Penutupan Toko Baju Anak Di Pasar

Juli 25, 2008

Dua hari yang lalu saya mendapat SMS dari seorang Ibu dari Kalimantan, begini bunyi SMS-nya:

“Asslm, pak sy punya usaha bj anak dipsr tp rencananya akan sy tutup krn sepi. apa tindakan sy tepat, mhn solusinya. wslm [Wt]“

Dua hari saya berpikir, jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan tersebut ya? SMS belum bisa saya balas. Saya tidak tahu persis bagaimana kondisi usaha Ibu Wt tersebut sehingga harus ditutup.

Keputusan menutup sebuah usaha memang berat. Kami pernah mengalaminya awal tahun ini, ketika kami ingin menambah jenis usaha dengan membuka toko makanan kecil. Tapi karena operasionalnya cukup memakan tenaga dan pikiran, sementara kami harus tetap memperhatikan toko busana muslim, maka toko makanan itu kami tutup dan hanya bertahan satu bulan.

Saat memutuskan untuk menutup memang terjadi perang batin dan adu argumen dengan keluarga (istri) saya, karena istri ingin sekali punya toko makanan. Yang kemudian membuat kami mantap untuk menutup adalah bukan karena kerugian yang kami dapati tapi kami jadi bisa fokus di toko busana muslim.

Berbeda dengan kondisi Ibu Wt, keinginan / keputusan untuk menutup usaha baju anak kemungkinan besar karena kurang menguntungkan. Cuma saya jadi berpikir, bukankah penjualan baju anak di pasar-pasar sangat menjanjikan. Setiap ada pasar pasti banyak penjual baju anak, karena memang pangsa pasarnya terus terbuka lebar. Apalagi siklus pembelian baju anak umumnya lebih sering dibanding baju dewasa. Nah kalau boleh saya menyarankan buat Ibu Wt, bolehlah dianalisa dan dicari pelajarannya kenapa sampai toko ibu sepi?

Apakah karena lokasinya yang kurang strategis, atau barangnya yang kurang lengkap, atau harganya yang kurang bersaing, atau pelayanan yang kurang sesuai dengan pasarnya, atau kurang serius (salah) menangani, atau faktor lainnya. Faktor eksternal ini bukan dicari-cari dengan maksud sebagai “kambing hitam” atau sebagai alasan pembenar untuk menutup usaha.

Jadikan hal-hal tersebut sebagai pelajaran dan bahan evaluasi, kira-kira masih bisa diperbaiki tidak. Kalau masih bisa diperbaiki, tidak ada salahnya bertahan sebentar Bu, mengingat sebentar lagi kan musim panennya usaha garment, yaitu bulan Ramadhan dan Iedul Fitri. Tentunya sambil terus lakukan pembenahan dan perbaikan.

Kalau dari hasil evaluasi Ibu, tetap pada keputusan untuk menutup usaha, pasti banyak pelajaran yang bisa Ibu petik. Yang terpenting lagi adalah bagaimana setelah usaha ditutup? Apakah akan berhenti berusaha, berganti jenis usaha lain, atau tetap menjual baju anak di tempat lain atau dengan cara yang lain yang berbeda.

Karena menurut Einstein “adalah kegilaan mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan usaha yang sama terus menerus”. Jadi kalau Ibu akan berpindah tempat atau berganti usaha, jangan ulangi cara / strategi yang sama. Harus ada cara / strategi yang berbeda yang lebih baik lagi. Misalnya kalau selama ini Ibu berjualan eceran, tidak ada salahnya menjajal untuk berjualan secara grosir atau semi grosir, atau malah jadi produsen sekalian. Atau kalau selama ini berjualan di Pasar, bagaimana kalau berjualan dari rumah, atau berjualan secara online.

Kemudian perlu juga buat Ibu untuk bisa terus menjaga semangat dan komitmen. Bolehlah usaha kali ini gagal, jadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk mencapai sukses berikutnya. Kegagalan hanyalah anak tangga untuk mencapai tempat yang lebih tinggi.

Semoga bisa membantu.

Wassalam
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/


Belajar Dari Ikan Paus, Bagi Yang Margin Bisnisnya Tipis

Juli 18, 2008

Dalam hidup, kita harus mudah beradaptasi. Mahluk-mahluk hidup yang mampu beradaptasilah yang mampu bertahan dan survive. Banyak pelajaran dari alam semesta yang bisa kita ambil hikmahnya untuk kemajuan (survival) kita maupun kelangsungan usaha kita.

Kali ini saya teringat dengan kisah ikan paus. Dengan badan yang super duper besar dan raksasa, makanan ikan paus bukanlah binatang yang juga besar. Tidak seperti ular yang mangsanya besar-besar, sehingga sekali menangkap mangsa bisa untuk bertahan berminggu-minggu.

