Perubahan, Zona Nyaman, dan Familiarity Factor bagi Pebisnis Pemula

April 25, 2008

Kita harus mengikuti perubahan, karena satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Familiar dengan pepatah ini?

Memang benar dan saya juga setuju kalau kita harus terus melakukan perubahan. Tetapi ternyata tidak semua orang bisa dengan mudah melakukan dan mengikuti perubahan. Ada yang bilang, orang tidak mau berubah karena sudah nyaman dan berada di comfort zone. Mereka takut keluar dari zona nyamannya, demikin yang diyakini sebagian orang.

Padahal kenyataannya banyak lho orang yang tidak berada di zona nyaman dan tidak juga mau berubah. Nah lho, gimana tuch??? Mungkin Anda bisa lihat di sekeliling Anda, banyak orang miskin yang hidupnya susah sekali, kemana-mana yang dibawa cuma keluhan. Mereka ingin berubah tapi tidak juga bisa. Apakah mereka berada di zona nyaman? Saya pikir tidak, karena instingnya baru pada tahap survival, hidup atau mati, begitu kira-kira. Nggak nyaman kan?

Terus kalau mereka tidak berada di zona nyaman, sudah ingin berubah, tapi koq nggak bisa, kira-kira kenapa ya? Bahkan dipaksa berubahpun, mereka akan mudah kembali pada kondisi sebelumnya. Atau jangan-jangan meraka sudah nyaman di zona tidak nyamannya?

Barangkali memang demikian, karena manusia (tepatnya otak manusia) suka sekali dengan pola yang teratur. Pola-pola yang teratur inilah yang membuat manusia terjebak pada kehidupan yang tidak diinginkan dan sulit berubah. Pola seperti ini membuat kita familiar dengan kehidupan kita sendiri. Dengan mengikuti pola yang familiar ini, otak bawah sadar kita selalu menerima sinyal bahwa kita aman dan benar-benar bisa survive, terbukti sampai saat ini masih hidup.

Pernah mendengar cerita bagaimana orang miskin yang tiba-tiba dapat undian dan mendadak kaya, tapi tidak lama kemudian jatuh miskin lagi. Ya otak dan neurologi mereka sudah familiar dengan kehidupan miskin, sehingga saat dipaksa jadi orang kaya (OKB) neurologi mereka belum familiar dan ujung-ujungnya kembali ke neurologi yang familiar yaitu pola kehidupan miskin.

Dalam bisnispun demikian, saat akan mengawali suatu usaha, sistem syaraf, pola pikiran, belief sistem dan neurologi kita belum familiar dengan dunia bisnis. Sehingga yang muncul adalah otak bawah sadar kita memproteksi diri kita untuk tetap di pola yang lama. Yang muncul dalam ucapan dan tindakan kita adalah “berbisnis itu sulit“, “berbisnis itu butuh modal banyak, sedangkan saya tidak punya modal“, “berbisnis itu gampang rugi, sayang uangnya hanya untuk gambling“, “mana bisa bisnis tanpa modal“, dll. Coba ingat-ingat, familiar dengan pikiran seperti itu?

Nah, agar kita siap memasuki dunia bisnis dan mau mulai mengawali suatu usaha, persiapkan dulu diri kita dengan neurologinya para pengusaha (pola pikiran, pola keyakinan, pola tindakan, dll). Caranya juga mudah dan banyak, bisa dengan belajar langsung kepada pengusaha lain (magang), ikut seminar / workshop, baca buku / artikel, atau langsung memaksa diri terjun berbisnis, dll.

Yang perlu diingat, otak kita bisa memproses suatu kejadian nyata dan kejadian khayalan dengan hasil yang sama. Ada yang bilang otak tidak bisa membedakan mana kejadian nyata dan mana kejadian khayalan. Untuk itu hal ini bisa kita manfaatkan dengan cara sering-seringlah berimajinasi dengan memvisualisasikan diri kita sudah punya toko, punya produk / jasa, punya karyawan, dan berimajinasi sedang mengelola usaha yang kita inginkan. Fokukskan pikiran dengan pertanyaan “Bagaimana saya bisa segera membuka usaha”. Dengan membiasakan hal seperti ini, otak dan neurologi kita akan menjadi familiar dengan dunia usaha.

Kalau sudah familiar, indra kita akan mudah menangkap peluang. Dan kalau sudah dapat gambaran suatu peluang, tibalah saatnya mengambil tindakan dengan cepat dan lebih percaya diri (InsyaAlloh).

