Sebuah misteri kecil akhirnya mulai sedikit terbuka. Adalah tentang salah satu toko di dekat tempat tinggal saya. Tadinya saya pikir toko tersebut sangat prospektif karena memiliki keunikan, produknya unik, harga yang menarik, segmennya juga unik, sudah bertahan hampir satu tahun, dan sudah punya pelanggan. Ditambah lagi pemilik toko tersebut ternyata juga sudah duluan punya toko lain di salah satu pusat grosir di Jakarta. Wah pokoknya saya salut dech…
Ternyata eh ternyata tiba-tiba toko-tokonya ditutup satu persatu. Alasannya karena pingin pulang kampung dan akan buka usaha di kampung halamannya. Proses penutupannya juga sangat mendadak dan barang-barangnya diobral habis. Tokopun di-over kontrak dengan harga miring.
Belakangan saya baru tahu, kemungkinan pemiliknya sedang terlilit hutang. Sebab ada debt collector dari salah satu Bank terkenal yang mendatangi eks toko yang disewanya, untuk menagih hutang tentunya. Tapi yang dicari sudah pindah. Sayang sekali harus menutup bisnisnya yang prospektif dan lari dari hutang
Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Hutang memang alat yang sangat bermanfaat bagi perkembangan sebuah usaha. Tapi ibarat sebuah pisau, kalau tidak tahu jenis pisau dan cara menggunakannya, pisau bisa menjadi alat yang berbahaya dan mematikan.
Sudah banyak yang mengingatkan ada hutang baik dan ada hutang buruk. Secara sederhana dikatakan hutang baik itu hutang yang produktif untuk usaha, dan hutang buruk itu hutang konsumtif seperti kartu kredit. Dalam prakteknya tidak semudah dan sejelas hitam-putih seperti itu.
Banyak tawaran hutang untuk usaha, tapi sangat memberatkan. Ada yang memberatkan syaratnya, ada yang memberatkan bunganya. Yang jelas akan menjadi sangat berbahaya kalau kita tidak tahu sifat, manfaat, dan cara menggunakan pinjaman itu.
Bagi pemula bisnis seperti saya, masih banyak yang harus dipelajari dan dipahami dari sistem hutang apalagi hutang bank. Saya sendiri sempat mengalami kebingunan waktu mau mengambil hutang untuk modal pindah toko yang sekarang saya tempati.
Singkat cerita, untuk mendapatkan hutang usaha buat UKM, toko saya belum bisa memenuhi persyaratan yang diminta dan tidak ada keringanan dari Bank yang bisa saya peroleh
. Akhirnya saya menggunakan KTA dengan menyekolahkan Skep kerjaan saya di Bank BRI. Memang saya akui itu bukan cara yang ideal untuk mendapatkan hutang buat membesarkan usaha. Tapi itu karena sudah kepepet.
Alhamdulillah sampai saat ini, enam bulan cicilan masih bisa dibayar dari hasil usaha, sehingga gaji yang sempat dipotong untuk KTA Bank BRI masih bisa kembali utuh, setelah ditukar / ditutupi dari hasil usaha. Saya sendiri ingin sekali hutang KTA tadi bisa diover atau di-switch menjadi hutang usaha, tapi belum tahu caranya.
Pelajaran dari kasus di atas bagi saya adalah saya harus mulai melek dengan berbagai jenis hutang. Banyak faktor yang belum familiar bagi saya, tentang jenis dan perhitungan bunganya, tentang jenis-jenis hutang yang masuk kategori hutang baik, tentang mekanisme bagi hasil dari bank syari’ah, dan lainnya.
Beberapa waktu lalu, toko saya juga dikunjungi sales dari dua bank swasta nasional, menawarkan pinjaman usaha. Saya sendiri belum bertemu langsung dan belum mendapatkan penjelasan yang memadai. Cuma dari bahasa penawarannya memang sangat menjanjikan, apalagi bagi yang awam seperti saya.
Kembali bercermin dari runtuhnya toko tetangga saya, saya harus hati-hati dan harus bisa memastikan pinjaman yang saya peroleh nantinya adalah pinjaman yang tepat untuk membesarkan usaha.
Salam FUNtastic & Merdeka!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll
“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Juli 14, 2008 pukul 10:40 am |
Mas, toko yang sebelah ambil aja, dengan keunikannya, kan tinggal nerusin brand dan imej yang dah dibangun tuh, Insya Allah menjanjikan
Juli 14, 2008 pukul 1:18 pm |
Pinginnya sich gitu Mas Anton, tapi tempatnya sudah diambil orang lain…
Thx.
