Tergelitik oleh komentar salah satu pengunjung blog saya di posting ini, saya jadi ikut mikir-mikir, apa memang bisa dan memungkinkan kalau tiap orang mau buka usaha bisa langsung sukses, berhasil, dan nggak pakai gagal segala.
Baca dulu komentarnya:
“SAYA PIKIR BUKA USAHA ITU SANGAT MUDAH ASAL ADA MODAL YANG MENDUKUNG DAN SEDIKIT KETRAMPILAN TAPI UNTUK USAHA TERSEBUT BISA JALAN OTOMATIS MEMBERIKAN OMSET YANG MENGUNTUNGKAN TIAP HARINYA BISA UNTUK MENCUKUPI KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN BISA UNTUK MENYISIHKAN UNTUK MENABUNG ITU SANGAT SULIT DI WUJUDKAN
DAN KENAPA KEBANYAKAN ORANG YANG TELAH BERHASIL MENDIRIKAN USAHA YANG TELAH SUKSES, SAAT DIA MEMBUKA UASAHA LAGI KEBANYAKAN KOK BERHASIL
SEPERTI WARALABA-WARALABA SEPERTINYA KOK JALAN TERUS SEPERTI ADA RUMUS ANTI GAGAL
ADAKAH RUMUS BAGI PEMULA ATAU YANG PUNYA MODAL KECIL BISA YAKIN SEPERTI WARALABA TERSEBUT”
Yang terpikir oleh saya justru keyakinan seperti inilah yang membuat kita sulit untuk maju. Salah satu keyakinan dasar yang mesti diyakini bagi pemula seperti kita adalah bahwa membuka dan menjalankan usaha itu memang punya potensi untuk sukses tapi itu perlu PROSES.
Kalau sampai dalam diri kita muncul keyakinan bahwa usaha itu mudah asal ada modal, biasanya karena kita melihatnya yang instan-instan, yang sudah jadi, dan yang orang lain raih yang tampak seperti kesuksesan sesaat saja. Kita melihatnya hasil akhir berupa kesuksesan orang lain, kita tidak tahu bagaimana proses detailnya. Dan memang kecenderungan orang sukses akan menceritakan kisah suksesnya, dengan sedikit menceritakan detail-detail kegagalannya. Karena kita sendiri juga tidak akan senang kalau banyak-banyak mendengar cerita gagal kan?
Makanya sering disampaikan oleh para pengusaha agar kita siap menjalani PROSES-nya dan siap menikmati PROSES-nya, baik itu proses gagal (sementara) maupun proses menuju suksesnya. Dan namanya juga proses pasti butuh waktu, kita harus sabar dengan proses tersebut. Dan kita juga mesti bisa menikmati semua kejadian-kejadian dalam setiap prosesnya. Karena gagal dan sukses hanyalah status sementara, yang abadi adalah prosesnya.
Mirip-mirip seperti film bioskoplah, kalau baru saja mulai tokohnya langsung bisa mematikan penjahat, tentu filmnya jadi tidak seru. Yang menjadikan film itu menarik adalah prosesnya dari awal sampai akhir bagaimana si tokoh jatuh dan bangun sampai bisa menang.
Sama juga halnya dengan tumbuh-tumbuhan disekitar kita, bijih ditanam tidak langsung tumbuh jadi pohon besar. Biji yang keras, harus memecah dirinya sendiri agar daun bisa muncul dan akar bisa menancap. Mungkin kalau kita jadi benih kita juga akan merasakan bagaimana sakitnya memecah dan membelah diri sendiri. Belum lagi setelah tumbuh daun, si pohon akan terkena terpaan angin, gangguan mahluh hidup lain, jamur, parasit dll. Semua harus dijalani untuk bisa tumbuh jadi besar.
Mirip-mirip juga dengan bayi yang baru lahir, berbulan-bulan hanya bisa pasrah, harus belajar guling-guling, belajar merangkak, jatuh bangun, baru kemudian bisa berjalan, dan berlari. Sudah bisa jalanpun masih harus tersandung, terpeleset, dan terbentur sampai benar-benar bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Sudah sering disampaikan oleh para mentor agar fase awal membuka usaha itu bisa dijadikan sebagai fase untuk belajar. Seperti kita kecil dulu, mau nurut belajar dari TK, SD, SMP, SMU, Kuliah, dst. Semua proses tersebut selalu butuh biaya dan pengorbanan, dan kita belum bisa langsung memetik profitnya.
