Bisnis Koq Coba-Coba

April 9, 2008

Saya teringat pernah membaca sebuah artikel tentang penggunaan kata "coba" atau "try". Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa kata-kata "coba" merupakan kata ajaib yang kalau kita gunakan akan membuat kita merasa akan melakukan suatu action, dan pada sisi yang lain akan membuat kita menjadi punya excuses (alasan-alasan) kalau-kalau kita gagal melakukannya.

Dalam bisnis, misalnya kita mengatakan "Oke, saya akan COBA buka usaha voucher". Maka kita akan merasa sudah mulai melakukan tindakan untuk mencapai tujuan kita menjadi pengusaha voucher. Tapi bahayanya, kalimat tersebut memberikan instruksi kepada otak bawah sadar kita bahwa kita tidak akan berhasil membuka usaha voucher, lha wong coba-coba ini! Saat kita mulai membukan usaha voucher, otak kita sudah mempersiapkan excuse / alasan untuk gagal. "Paling tidak saya sudah MENCOBA".

Dalam artikel tersebut, penulis membuat percobaaan dengan menjatuhkan bolpen, kemudian meminta partnernya untuk MENCOBA mengambil bolpen tersebut. Setelah bolpen diambil, penulis mengatakan "Tidak, saya tidak meminta anda untukmengambil bolpen, saya hanya minta anda untuk MENCOBA mengambil bolpennya". Dan bolpen kembali dijatuhkan. Partnernya kembali menunduk dan tangannya mengambil bolpennya. Dan kembali diingatkan untuk tidak mengambilnya tapi hanya MENCOBA untuk mengambilnya.

Percobaan tersebut diulang sampai beberapa kali, sampai partnernya paham bahwa untuk MENCOBA adalah sama saja untuk TIDAK BERHASIL. Begitu si partner berhasil mengambil bolpen artinya dia tidak lagi mencoba, tapi sudah benar-benar mengambilnya dan berhasil (bukan ‘mencoba’ namanya).

Demikian juga dalam bisnis, begitu kita membuka lapak dan berjualan voucher, maka kita bukan lagi MENCOBA, tapi sudah benar-benar berbisnis. Sama seperti sinyal digital hanya 0 dan 1, tidak ada mencoba "0" atau mencoba "1". Yang ada hanya "action" dan "not action", bukan "try to action" dan "try not to action". Memang dengan menggunakan kata MENCOBA akan membuat kita nyaman, karena itu tadi, kita sudah mempersiapkan alasan untuk gagal sebelum kita memulai.

Nah, moral ceritanya, kalau kita sudah niat untuk berbisnis hindari kata-kata "coba". Karena otak kita akan memproses kata "coba" tadi secara berbeda, tidak seperti yang kita maksudkan saat kita mengucapkannya. Otak kita memproses sinyal "coba" tidak sama seperti proses logika bahasa. Secara tata bahasa memang logis menggunakan kata ‘coba’, tapi otak tidak bisa memproses gambaran ‘coba’ tadi. Yang terjadi malah membuat gambaran gagalnya.

Kalau kita sudah niat berbisnis, mulailah buat blue print dalam otak kita dengan gambaran-gambaran action yang berhasil, tidak perlu memperbesar gambaran-gambaran gagal berikut alasan-alasannya dengan mengucapkan kata-kata MENCOBA. Bisnis koq coba-coba.

Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

"Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!"


Masih Banyak Yang Bingung Bagaimana Memulai Usaha Sendiri

April 8, 2008

Saya masih sering mendapat email dan pertanyaan tentang bagaimana cara atau strategi untuk memulai usaha sendiri. Umumnya pertanyaan yang diajukan (khususnya lewat email) bersifat sangat umum dan tidak spesifik tentang kendala atau jenis kesulitan apa yang sebenarnya dihadapi.

Saya pikir sebenarnya jawabannya sudah ada di blog saya ini dan juga blog-blog rekan saya yang lain. Asumsi saya, yang bersangkutan belum (berkenan) membaca blog saya dari awal saya posting.