FM
Juli 14, 2008 pukul 3:12 pm |
… Salam kenal ….,
“hutang baik …. hutang buruk”
Uang memang bukanlah modal utama. Uang memang sangat perlu untuk menjalankan usaha, apalagi untuk mengembangkannya. Tetapi kurang bijak kalo hanya mengandalkan uang.
Ini setidaknya pengalaman saya sendiri (mungkin tidak bagi orang lain) yang beberapa tahun lalu nekad menjalankan usaha dengan hanya bermodalkan uang. Untungnya uang tersebut bukan hutang, tapi uang tabungan beberapa tahun.
Dulu saya sempat membuat usaha peternakan ayam, yang pada saat itu belum tahu seluk-beluk bisnis tsb. Karena kurangnya pengetahuan akhirnya hanya bertahan setahun, dan akhirnya tutup.
Saat ini saya pengen masukan dari Pak Fuad dan juga reka-rekan lain, bagaimana langkah strategi untuk memulai suatu usaha. Karena saya saat ini baru menghimpun modal untuk memulai usaha lagi.
Kali ini saya pengen buka toko buku, alat tulis, alat kantor (ya semacam stationery .. gitu) + fotocopy. Kebetulan tempat tinggal saya dekat dg pasar & ruko, baru ada 1 tempat stationery+studio foto+fotocopy, tapi belum terlalu lengkap & fokus, lagi pula antrean pembeli kadang lama. Sewa ruko yang kecil skitar 2.5 juta/th.
Bagaimana saya mempersiapakannya ? (apakah harus survey dulu, cari rekanan, kumpulkan uang dulu, atau bagaimana)
Trimakasih,
Seno,
Juli 16, 2008 pukul 11:32 am |
bagus artikel serta pengalaman manambah wawasan bagi seorang untuk memulai usaha. dan lebih berhati2 dengan yg namanya utang. baik itu utang baik sekalipun.makasih ini sebagai bahan masukan bagi saya
Juli 16, 2008 pukul 3:28 pm |
@ seno
Terimakasih Pak Seno, telah berkenan berbagi pengalaman. Setidaknya pengalaman Pak Seno bisaya meyakinkan pembaca bahwa untuk memulai bisnis jangan terpaku pada tersedia atau tidaknya uang. Memang uang penting tapi bukan segalanya.
Mengenai bisnis fotokopi & stationary, sepanjang yang saya lihat & dengar, bisnis beginian peluang untungnya besar. Kalau menurut Pak Seno peluangnya ada dan terbuka lebar, cepat-cepat masuk Pak. Jangan nunggu lama-lama. Tinggal pikirkan strateginya.
Mungkin kalau sendiri tidak kuat, bisa ajak kerjasama orang lain. Yang jelas menurut saya kalau bisnis fotokopi yang penting service-nya. Fotokopian selalu ON, kalau ngadat ada cadangannya, hasil fotokopian jernih, cepat, rapih, syukur-syukur harganya lebih murah dibanding yang lain, paling tidak bersainglah…
Untuk persiapannya saya kurang paham Pak, mungkin bisa diawali dari mencari alat / mesin fotokopi yang pass untuk Pak Seno, menyewa toko / kios, dan mencari sumber pasokan kertas & stationary yg murah.
Atau bisa dipikirkan menjalin kerjasama dengan pengusaha fotokopi yg sudah jalan, Biasanya mereka lebih paham.
@ Dewi RIsma
Terimakasih Bu, mudah-mudahan bisa menajdi pelajaran buat kita semua.
Fuad Muftie
Juli 16, 2008 pukul 4:26 pm |
Trimakasih pak Fuad, atas masukannya.
Sangat saya pertimbangkan.
Oya Pak, kalo berkenan ceritain sdikit dong Pak waktu pertama kali buka toko ADDINA, maksud saya biar ada gambaran gimana cara mulai usaha.
Trimakasih,
Salam,
Seno
Juli 17, 2008 pukul 4:57 pm |
Pak Seno kalau mau tahu sejarah awalnya kami buka toko addina, sudah saya tulis koq di blok ini, boleh buka arsip yang bulan Nopember 2006 disitulah awal kami membuka usaha.
Semoga bisa menginspirasi.