Semoga bermanfaat

Salam FUNtastic & MERDEKA!!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Membingkai Ulang Persoalan Bisnis

April 21, 2008

Kita manusia memang penuh masalah. Apapun bisa jadi masalah. Bahkan masalah sebenarnya adalah sering kita mempermasalahkan hal-hal yang tidak perlu dipermasalahkan :-) he.. he.. he.. bingung nggak? Makanya… karena manusia itu penuh masalah muncullah orang-orang yang bisa mengatasi masalah, salah satunya adalah pengusaha alias entrepreneur.

Kalau mau jeli memperhatikan, hadirnya para pengusaha adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi orang lain. Nokia muncul untuk mengatasi masalah komunikasi. Asia Air muncul untuk mengatasi (sebagian) masalah transportasi. Kang Ucup juga hadir menjajakan pisang goreng untuk mengatasi masalah / kemalasan kita menggoreng sendiri pisangmolen. :-)

Tapi lucunya, sebagai agen untuk mengatasi masalah, pengusaha juga selalu diliputi masalah. Masalah modal, masalah pemasaran, masalah persaingan, masalah hutang piutang, masalah karyawan, wuih.. pokoknya seabreg kalau mau diinventarisir.

Memang dalam mengelola bisnis, sejak awal memulainya sampai membesarkannya pasti akan dihadapkan pada berbagai persoalan dan masalah. Ibaratnya, masalah dalam bisnis adalah bumbu dari sebuah masakan. Tanpa masalah nggak seru dong bisnisnya.

Karena hadirnya pengusaha adalah untuk mengatasi masalah orang lain, maka harus pinter-pinter dong mengatasi masalah sendiri. Lucukan kalau masalah sendiri tidak bisa diselesaikan, gimana mau membantu mengatasi masalah orang lain.

Kadang memang masalah hadir begitu ringannya sehingga terasa enteng saja kita menghadapinya. Tapi tidak jarang masalah jadi terasa berat sekali dipikul sehingga berlarut-larut.

Nah sebelum masalah menjadi berlarut-larut ada sedikit cara yang mudah danmanjur untuk mengatasi masalah yaitu dengan membingkai ulang masalah. Sama seperti bingkai foto atau lukisan. Foto atau lukisan yang biasa-biasa saja, begitu diberi bingkai akan menjadi sangat indah, menarik, dan punya nilai jual tinggi. Begitupun sesuatu yang kita sebut masalah, kalau kita pinter-pinter membingkainya akan menjadi pelajaran dan ilmu yang sangat bernilai.

Oke, kita ngomongin contoh saja dech. Semingguyang lalu, toko saya kehadiran orang yang sangat baik hati. Orang ini mengingatkan kami agar lebih hati-hati menyimpan uang. Cara dia mengingatkan memang unik, yaitu dengan cara mengambil dompet uang kas toko. Orang sich bilang dia bernama COPET. Lumayan, keuntungan sehari toko kami pindah ke tangan orang tersebut. Kami ikhlaskan saja dompet berikut uang kasnya diambil. Itung-itung sebagai ongkos buat dia karena telah menasehati kami untuk lebih hati-hati menyimpan uang.

Tentu saja istri saya sangat sewot dan mukanya langsung ditekuk. Sinar wajahnya tinggal 2,5 watt. Tidak lupa istri saya langsung celingak-celinguk nyari kambing berwarna hitam. Tentu saja tidak ketemu, lha wong oknum tadi tadi begitu lihainya memindahkan dompet kami. Saya ingatkan untuk tetap tenang, ikhlaskan saja, dan jadikan sebagai pelajaran. Tapi dari bahasa tubuhnya tetap kelihatan istri saya belum legowo.

Setelah tutup toko, saya ingatkan lagi istri saya “Hei.. ingat nggak tahun lalu kita pernah kehilangan Rp. 500 ribu di kios lama. Dan ingat nggak keesokan harinya omset kios melejit dan kios terus ramai”. Wajah istri saya mulai berubah. “Mudah-mudahan kehilangan kali ini akan membawa toko kita semakin ramai. Jadi, sudahlah ikhlaskan saja. InsyaAlloh ada gantinya”. Istri saya kemudian menimpali “Untung yang diambil cuma dompet uang recehnya, yang 50ribu-an dan 100 ribu-an aman.”

Jadi, kejadian pencurian tetap pencurian dan bisa membuat kita stress. Tapi dengan membingkai ulang kejadian bahwa “copet hadir sebagai pengingat untuk lebih waspada”, “Kalau ikhlas akan ada gantinya”, “Untung yang diambil cuma uang receh”, dll maka masalah tidak akan berlarut-larut dan bisa menjadi pelajaran yang bernilai.