Kalaupun di awal-awal usaha kita bisa mendapat profit, sebisa mungkin profit tidak dihabiskan untuk konsumsi. Sebagian mesti dihemat buat kita simpan, kita kumpulkan, dan putar kembali untuk mengakumulasi modal. Pastinya agar usaha bisa terus tumbuh, membesar, dan tidak layu. Selain itu di fase awal juga kita gunakan untuk membangun basis pelanggan. Usaha tanpa pelanggan sama saja seperti ular sanca. Hari ini bisa makan, sebulan kemudian kita terus puasa, sambil berburu mangsa berikutnya. Kalau punya basis pelanggan yang kuat, sama saja kita punya kran yang terhubung dengan pipa dari mata air, air akan terus mengalir.
Perlu juga diawal-awal usaha, kita jadikan sarana membangun sistem. Kita rapikan pembukuan, kita permak dan terus kita upgrade toko, kios, atau webstore kita. Kita didik staff dan karyawan kita. Begitu seterusnya agar usaha bisa jalan lancar dan tidak terus menerus memusingkan kita. Kita perbaiki cara kerja usaha kita juga sistem pemasarannya. Kalau saja tiap hari kita bisa meningkatkan 0.1% maka setahun usaha berjalan usaha kita sudah berkembang 36%.
Dan yang penting lagi di awal-awal membuka usaha kita usahakan bisa mendapatkan bagaimana feel atau jiwa sebagai pengusaha. Biasanya orang mengatakan “jiwa bisnis”. Dan umumnya calon entrepreneur sering mengeluh takut membuka usaha karena tidak punya jiwa bisnis. Ya memang harus mulai dulu dan belajar dulu baru dech ketemua jiwa bisnisnya.
Kebiasaan kita memang cuma mau melihat hasil akhirnya. Seperti komentar tadi “SEPERTI WARALABA-WARALABA SEPERTINYA KOK JALAN TERUS SEPERTI ADA RUMUS ANTI GAGAL”. Sebenarnya waralaba awalnya juga tidak langsung jreng abrakadabra jadi seperti ini. Pasti telah melalui tahapan proses metamorfosa. Kita lihat enaknya sekarang, tapi siapa yang tahu bagaimana perjuangan si pemilik waralaba dulu di awal usahanya. Ingat saja cerita awal mula Kolonel Sanders membangun KFC, bagaimana Kolonel menawarkan resepnya dari restoran ke restoran, dan dari penolakan ke penolakan.
Saya selalu ingat nasehat Pak Hadi Kuntoro yang mengatakan bahwa “kesulitan-kesulitan yang anda hadapi sekarang, akan menjadi kenangan indah di masa depan”. Dan memang benar kan, coba anda ingat-ingat lagi kesulitan yang anda hadapi di waktu SMP dulu. Bukankah sekarang telah menjadi kenangan indah, yang kalau mengenangnya membuat kita senyum-senyum sendiri.
Jadi bolehlah dipikirkan lagi, baru berapa lama kita masuk di bisnis ini. Anggap saja sekarang anda sedang menanam bibit. Jangan buru-buru ingin memetik bunganya dan buru-buru ingin memetik buahnya. Ikuti proses tumbuhnya benih tersebut. Dan yakinlah ada waktunya nanti untuk memetik hasilnya.
Yang lebih penting lagi bagi pemula bisnis seperti kita, bahwa bisnis kadang tidak bisa dihitung secara matematis. Dalam bisnis tidak selalu 1 + 1 = 2. Sudah sering dan banyak yang membuktikan di bisnis 1 + 1 bisa jadi 4 bisa jadi 10 dan seterusnya. Prinsip bisnis yang perlu diingat dalam bisnis adalah kita harus selalu memberi nilai tambah dalam bisnis kita. Jadi rumusnya malah jadi 1 + 1 – 1 = 5 siapa yang tahu?
Selain itu faktor-faktor diluar kendali kita perlu juga diperhitungkan. Faktor spiritual misalnya. Seperti nasehat para alim ulama bahwa semakin banyak memberi kita akan banyak menerima juga. Dan ingat bahwa dari hasil jerih payah kita juga melekat hak orang lain, yang harus kita sisihkan, kita bersihkan, dan kita berikan pada yang berhak. Makanya dari hasil usaha kita jangan semuanya kita konsumsi, harus juga disalurkan zakat dan shodaqohnya. Dan yakinlah itu akan menambah dan memperlancar rejeki kita.
