Dua hari yang lalu saya mendapat SMS dari seorang Ibu dari Kalimantan, begini bunyi SMS-nya:
“Asslm, pak sy punya usaha bj anak dipsr tp rencananya akan sy tutup krn sepi. apa tindakan sy tepat, mhn solusinya. wslm [Wt]“
Dua hari saya berpikir, jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan tersebut ya? SMS belum bisa saya balas. Saya tidak tahu persis bagaimana kondisi usaha Ibu Wt tersebut sehingga harus ditutup.
Keputusan menutup sebuah usaha memang berat. Kami pernah mengalaminya awal tahun ini, ketika kami ingin menambah jenis usaha dengan membuka toko makanan kecil. Tapi karena operasionalnya cukup memakan tenaga dan pikiran, sementara kami harus tetap memperhatikan toko busana muslim, maka toko makanan itu kami tutup dan hanya bertahan satu bulan.
Saat memutuskan untuk menutup memang terjadi perang batin dan adu argumen dengan keluarga (istri) saya, karena istri ingin sekali punya toko makanan. Yang kemudian membuat kami mantap untuk menutup adalah bukan karena kerugian yang kami dapati tapi kami jadi bisa fokus di toko busana muslim.
Berbeda dengan kondisi Ibu Wt, keinginan / keputusan untuk menutup usaha baju anak kemungkinan besar karena kurang menguntungkan. Cuma saya jadi berpikir, bukankah penjualan baju anak di pasar-pasar sangat menjanjikan. Setiap ada pasar pasti banyak penjual baju anak, karena memang pangsa pasarnya terus terbuka lebar. Apalagi siklus pembelian baju anak umumnya lebih sering dibanding baju dewasa. Nah kalau boleh saya menyarankan buat Ibu Wt, bolehlah dianalisa dan dicari pelajarannya kenapa sampai toko ibu sepi?
Apakah karena lokasinya yang kurang strategis, atau barangnya yang kurang lengkap, atau harganya yang kurang bersaing, atau pelayanan yang kurang sesuai dengan pasarnya, atau kurang serius (salah) menangani, atau faktor lainnya. Faktor eksternal ini bukan dicari-cari dengan maksud sebagai “kambing hitam” atau sebagai alasan pembenar untuk menutup usaha.
Jadikan hal-hal tersebut sebagai pelajaran dan bahan evaluasi, kira-kira masih bisa diperbaiki tidak. Kalau masih bisa diperbaiki, tidak ada salahnya bertahan sebentar Bu, mengingat sebentar lagi kan musim panennya usaha garment, yaitu bulan Ramadhan dan Iedul Fitri. Tentunya sambil terus lakukan pembenahan dan perbaikan.
Kalau dari hasil evaluasi Ibu, tetap pada keputusan untuk menutup usaha, pasti banyak pelajaran yang bisa Ibu petik. Yang terpenting lagi adalah bagaimana setelah usaha ditutup? Apakah akan berhenti berusaha, berganti jenis usaha lain, atau tetap menjual baju anak di tempat lain atau dengan cara yang lain yang berbeda.
Karena menurut Einstein “adalah kegilaan mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan usaha yang sama terus menerus”. Jadi kalau Ibu akan berpindah tempat atau berganti usaha, jangan ulangi cara / strategi yang sama. Harus ada cara / strategi yang berbeda yang lebih baik lagi. Misalnya kalau selama ini Ibu berjualan eceran, tidak ada salahnya menjajal untuk berjualan secara grosir atau semi grosir, atau malah jadi produsen sekalian. Atau kalau selama ini berjualan di Pasar, bagaimana kalau berjualan dari rumah, atau berjualan secara online.
Kemudian perlu juga buat Ibu untuk bisa terus menjaga semangat dan komitmen. Bolehlah usaha kali ini gagal, jadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk mencapai sukses berikutnya. Kegagalan hanyalah anak tangga untuk mencapai tempat yang lebih tinggi.
Semoga bisa membantu.
Wassalam
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Ditulis oleh Fuad Muftie
Ditulis oleh Fuad Muftie
Ditulis oleh Fuad Muftie 
