Bisnis Koq Coba-Coba
Saya teringat pernah membaca sebuah artikel tentang penggunaan kata "coba" atau "try". Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa kata-kata "coba" merupakan kata ajaib yang kalau kita gunakan akan membuat kita merasa akan melakukan suatu action, dan pada sisi yang lain akan membuat kita menjadi punya excuses (alasan-alasan) kalau-kalau kita gagal melakukannya.
Dalam bisnis, misalnya kita mengatakan "Oke, saya akan COBA buka usaha voucher". Maka kita akan merasa sudah mulai melakukan tindakan untuk mencapai tujuan kita menjadi pengusaha voucher. Tapi bahayanya, kalimat tersebut memberikan instruksi kepada otak bawah sadar kita bahwa kita tidak akan berhasil membuka usaha voucher, lha wong coba-coba ini! Saat kita mulai membukan usaha voucher, otak kita sudah mempersiapkan excuse / alasan untuk gagal. "Paling tidak saya sudah MENCOBA".
Dalam artikel tersebut, penulis membuat percobaaan dengan menjatuhkan bolpen, kemudian meminta partnernya untuk MENCOBA mengambil bolpen tersebut. Setelah bolpen diambil, penulis mengatakan "Tidak, saya tidak meminta anda untukmengambil bolpen, saya hanya minta anda untuk MENCOBA mengambil bolpennya". Dan bolpen kembali dijatuhkan. Partnernya kembali menunduk dan tangannya mengambil bolpennya. Dan kembali diingatkan untuk tidak mengambilnya tapi hanya MENCOBA untuk mengambilnya.
Percobaan tersebut diulang sampai beberapa kali, sampai partnernya paham bahwa untuk MENCOBA adalah sama saja untuk TIDAK BERHASIL. Begitu si partner berhasil mengambil bolpen artinya dia tidak lagi mencoba, tapi sudah benar-benar mengambilnya dan berhasil (bukan ‘mencoba’ namanya).
Demikian juga dalam bisnis, begitu kita membuka lapak dan berjualan voucher, maka kita bukan lagi MENCOBA, tapi sudah benar-benar berbisnis. Sama seperti sinyal digital hanya 0 dan 1, tidak ada mencoba "0" atau mencoba "1". Yang ada hanya "action" dan "not action", bukan "try to action" dan "try not to action". Memang dengan menggunakan kata MENCOBA akan membuat kita nyaman, karena itu tadi, kita sudah mempersiapkan alasan untuk gagal sebelum kita memulai.
Nah, moral ceritanya, kalau kita sudah niat untuk berbisnis hindari kata-kata "coba". Karena otak kita akan memproses kata "coba" tadi secara berbeda, tidak seperti yang kita maksudkan saat kita mengucapkannya. Otak kita memproses sinyal "coba" tidak sama seperti proses logika bahasa. Secara tata bahasa memang logis menggunakan kata ‘coba’, tapi otak tidak bisa memproses gambaran ‘coba’ tadi. Yang terjadi malah membuat gambaran gagalnya.
Kalau kita sudah niat berbisnis, mulailah buat blue print dalam otak kita dengan gambaran-gambaran action yang berhasil, tidak perlu memperbesar gambaran-gambaran gagal berikut alasan-alasannya dengan mengucapkan kata-kata MENCOBA. Bisnis koq coba-coba.
Salam FUNtastic & Merdeka!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll
"Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!"


April 9, 2008 pukul 10:29 am
sekarang ini nyari modal awalnya yang susah
April 9, 2008 pukul 11:10 am
Pengusaha itu mesti punya sifat “problem solving”. Kalau ada masalah tidak cukup hanya mengeluh. Kalau kesulitan modal, berarti itu masalah pertama yang harus dihadapi. Semua pengusaha pasti mengalami masalah modal, hanya yang mau mencari solusi yang bisa maju.
Masalah-masalah lain menunggu untuk diselesaikan, bukan dikeluhkan doang.
Selamat berkarya
Fuad Muftie
April 10, 2008 pukul 8:16 am
Great post pak !! Judulnya menarik. Isinya amat inspiring.
April 10, 2008 pukul 8:41 am
Thank’s Pak Yodhia,
Ini termasuk kategori “small changes that make big difference”. Dengan mengubah / mengganti kata “coba” dlm statement kita, akan membuat perbedaan yg besar, setidaknya dalam otak (neurologi) kita.
Fuad Muftie
April 10, 2008 pukul 10:38 am
[...] agen.dan cara cara yang lainya, dan tulisan di bawah adalah tulisan yang saya copy dari Blognya Pak Fuat Mufti Saya teringat pernah membaca sebuah artikel tentang penggunaan kata “coba” atau [...]
April 11, 2008 pukul 8:39 am
Terimakasih sudah nge-ping balik ke tulisan saya, semoga bermanfaat dan sukses atas penjualan pulsanya.