Sering sekali diceritakan oleh Ustadz Yusuf Mansur mengenai jamaahnya yang mengalami perubahan cepat dalam taraf hidupnya setelah memperbanyak infaq, shodaqoh, dan zakatnya. Ada yang sudah kehabisan modal dan banyak hutang, kemudian justru diminta untuk mensedekahkan sisa-sisa harta yang dimiliki. Setelah itu terjadilah titik balik dan perubahan drastis. Jadi kalau sedang kehabisan modal, sedekahlah. Sudah banyak yang membuktikan “the power of giving”, banyak zakat dan sodaqoh banyak mendatangkan rizki yang berlimpah.
Maaf kalau jadi kayak ceramah, ini tulisan spontan saja setelah membaca komentar diatas. Intinya kalau mau enak-enakan di bisnis, ya tunggu waktunya, itu nanti. Kalau semua orang yang mulai bisnis bisa langsung untung besar semua, ya pasti tidak akan ada yang mau jadi karyawan. Semua pasti jadi pengusaha, itu sama saja membuat ketidakseimbangan alam. Dan justru kekuatan kita melewati kesulitan dan mengubahnya menjadi keberhasilan adalah penghargaan yang tak ternilai harganya bagi seorang pengusaha.
Yang terakhir buat anda yang sedang mengalami kesulitan, perbanyaklah tali silaturahim. Datangilah para pengusaha di sekitar anda. Carilah mentor yang terdekat yang bersedia dan berkenan membimbing anda, memberi support, dan memberi masukan buat Anda. Atau bergabunglah dalam kelompok-kelompok mastermind atau klub pengusaha atau kelompok-kelompok semacamnya, yang akan menjadi katalisator kemajuan usaha Anda.
Semoga bermanfaat dan semoga bisa membantu banyak orang.
Salam FUNtastic & Merdeka!
© 2009, http://fuadmuftie.wordpress.com/
Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll
“Benahi diri, Bangkitkan Indonesia, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Mei 16, 2009 pukul 12:18 pm |
artikelnya bagus dan memotivasi,
Salam
Kuli di qatar
Mei 18, 2009 pukul 7:37 pm |
Artikelnya P.Muftie selalu menarik dan menginspirasi, bagaimana Pak.., biar bisa nulis seperti ini, saya juga belajar membuat blog, tapi masih sulit bisa menulis yang menarik, bagi-bagi tipsnya dong pak…!!
Mei 20, 2009 pukul 5:47 pm |
Tulisan yang bagus, saya feed di blog saya, semoga bermanfaat
Mei 21, 2009 pukul 2:33 pm |
hehe memang motivasi itu penting pak, tapi emang dasarnya nggak punya jiwa bisnis gimana memulainya yaa….( keinginan sih selaku ada
Mei 22, 2009 pukul 12:02 am |
Assalamualaykum pak! apa kabar?
Lama sekali saya ga mampir ke blog bapak. kalau 7 bulan lalu saya bingung dengan jenis usaha tapi kemudian saya terapkan saran2 bapak,Alhamdulillah sedikit demi sedikit usaha saya terus ada peningkatan. dari mulai menumpang di kios teman terus sekarang sudah sewa kios sendiri. dan benar apa kata ust.yusuf mansyur dengan banyak sedekah keajaiban2 akan muncul dengan sendirinya,dan saya sudah mengalami sendiri bagaiman Allah memperlancar rizki saya.
Wassalam
Juni 4, 2009 pukul 9:53 pm |
Artikel yg menarik. Modal utama tentu saja kreativitas dan mindset kita dalm menghadapi segala persoalan
Juni 8, 2009 pukul 1:29 pm |
Tulisan pak fuad muftie ini selalu menginspirasi saya. Diawal-awal usaha saya sekitar 5 bulan yg lalu saya masih belum menemukan arah usaha mikro saya ini mau kemana. Alhamdulillah saat ini sudah menunjukkan sedikit perkembangan, malah sudah reformasi dr bentuk semula.
Trimakasih ya pak….betul kata bapak, ternyata jiwa wirausaha itu bisa dipelajari melalui suatu proses. Saya kira jiwa wirausaha itu hanya untuk orang yg spesial terlahir dg jiwa bisnis.
Juni 9, 2009 pukul 1:31 am |
Salam bisis pak .
Saya seorang designer grafis di pecetakan dimedan. Saya bisa yakin apa yang bpk katakan setelah saya mencobanya tahap demi tahap, sehingga sampai saat ini saya bisa mempunyai pekerjaan sampingan yang memulai karir dengan Cetak foto digital dan Video Editor.