Banyak yang sudah saya jawab secara langsung, tapi belum ada yang memberi laporan atau balasan apakah benar-benar telah mau untuk segera memulai usaha atau jangan-jangan jawaban saya tetap dianggap angin lalu saja. :-( Mudah-mudahan sich pada langsung berani membuka usaha dan berjalan lancar.

Kalau dilihat rata-rata, kebanyakan yang berkeluh kesah tentang sulitnya memulai usaha adalah mereka yang sudah berstatus sebagai karyawan / pegawai. Kalau dirunut-runut, ujung-ujungnya sebenarnya bukanlah sulit untuk memulai usaha tapi takut untuk meninggalkan zona nyamannya. Hayoo ngaku aja.. he.. he.. he..

Akan sangat berbeda kondisinya dengan orang-orang yang memang tidak ada pilihan, yang memang kepepet untuk memulai usaha. Mereka tidak lagi banyak berpikir dan banyak perhitungan. Usaha adalah jalan hidup yang dipilihnya, bukan sebagai alternatif.

Bagi yang berstatus sebagai karyawan, menjalankan usaha sendiri masih dianggap sebagai alternatif dan masih dijadikan sebagai sambilan. Dan benar saja kalau diniatkan sebagai sambilan, hasilnyapun sambilan atau sambil lalu saja. Belum lagi munculnya rasa ragu-ragu dan bingung, kadang membuat langkah membuka usaha menjadi tidak sepenuh hati dan kurang optimal. Jangan khawatir, ragu-ragu dan bingung adalah pertanda bahwa Anda mulai siap untuk belajar berbisnis, asal jangan dipelihara bingungnya tapi tetap pelihara semangat mencari jawaban dan mencari solusi.

Bagi yang masih juga merasa kesulitan untuk memulai usaha, gali lagi tujuan Anda ingin membuka usaha. Cari alasan yang benar2 kuat sehingga usaha yang akan dijalankan benar2 akan menjadi usaha yang serius dan hindari mengatakan usahanya sebagai sambilan. Dan jangan lupa, baca-baca blog saya dari awal dan blog-blog rekan saya yang lain, banyak sekali panduan dan inspirasi yang bergizi.

Terus perbanyak silaturahim fisik / temu muka dan berdialog dengan orang yang sudah membuka usaha baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal (kenalan dulu tentunya). Kalau sudah ‘klik’ langsung ambil langkah pertama buka usaha, InsyaAlloh akan berkembang dan mudah-mudahan barokah. Bersiaplah untuk mengikuti, menjalani, dan menikmati proses yang panjang karena berbisnis bukanlah perkara instan yang bisa sim-sala-bim abra-kadabra.

Selamat berkarya, mohon maaf kalau email-email Anda yang serupa belum sempat saya balas :-)

Salam FUNtastic dan Merdeka!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Munculnya Kepercayaan dari Supplier

April 4, 2008

Saya dan siapapun yang sudah lama terjun di bisnis pasti mengakui betapa kepercayaan merupakan kunci sukses dalam berbisnis. Modal boleh minim, tapi kepercayaan tidak boleh minim. Kita bisa main-main dengan teknik pemasaran, tapi kita tidak bisa main-main dengan kepercayaan. Kalau strategi pemasaran kita jelek, bisa kapan saja kita perbaiki. Tapi kalau sekali saja kepercayaan tercoreng, habislah riwayat kita.

Untuk itu, sejak awal merintis bisnis harus kita niatkan untuk membangun reputasi / kepercayaan dan harus istiqomah menjaganya.

Saat awal merintis usaha dengan modal yang sangat terbatas, ingin sekali kami bisa mendapat barang dagangan sebanyak-banyaknya dengan modal yang sekecil-kecilnya. Salah satu caranya kita berharap dari suplier bisa ‘meminjamkan dulu’ barangnya dan bisa dibayar beberapa waktu kemudian. Tapi hampir semua suplier yang kami datangi selalu meminta bayar cash. Bahkan ada yang harus indent, uang sudah dibayar, barang baru dikirim beberapa hari / beberapa minggu kemudian.. puihh paittt… he.. he. he..

