Pembicara Publik, kenapa tidak?
Hari ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Sebuah pengalaman yang mungkin saja akan mengubah hidup saya dan mendekatkan pada mimpi / dream saya.
Dulu saya pernah punya keinginan untuk terjun di dunia pendidikan dengan menjadi pengajar atau guru atau dosen. Keinginan itu kemudian saya kesampingkan, karena jangankan untuk mengajar, untuk bicara di depan orang saya takut sekali.
Waktu masih SMP saya pernah memberanikan diri ikut lomba pidato. Pesertanya cuma berapa gelintir siswa, bisa dipastikan, kalau bisa ngomong lancar, akan dapat juara. Dan yang terjadi adalah saya mati kutu di depan juri. Baca “Assalamu’alaikum Wa Rohmatullohi Wa barokaatuh” saja sudah gemetar, suara tidak keluar, sampai harus diulang, he.. he.. he..
Pernah juga coba-coba jadi MC, tapi saya cuma berani jadi MC dalam acara yang dihadiri teman-teman sendiri yang sudah dikenal. Jangan harap saya mau jadi MC di acara-acara resmi, apalagi dihadiri orang-orang yang tidak saya kenal, wuih.. serem kali.
Di kantor saya pun sering dihadapkan pada situasi ’sulit’, harus ngomong di rapat dll. Bisa dipastikan saya cuma bisa ngomong seperlunya. Sekali buka mulut, otak langsung kram, ide-ide membeku, dan pingin cepat2 berhenti bicara. Jika perlu mendingan mengambil posisi diam dan duduk manis saja.
Mungkin pembaca tidak percaya, ya. Koq bisa nulis banyak artikel, tapi nggak bisa bicara. Itulah kelebihan bahasa tulisan, bisa diedit dan bisa ditulis saat lagi mood. Tapi kalau urusan ngomong di depan publik, tidak bisa diedit dan tidak bisa nunggu mood kan?
Begitu juga pagi ini (17 Maret 2008), tiba-tiba saya dipanggil atasan saya di tempat kerja saya. Saya diminta mewakili beliau hadir di salah satu acara. Saya pikir saya diminta mewakili untuk menghadiri rapat. Ternyata setelah membaca undangannya, saya harus mewakili menjadi “pengajar” dan harus ngomong di depan puluhan pengusaha. Oh My God!
Lemes deh, hati berdegup kencang, tidak tahu apa yang nanti mau diomongin. Karena tidak bisa lagi mengelak dan sudah berada di kondisi kepepet, sayapun meluncur menuju lokasi, sambil terus berpikir apa yang mau disampaikan, dan sambil terus mencoba menenangkan diri. Sampai di lokasi, belum banyak peserta yang datang. Melihat deretan kursi dan meja pembicara, tambah berkecamuk pikiran saya.
Untunglah beberapa minggu ini saya sedang semangat belajar NLP dan beberapa kali ikut sharing dengan para master NLP. Sehingga sebisa dan seingatnya saya memanfaatkan teknik NLP untuk mengatasi kesulitan saya ini. Saya coba Time Line Theraphy, Swish Pattern, Map Accross, dll, pokoknya seingat dan sebisanya saja.
Saya cari-cari pengalaman masa lalu saya saat pernah berhasil ngomong di depan publik. Saya ingat waktu kuliah pernah diharuskan melakukan presentasi dan berhasil. Saya ingat-ingat bagaimana situasi dan kondisi saya waktu itu. Dalam terminologi NLP, saya bisa memanfaatkan kondisi sewaktu presentasi di kuliah, agar bisa melakukan hal yang sama di saat ini, saat saya harus bicara di depan puluhan pengusaha yang tidak saya kenal.
Alhamdulillah saya bisa menguasai diri. Untunglah materi yang harus saya sampaikan cuma sedikit. Dalam hitungan beberapa menit saya berhasil menyampaikan pidato saya di depan orang yang belum saya kenal. Selesai bicara, saya hampir-hampir takjub pada diri sendiri, kepala terasa ckot-ckot, tapi seperti ada beban berat yang berhasil saya lepaskan.
Sepulang acara, pikiran saya kembali berkecamuk dengan pikiran yang berbeda tentunya. Saya sepertinya kembali diingatkan dengan cita-cita saya dulu untuk jadi pengajar. Suatu saat InsyaAlloh saya akan terjun di dunia ini, dunia pengajar, dunia publik speaker, dunia trainer, atau apalah nama dan bentuknya. Akan saya arahkan jalan hidup saya menuju dunia berbagi dengan omongan, tidak hanya berbagi dengan tulisan seperti blog ini. Tentunya saya masih harus banyak belajar dan memperbanyak jam terbang dulu. Semoga….