Kali ini saya ingin menyanyakan tentang bagaimana cara memesarkan usaha kita tanpa melalui internet atau radio ?
Karna target saya adalah mulai dari orang awam sampai ke atasnya lagi. Bukankah orang awam belum terlalu bijak dalam menanggapi website? apa lagi blog ..
Terima kasih pak..
Juni 10, 2009 pukul 9:15 am |
ada banyak kasus orang yg punya bnyk modal tapi tidak bisa membuka usaha alias bingung mau usaha apa. salam dari saya.
Juni 10, 2009 pukul 9:16 am |
saya juga pengusaha walau kecil-kecilan.
Juni 10, 2009 pukul 9:19 am |
gimana mas caranya gabung di TDA Community?
Juni 23, 2009 pukul 3:37 pm |
Ya gw setuju sama artikelnya. Today gw nekat beranikan diri nyewa kios di BTC dengan tanpa ada pengalaman dagang di mall.
Juli 9, 2009 pukul 3:48 pm |
terima kasih pa artikelnya sangat menyemangati bagi pembaca…saya juga sangat tertarik menjadi pengusaha
jilbab-shop.blogspot.com/2009/02/jilbab.html
Juli 19, 2009 pukul 11:02 pm |
Salamfuantastic, makasih artikelnya kembali memotivasi saya yang baru mulai usaha
Agustus 6, 2009 pukul 12:05 am |
Bagus, saya juga sedang merintis bisnis di bidang akuntansi, perpajakan dan auditing.
September 10, 2009 pukul 3:16 pm |
saya Seorang PNS, umur saya masih 24 tahun, sudah menikah dan istri sedang hamil, saat ini gaji saya berkisar 7 juta sebulan, saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di jakarta, istri saya orang bandung, kami berdua memiliki rencana untuk membuka suatu usaha di bandung, sehingga jika sudah jalan nanti saya ingin menekuni usaha saya itu saja, dan tidak lagi lelah dengan mutasi yang jauh jauh keluar jawa, saat ini kami sedang mengumpulkan modal, kira kira usaha apa yang tepat di jalankan di bandung? karena kami sama sekali tidak ada gambaran untuk mmebuka usaha apa, yang ada hanya semangat dan sedikit modal. jika ada yang punya saran mohon dibagi pada kami, terima kasih banyak
September 26, 2009 pukul 7:50 am |
Ass,Pak Fuad
Pak Fuad yang saya hormati,saya sangat tertarik dengan masukan-masukan serta saran-saran anda dalam dunia usaha :
Oh yah pak,saya ingin bertanya saya ingin buka usaha tapi saya binggung untuk mengatur waktu antara kerja dan usaha ( dagang ) ..??
1.kalau saya coba buka usaha namun tidak buka tiap hari karena di bagi waktu untuk kerja di kawatirkan sulit untuk cari pelanggan
2.kalau saya ingin bekerja sama dengan orang lain di kawatirkan juga akan merugikan saya dan menguntungkan orang lain ( mitra ),kebetulan saya pernah coba percaya sama orang tapi tidak punya tanggung jawabnya akhirnya meruhi.
sementara itu saja,mohon balasannya di reply juga ke email saya .trims
September 26, 2009 pukul 6:33 pm |
Usaha tidak selalu harus bermodal besar,contoh creatif:ada seorang membeli resep dan belajar pada penjual martabak yg enak(tapi di pinggir jalan) dg rp.500.000,- setelah bisa dia meng iklankan di koran Rp.100.000,- “dijual resep martabak dan praktek” Rp.500.000,-/org pesertanya lumayan ada 14 org ya sudah untung nah tanpa modal besar kan!!!!! terima kasih selamat mencoba ide2 kreatif………..
September 27, 2009 pukul 4:47 pm |
arie Berkata:
Juni 9, 2009 pukul 1:31 am | Balas
Salam bisis pak .
Saya seorang designer grafis di pecetakan dimedan. Saya bisa yakin apa yang bpk katakan setelah saya mencobanya tahap demi tahap, sehingga sampai saat ini saya bisa mempunyai pekerjaan sampingan yang memulai karir dengan Cetak foto digital dan Video Editor.
Kali ini saya ingin menyanyakan tentang bagaimana cara memesarkan usaha kita tanpa melalui internet atau radio ?