Karena yakin dan percaya bahwa berbisnis harus mengikuti proses, kami ikuti saja dulu kemauan suplier. Bayar cash kita ikuti, bayar indent kita turuti. Apalagi dengar informasi bahwa pasca krismon 98, pasar garment memang berubah, kalau dulu suplier senang diutangin, sekarang hampir semuanya minta bayar dimuka. Kalaupun ada yang mau ngutangin biasanya sedikit jumlahnya.

Setelah setahun setengah berjalan yang terjadi adalah, suplier juga manusia, mereka juga punya subyektifitas dan punya penilaian terhadap kita. Salah satunya ya itu tadi, mulai muncul rasa percaya dari suplier ke kita.

Nah kami kemarin juga mulai mendapat angin segar dari salah satu suplier. Barang-barang yang selama ini kami beli dengan cash keras, mulai boleh diambil dulu barangnya, bayarnya belakanganan. Alhamdulillah, sedikit meringankan arus kas toko.

Tapi saya sadar, tidak semua suplier bisa seperti itu. Ada yang tetap minta cash dan tetap ada yang maunya indent. Ya tetap saja kami turuti saja sebagai retailer yang baik.. he.. he.. he… Sekaligus tetap sebagai cara untuk membangun dan menjaga kepercayaan untuk jangka panjangnya. Sesekali perlu juga ‘tebar pesona’ kepada suplier agar posisi kita semakin dilirik :-)

Demikian, satu kemudahan dari salah satu suplier kami jelas merupakan amanah yang harus dijaga dan dipelihara. Bisa saja hal seperti ini menjadi ujian bagi kami, yang mudah-mudahan bisa menjadi batu loncatan untuk naik kelas lebih tinggi lagi.

Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Bagaimana Memilih Lokasi Usaha?

April 3, 2008

Beberapa minggu yang lalu Toko Addina kehadiran rekan dari TDA Bekasi yaitu Pak Dody. Kami berdiskusi seputar memulai usaha di kios atau toko. Ada satu pertanyaan yang masih terngiang dan masih terus terpikir yaitu bagaimana cara memilih lokasi untuk membuka kios?

Kalau kembali kilas balik saat pertama membuka kios Addina, saya tidak punya kriteria yang sistematis dalam memilih kios. Ketika saya dan istri saya sudah memutuskan untuk segera memulai usaha, saya hanya lihat-lihat dan menginventarisir kios-kios yang dikontrakkan di sekitar Pasar Perumnas Klender. Kemudian saya amati trafik di depan masing-masing kios. Dan dengan menggunakan feeling saya banding-bandingkan kios2 yang akan jadi target.

Baru kemudian setelah mantap dengan salah satu pilihan,saya tanya harga sewa dan nego dengan penyewa. Dengan pertimbangan: harga sewanya masuk dalam perhitungan, maka kamipun deal.

Untuk deal-nya sendiri, saya masih mencoba menawar untuk mendapatkan keringanan pembayaran. Maksudnya uang sewa tidak dibayar sekaligus, tapi minta di cicil dalam beberapa bulan. Akhirnya kami sepakat untuk mencicil dalam 3 bulan. Hal ini sangat meringankan pembayaran dan bahkan untuk bulan kedua dan ketiga, saya membayar sewa kios tidak murni dengan uang tabungan (modal awal), tapi sebagiannya bisa kami bayar dengan keuntungan penjualan bulan pertama dan kedua.

Memang untuk membuka toko off-line, lokasi fisik menjadi sangat penting. Karena kita benar-benar bergantung pada trafik dan kunjungan orang secara langsung. Semakin banyak orang yang lalu-lalang di sekitar kios, asumsinya akan semakin mudah menarik orang untuk masuk dan melihat-lihat ke toko kita (leads semaking besar).

Cuma, umumnya harga sewa lokasi yang strategis (yang trafiknya tinggi) berbanding lurus dengan harga sewanya. Padahal bagi pemula, modal biasanya masih terbatas sehingga bisa-bisa modal habis terpakai hanya untuk sewa. Kalau tidak ada kendala modal tentu saja lebih baik langsung mencari lokasi-lokasi yang sudah pasti ramai dan strategis.