Semoga bermanfaat

Salam FUNtastik & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Berdamai Dengan Diri Sendiri

April 17, 2008

Menurut Anda, mungkinkah perekonomian suatu negara akan maju kalau negara itu selalu berada dalam konflik? Saya pikir kecil sekali kemungkinannya. Karena energi, tenaga, dan seluruh kekuatan negara tersebut akan tersedot untuk menghadapi konflik tersebut.

Demikin juga dalam diri kita sendiri, kita akan sulit untuk maju dan sukses, kalau kita masih menyimpan konflik dalam diri kita sendiri. Bentuknya bisa seperti kita punya keinginan tapi ditolak oleh sistem keyakinan sendiri. Kita punya niat baik tapi dilawan oleh akal sehat kita. Kita ingin maju tapi tertahan oleh rasa aman diri sendiri. dll dsb. Dan hal seperti ini sangat menguras energi kita kan?

Untuk mengecek adanya konflik ini, perhatikan saja internal dialog kita. Apakah internal dialog kita membantu kita untuk maju atau malah terus beradu argumen. Sering lho tanpa kita sadari kita larut dalam adu argumen dan berantem dengan diri sendiri. Semakin kita layani semakin banyak energi yang terbuang.

Apalagi dalam berbisnis, mudah sekali bertemu situasi yang memicu perang bathin kan? Beda pendapat dengan partner bisnis, dengan karyawan, dengan suplier, atau  dengan pelanggan, suka terus-terusan terbawa ke perasaan. Nah untuk itu penting juga untuk mengetahui jurus-jurus untuk berdamai dengan diri sendiri.

Salah satu cara yang saya peroleh agar bisa mendamaikan konflik internal kita adalah dengan berusaha untuk menerima diri sendiri apa adanya. Penerimaan diri sudah banyak digunakan dalam berbagai teknik pengembangan diri seperti Sedona, EFT (penerimaan diri plus tapping), Quantum Ikhlas, dll, dan terbukti efektif.

Cara yang termudah, kalau ada internal dialog yang negatif, tidak perlu dilawan, ucapkan saja “terimakasih atas pikiran ini, terimakasih atas kritikannya, saya menerima diri saya apa adanya, dan saya lebih memilih untuk tenang, cool, peace, dan rilex“. Awalnya mungkin akan terasa aneh dan akan ada resistensi. Kalau muncul resistensi dan penolakan kembali ucapkan “terimakasih, saya menerima penolakan ini, dan saya memilih untuk tenang“. Apapun responnya kalau masih negatif ulangi lagi pernyataan-pernyataan penerimaan diri tersebut.

Kalau masih juga ngeyel gunakan Mantra ala Bandler untuk membungkam percakapan internal. Mantranya sederhana saja yaitu “SHUT THE F**K UP!!!” Silahkan terjemahkan sendiri.

Setelah berdamai, barulah mulai ajak diri kita untuk mencari solusi dan jawaban dan lakukan dialog yang lebih memberdayakan. Caranya juga mudah saja, ajukan saja pertanyaan-pertanyaan yang bermutu dengan pertanyaan “Bagaimana?”. “Bagaimana saya bisa segera punya bisnis, meskipun belum punya waktu?”. “Bagaimana biar bisa begini, begitu…”. Ingat otak kita selalu mencari jawaban atas sebuah pertanyaan dan ingat bahwa otak bawah sadar kita adalah gudang informasi yang terlengkap pada diri kita!

Hindari pertanyaan “Kenapa, mengapa?” karena akan kembali mengungkit dan memicu dialog yang negatif dan tidak memberdayakan.

Mungkin tips ini kelihatan aneh dan menggelikan, tapi itulah faktanya, setiap saat kita selalu ngomong sendiri di batin kita (bahasa jawanya: Mbatin). Tinggal kita yang memilih mau berdialog yang produktif dan memberdayakan atau dialog yang menjerumuskan. The choice is yours.

Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastik & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Mengoptimalkan Penggunaan HP

April 16, 2008

Selama ini bagi saya HP masih berfungsi sebagaimana awalnya HP muncul yaitu buat nelpon, nerima telpon, dan SMS-an. Sesekali saya gunakan untuk modem buat narik email, menyimpan catatan kecil, dan sebagai reminder. Untuk itu, saya cukup puas menggunakan Nokia CDMA 2115i yang lumayan handal.

Sejak berganti HP beberapa bulan lalu menjadi Nokia CDMA 6275i, fungsi HP mulai bertambah yaitu untuk mengambil foto dan iseng-iseng untuk ngecek koordinat suatu lokasi karena ada fasilitas GPS.