Makanan ikan paus adalah binatang mikroskopis (sangat kecil) yaitu plankton. Untuk mendapatkan plankton yang mencukupi sesuai kebutuhan hidupnya, ikan paus harus memasukkan berton-ton air laut ke mulutnya, kemudian disaring dengan giginya dan baru didapat segumpal plankton. Begitu seterusnya sampai mencukupi kebutuhannya.

Tapi ikan paus tidak pernah protes “Tuhan badan saya kan besar sekali, kenapa makanan saya harus kecil-kecil begini, kan repot memakannya”.

Dalam bisnis juga ada yang mirip-mirip ikan paus. Usahanya tampak besar tapi margin profitnya sangat-sangat kecil. Bagi yang usahanya demikian atau yang akan memasuki bisnis ber-margin tipis, tidak perlu berkecil hati dan ‘iri’ dengan jenis usaha lain. Karena ikan paus sudah mengajari kita ilmunya. Tidak usah juga mengeluh, karena ikan paus juga tidak pernah mengeluh, begitu kan?

Strategi ikan paus patut dicontoh, banyak-banyak memasukkan air (LEAD) ke mulutnya, untuk mendapat lebih banyak lagi plankton (PROFIT). Ditambah lagi ketekunan dan konsistensi InsyaAlloh akan membuat usaha kita terus membesar seperti besarnya ikan paus yang menari-nari di lautan biru (BLUE OCEAN) yang luas dan dalam.

Semoga bermanfaat

Salam FUNtastis & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


OOT: Metallica, Nostalgia, & Penyesalan

Juli 16, 2008

Pagi ini saya mendengarkan salah satu lagunya Metallica berjudul The Unforgiven. Tiba-tiba pikiran kembali melayang kembali ke masa SMA (SMU), kira-kira awal tahun 90-an ketika lagu The Unforgiven pertama kali saya dengar. Waktu itu saya hanya bisa dengar lewat radio, belum mampu beli kaset sendiri sich.

Kemudian baru bisa puas-puasin mendengarkan lagu-lagunya Metallica setelah dapat pinjaman kaset dari teman dan pinjaman tape recorder dari Saudara saya. He.. he.. he.. kembali terkenang masa-masa indah nan elit (ekonomi sulit) dulu. Kaset Metallica-pun saya dengarin bolak-balik sampai ‘gosong’ sebelum masa pinjamannya habiss… Pagi ini pun lagu The Unforgiven kembali saya putar berulang kali sambil bernostalgia sendiri mengingat masa-masa SMA di kota dingin Wonosobo Asri.

Saat pikiran kembali ke masa SMA, ternyata memori-memori yang lain waktu di SMA juga bermunculan. Ingat keisengan dan keusilan ala ABG, ingat guru galak, ingat teman-teman (Wahai teman-temanku dimana kalian sekarang??? daku cari-cari lewat mbah Google koq nggak ketemu??? jangan katrok-katrok dong, ngeblog kek.. he.. he.. he..), juga ingat aneka gaya nyontek, ingat ach… banyak dech..

Kalau lagi mengingat masa lalu, ada satu hal yang sering muncul beriringan, yaitu penyesalan. Menyesal begitu cepatnya waktu berlalu, menyesal belum banyak yang bisa diperbuat, dan menyesal tidak sungguh-sungguh waktu sekolahnya dulu. Ada lagi satu penyesalan saya yaitu sewaktu dalam kondisi elit dulu, kenapa saya mesti jaim ya :-( Padahal peluang usaha banyak berseliweran di depan saya. Wah mestinya bisa buat membantu ekonomi dan keuangan orang tua …

Coba kalau pengalaman berbisnis bisa saya asah sejak dari SMA dulu, mungkin ceritanya akan berbeda sekarang. Apalagi sekarang sering mendengar & melihat banyak anak-anak muda yang melejit menjadi entrepreneur muda yang sukses. Sungguh saya iri sama kalian :-)

Tapi namanya nasi sudah menjadi bubur, tinggal cari cakwe, daun seledri, kacang kedelai, kerupuk, jadilah bubur spesial. Alhamdulillah sekarang sudah melek dengan entrepreneurship. Tinggal dikembangkan terus InsyaAlloh. Tidak ada kata terlambat untuk kembali belajar… gitu kan?

