jilbab, jatuh cintalah ia pada salah satu produk. “Cantik sekali…” katanya. Iapun semangat memilih beberapa warna dan memutuskan membeli beberapa potong jilbab.

Setelah dihitung di Kasir yang sudah kami komputerisasi dengan Software POS Omset, muncullah angka sekian ratus ribu rupiah. Terperanjatlah si Ibu tadi, “Koq mahal banget?”. Karyawati saya mencoba menjelaskan “Iya Bu, kan Ibu beli lima potong, yang ini sekian ribu, yang ini sekian ribu dst… jadilah total sekian ratus ribu sekian rupiah.”

“Ach masak, segitu” katanya lagi. Terus kasir meyakinkan lagi dengan menghitung bersama menggunakan kalkulator. Dan sudah barang tentu hasilnya persis sama dengan perhitungan komputer.

Rupanya si Ibu belum juga yakin kalau totalnya segitu. Kemudian si Ibu memberi solusi. “Ya sudah saya beli satu-satu saja dulu”. Yang terjadi kemudian:

Jilbab pertama dibayar, si Ibu ngasih uang, dan kasir memberi kembalian

Jilbab kedua dibayar, si Ibu ngasih uang, dan kasir memberi kembalian

Jilbab ketiga dibayar, dan kasir kembali memberi kembalian, begitu terus sampai jilbab ke-lima. :-)

Jadinya Ibu tadi dapat lima struk belanjaan untuk lima potong jilbab!

Akhirnya Ibu tadi bilang, “ech bener juga, segitu ya…” Kasirpun senyum “iya Bu..”.

Surprise-nya lagi, sore harinya di hari yang sama, Ibu tadi kembali ke toko dan memborong lagi warna-warna yang lain “Ini buat sodara-sodara saya” katanya. Dan kali ini si Ibu sudah percaya dengan perhitungan software POS Omset di komputer :-)

Ach ada ada aja..

Salam FUNtastic!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Busana Muslimah, Busana Anak, Produk Herbal, dll


I Am The Light Of The Universe!

Maret 2, 2008

Judul diatas bukan judul buku dan bukan pula judul film. Itu adalah kalimat yang terngiang di telinga saya sepulang dari menghadiri acara NLP Talk yang diselenggarakan oleh Indonesia NLP Society di MP Book Point, Cipete Jakarta Selatan, pada hari Sabtu 01 Maret 2008.

Acara NLP Talk tersebut menghadirkan pembicara NLP treiner yaitu Bu Issa Kumalasari dari NLP Starfield. Acaranya sendiri diberi judul “Learn English with NLP” dengan tujuan untuk menunjukkan bagaimana mudahnya mendobrak ketakutan kita untuk berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan teknik-teknik NLP.

Namun dalam pembahasannya Bu Issa mengajak peserta untuk menjadikan momen NLP Talk tersebut sebagai momen perubahan yang fantastik (Fantastic Change). Peserta disadarkan atas potensi dirinya, karena masing-masing individu adalah sangat berharga, lebih berharga daripada emas (More Precisius Than Gold). Dan masing-masing individu bisa menjadi cahaya yang menyinari alam semesta!

Agar dapat melakukan perubahan yang fantastik, Bu Issa mengingatkan dan membekali peserta dengan berbagai teknik NLP dan teknik-teknik turunannya seperti Time Line Therapy (TM).

Diawali dengan pembahasan mengenai Learning State dan Peripheral Vision yaitu dengan mengajak peserta meluaskan cakrawala pandangan matanya, sehingga peserta bisa memasuki kondisi terbaik dalam menerima pelajaran. Dengan kondisi demikian, kita akan mudah menyerap informasi, tidak hanya informasi dari trainer, tetapi pikiran bawah sadar juga bisa merekam informasi dari lingkungan sekitarnya.

Peripheral Vision tidak cuma bermanfaat bagi kita dalam menyerap ilmu di kelas, tapi bisa juga dimanfaatkan dalam segala kondisi di kehidupan sehari-hari agar pikiran (dan mata hati) terbuka terhadap informasi di sekitarnya. Yang menarik, dalam kondisi Peripheral Vision ini kita tidak akan mudah dihipnotis.

Kemudian dibahas pula mengenai Cause v.s. Effect. Hal ini untuk mengingatkan peserta apakah akan tetap menjadi korban (effect) atau menjadi pelaku (cause) dari kejadian-kejadian yang dialami. Kalau memilih menjadi korban dari keadaan maka selamanya akan menjadikan sesuatu diluar dirinya sebagai kambing hitam. Sehingga selamanya akan menjadi pribadi yang tidak berdaya.