Saya tahu 6275i bisa diinstal berbagai aplikasi, tapi belum ada minat buat nyari-nyari aplikasi. Pikiran saya mulai berubah saat dihadapkan dalam kondisi harus antri atau menunggu. Waktu-waktu seperti ini, saya cuma bisa main-main game standar di HP. Tapi pikiran saya bilang “halah mainan gini kan cuma buang waktu, kenapa nggak dimanfaatkan lebih produktif lagi”.

Sebenarnya bisa saja buat mendengarkan audiobook atau musik, tapi saya tidak nyaman menggunakan headphone di tempat-tempat umum.

Sayapun ingin HP saya bisa untuk membaca ebook. Ternyata belum ada aplikasi 6275i yang bisa buat membaca ebook format pdf. Buat membaca html pun cuma bisa secara online, browsernya belum bisa membaca file html yang tersimpan di memori HP secara offline.

Akhirnya saya menemukan aplikasi MTextReader yang bisa jalan di HP N6275i. Cuma aplikasi ini hanya bisa membaca file text (.txt) saja. Tapi saya bersyukur, sekarang waktu luang saya bisa lebih bermanfaat untuk menimba ilmu dengan membaca ebook / artikel-artikel bisnis dan pengembangan diri. Hitung-hitung untuk investasi di leher ke atas (Otak).

Akhirnya HP saya bisa saya optimalkan untuk mengupgrade otak saya, suatu investasi yang tidak ternilai harganya. Meskipun harus dengan terlebih dulu meng-convert file-file yang ingin dibaca ke dalam format text.

Dengan kapasitas memory kurang lebih 256MB sangat banyak artikel dan ebook yang bisa disimpan di HP. Sekarang serasa membawa perpustakaan di genggaman. Dan waktu-waktu yang selama ini terasa cuma terbuang, sekarang bisa lebih produktif lagi.

Cuma sayang, kalau sering baca, batterainya jadi cepat habis.

Atau ada pembaca yang punya saran lebih baik lagi??

Salam FUNtastic dan Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Mengasah Intuisi Bisnis

April 11, 2008

Salah satu keluhan pengusaha pemula dan calon pengusaha adalah tidak punya jiwa bisnis dan tidak punya intuisi bisnis. Apa memang demikin, untuk memulai bisnis harus punya jiwa dan intuisi bisnis dulu? Saya pikir tidak demikian.

Kemampuan berbisnis bukanlah gen bawaan orang tua atau berdasarkan keturunan. Bisnis menurut saya adalah skill dan seni. Skill karena memang kemampuan berbisnis bisa dipelajari dan bisa diajarkan / ditularkan kepada orang lain. Sama seperti skill kita membaca, menulis, dan berhitung, itu semua bisa dipelajari dan diajarkan. Bisnis juga seni karena memang ada unsur-unsur emosi, keindahan, dan itu tadi adanya intuisi yang berperan di dalamnya.

Umumnya bagi pemula bisnis akan mengalami gagap dalam menyikapi situasi bisnis. Belum bisa membaca situasi dan membaca peluang, itu sebagian contohnya. Di taraf ini, intuisi sepertinya belum banyak berperan. Padahal di awal-awal berbisnis itulah intuisi kita mulai terlatih. Bagaimana mencocokkan produk dengan kemauan pelanggan, bagaimana menata barang dagangan, dan bagaimana berpromosi, awalnya akan merasa kaku dan cenderung mengarah ke teks book saja.

Tapi saya yakin bagi yang sudah lama berbisnis, setelah masa awal ini akan mulai mengerti peran intuisi atau bisikan bathin yang mulai terlatih. Memilih barang dagangan misalnya akan lebih mudah setelah punya pengalaman dan jam terbang yang lebih tinggi. Tapi tetap ingat, perhitungan logis dan akal sehat tetap diperlukan. Itu jug anugrah yang harus disyukuri dan harus digunakan secara seimbang.

Perlu juga dipahami bahwa intuisi boleh dibilang merupakan bagian dari kerja otak bawah sadar. Dan menurut beberapa literatur otak bawah sadar merupakan gudang informasi yang lengkap dan punya kemampuan lebih dari 80% dari kemampuan otak kita. Jadi saya pikir wajar untuk mulai memperhatikan peran yang 80% tadi.

Nah berikut ini saya ingin berbagi sedikit cara bagaimana mengasah intuisi ala Fuad Muftie berdasar pengalaman dan dari beberapa literatur. Mohon maaf kalau tidak lengkap, silahkan lengkapi sendiri berdasarkan pengalaman Anda.

# Tips 1 #

Mulai sadari adanya diri anda yang lain di dalam diri anda sendiri (halah.. bingung nggak?)