Salam METAL…. & Merdeka!
Fuad Muftie
Alumni SMA Negeri 1 Wonosobo lulusan tahun 1992
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/


Hutang Itu Menghancurkan Bisnisnya

Juli 13, 2008

Sebuah misteri kecil akhirnya mulai sedikit terbuka. Adalah tentang salah satu toko di dekat tempat tinggal saya. Tadinya saya pikir toko tersebut sangat prospektif karena memiliki keunikan, produknya unik, harga yang menarik, segmennya juga unik, sudah bertahan hampir satu tahun, dan sudah punya pelanggan. Ditambah lagi pemilik toko tersebut ternyata juga sudah duluan punya toko lain di salah satu pusat grosir di Jakarta. Wah pokoknya saya salut dech…

Ternyata eh ternyata tiba-tiba toko-tokonya ditutup satu persatu. Alasannya karena pingin pulang kampung dan akan buka usaha di kampung halamannya. Proses penutupannya juga sangat mendadak dan barang-barangnya diobral habis. Tokopun di-over kontrak dengan harga miring.

Belakangan saya baru tahu, kemungkinan pemiliknya sedang terlilit hutang. Sebab ada debt collector dari salah satu Bank terkenal yang mendatangi eks toko yang disewanya, untuk menagih hutang tentunya. Tapi yang dicari sudah pindah. Sayang sekali harus menutup bisnisnya yang prospektif dan lari dari hutang :-(

Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Hutang memang alat yang sangat bermanfaat bagi perkembangan sebuah usaha. Tapi ibarat sebuah pisau, kalau tidak tahu jenis pisau dan cara menggunakannya, pisau bisa menjadi alat yang berbahaya dan mematikan.

Sudah banyak yang mengingatkan ada hutang baik dan ada hutang buruk. Secara sederhana dikatakan hutang baik itu hutang yang produktif untuk usaha, dan hutang buruk itu hutang konsumtif seperti kartu kredit. Dalam prakteknya tidak semudah dan sejelas hitam-putih seperti itu.

Banyak tawaran hutang untuk usaha, tapi sangat memberatkan. Ada yang memberatkan syaratnya, ada yang memberatkan bunganya. Yang jelas akan menjadi sangat berbahaya kalau kita tidak tahu sifat, manfaat, dan cara menggunakan pinjaman itu.

Bagi pemula bisnis seperti saya, masih banyak yang harus dipelajari dan dipahami dari sistem hutang apalagi hutang bank. Saya sendiri sempat mengalami kebingunan waktu mau mengambil hutang untuk modal pindah toko yang sekarang saya tempati.

Singkat cerita, untuk mendapatkan hutang usaha buat UKM, toko saya belum bisa memenuhi persyaratan yang diminta dan tidak ada keringanan dari Bank yang bisa saya peroleh :-( . Akhirnya saya menggunakan KTA dengan menyekolahkan Skep kerjaan saya di Bank BRI. Memang saya akui itu bukan cara yang ideal untuk mendapatkan hutang buat membesarkan usaha. Tapi itu karena sudah kepepet.

Alhamdulillah sampai saat ini, enam bulan cicilan masih bisa dibayar dari hasil usaha, sehingga gaji yang sempat dipotong untuk KTA Bank BRI masih bisa kembali utuh, setelah ditukar / ditutupi dari hasil usaha. Saya sendiri ingin sekali hutang KTA tadi bisa diover atau di-switch menjadi hutang usaha, tapi belum tahu caranya.

Pelajaran dari kasus di atas bagi saya adalah saya harus mulai melek dengan berbagai jenis hutang. Banyak faktor yang belum familiar bagi saya, tentang jenis dan perhitungan bunganya, tentang jenis-jenis hutang yang masuk kategori hutang baik, tentang mekanisme bagi hasil dari bank syari’ah, dan lainnya.

Beberapa waktu lalu, toko saya juga dikunjungi sales dari dua bank swasta nasional, menawarkan pinjaman usaha. Saya sendiri belum bertemu langsung dan belum mendapatkan penjelasan yang memadai. Cuma dari bahasa penawarannya memang sangat menjanjikan, apalagi bagi yang awam seperti saya.

Kembali bercermin dari runtuhnya toko tetangga saya, saya harus hati-hati dan harus bisa memastikan pinjaman yang saya peroleh nantinya adalah pinjaman yang tepat untuk membesarkan usaha.

Salam FUNtastic & Merdeka!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Bisnis Bertabur Doa

Juli 10, 2008

Awalnya saya agak ragu-ragu untuk menulis tema ini. Merasa bukan kapasitas saya. Tapi dengan niat untuk mengingatkan diri sendiri dan barangkali bermanfaat bagi pembaca, saya posting saja dech…

Sebenarnya ada yang lebih lengkap dan sudah ditulis oleh Pak Mukhlisin (Owner Raihan Jaktim) di postingan : Mengembangkan Bisnis Dengan Beriklan Di Bumi dan Di “Langit”. Dan saya sangat setuju bahwa pengaruh “Yang di Langit” terhadap bisnis yang kita jalani sangat-sangat besar. Dan faktor ini jarang dimasukkan sebagai salah satu faktor atau pilar dalam Pemasaran dan tidak pernah dicantumkan sebagai bagian dari Marketing Mix.