Waktu pertama kali hunting kios. yang saya cari adalah lokasi yang terjangkau harga sewanya dan dekat dengan keramaian. Lokasi kios pertama saya, memang ada di dekat pasar perumnas Klender, tapi bukan berada di jalan utama, bukan di jalan yang trafiknya tinggi. Sehingga uang sewanya realatif lebih terjangkau.

Yang membuat kami beruntung, meskipun bukan berada di jalan besar, di sekitar kami belum ada toko sejenis / serupa, sehingga belum ada persaingan. Jadinya, sambil belajar kami bisa memanfaatkan keunggulan yang lain (selain lokasi) sebagai daya jualnya. Sehingga kami bisa mengoptimalkan penjualan.

Alhamdulillah usaha kami bisa berkembang, dan kami mulai memikirkan untuk pindah lokasi ke tempat yang lebih ramai setelah punya cukup modal dari keuntungan di kios pertama. Apalagi setelah munculnya pesaing di sekitar kami, maka keputusan kami untuk pindah ke ruko yang lebih besar kami nilai sangat tepat.

Oh ya saya ingat salah satu nasehat, untuk mencari lokasi jangan terpatok hanya pada keramaian jalannya, tapi perhatikan juga orang-orang yang lalu lalang tadi kira-kira mungkin atau tidak, mau berhenti dan mampir ke toko kita. Contohnya begini, ada calon pengusaha aksesoris motor, yang di cari tentu jalan yang trafik sepeda motornya ramai. Setelah dapat lokasi yang dianggap cocok, dibukalah toko aksesoris motor.

Berhari-hari setelah toko dibuka, penjualannya sangat kecil. Selidik punya selidik, ketahuan bahwa memang trafik pengendara motor di jalan itu sangat ramai. Tapi jarang yang mau berhenti karena mereka memang cuma lewat untuk pulang dan pergi kerja. Nah setelah dipindah tokonya ke lokasi lain, tokonya mulai maju. Karena berada di dekat perumahan dan tokonya justru ramai bukan oleh orang yang lalu lalang tapi memang orang yang benar-benar mau beli aksesoris dan mereka melakukannya di waktu-waktu luang (bukan dalam perjalanan pulang pergi ke kantor).

Kesimpulannya, untuk mengawali berjualan di toko atau kios, sesuaikan lokasi dengan target dan modal yang kita miliki. Kalau sudah berjalan dan menguntungkan, bersiaplah untuk pindah ke lokasi yang lebih besar dan lebih strategi. Tentu saja kesimpulan ini bukan patokan, hanya pengalaman saya pribadi. Mungkin pengalaman yang akan Anda peroleh akan berbeda dan unik, karena memang bisnis bukanlah ilmu pasti tapi boleh dibilang merupakan ketrampilan (skill) dan seni.

Salam FUNtastis & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


LoA Cepat Terwujud. Hati-hati dengan ucapan Anda!

Maret 19, 2008

Kali ini saya ingin kembali mengingatkan, khususnya bagi diri saya sendiri untuk berhati-hati mengeluarkan kata-kata dari mulut sendiri. Sekali kata terucap, itu akan menjadi energi yang beresonansi dengan diri kita sendiri, dengan orang lain, dan dengan alam semesta, dan mungkin akan benar-benar mewujud jadi kenyataan.

Contoh saja, kalau saya mengucapkan kata “Durian”, sekarang di benak Anda pasti langsung terbayang dengan buah yang penuh duri dengan rasa dan baunya yang khas. Energi dari kata “Durian” tadi tidak mungkin Anda halangi masuk ke Otak Anda.Otak akan memproses gambaran Durian.

Otak tidak mungkin menyetop dan menghentikan energi kata yang terucap dan terdengar. Ketika terucap kata Durian maka tidak mungkin otak Anda tetap blank (Kecuali Anda tidak bisa bahasa Indonesia,… lho koq baca blog ini).

