Kita harus mengikuti perubahan, karena satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Familiar dengan pepatah ini?
Memang benar dan saya juga setuju kalau kita harus terus melakukan perubahan. Tetapi ternyata tidak semua orang bisa dengan mudah melakukan dan mengikuti perubahan. Ada yang bilang, orang tidak mau berubah karena sudah nyaman dan berada di comfort zone. Mereka takut keluar dari zona nyamannya, demikin yang diyakini sebagian orang.
Padahal kenyataannya banyak lho orang yang tidak berada di zona nyaman dan tidak juga mau berubah. Nah lho, gimana tuch??? Mungkin Anda bisa lihat di sekeliling Anda, banyak orang miskin yang hidupnya susah sekali, kemana-mana yang dibawa cuma keluhan. Mereka ingin berubah tapi tidak juga bisa. Apakah mereka berada di zona nyaman? Saya pikir tidak, karena instingnya baru pada tahap survival, hidup atau mati, begitu kira-kira. Nggak nyaman kan?
Terus kalau mereka tidak berada di zona nyaman, sudah ingin berubah, tapi koq nggak bisa, kira-kira kenapa ya? Bahkan dipaksa berubahpun, mereka akan mudah kembali pada kondisi sebelumnya. Atau jangan-jangan meraka sudah nyaman di zona tidak nyamannya?
Barangkali memang demikian, karena manusia (tepatnya otak manusia) suka sekali dengan pola yang teratur. Pola-pola yang teratur inilah yang membuat manusia terjebak pada kehidupan yang tidak diinginkan dan sulit berubah. Pola seperti ini membuat kita familiar dengan kehidupan kita sendiri. Dengan mengikuti pola yang familiar ini, otak bawah sadar kita selalu menerima sinyal bahwa kita aman dan benar-benar bisa survive, terbukti sampai saat ini masih hidup.
Pernah mendengar cerita bagaimana orang miskin yang tiba-tiba dapat undian dan mendadak kaya, tapi tidak lama kemudian jatuh miskin lagi. Ya otak dan neurologi mereka sudah familiar dengan kehidupan miskin, sehingga saat dipaksa jadi orang kaya (OKB) neurologi mereka belum familiar dan ujung-ujungnya kembali ke neurologi yang familiar yaitu pola kehidupan miskin.
Dalam bisnispun demikian, saat akan mengawali suatu usaha, sistem syaraf, pola pikiran, belief sistem dan neurologi kita belum familiar dengan dunia bisnis. Sehingga yang muncul adalah otak bawah sadar kita memproteksi diri kita untuk tetap di pola yang lama. Yang muncul dalam ucapan dan tindakan kita adalah “berbisnis itu sulit“, “berbisnis itu butuh modal banyak, sedangkan saya tidak punya modal“, “berbisnis itu gampang rugi, sayang uangnya hanya untuk gambling“, “mana bisa bisnis tanpa modal“, dll. Coba ingat-ingat, familiar dengan pikiran seperti itu?
Nah, agar kita siap memasuki dunia bisnis dan mau mulai mengawali suatu usaha, persiapkan dulu diri kita dengan neurologinya para pengusaha (pola pikiran, pola keyakinan, pola tindakan, dll). Caranya juga mudah dan banyak, bisa dengan belajar langsung kepada pengusaha lain (magang), ikut seminar / workshop, baca buku / artikel, atau langsung memaksa diri terjun berbisnis, dll.
Yang perlu diingat, otak kita bisa memproses suatu kejadian nyata dan kejadian khayalan dengan hasil yang sama. Ada yang bilang otak tidak bisa membedakan mana kejadian nyata dan mana kejadian khayalan. Untuk itu hal ini bisa kita manfaatkan dengan cara sering-seringlah berimajinasi dengan memvisualisasikan diri kita sudah punya toko, punya produk / jasa, punya karyawan, dan berimajinasi sedang mengelola usaha yang kita inginkan. Fokukskan pikiran dengan pertanyaan “Bagaimana saya bisa segera membuka usaha”. Dengan membiasakan hal seperti ini, otak dan neurologi kita akan menjadi familiar dengan dunia usaha.
Kalau sudah familiar, indra kita akan mudah menangkap peluang. Dan kalau sudah dapat gambaran suatu peluang, tibalah saatnya mengambil tindakan dengan cepat dan lebih percaya diri (InsyaAlloh).
Semoga bermanfaat
Salam FUNtastic & MERDEKA!!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll
“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
Ditulis oleh Fuad Muftie
Ditulis oleh Fuad Muftie
Ditulis oleh Fuad Muftie 