Intinya begini, sadar tidak sadar kita sering berdialog dengan diri sendiri. Iya kan, hayo ngaku aja! Contoh:

Fuad 1 : “Hmm ini barang bagus banget, boleh juga nich buat ngisi toko”

Fuad 2 : “Tapi harganya kan mahal, emang dg harga segitu bisa laku di toko?”

Fuad 1 : “Nggak apa-apa lah beli sedikit dulu, dicoba kan nggak ada salahnya”

Fuad 2 : “Ach tapi sayang, mending uangnya buat beli yang lain, yang sudah jelas laku”.

Kurang lebih begitu kan? Makanya pertama-tama, sadari dulu kalau kita punya dialog seperti itu. Pelan-pelan coba kontrol dan ajak dialog yang lebih terarah, tidak melompat-lompat. Misalnya:

Fuad 1 : “Barangnya sich bagus, tapi harganya mahal”

Fuad : “Oke, barangnya memang bagus, dan harganya memang mahal, terus baiknya gimana?”

Lalu coba dengarkan apa jawaban Fuad 1, atau mungkin yang akan menjawab adalah Fuad 2 atau Fuad 3. Kalau ada jawaban, ucapkan terimakasih, sebagai ungkapan penghargaan bagi alam bawah sadar kita.

Tetapi kalau nggak ada jawaban ucapkan terimakasih juga atas masukan sebelumnya dan mohon kepada alam bawah sadar kiranya berkenan memberi jawaban.

Latihan seperti ini bisa dilakukan setiap saat, tidak hanya dalam kondisi sedang berbisnis. Saat memilih makanan misalnya, coba lakukan dialog dalam diri makanan apa yang akan dipilih. Saat memilih baju yang akan dipakai, lakukan dialog dalam diri, baju mana yang akan dipakai. Pokoknya dalam setiap kesempatan, lakukan dialog yang terarah, daripada bisikan-bisikan tersebut muncul secara liar.

Perlu juga disadai, alam bawah sadar adalah sahabat kita yang paling dekat dan paling setia. Sama seperti kita, semakin dia diperhatikan dia akan semakin cinta pada kita, dan disaat-saat kira merasa sulit dia akan memberi solusi-solusi yang kita namakan intuisi.

# Tips 2 #

Kalau kita sedang berinteraksi dengan orang lain, mulai sadari bahwa dalam komunikasi, pesan verbal (ucapan) cuma berperan 3%, yang 97% adalah bahasa tubuh dan intonasinya.

Kalau kita menanyakan kualitas produk kepada penjual, hampir bisa dipastikan mereka akan mengatakan produknya bagus. Tapi bahasa tubuhnya dan intonasinya tidak akan berbohong. Alam bawah sadar selalu jujur sehingga alam bawah sadarnyalah yang membuat bahasa tubuhnya tidak kongruen dengan ucapannya. Percayai bahasa tubuh dan intonasinya karena itu 97% dari komunikasi.

Cuma repotnya kalau ketemu penjual yang sudah terbiasa bohong, agak sedikit butuh jam terbang untuk bisa mengungkap mereka jujur atau bohong. Karena bagaimanapun bahasa tubuh orang berkata benar dan berkata bohong tetap akan kelihatan bedanya.

Kurang lebih demikian, tips kali ini, mudah-mudahan bermanfaat dan mohon dengan sangat jika ada yang punya tips yang lebih jitu mbok ya di bagi-bagi.

Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Bisnis Koq Coba-Coba

April 9, 2008

Saya teringat pernah membaca sebuah artikel tentang penggunaan kata "coba" atau "try". Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa kata-kata "coba" merupakan kata ajaib yang kalau kita gunakan akan membuat kita merasa akan melakukan suatu action, dan pada sisi yang lain akan membuat kita menjadi punya excuses (alasan-alasan) kalau-kalau kita gagal melakukannya.

Dalam bisnis, misalnya kita mengatakan "Oke, saya akan COBA buka usaha voucher". Maka kita akan merasa sudah mulai melakukan tindakan untuk mencapai tujuan kita menjadi pengusaha voucher. Tapi bahayanya, kalimat tersebut memberikan instruksi kepada otak bawah sadar kita bahwa kita tidak akan berhasil membuka usaha voucher, lha wong coba-coba ini! Saat kita mulai membukan usaha voucher, otak kita sudah mempersiapkan excuse / alasan untuk gagal. "Paling tidak saya sudah MENCOBA".