Begitu juga dengan guyonan-guyonan atau ceplosan-ceplosan mulut kita, sering sekali menjadi vibrasi dan bisa benar-benar terwujud. Seperti pernah saya tulis di blog ini, bahwa semua berawal dari pikiran, yang berarti sesuatu terjadi pada diri kita maupun orang lain karena berawal dari vibrasi pikiran sendiri.

Contoh nyatanya saya alami kemarin malam (17-03-2008), saya, istri, dan anak sedang ngumpul dan bercanda. Pas kami lihat di hidung anak saya, koq ada noda merah. Saya amati, ternyata cuma noda terkena lipstik milik istri saya. Kamipun dengan bercanda menakut-nakutinya “Kenapa nih hidung abang, koq hidungnya berdarah!”. Dengan rasa penasaran anak saya mengusap-usap hidungnya dan mendapati itu cuma noda lipstik. Kamipun kembali ketawa-ketawa dengan tingkah anak kami.

Saya pikir itu guyonan biasa, nggak tahunya sekitar dua jam kemudian anak saya terjatuh, dan benar hidungnya berdarah! Sayapun agak panik membersihkan hidungnya, menenangkannya biar berhenti menangis, dan mengobatinya. Setelah semua tenang sayapun tercenung dan bilang ke istri saya “Nah lho, gara-gara tadi nich … pakai bilang-bilang hidung abang berdarah, jadi beneran kan?!”

Nah, moral ceritanya, yang jelas kita mesti hati-hati dengan kata-kata yang negatif apalagi saat kita diliputi kondisi emosi yang kuat (marah, sedih, gembira, kaget, dll). Akan jauh lebih baik kalau kita bisa banyak-banyak mengucap kata yang positif. Kata-kata negatif tetap ada manfaatnya, gunakan pada tempatnya.

Demikian juga dalam menjalankan bisnis. Usahakan kurangi kata-kata negatif. Saat toko sepi, alangkah lebih baiknya tidak mengeluh “aduh tokonya lagi sepi”, mendingan “mudah-mudahan nanti tambah ramai”. Saat tidak dapat barang dari suplier tidak perlu didramatisir “barang-barang sekarang lagi susah dicari, kemana-mana nggak dapet”, cukup bilang “mudah-mudahan besok bisa dapat barangnya”.

Di blog ini, saya juga sering mendapat pertanyaan dan komentar yang cenderung negatif, misalnya saja :

-> “bagaimana memulai usaha, padahal tidak punya modal“,

-> “kondisi saya saat ini, membuat saya sulit sekali memulai usaha“,

-> “saya selalu gagal

Mungkin benar demikian adanya kondisi Anda, tapi alangkah bijaknya kalau bisa memilih kata-kata yang lebih enak dan lebih powerful, contohnya:

-> “bagaimana memulai usaha, padahal modalnya belum terkumpul, modalnya masih terbatas”;

-> “kondisi saya saat ini, membuat saya belum bisa menemukan cara untuk memulai usaha”

-> “saya sudah beberapa kali ganti usaha, cuma belum ketemu yang berhasil”

Begitulah, kata-kata tidak sekedar bunyi yang keluar dari mulut, ada maknanya, ada energinya, serta bisa menjadi do’a dan LoA yang mustajab. Dan sebagai manusia yang sempurna, kita diberi kemampuan untuk memilih kata-kata yang akan terucap dari lisan kita.

Salam FUNtastic & Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Pembicara Publik, kenapa tidak?

Maret 17, 2008

Hari ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Sebuah pengalaman yang mungkin saja akan mengubah hidup saya dan mendekatkan pada mimpi / dream saya.

Dulu saya pernah punya keinginan untuk terjun di dunia pendidikan dengan menjadi pengajar atau guru atau dosen. Keinginan itu kemudian saya kesampingkan, karena jangankan untuk mengajar, untuk bicara di depan orang saya takut sekali.