Ekstrimnya sich boleh dibilang, sistem pemasaran dan strategi promosi / iklan boleh bagus dan sudah teruji, tapi kalau Yang Di Atas belum mengijinkan, semua upaya kita akan memberikan hasil NIHIL. Setuju nggak? Tapi jangan dibalik lho, cuma doa doang tanpa usaha nyata ya sami mawon bin sama saja

Salah satu cara agar Yang Di Atas berkenan mengiklankan bisnis kita adalah melalui doa. Doa bisa kita panjatkan setiap saat, pada saat buka toko – baca doa, saat menunggu pelanggan – baca doa, saat toko ramai – baca doa, saat tutup toko – baca doa lagi, dan pastinya setiap selesai beribadah ingatkan untuk melantukan doa untuk bisnis kita. Hmmmm indah sekali bukan. Kalau setuju bahwa doa merupakan bagian dari Marketing, maka doa adalah upaya marketing yang paling murah dengan hasil yang duahsyat… sangat efisien dan efektif bukan?

Kalau sudah begini, bisnis bukan lagi menjadi urusan rugi – laba dan omset – profit doang. Bisnis menjadi bagian dari ibadah kita. Saya teringat pesan seorang ustadz, kalau kita memaknai ibada sebagai sholat saja, maka rugilah kita. Karena berarti usaha dan bisnis kita tidak dianggap sebagai ibadah. Kalau bisnis dan setiap aktifitas kita bernilai ibadah, bukanlah sesuatu yang indah, lengkaplah tabungan akhirat kita.

Oh ya mungkin kita merasa, doa kita kurang makbul, karena merasa banyak dosa. Jangan khawatir, kita bisa minta bantuan orang-orang yang doanya mustajab agar berkenan mendoakan bisnis kita. Caranya?…. kalau ada kelebihan rejeki, kunjungilah panti asuhan, panti jompo, atau orang yang kurang mampu. Doa mereka insyaAlloh didengar sama Yang Di Atas. Kemudian kalau bersilaturahim ke sahabat atau kerabat dan orang tua-orang tua kita, mintalah untuk ikut mendoakan bisnis kita. Juga sama anak-anak kita yang masih polos bilang saja “Doakan ya Nak, semoga jualannya laris”.

Yang terakhir jangan lupa, kalau ada waktu sempatkan untuk menulis di blog, dan mitalah agar para pembaca ikut mendoakan “Semoga Toko Addina semakin hari semakin laris, semakin besar, semakin menguntungkan, diberkahi Alloh SWT, dan bisa banyak memberi manfaat bagi pelanggan dan masyakat secara luas“. Aaaamiiiin

Salam FUNtastic & Merdeka.
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Pikiran pengusaha itu satu frekuensi

Juli 8, 2008

Hmm… tidak terasa sudah lama tidak nulis di blog. Beberapa kali mau nulis suatu ide, tahu-tahu saat blog walking, ide yang sama sudah ditulis rekan yang lain. Bahkan dengan uraian dan narasi yang lebih lengkap dan lebih mencerahkan. Rupanya memang benar ya kalau pengusaha itu pikirannya berada dalam frekuensi yang sama.

Jarang sekali ada debat pengusaha yang meruncing, dimana pengusaha yang satu beradu argumen dengan pengusaha yang lain tentang tema atau ide kewirausahaan (Maaf kalau saya salah). Berbeda kan dengan tema politik dan agama yang sering berujung pada permusuhan kalau terjadi perbedaan pendapat.

Makanya saya jadi berpikir, bagi yang baru mau buka usaha, samakan dulu frekuensi pikiran Anda dengan pikiran para pengusaha. Kalau ada Pengusaha yang bilang “Untuk (sekedar) memulai usaha, modal uang bukan faktor yang terpenting”, maka yakinilah dulu pernyataan pengusaha tadi. Cari segala macam alasan untuk membenarkan ide tadi. Tidak perlu menghabiskan energi dan pikiran untuk mendebatnya.

Bagaimanapun pengusaha tadi bilang begitu pasti ada alasannya. Dan Anda akan semakin yakin kalau benar-benar sudah berani memulai membuka usaha sendiri. Kalau toch tetap tidak setuju, ikuti saja ide pengusaha lain yang lebih meyakinkan Anda. Tapi jangan ikuti ide orang-orang yang belum terbukti mampu buka usaha sendiri.

Semoga bermanfaat

Salam FUNtastic & Merdeka!
Fuad Muftie
http://fuadmuftie.wordpress.com/