Karna target saya adalah mulai dari orang awam sampai ke atasnya lagi. Bukankah orang awam belum terlalu bijak dalam menanggapi website? apa lagi blog ..
Terima kasih pak..
[Fuad Muftie]
==========
Setidaknya Pak Arie sudah tahu target marketnya. Tinggal cari tahu bagaimana caranya target market tersebut punya awareness terhadap usaha Anda. Kira2 dimana mereka berkerumun, mencari informasi, dan berinteraksi. Maka berpromosilah di kerumunan tersebut.
langkah lain, mungkin bisa anda lakukan kerjasama dengan lembaga, institusi, organisasi, atau usaha yang sering mereka gunakan. Tentunya yang ada kaitannya dg usaha Anda. Misalnya kerjasama dengan pemilik gedung yang sering disewa untuk acara pernikahan, dg menyediakan layanan foto dan video shooting. Atau lakukan kerja sama dengan pengusaha catering yang sering melayani hajatan, sehingga anda bertindak sebagai bagian fotografi dan videonya.
Semoga bisa membantu
ass.. wr.wb.
saran mr.fm bukan hanya membantu arie tp juga membantu saya lho pak, soalnya sy satu nasib sama sdr arie, cuma beda tempat aja (medan – bekasi),hehe… terimakasih pak semoga anda tambah dipanjangkan umur dan diberi rezeki yang banyak.
buat sdr arie kalo boleh bagi2 pengalaman dan ilmu sama saya: santosa.budy@live.com soalnya saya masih belum banyak pengalaman dan ilmu.
Oktober 18, 2009 pukul 10:47 am |
ass,,,saya tinggal daerah pantura ,,skrg sy sdh mempunyai usaha berjualan sebako & pulsa elektrik,,sy msh ada keinginan mempunyai usaha lg,,tp bingung mo usaha apa lg mengingat sdh byk usaha di sini,,,tlg bantuanny ,,thankzzzz,,,,
November 8, 2009 pukul 1:43 am |
Terimakasih pak atas pencerahannya…
Salam kenal, saya adalah seorang PNS yang karena alasan penempatan dan mutasi pengen pindah kuadran, walaupun belum tahu kapan beraninya.
Oiya beberapa bulan yang lalu saya berniat mulai bisnis entah itu waralaba atau yang lainnya, saya ngambil kredit di sebuah bank 50jt selama 4 tahun. Terlalu banyaknya pertimbangan apa bisnis yang akan saya pada saat itu (dari beli emas batangan, main saham, beli sapi,sampe bisnis kaos “cakcuk”)
Pilihan saya yang pertama jatuh pada bisnis sapi secara tradisional di kampung (pake sistem paro-bagi hasil). Saya pake 1/5 duit hasil ngajukan kredit tadi. Kebetulan ada teman ortu yang bisa dipercaya buat ngrawat tuh sapi, walaupun akhir-akhir ini baru ketahuan kalau ternyata kita semua kena tipu sama makelar, dia bilang kalau pas beli dulu sapinya hamil 4 bulan ternyata pas sekarang diperiksakan ke dokter hewan ternyata sapinya mandul (nasib…nasib….)
Yang 4/5 bingung tadinya harus saya pakai buat apa… kadang pingin buat online trading, kadang pengen buat usaha yang real saja. Ditengah kebingungan saya ortu ngasih kabar kalo ada tetangga yang jual tanah (kondisi tanah darat, kosong, sekarang berupa kebun singkong) Saya mikir ya gapapalah toh tanah juga alat investasi yang bagus.
Daripada dipegang terus malah kepikiran untuk keperluan konsumtif (terus terang saya orangnya agak boros, kadang kepikiran juga uangnya saya pakai buat beli mobil aja tadinya, hehe)
Maaf ceritanya panjang banget, pertanyaan saya : Apakah langkah yang saya lakukan untuk memulai usaha tadi sudah tepat? terus langkah yang lebih baik lagi yang bisa saya ambil bagaimana? Terimakasih
November 8, 2009 pukul 5:17 pm |
wah….!! sayang banget kalo ada modal tapi kurang pemanfaatannya, sayang kl dana pinjaman di investasi ke tanah, permasalahanya kan kita harus tetap mengembalikan sejumlah dana pinjaman tersebut setiap bulannya, kenapa kita g manfaatin dana tersebut? banyak koq contoh yg bisa kita ambil untuk muterin dana tersebut..!! gitu aja dl, thx n salam kenal