Pembahasan dilanjutkan dengan mengulas submodalities (Visual, Auditory, dan Kinestetic). Bu Issa membimbing peserta agar menggunakan submodalities dalam gambaran mentalnya supaya bisa melakukan perubahan terhadap keyakinan (belief change) dari keyakinan yang membelenggu menjadi kayakinan yang memberdayakan. Tekniknya sendiri bernama Map-Across.

Acara menjadi lebih menarik saat Bu Issa memaparkan teknik Time Line Therapy (TM). Teknik ini merupakan integrasi dari NLP dan Hipnoterapy. Bu Issa sendiri telah mempraktekannya untuk mengatasi kondisi traumatis pada dirinya. Sehingga dalam waktu singkat Bu Issa bisa lepas dari belenggu masa lalunya dan bisa selalu mempertahankan kondisi / state yang memberdayakan.

Pesertapun diajak untuk mempraktekkan teknik TLT agar bisa masuk ke dalam kondisi yang memberdayakan sehingga mudah untuk belajar Bahasa Inggris (sesuai tema acara NLP Talk).

Masih banyak lagi teknik-teknik yang dibahas seperti Anchoring dan Huna / Hakalau State. Namun karena memang waktu yang singkat, membuat pembahasan sering melompat-lompat dan kurang mendalam. Untung saja ada sesi tanya jawab sehingga peserta bisa secara interaktif berdialog dengan nara sumber.

Sebelum acara berakhir, peserta diminta melakukan role play dimana masing-masing peserta saling berpasangan dan secara bergantian mempraktekan kembali ‘script belief change‘.

Beruntung sekali, saat role play saya berpasangan dengan Pak Sulistyo Agustinus dari seilink.com. Pak Agus berhasil mambantu saya mencapai kondisi puncak (peak state) dan sekaligus melakukan Anchoring. Rupanya selama ini saya terlalu terfokus untuk menggunakan submodaliti Visual dalam mempraktekan beberapa teknik NLP, sehingga kurang berhasil. Padahal saya lebih kuat di Kinestetik.

Mengetahui hal ini, saat role play Pak Agus mengarahkan saya dengan menggunakan kata-kata yang kinestetik banget dan akhirnya.. binggo.. sampailah saya pada perasaan dan kondisi yang fantastik… Terimakasih Pak Agus. (sampai bergetar tubuh saya dan menetes air mata saya Pak!).

Acara role play tadi memang saya manfaatkan untuk mengubah salah satu keyakinan yang membuat saya ragu-ragu mengambil keputusan. Alhamdulillah pada saat memasuki kondisi puncak, saya seperti mendapat jawaban dan kepastian mengenai keputusan yang harus saya ambil. InsyaAlloh mulai Senin ini akan saya tindaklanjuti dan mudah-mudahan akan membawa saya dan keluarga saya pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.

Oh ya, ada fenomena ‘aneh’ setelah melakukan role play, yaitu semangat para peserta naik drastis. Yang tadinya kalau diberi pertanyaan pada sungkan menjawab atau menjawab dengan pelan-pelan alias malu-malu , tiba-tiba menjadi begitu bersemangat. Yessss!…. Yess…! Yesss…!

Sebagai puncak acara, Bu Issa kembali mengajak peserta menggunakan TLT. Kali ini peserta diajak bervisualisasi naik tinggi sambil mengambang di atas Time Line masing-masing peserta, mulai dari saat ini – balik ke masa lalu – mengambil ‘powerful resources‘ dari kejadian masa lalu – kemudian kembali lagi ke masa sekarang – dan jalan terus sampai masa depan. Saat mencapai Time Line di masa depan inilah Bu Issa kembali meyakinkan bahwa masing-masing individu kita adalah individu yang sangat berharga dan masing-masing kita adalah cahaya bagi alam semesta. I am The Light of The Universe, begitu yang masih terngiang sampai saat ini.

Salam FUNtastix Change!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur
► Distro Jilbab, Busana Muslimah / Anak, Produk Herbal, dll

Terimakasih kpd Pak Teddi P. Yuliawan atas acaranya yang FUNtastic
Terimakasih kpd Bu Issa Kumalasari atas pencerahan dan ilmu-ilmunya
Terimakasih kpd Pak Sulistyo Agustinus atas bantuannya mencapai Peak State
Terimakasih kpd seluruh peserta NLP talk kemarin atas kemeriahannya :-)