FM
Juli 26, 2008 pukul 9:56 pm |
Assalamu’alaikum wr wb
“hutang baik dan hutang buruk ”
Sekedar untuk info ya om kata orang bijak kalau mau hutang di Bank yakinkan dulu deh kemampuan bayar kita. Kita lihat dulu hasil usaha kita flate setahun tu berapa.. karena Bank akan memproses pinjaman dengan melihat terlebih dahulu riwayat usaha kita minimal berpengalaman +/- 1 tahun, kemudian penghasilan/pendapatan usaha biasanya akan dinilai kemampuan bayarnya maksimal 60 – 75 % dari pendapatan bersih ( not take home pay ), terakhir adalah agunan, na yang ini disesuaikan dengan nilai pasar biasanya nilai kredit (pokok + bunga) adalah 80 % dari nilai likuidasi ( nilai jual cepat), but the important think is caracter ‘ bank nggak akan mau ngasih kredit jika caracter orang tu njlimet meskipun semuanya memenuhi syarat….. one more sekarang kan fasilitas KUR s/d 500 jt lho silahkan hubungi Bank yang mempunyai fasilitas tersebut …..Ok om sekedar tips mudah2an bermanfaat
Wassalamu’alaikum wr wb
Juli 28, 2008 pukul 7:35 am |
Wa’alikum salam Wr Wb
Terimakasih Banyak Mas Adhi, atas nasehat yg saya dapat Alhamdulillah saya masih mampu membayar cicilan dan tertutup dari hasil usahanya. Untuk sekarang memang masih dalam tahap membangun riwayat usaha.
InsyaAlloh saya cari informasi tentang KUR, mudah2an bisa memanfaatkannya.
Thank’s sooooo much…
Fuad Muftie
Nopember 24, 2008 pukul 7:37 pm |
saya rya..ada yang bisa Bantu? saya ingin mengajukan pinjaman multiguna sekitar 1-5 M..
saya punya management yang kuat dan ingin membuat mini apartment/ kost eksekutif..pemasarannyapun saya jamin laku keras..dan saya sudah terbiasa memanagerial suatu usaha, terbukti saya punya beberapa usaha sebelumnya, yang maaf tidak bisa saya sebutkan.
jika saya ingin mengajukan pinjaman, namun dengan agungan bangunan yang akan saya buat bagaimana, nanti ada perjanjian tertulis menrangkan bahwa sebelum dana dibayar 100 % plus bunga, maka bangunan akan memjadi milik penuh investor, dngan omset yang lebih dari nilai pinjaman. sedangkan hasilnya akan dibuat persentase bagi hasil yang tentunya memuaskan sampai dngan waktu yang tidak di tentukan walaupun pinjaman sudah lunas terbayar. dana tidak mencapai bertahun – tahun sudah bisa di kembalikan, plus bunga.
bagaimana?
tolong bagi peminat serius..hubungi saya
Ria 08111775448, 081932266262
rya_fina@yahoo.com
terimakasih
Nopember 25, 2008 pukul 2:01 pm |
Waduh pinjaman 1-5M ???? Kenapa nggak langsung berhubungan dg Bank ya??
Bisnis selalu ada dua sisi mata uang : ada peluang untung dan ada peluang rugi. Kalau terlalu yakin dengan keuntungan dan berani memberikan janji, saya koq malah sanksi ya? Tanya KenApa?
Wassalam
FM
Desember 2, 2008 pukul 6:33 pm |
syapa yang takut mas…klo maw bisnis itu butuh kerjasama yang kuat klo maw sukses,,,begitu..
bisnis saya yang prtama lancar2 aja tuh..nah ini ada rencana yang ke2 sebagai pengembangan..bagi hasil..1-5 M dikit kali mas…itu juga masih di bagi 2…selebihnya yang sekitar 7 M man lagi nanti saya yng nutup…
Desember 2, 2008 pukul 6:34 pm |
anda yang malah tidak bisa berbisnis…klo anda bisa mnelusuri knapa kita menghindari kredit bank..itulah kunci sukses anda…
Desember 3, 2008 pukul 10:51 am |
Syukurlah kalau usaha Anda sukses, dan saya juga setuju, untuk berbisnis harus ada kerjasama yang kuat dengan berbagai pihak yang terlibat. Dan kerjasama yang kuat selalu diawali dengan trust dan transaparansi tentang kedua sisi mata uang tadi yaitu : peluang dan potensi kerugian.
Untuk bisnis yang sukses tidak ada salahnya kan bekerjasama yang kuat dengan pihak Bank. Kredit bank bukan untuk dihindari tapi untuk dimanfaatkan. Simbiosis mutualisme gitu.
Alhamdulillah saya juga pakai bantuang Bank untuk membesarkan usaha saya. Dan selama ini berjalan lancar.
Sukses selalu buat usaha Anda semoga barokah.