Do’akan ya
Salam FUNtastic dan Merdeka!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll
“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Maret 19, 2008 pukul 10:30 am
Bravo Fuad…..Anda pasti bisa jadi GREAT speaker !!
Saya senang dengan tagline blog ini. Benar-benar inspiring. Bravo and goodluck.
Maret 19, 2008 pukul 10:40 am
Pak Fuad saya pernah mengalami yang pak fuad alami. Tahun 2000 pertama saya menjadi asisten dosen di lab komputer, hari pertama saya disuruh mengajar yang siswanya seumuran saya karena saya masih kuliah juga. Deg2an rasanya apa yg mau diomongin, ngga pede dll. Sampai sekarang saya masih mengajar dan masih juga ada perasaan itu, mungkin semua orang pernah mengalami itu, dan bagaimana penguasaan diri aja. Artis juga kalau manggung ada demam panggung itu bisa kita lihat dibelakang panggung pada saat mau naik panggung. Sukses untuk pak Fuad.
Maret 19, 2008 pukul 11:18 am
@ Yodhia
Terimakasih doanya. Sukses juga buat Anda.
@ Bang Alam
Wah lama nggak ngumpul nich…
Benar, penguasaan diri yang paling penting. Jadi ingat dalam komunikasi prosentase terbesar penyampaian pesan adalah dari bahasa tubuh. Kalau bisa menguasai diri pesan bisa sampai lebih efektif, dibanding saat grogi pesan verbal jadi tambah sulit disampaikan.
Sukses ya Bang..
Fuad Muftie
Maret 30, 2008 pukul 6:30 am
pak fuad….saya sekarang dalam kondisi seperti itu juga nih pak…
sering ditodong tiba2 ngomong depan publik, walah…padahal gak siap materi…jadinya sering kurang ok penampilannya…heheh..
Boleh dong pak disharing teknik publik speakingnya, NLP ato ilmu apa saja yang bisa mendukung perform saat tiba2 harus naik mimbar pidato..
terimakasih ya pak…sukses selalu untuk bapak dan keluarga…
salam
http://izhayusmal.wordpress.com
April 3, 2008 pukul 9:39 am
Bu Fauziah, untuk teknik public speaking saya sendiri belum banyak belajar Bu. Nautural dan apa adanya saja. Cuma yg masih jadi perhatian saya adalah bagaimana mengatasi ketakutan dan keraguan saat mau tampil ke depan.
Kalau sudah bisa mengusai kondisi diri sendiri, InsyaAlloh akan lebih mudah berekspresi di muka umum. Nah dg NLP saya bisa kembali mengingat masa-masa di saat saya pernah berani dan PD tampil ke depan, saya rasakan perasaan yg ada saat itu, saya dengar kembali suara2 yg ada saat itu, dan saya lihat sekeliling saya waktu itu, sehingga bisa kembali muncul rasa PD-nya.
Kalau sudah demikian, InsyaAlloh kita akan sama PD-nya dengan ketika dulu kita tampil ke depan. Oh ya meskipun masih takut, ternyata setelah saya ingat2 saya pernah begitu PD-nya tampil di depan teman2 waktu kuliah dulu. Jadi pengalaman masa lalu inilah yg selalu saya bawa2 kalau harus kembali tampil di depan umum.
Demikin sekelumit pengalaman saya Bu
Fuad Muftie
April 24, 2008 pukul 3:17 pm
Bila saya perhatikan hampir semua coment yang masuk dalam blog mas Fuad, adalah mengomentari tentang tulisan-tulisan mas Fuad. Tetapi saya bukan untuk mengomentari tulisan masFuad, tetapi justru saya ingin memanfaatkan tulisan-tulisan mas Fuad.
Sebelum saya uraikan lebih lanjut, perlu kiranya saya perkenalkan diri saya .
Nama saya Taufik sudah usia hampir 50 tahun. Kini hanya sebagai pengecer warung biasa. Sebelum itu 10 tahun lalu saya pernah membuka usaha Barang-barang Elektronik, dua tahun sebelumnya lagi saya pernah membuka usaha computer, sebelumnya lagi saya pernah membuka usaha Spreading Obat-obatan sebagai sampingan ketika saya masih bekerja dan mempunyai salesforce sebanyak 13 orang atau total karyawan yang pernah saya gaji sebanyak 16 orang. Saya pernah kuliah mengambil jurusan akuntansi ketika masih bekerja, dan tidak selesai hanya sampai semester 5, beberapa tahun kemudian kuliah lagi mengambil jurusan Management informatika (merupakan hobi saya untuk membuah program database, dengan bahasa clipper dan vdbase).