Fuad Muftie
April 12, 2008 pukul 9:02 am
Teramat sangat menginspirasi pak..
ijin untuk menautkan feed dan materi ini ke blog saya
Salam sukses
April 16, 2008 pukul 10:14 am
coba2 utk serius bisnis..
itu yg aku lagi usahakan..
semoga gak gagal..
April 16, 2008 pukul 12:22 pm
@ Wahyunansyah
Terimakasih Pak, silahkan jika memang bermanfaat
@Orido
Maksudnya serius coba-coba gitu? Hati-hati otak kita tidak bisa coba-coba lho.
Terus koq berdoa “semoga tidak gagal” akan lebih baik kalau berdoa “semoga sukses”. Coba bandingkan dan rasakan…
Fuad Muftie
April 18, 2008 pukul 10:52 am
Betul pak ! Bisnis memang ga bisa coba-coba… ! (Walaupun sebenarnya saya awalnya coba-coba sih…
) Tapi justru dari coba-coba yang serius itu lah saya merasakan manfaatnya, sekarang usaha saya sudah mulai berjalan dan sedang berusaha meningkatkan usaha dengan membuka kios. Alhamdulillah saya bersyukur pada Allah atas semua karunia-Nya
April 18, 2008 pukul 5:09 pm
Terimakasih Bu Fika, mudah2an keinginan Anda untuk buka toko / kios bisa cepat terealisir dan usahanya bisa terus maju, berkembang, dan barokah.
Wassalam
FM
April 22, 2008 pukul 8:54 pm
Pak anda sd malang melintang di bisnis jilbab. Lbh menguntungkan mana : jilbab bermerk atau yg biasa2 aja? Sy pingin menekuni bisnis ini tp msh “takut2″.
April 23, 2008 pukul 8:04 am
Bu Titin
Menguntungkan tidaknya penjualan jilbab tidak hanya tergantung pada bermerk atau tidaknya produk jilbab. Banyak faktor lainnya yang mempengaruhi. Barangkali yang lebih menetukan adalah segment pasarnya.
Untuk kalangan tertentu, berjualan jilbab bermerk lebih menguntungkan. Tapi untuk kalangan yang lain berjualan jilbab bermerk malah tidak laku.
Kalau mau memulai, lebih baik sediakan jilbab bermerk dan yang tidak bermerk. Amati mana yang cepat laku. Kalau sudah kelihatan mana yang laku, perbanyak stoknya.
Ada juga segment tertentu yang lebih memilih jilban-jilbab tiruan, karena harga lebih murah. Bagi penjual, hal seperti ini bisa digunakan untuk menaikkan keuntungan. Misalnya jilbab bermerk margin keuntungan 30%, tapi jilbab tidak bermerk bisa lebih fleksibel kita tentukan marginnya sehingga berpeluang mendapat margin yang lebih tinggi misalnya 40%-50%.
Dengan kondisi demikian maka jilbab bermerk bisa digunakan sebagai pemancingnya dan penjualannya diarahkan pada jilbab tiruan sehingga margin yang kita peroleh lebih besar.
Semoga bisa membantu
Wassalam
Fuad Muftie
Juli 7, 2008 pukul 9:10 pm
Assalamualaikum.Pak muftie mo tanya dan minta saran.sy pengen sekali bikin usaha tapi tidak ada dukungan atau respon dr keluarga.percobaan sy jarang direspon bgs,membuat sy merasa malas untuk melanjutkan krn kurangnya dukngn.so sy hrs mnta bantuaan siapa
Juli 8, 2008 pukul 3:16 pm
Wa’alaikum salam Wr Wb
Bu Nunik, saya kurang paham tentang dukungan seperti apa yang Ibu butuhkan dari keluarga. Sangat relatif menurut saya. Spesifiknya seperti apa sich “dukungan atau respon” dari keluarga yang Ibu inginkan? Terus keluarga yang Ibu maksud itu siapa saja? Suami, anak, orang tua, saudara?
Kalau gitu saya berandai-andai saja ya. Misalnya keluarga membiarkan kita membuka usaha sendiri, tidak mengganggu, dan tidak menghalangi, saya pikir itu sudah merupakan dukungan tersendiri. Mungkin keluarga akan mendukung setelah Ibu terbukti bisa menunjukkan hasilnya. Makanya tunjukkan dulu hasilnya. Itu tugas Ibu yang pertama.
Saya sich selalu berpedoman kalau bisnis itu hanyalah “mind game”, siapa yang kuat mentalnya akan bisa menjadi pengusaha yang tangguh. Terus tugas seorang pengusaha adalah menyelesaikan masalah bukan menyalahkan masalah. Tugas Ibu mengelola diri Ibu sendiri menghadapi berbagai tantangan. Jangan banyak menuntut dari pihak luar, dari pihak eksternal.
Semoga bisa membantu.
FM