FM
Desember 4, 2008 pukul 8:30 am |
Assalamu’alaikum wr wb
hutang……..saya pikir suatu hal yang bisa menumbuhkan semangat kerja kita ( itu kalau saya lho mas Fuad ) tapi ada baiknya sebelum hutang kita takar dulu kemampuan kita untuk membayarnya dan saran saya ajukan kredit di bank -bank pemerintah /bumn yang bunga pinjamanya kecil misal bri atau bni dan jugapengalaman saya dng bank tersebut jika kita ada sesuatu hambatan yang membuat kredit kita macet mereka menyelesaikanya dengan kekeluargaan ( ya sejuk lah ….tidak didatengin DC ) .pertimbangkanlah jumlah pinjaman yang efektif untuk usaha anda jangan berlebihan jika terjadi kemungkinan buruk /rugi, karena ini sebuah usaha bisa untung/rugi bahkan yang terburuk bangkrut jadi kalau anda betul2 kolaps tak perlu jual aset cukup hanya sewakan aset untuk menyelesaikan hutang kita .
blog nya sip deh mas bisa berbagi pengalaman …….pokoknya sebagai pengusaha kuncinya 1 Doa dan niat yang baik tapiiiiiiiiiiiii kita juga harus tau siapa yang mau berniat buruk hahahahhahahha……………………………………………….salam
Desember 4, 2008 pukul 12:03 pm |
Wa’alaikum salam Wr Wb
Hutang bisa menumbuhkan semangat kalau cicilannya masih dalam jangkauan kemampuan kita dan kita masih punya sisa dari keuntungan untuk dinikmati
gitu kan Pak?. Kuncinya tetap di kemampuan kita membayar dan usahakan jangan memaksakan diri mengambil kredit yang terlalu besar untuk kemampuan kita.
Mengenai Bank Pemerintah / BUMN, kebetulan saya juga beberapa kali ngambil kredit di ban-bank Pemerintah, Alhamdulillah selama ini tidak ada masalah, karena saya yang menyesuaikan diri sesuai kemampuan mencicilnya.
Memang sebagai pengusaha punya sifat sebagai pengambil resiko, termasuk resiko dari orang-orang yang berniat buruk. Paling tidak seiring jam terbang menjalankan usaha, akan mudah mendeteksi potensi2 resiko dan sudah bisa mengantisipasi obat-obatnya.
Wassalam
FM
Desember 27, 2008 pukul 7:45 pm |
sipp…. dua jempol bagi pengusaha muda indonesia. katanya mbah purdi CEO primagama, resiko=rejeki. siapa yang berani mengambil resiko berarti berani mengambil jatah rejeki yang sudah di berikan oleh Tuhan.
=====
[Fuad Muftie]
setuju, RISK => RIZQ => RIZQY => REJEKI
Dan memang semakin besar resikonya semakin besar peluang dapat rejeki yang besar dan melimpah. Jadi mari kita kelola resiko dalam usaha.
Januari 6, 2009 pukul 5:35 pm |
untuk mas fuad…memang bank bukan sesuatu yang harus di hindari..namun bagi sebagian orang memang harus di hindarinya karna apa..
usaha penuh resiko…penghasilan juga tidak selalu lancar kan..pasti ada saja kendalanya…nah bank adalah suatu lembaga keuangan yang tidak akan pernah bisa melihat kelemahan itu..baginya setelah jatuh tempo..ya harus bayar!..
nah kalau kita meminjam kepada orang per orang…pasti sama..tapi tentunya akan lebih ada keringanan…jadi selain kita bisa berbisnis hatipun terasa tenang…alias nggk terlalu kejar setoran…ada banyak kita kasih banyak..ada sedikit kita kasih sedikit…
alhamdulillah jika anda berhasil..namun masih banyak sekali diluar sana orang yang terlilit hutang bank…tentunya karna berbagai faktor…
dan tentunya juga…bank bukanlah solusi pertama…namun solusi kedua…
karna berhutang kepada bank..ibarat candu…hati2 bagi orang yang tidak mempunyai penghasilan tetap…namun bagi yang telah mempunya penghasilan tetap..ya nggak masalah
=====
[Fuad Muftie]
Terimakasih Mbak Rya anda telah mengingatkan kita untuk hati-hati. Pinjaman baik dari bank atau dari orang lain / pihak ketiga, tetap harus diperlakukan dengan hati-hati dan bijaksana. Ibarat pisau bisa kita pergunakan untk kebaikan atau keburukan. Hidup ini penuh pilihan dan pilihan mana yang akan diambil ada ditangan kita masing-masing.