Itulah mas Fuad sejarah ringkas hidup saya.
Saat ini saya masih mempunyai seorang istri yang sangat setia, dan dua orang anak. Yang besar telah lulus SMA dengan Nilai rata-rata 9.5 dan kini menganggur, karena orangtuanya tidak punya uang untuk memasukkannya keperguruan tinggi. Padahal ketika itu sudah diterima lewat spmb. Dan yang terkecil kini sudah kelas III SMP.
Lho…. Kok jadi curhat begini…………..!!!
Begini mas Fuad, dari sejarah usaha saya itu, yang kini ada dalam diri saya adalah ketakutan untuk membuka usaha kembali, apalagi dengan modal yang besar (disamping itu memang modalnya tidak ada). Sudah banyak Ide usaha yang ada dikepala saya, bahkan beberapa Ide saya tersebut kini sudah ada yang menjalankannya dan ternyata mereka berhasil, padahal ketika itu usaha seperti itu belum ada. Tetapi ide-ide tersebut kembali masuk kedalam laci, tidak berani saya launcing.
Hingga saat ini saya belum berani untuk membuka usaha kembali, tentunya dengan modal yang lumayan, untuk ukuran saku saya saat ini.
Saya lanjutkan, Yang ada dikepala saya saat ini adalah : “BAGAIMANA SAYA BISA MEMBUKA USAHA DENGAN MODAL PAS-PASAN ATAU MODAL DENGKUL !!” dan usaha itu bila Allah mengizinkan !!
Mas Fuad yang baik !,
Inti permasalahan yang ingin saya sampaikan adalah Saya Ingin membuat satu usaha kembali, tetapi tentunya dengan modal seadanya.
Pada saat saya membaca Blog mas Fuad, timbul dibenak saya “ Bagaimana jika tulisan Mas Fuad ini saya jual, Karena setelah saya coba bundel, dan saya coba baca ulang, ternyata sungguh menarik !!.
Rencananya bila ini jadi saya produksi (bila diijinkan tentunya atau ingin kerjasama), saya akan pasarkan atau jual langsung kepada pembaca melalui atau kepada para penumpang bus dan kereta api.
Kenapa pemasarannya lewat bus dan kereta api ?, karena untuk meminimalisasi persaingan, bilamana saya pasarkan melalui toko-toko buku.
Dan saya tidak ingin berpifir jauh kedepan dulu, bila ini berhasil saya jalankan karena……..
Memang apa yang akan saya lakukan ini cukup ironis dengan tulisan yang mas Fuad tulis, seperti “ MEMBUKA USAHA DENGAN MODAL DENGKUL”,
Itu ini permasalahan yang ingin saya sampaikan kepada Mas Fuad, dan entahlah apakah saya berani untuk meneruskannya atau berhenti lagi disini dan masuk kedalam laci kembali. Wallahualam !
Dan saya tunggu jawaban dari mas Fuad, baik ke email saya atau diblog mas Fuad ini jawaban mas Fuad akan sampaikan terserah mas Fuad.
Bila melalui email tolong kirimkan saja ke : Humanbulletin@gmail.com
Tambahan : Mungkin mas Fuad bertanya kok emailnya HUMANBULLETIN, nah itulah salah satu usaha yang tidak jadi saya launcing.
Terima kasih
April 25, 2008 pukul 9:38 am
Pak Taufik salam kenal kembali.
Terimakasih atas apresiasi Bpk terhadap tulisan-tulisan saya. Luar
biasa ide Anda untuk membukukan tulisan orang lain. Saya sendiri belum
terpikir Pak untuk membukukan tulisan saya.
Niat saya menulis memang ingin berbagi pengalaman. Sepanjang yang Pak Taufik
lakukan untuk tujuan sosial (berbagi) silahkan saja Pak tulisan saya
disebarluaskan.
Tapi kalau sudah ada niat profit oriented, akan lebih bijak kalau
skema kerjasamanya dibuat hitam diatas putih dan jelas hak-kewajiban
masing-masing pihak. Karena dengan orang membeli tulisan saya berarti
ada tanggung jawab saya didalamnya termasuk kepuasan bagi pembeli dan
semacam after sales service-nya.
Demikian yang bisa saya sampaikan Pak.
Terimakasih dan Wassalam
Fuad Muftie