Dalam artikel tersebut, penulis membuat percobaaan dengan menjatuhkan bolpen, kemudian meminta partnernya untuk MENCOBA mengambil bolpen tersebut. Setelah bolpen diambil, penulis mengatakan "Tidak, saya tidak meminta anda untukmengambil bolpen, saya hanya minta anda untuk MENCOBA mengambil bolpennya". Dan bolpen kembali dijatuhkan. Partnernya kembali menunduk dan tangannya mengambil bolpennya. Dan kembali diingatkan untuk tidak mengambilnya tapi hanya MENCOBA untuk mengambilnya.

Percobaan tersebut diulang sampai beberapa kali, sampai partnernya paham bahwa untuk MENCOBA adalah sama saja untuk TIDAK BERHASIL. Begitu si partner berhasil mengambil bolpen artinya dia tidak lagi mencoba, tapi sudah benar-benar mengambilnya dan berhasil (bukan ‘mencoba’ namanya).

Demikian juga dalam bisnis, begitu kita membuka lapak dan berjualan voucher, maka kita bukan lagi MENCOBA, tapi sudah benar-benar berbisnis. Sama seperti sinyal digital hanya 0 dan 1, tidak ada mencoba "0" atau mencoba "1". Yang ada hanya "action" dan "not action", bukan "try to action" dan "try not to action". Memang dengan menggunakan kata MENCOBA akan membuat kita nyaman, karena itu tadi, kita sudah mempersiapkan alasan untuk gagal sebelum kita memulai.

Nah, moral ceritanya, kalau kita sudah niat untuk berbisnis hindari kata-kata "coba". Karena otak kita akan memproses kata "coba" tadi secara berbeda, tidak seperti yang kita maksudkan saat kita mengucapkannya. Otak kita memproses sinyal "coba" tidak sama seperti proses logika bahasa. Secara tata bahasa memang logis menggunakan kata ‘coba’, tapi otak tidak bisa memproses gambaran ‘coba’ tadi. Yang terjadi malah membuat gambaran gagalnya.

Kalau kita sudah niat berbisnis, mulailah buat blue print dalam otak kita dengan gambaran-gambaran action yang berhasil, tidak perlu memperbesar gambaran-gambaran gagal berikut alasan-alasannya dengan mengucapkan kata-kata MENCOBA. Bisnis koq coba-coba.

Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

"Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!"


Masih Banyak Yang Bingung Bagaimana Memulai Usaha Sendiri

April 8, 2008

Saya masih sering mendapat email dan pertanyaan tentang bagaimana cara atau strategi untuk memulai usaha sendiri. Umumnya pertanyaan yang diajukan (khususnya lewat email) bersifat sangat umum dan tidak spesifik tentang kendala atau jenis kesulitan apa yang sebenarnya dihadapi.

Saya pikir sebenarnya jawabannya sudah ada di blog saya ini dan juga blog-blog rekan saya yang lain. Asumsi saya, yang bersangkutan belum (berkenan) membaca blog saya dari awal saya posting.

Banyak yang sudah saya jawab secara langsung, tapi belum ada yang memberi laporan atau balasan apakah benar-benar telah mau untuk segera memulai usaha atau jangan-jangan jawaban saya tetap dianggap angin lalu saja. :-( Mudah-mudahan sich pada langsung berani membuka usaha dan berjalan lancar.

Kalau dilihat rata-rata, kebanyakan yang berkeluh kesah tentang sulitnya memulai usaha adalah mereka yang sudah berstatus sebagai karyawan / pegawai. Kalau dirunut-runut, ujung-ujungnya sebenarnya bukanlah sulit untuk memulai usaha tapi takut untuk meninggalkan zona nyamannya. Hayoo ngaku aja.. he.. he.. he..

Akan sangat berbeda kondisinya dengan orang-orang yang memang tidak ada pilihan, yang memang kepepet untuk memulai usaha. Mereka tidak lagi banyak berpikir dan banyak perhitungan. Usaha adalah jalan hidup yang dipilihnya, bukan sebagai alternatif.

Bagi yang berstatus sebagai karyawan, menjalankan usaha sendiri masih dianggap sebagai alternatif dan masih dijadikan sebagai sambilan. Dan benar saja kalau diniatkan sebagai sambilan, hasilnyapun sambilan atau sambil lalu saja. Belum lagi munculnya rasa ragu-ragu dan bingung, kadang membuat langkah membuka usaha menjadi tidak sepenuh hati dan kurang optimal. Jangan khawatir, ragu-ragu dan bingung adalah pertanda bahwa Anda mulai siap untuk belajar berbisnis, asal jangan dipelihara bingungnya tapi tetap pelihara semangat mencari jawaban dan mencari solusi.

