Selalu ada Solusi dari Setiap Masalah

April 6, 2009

Satu hal yang sering dianalogikan bagi seorang pengusaha adalah ia sebagai problem solver atau pemecah masalah atau pembeli solusi. Karena justru dari kegiatan memberi solusi ini seorang pengusaha berhak menerima reward atau profitnya.

Ada orang yang tidak bisa menanam padi, tapi butuh makan, maka pengusaha memberinya solusi dengan menyediakan (mendatangkan dan menjual) beras. Sudah ada beras, tapi tidak sempat masak, maka pengusaha memberi solusi dengan menyediakan makanan cepat saji. Ada lagi orang yang ingin punya rumah, tapi tidak bisa membangunnya sendiri, maka si pengusaha membatu membuatkan rumah buat orang tadi dan menjualnya pada orang tersebut. Itu gambaran gampangnya.

Nah, lebih dalam lagi, dalam setiap aktifitas berusaha atau berbisnis, seorang pengusaha juga pasti akan menemukan masalah-masalah yang harus ia pecahkan. Entah masalah SDM, pemasaran, hubungan interpersonal, atau bahkan masalah dalam keluarga sendiri. Karena tanggung jawab atas ada-tidaknya solusi bagi setiap masalah dalam bisnis juga pasti kembali pada si pengusaha alias si business owner.

Makanya, salah satu nilai yang harus ditanamkan dalam diri seorang pengusaha adalah “semangat solusi” (mengambil istilah yang disampaikan Aa Gym). Semangat solusi ini tidak hanya dibutuhkan saat ada masalah, tapi sejak awal mula berniat membuka usaha dan selama dalam perjalanan mengembangkan dan memajukan bisnisnya, harus selalau ditekankan dan mengingatkan pada diri sendiri akan semangat solusi ini.

Bagi pengusaha pemula, ketika baru saja punya niat ingin punya usaha saja sudah banyak masalah. Mulai dari modal, suplier, barang / logistik, pemasaran, dll. Kalau memang sudah ada niatan, jangan sampai masalah tersebut tetap dianggap masalah, anda sendirilah yang bertanggungjawab untuk memecahkan masalahnya.

Seperti di blog saya ini, kalau ada kontes pertanyaan favorit, maka pemenangnya adalah pertanyaan tentang “saya ingin punya usaha, tapi tidak punya modal, bagaimana?” Itu memang masalah klasik Makanya bagi para calon pengusaha, itulah masalah pertama yang mesti diselesaikan. Kalau anda sudah bisa mengatasi masalah permodalan di awal dan tetap memegang prinsip semangat solusi, maka dalam perjalanan nanti apapun masalah yang datang akan dihadapi dengan tenang.

Semoga bermanfaat

Wassalam, Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
)|( Harapan itu masih ada….. )|(


Nggak Enaknya Kalau Cuma Investasi

April 2, 2009

Sebelumnya saya tidak ingin menggeneralisir tentang ‘investasi’. Investasi yang saya maksudkan disini sebatas pada penyertaan modal kita sendiri pada usaha orang lain.

Bagi kita yang sudah ingin sekali buka usaha, tapi belum menemukan usaha apa yang cocok dan belum ada keberanian untuk memulainya, sementara modal (dana) sudah ada, maka jalan investasi ini menjadi jalan yang mudah dan sepertinya menjanjikan.

Apalagi kita mendapat tawaran dari kerabat, saudara, atau teman sendiri tentang peluang usahanya dan kita sudah ditunjukkan hasil dari usahanya tersebut, kita akan mudah terpikat dan ingin cepat-cepat berinvestasi.

Ini juga terjadi pada diri saya dulu, saya ada modal tapi belum berani buka usaha sendiri. Maka biar uang tidak menganggur saya investasikan pada usaha teman saya yaitu konveksi pakaian adventure. Saya juga ditunjukkan bon-bon pembelian dan penjualannya, saya juga ditunjukkan pada stok barang yang ada di gudangnya.

Dengan perasaan yakin, saya investasikan beberapa juta rupiah, bahkan sudah dilakukan secara tertulis ada perjanjian bermaterainya. Dan memang dalam perjalanannya usahanya lancar, sayapun mendapatkan bagian keuntungannya. Tapi ternyata pada akhirnya modal tidak juga dikembalikan, dan ludes. Artinya dari investasi tersebut saya mendapatkan keuntungan yang lumayan, tapi modal amblas :(

Bisa menikmati profit tapi tidak bisa menikmati break even point atau balik modalnya.

Yang kedua beberapa waktu lalu saya juga diminta untuk menolong salah satu teman yang sedang kesulitan dana tapi sudah ada order untuk membuat suatu produk. Pertama-tama sich cuma pinjam uang, dan dikembalikan dan meminta maaf belum bisa ngasih bagian keuntungan karena profitnya tipis.

Sekali pinjam, berikutnya teman saya minta saya ikut menaruh modal dan dijanjikan bagi hasil 50:50 dari keuntungan bersih. Karena pengalaman dulu, saya bersedia tapi saya batasi jumlah penyertaan modalnya. Sedikit saja, biar kalau ada apa-apa tidak terlalu besar kerugiannya.

Dan benar saja setelah beberapa minggu, sampai hari ini belum ada pertanggunjawabannya, belum ada pembagian hasilnya, belum ada pengembalian modalnya. Untungnya cuma investasi dikit, he.. he.. he..

Moral ceritanya, kalau kita cuma manaruh modal pada usaha orang lain, tanpa kita diberi kewenangan atau kontrol atas usahanya tersebut, siap-siap saja modal tidak teralokasi dengan baik. Yang ideal memang menginvestasikan pada usaha yang sudah mapan, yang sistemnya sudah terstruktur dengan rapi, sehingga meskipun kita tidak diberi kontrol pada usahanya, kita bisa membaca laporan-laporannya dengan pasti.

Apalagi menginvestasikan pada usaha perseorangan seperti yang saya lakukan diatas, sebisa mungkin sebelum kita menginvestasikan, kita bisa ajukan penawaran untuk ikut mengelola usahanya atau setidaknya bisa ikut mengontrol pergerakan dananya. Sehingga kita bisa ikut menikmati enaknya berinvestasi.

Semoga bisa berinvestasi dengan bijak.

Wassalam, Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie

© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”
)|( Harapan itu masih ada….. )|(