Waktu masih SMP saya pernah memberanikan diri ikut lomba pidato. Pesertanya cuma berapa gelintir siswa, bisa dipastikan, kalau bisa ngomong lancar, akan dapat juara. Dan yang terjadi adalah saya mati kutu di depan juri. Baca “Assalamu’alaikum Wa Rohmatullohi Wa barokaatuh” saja sudah gemetar, suara tidak keluar, sampai harus diulang, he.. he.. he..

Pernah juga coba-coba jadi MC, tapi saya cuma berani jadi MC dalam acara yang dihadiri teman-teman sendiri yang sudah dikenal. Jangan harap saya mau jadi MC di acara-acara resmi, apalagi dihadiri orang-orang yang tidak saya kenal, wuih.. serem kali.

Di kantor saya pun sering dihadapkan pada situasi ’sulit’, harus ngomong di rapat dll. Bisa dipastikan saya cuma bisa ngomong seperlunya. Sekali buka mulut, otak langsung kram, ide-ide membeku, dan pingin cepat2 berhenti bicara. Jika perlu mendingan mengambil posisi diam dan duduk manis saja.

Mungkin pembaca tidak percaya, ya. Koq bisa nulis banyak artikel, tapi nggak bisa bicara. Itulah kelebihan bahasa tulisan, bisa diedit dan bisa ditulis saat lagi mood. Tapi kalau urusan ngomong di depan publik, tidak bisa diedit dan tidak bisa nunggu mood kan?

Begitu juga pagi ini (17 Maret 2008), tiba-tiba saya dipanggil atasan saya di tempat kerja saya. Saya diminta mewakili beliau hadir di salah satu acara. Saya pikir saya diminta mewakili untuk menghadiri rapat. Ternyata setelah membaca undangannya, saya harus mewakili menjadi “pengajar” dan harus ngomong di depan puluhan pengusaha. Oh My God!

Lemes deh, hati berdegup kencang, tidak tahu apa yang nanti mau diomongin. Karena tidak bisa lagi mengelak dan sudah berada di kondisi kepepet, sayapun meluncur menuju lokasi, sambil terus berpikir apa yang mau disampaikan, dan sambil terus mencoba menenangkan diri. Sampai di lokasi, belum banyak peserta yang datang. Melihat deretan kursi dan meja pembicara, tambah berkecamuk pikiran saya.

Untunglah beberapa minggu ini saya sedang semangat belajar NLP dan beberapa kali ikut sharing dengan para master NLP. Sehingga sebisa dan seingatnya saya memanfaatkan teknik NLP untuk mengatasi kesulitan saya ini. Saya coba Time Line Theraphy, Swish Pattern, Map Accross, dll, pokoknya seingat dan sebisanya saja.

Saya cari-cari pengalaman masa lalu saya saat pernah berhasil ngomong di depan publik. Saya ingat waktu kuliah pernah diharuskan melakukan presentasi dan berhasil. Saya ingat-ingat bagaimana situasi dan kondisi saya waktu itu. Dalam terminologi NLP, saya bisa memanfaatkan kondisi sewaktu presentasi di kuliah, agar bisa melakukan hal yang sama di saat ini, saat saya harus bicara di depan puluhan pengusaha yang tidak saya kenal.

Alhamdulillah saya bisa menguasai diri. Untunglah materi yang harus saya sampaikan cuma sedikit. Dalam hitungan beberapa menit saya berhasil menyampaikan pidato saya di depan orang yang belum saya kenal. Selesai bicara, saya hampir-hampir takjub pada diri sendiri, kepala terasa ckot-ckot, tapi seperti ada beban berat yang berhasil saya lepaskan.

Sepulang acara, pikiran saya kembali berkecamuk dengan pikiran yang berbeda tentunya. Saya sepertinya kembali diingatkan dengan cita-cita saya dulu untuk jadi pengajar. Suatu saat InsyaAlloh saya akan terjun di dunia ini, dunia pengajar, dunia publik speaker, dunia trainer, atau apalah nama dan bentuknya. Akan saya arahkan jalan hidup saya menuju dunia berbagi dengan omongan, tidak hanya berbagi dengan tulisan seperti blog ini. Tentunya saya masih harus banyak belajar dan memperbanyak jam terbang dulu. Semoga….