Bagi yang masih juga merasa kesulitan untuk memulai usaha, gali lagi tujuan Anda ingin membuka usaha. Cari alasan yang benar2 kuat sehingga usaha yang akan dijalankan benar2 akan menjadi usaha yang serius dan hindari mengatakan usahanya sebagai sambilan. Dan jangan lupa, baca-baca blog saya dari awal dan blog-blog rekan saya yang lain, banyak sekali panduan dan inspirasi yang bergizi.

Terus perbanyak silaturahim fisik / temu muka dan berdialog dengan orang yang sudah membuka usaha baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal (kenalan dulu tentunya). Kalau sudah ‘klik’ langsung ambil langkah pertama buka usaha, InsyaAlloh akan berkembang dan mudah-mudahan barokah. Bersiaplah untuk mengikuti, menjalani, dan menikmati proses yang panjang karena berbisnis bukanlah perkara instan yang bisa sim-sala-bim abra-kadabra.

Selamat berkarya, mohon maaf kalau email-email Anda yang serupa belum sempat saya balas :-)

Salam FUNtastic dan Merdeka!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Munculnya Kepercayaan dari Supplier

April 4, 2008

Saya dan siapapun yang sudah lama terjun di bisnis pasti mengakui betapa kepercayaan merupakan kunci sukses dalam berbisnis. Modal boleh minim, tapi kepercayaan tidak boleh minim. Kita bisa main-main dengan teknik pemasaran, tapi kita tidak bisa main-main dengan kepercayaan. Kalau strategi pemasaran kita jelek, bisa kapan saja kita perbaiki. Tapi kalau sekali saja kepercayaan tercoreng, habislah riwayat kita.

Untuk itu, sejak awal merintis bisnis harus kita niatkan untuk membangun reputasi / kepercayaan dan harus istiqomah menjaganya.

Saat awal merintis usaha dengan modal yang sangat terbatas, ingin sekali kami bisa mendapat barang dagangan sebanyak-banyaknya dengan modal yang sekecil-kecilnya. Salah satu caranya kita berharap dari suplier bisa ‘meminjamkan dulu’ barangnya dan bisa dibayar beberapa waktu kemudian. Tapi hampir semua suplier yang kami datangi selalu meminta bayar cash. Bahkan ada yang harus indent, uang sudah dibayar, barang baru dikirim beberapa hari / beberapa minggu kemudian.. puihh paittt… he.. he. he..

Karena yakin dan percaya bahwa berbisnis harus mengikuti proses, kami ikuti saja dulu kemauan suplier. Bayar cash kita ikuti, bayar indent kita turuti. Apalagi dengar informasi bahwa pasca krismon 98, pasar garment memang berubah, kalau dulu suplier senang diutangin, sekarang hampir semuanya minta bayar dimuka. Kalaupun ada yang mau ngutangin biasanya sedikit jumlahnya.

Setelah setahun setengah berjalan yang terjadi adalah, suplier juga manusia, mereka juga punya subyektifitas dan punya penilaian terhadap kita. Salah satunya ya itu tadi, mulai muncul rasa percaya dari suplier ke kita.

Nah kami kemarin juga mulai mendapat angin segar dari salah satu suplier. Barang-barang yang selama ini kami beli dengan cash keras, mulai boleh diambil dulu barangnya, bayarnya belakanganan. Alhamdulillah, sedikit meringankan arus kas toko.

Tapi saya sadar, tidak semua suplier bisa seperti itu. Ada yang tetap minta cash dan tetap ada yang maunya indent. Ya tetap saja kami turuti saja sebagai retailer yang baik.. he.. he.. he… Sekaligus tetap sebagai cara untuk membangun dan menjaga kepercayaan untuk jangka panjangnya. Sesekali perlu juga ‘tebar pesona’ kepada suplier agar posisi kita semakin dilirik :-)

Demikian, satu kemudahan dari salah satu suplier kami jelas merupakan amanah yang harus dijaga dan dipelihara. Bisa saja hal seperti ini menjadi ujian bagi kami, yang mudah-mudahan bisa menjadi batu loncatan untuk naik kelas lebih tinggi lagi.

Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Bagaimana Memilih Lokasi Usaha?

April 3, 2008

Beberapa minggu yang lalu Toko Addina kehadiran rekan dari TDA Bekasi yaitu Pak Dody. Kami berdiskusi seputar memulai usaha di kios atau toko. Ada satu pertanyaan yang masih terngiang dan masih terus terpikir yaitu bagaimana cara memilih lokasi untuk membuka kios?

