I Am The Light Of The Universe!

Judul diatas bukan judul buku dan bukan pula judul film. Itu adalah kalimat yang terngiang di telinga saya sepulang dari menghadiri acara NLP Talk yang diselenggarakan oleh Indonesia NLP Society di MP Book Point, Cipete Jakarta Selatan, pada hari Sabtu 01 Maret 2008.

Acara NLP Talk tersebut menghadirkan pembicara NLP treiner yaitu Bu Issa Kumalasari dari NLP Starfield. Acaranya sendiri diberi judul “Learn English with NLP” dengan tujuan untuk menunjukkan bagaimana mudahnya mendobrak ketakutan kita untuk berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan teknik-teknik NLP.

Namun dalam pembahasannya Bu Issa mengajak peserta untuk menjadikan momen NLP Talk tersebut sebagai momen perubahan yang fantastik (Fantastic Change). Peserta disadarkan atas potensi dirinya, karena masing-masing individu adalah sangat berharga, lebih berharga daripada emas (More Precisius Than Gold). Dan masing-masing individu bisa menjadi cahaya yang menyinari alam semesta!

Agar dapat melakukan perubahan yang fantastik, Bu Issa mengingatkan dan membekali peserta dengan berbagai teknik NLP dan teknik-teknik turunannya seperti Time Line Therapy (TM).

Diawali dengan pembahasan mengenai Learning State dan Peripheral Vision yaitu dengan mengajak peserta meluaskan cakrawala pandangan matanya, sehingga peserta bisa memasuki kondisi terbaik dalam menerima pelajaran. Dengan kondisi demikian, kita akan mudah menyerap informasi, tidak hanya informasi dari trainer, tetapi pikiran bawah sadar juga bisa merekam informasi dari lingkungan sekitarnya.

Peripheral Vision tidak cuma bermanfaat bagi kita dalam menyerap ilmu di kelas, tapi bisa juga dimanfaatkan dalam segala kondisi di kehidupan sehari-hari agar pikiran (dan mata hati) terbuka terhadap informasi di sekitarnya. Yang menarik, dalam kondisi Peripheral Vision ini kita tidak akan mudah dihipnotis.

Kemudian dibahas pula mengenai Cause v.s. Effect. Hal ini untuk mengingatkan peserta apakah akan tetap menjadi korban (effect) atau menjadi pelaku (cause) dari kejadian-kejadian yang dialami. Kalau memilih menjadi korban dari keadaan maka selamanya akan menjadikan sesuatu diluar dirinya sebagai kambing hitam. Sehingga selamanya akan menjadi pribadi yang tidak berdaya.

Pembahasan dilanjutkan dengan mengulas submodalities (Visual, Auditory, dan Kinestetic). Bu Issa membimbing peserta agar menggunakan submodalities dalam gambaran mentalnya supaya bisa melakukan perubahan terhadap keyakinan (belief change) dari keyakinan yang membelenggu menjadi kayakinan yang memberdayakan. Tekniknya sendiri bernama Map-Across.

Acara menjadi lebih menarik saat Bu Issa memaparkan teknik Time Line Therapy (TM). Teknik ini merupakan integrasi dari NLP dan Hipnoterapy. Bu Issa sendiri telah mempraktekannya untuk mengatasi kondisi traumatis pada dirinya. Sehingga dalam waktu singkat Bu Issa bisa lepas dari belenggu masa lalunya dan bisa selalu mempertahankan kondisi / state yang memberdayakan.

Pesertapun diajak untuk mempraktekkan teknik TLT agar bisa masuk ke dalam kondisi yang memberdayakan sehingga mudah untuk belajar Bahasa Inggris (sesuai tema acara NLP Talk).

Masih banyak lagi teknik-teknik yang dibahas seperti Anchoring dan Huna / Hakalau State. Namun karena memang waktu yang singkat, membuat pembahasan sering melompat-lompat dan kurang mendalam. Untung saja ada sesi tanya jawab sehingga peserta bisa secara interaktif berdialog dengan nara sumber.

Sebelum acara berakhir, peserta diminta melakukan role play dimana masing-masing peserta saling berpasangan dan secara bergantian mempraktekan kembali ‘script belief change‘.

Beruntung sekali, saat role play saya berpasangan dengan Pak Sulistyo Agustinus dari seilink.com. Pak Agus berhasil mambantu saya mencapai kondisi puncak (peak state) dan sekaligus melakukan Anchoring. Rupanya selama ini saya terlalu terfokus untuk menggunakan submodaliti Visual dalam mempraktekan beberapa teknik NLP, sehingga kurang berhasil. Padahal saya lebih kuat di Kinestetik.

Mengetahui hal ini, saat role play Pak Agus mengarahkan saya dengan menggunakan kata-kata yang kinestetik banget dan akhirnya.. binggo.. sampailah saya pada perasaan dan kondisi yang fantastik… Terimakasih Pak Agus. (sampai bergetar tubuh saya dan menetes air mata saya Pak!).

Acara role play tadi memang saya manfaatkan untuk mengubah salah satu keyakinan yang membuat saya ragu-ragu mengambil keputusan. Alhamdulillah pada saat memasuki kondisi puncak, saya seperti mendapat jawaban dan kepastian mengenai keputusan yang harus saya ambil. InsyaAlloh mulai Senin ini akan saya tindaklanjuti dan mudah-mudahan akan membawa saya dan keluarga saya pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.

Oh ya, ada fenomena ‘aneh’ setelah melakukan role play, yaitu semangat para peserta naik drastis. Yang tadinya kalau diberi pertanyaan pada sungkan menjawab atau menjawab dengan pelan-pelan alias malu-malu , tiba-tiba menjadi begitu bersemangat. Yessss!…. Yess…! Yesss…!

Sebagai puncak acara, Bu Issa kembali mengajak peserta menggunakan TLT. Kali ini peserta diajak bervisualisasi naik tinggi sambil mengambang di atas Time Line masing-masing peserta, mulai dari saat ini - balik ke masa lalu - mengambil ‘powerful resources‘ dari kejadian masa lalu - kemudian kembali lagi ke masa sekarang - dan jalan terus sampai masa depan. Saat mencapai Time Line di masa depan inilah Bu Issa kembali meyakinkan bahwa masing-masing individu kita adalah individu yang sangat berharga dan masing-masing kita adalah cahaya bagi alam semesta. I am The Light of The Universe, begitu yang masih terngiang sampai saat ini.

Salam FUNtastix Change!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur
► Distro Jilbab, Busana Muslimah / Anak, Produk Herbal, dll

Terimakasih kpd Pak Teddi P. Yuliawan atas acaranya yang FUNtastic
Terimakasih kpd Bu Issa Kumalasari atas pencerahan dan ilmu-ilmunya
Terimakasih kpd Pak Sulistyo Agustinus atas bantuannya mencapai Peak State
Terimakasih kpd seluruh peserta NLP talk kemarin atas kemeriahannya :-)

Tinggalkan Balasan