Kalau kembali kilas balik saat pertama membuka kios Addina, saya tidak punya kriteria yang sistematis dalam memilih kios. Ketika saya dan istri saya sudah memutuskan untuk segera memulai usaha, saya hanya lihat-lihat dan menginventarisir kios-kios yang dikontrakkan di sekitar Pasar Perumnas Klender. Kemudian saya amati trafik di depan masing-masing kios. Dan dengan menggunakan feeling saya banding-bandingkan kios2 yang akan jadi target.

Baru kemudian setelah mantap dengan salah satu pilihan,saya tanya harga sewa dan nego dengan penyewa. Dengan pertimbangan: harga sewanya masuk dalam perhitungan, maka kamipun deal.

Untuk deal-nya sendiri, saya masih mencoba menawar untuk mendapatkan keringanan pembayaran. Maksudnya uang sewa tidak dibayar sekaligus, tapi minta di cicil dalam beberapa bulan. Akhirnya kami sepakat untuk mencicil dalam 3 bulan. Hal ini sangat meringankan pembayaran dan bahkan untuk bulan kedua dan ketiga, saya membayar sewa kios tidak murni dengan uang tabungan (modal awal), tapi sebagiannya bisa kami bayar dengan keuntungan penjualan bulan pertama dan kedua.

Memang untuk membuka toko off-line, lokasi fisik menjadi sangat penting. Karena kita benar-benar bergantung pada trafik dan kunjungan orang secara langsung. Semakin banyak orang yang lalu-lalang di sekitar kios, asumsinya akan semakin mudah menarik orang untuk masuk dan melihat-lihat ke toko kita (leads semaking besar).

Cuma, umumnya harga sewa lokasi yang strategis (yang trafiknya tinggi) berbanding lurus dengan harga sewanya. Padahal bagi pemula, modal biasanya masih terbatas sehingga bisa-bisa modal habis terpakai hanya untuk sewa. Kalau tidak ada kendala modal tentu saja lebih baik langsung mencari lokasi-lokasi yang sudah pasti ramai dan strategis.

Waktu pertama kali hunting kios. yang saya cari adalah lokasi yang terjangkau harga sewanya dan dekat dengan keramaian. Lokasi kios pertama saya, memang ada di dekat pasar perumnas Klender, tapi bukan berada di jalan utama, bukan di jalan yang trafiknya tinggi. Sehingga uang sewanya realatif lebih terjangkau.

Yang membuat kami beruntung, meskipun bukan berada di jalan besar, di sekitar kami belum ada toko sejenis / serupa, sehingga belum ada persaingan. Jadinya, sambil belajar kami bisa memanfaatkan keunggulan yang lain (selain lokasi) sebagai daya jualnya. Sehingga kami bisa mengoptimalkan penjualan.

Alhamdulillah usaha kami bisa berkembang, dan kami mulai memikirkan untuk pindah lokasi ke tempat yang lebih ramai setelah punya cukup modal dari keuntungan di kios pertama. Apalagi setelah munculnya pesaing di sekitar kami, maka keputusan kami untuk pindah ke ruko yang lebih besar kami nilai sangat tepat.

Oh ya saya ingat salah satu nasehat, untuk mencari lokasi jangan terpatok hanya pada keramaian jalannya, tapi perhatikan juga orang-orang yang lalu lalang tadi kira-kira mungkin atau tidak, mau berhenti dan mampir ke toko kita. Contohnya begini, ada calon pengusaha aksesoris motor, yang di cari tentu jalan yang trafik sepeda motornya ramai. Setelah dapat lokasi yang dianggap cocok, dibukalah toko aksesoris motor.

Berhari-hari setelah toko dibuka, penjualannya sangat kecil. Selidik punya selidik, ketahuan bahwa memang trafik pengendara motor di jalan itu sangat ramai. Tapi jarang yang mau berhenti karena mereka memang cuma lewat untuk pulang dan pergi kerja. Nah setelah dipindah tokonya ke lokasi lain, tokonya mulai maju. Karena berada di dekat perumahan dan tokonya justru ramai bukan oleh orang yang lalu lalang tapi memang orang yang benar-benar mau beli aksesoris dan mereka melakukannya di waktu-waktu luang (bukan dalam perjalanan pulang pergi ke kantor).

Kesimpulannya, untuk mengawali berjualan di toko atau kios, sesuaikan lokasi dengan target dan modal yang kita miliki. Kalau sudah berjalan dan menguntungkan, bersiaplah untuk pindah ke lokasi yang lebih besar dan lebih strategi. Tentu saja kesimpulan ini bukan patokan, hanya pengalaman saya pribadi. Mungkin pengalaman yang akan Anda peroleh akan berbeda dan unik, karena memang bisnis bukanlah ilmu pasti tapi boleh dibilang merupakan ketrampilan (skill) dan seni.

Salam FUNtastis & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”