Do’akan ya :-)

Salam FUNtastic dan Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll

“Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!”


Rejeki Tidak Terhalang Oleh Hujan

Maret 12, 2008

Masih dalam suasana musim hujan, pernahkah Anda mendengar keluhan seperti ini “Dagangan sepi! hujan sich seharian”. Atau malah ada yang langsung menyalahkan hujan dengan mengatakan “Gara-gara hujan seharian, dagangan banyak yang nggak laku”.

Kalau saya mendengar keluhan seperti ini, langsung saja cepat-cepat istighfar. Meskipun hujan sering mengakibatkan “kesulitan” bagi kita seperti banjir, becek, dll, bukankah hujan juga menjadi anugrah bagi kita. Bagaimana rasanya setahun nggak ada hujan? pasti kering kerontang.

Manusia yang sudah diberi akal budi, justru malah sering terbelenggu oleh akalnya sendiri. Secara logika memang tampak benar ada hubungannya antara hujan dengan dagangan sepi. Tapi bukankah keduanya diatur oleh Alloh SWT. Sepi-ramainya dagangan, pasti ada campur tangan dan kehendak-Nya. Demikian juga turunnya hujan juga telah diatur oleh Yang Di Atas. Kalau kedua kejadian sudah diatur oleh Alloh SWT, lalu kenapa kita menyalahkan hujan. Hati-hati lho, jangan-jangan kita jadi menyalahkan kehendak-Nya, naudzubillahi min dzalik.

Alhamdulillah saya dan istri saya punya pemahaman yang sama tentang hal ini. Meskipun saat hujan turun tidak ada pelanggan yang masuk toko, ini tidak kami jadikan masalah besar. Saat seperti ini bisa dijadikan kesempatan merapikan dagangan, mengganti display, mengepel lantai, dll. Karena kami yakin rejeki tidak terhalang oleh hujan.

Dan benar bahwa “Alloh sesuai persangkaan hamba-Nya”, ada kalanya begitu hujan reda, pelangganpun kembali berdatangan. Kalaupun pada hari itu tampak sepi, di lain hari kami bisa merasakan kenaikan dan lonjakan-lonjakan omset. Dan memang benar bahwa kuncinya adalah “Kalau kita bersyukur, Alloh akan menambah nikmatnya”. Wallohu a’lam.

Salam FUNtastic dan Merdeka!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll


Jebakan Selera Pribadi Saat Memilih Barang Dagangan

Maret 10, 2008

Keberhasilan berjualan produk-produk garmen banyak sekali faktor penentunya. Mulai dari suplier, produk, pemasaran, pembeli, sampai detail-detail transaksi jual-belinya. Tentang suplier, kemarin sempat saya ceritakan di sini mengenai cara kita menemukan suplier yg cocok. Nah yang menarik adalah pada pemilihan produknya itu sendiri. Karena itulah komoditi jualan kita, itulah yang akan mengisi toko kita, dan produklah yang akan menjadi profit generator bagi toko retail kita.

Pemilihan produk garmen untuk dipajang dan di jual di toko, juga memiliki banyak variable yang perlu diperhatikan. Mulai dari model, corak, warna, bahan, merk, sampai ke harganya. Bagi pemula bisnis ritel garmen pasti awalnya akan bingung memilih produk yang mana yang cocok dan pass di jual di toko kita.

Langkah mudahnya sich tinggal tanya pada supliernya, mana produk yang paling laris, itulah yang kita jadikan acuan pada awalnya. Tapi jangan kecewa kalau supliernya menyisipkan produk-produk yang kurang laku. Kan mereka juga ingin semua produknya bisa keluar terjual :-)

Cara lainnya adalah mencoba menempatkan kita pada posisi sebagai ‘calon pembeli’ toko kita sendiri. Kira-kira mereka mau nggak ya memilih dan membeli produk yang seperti ini nantinya. Secara teoretis, inilah proses mencocokkan produk dengan segemen pasar kita.

Dengan cara ini kita juga mesti hati-hati, karena kita sering hanya menggunakan selera pribadi dalam memilih produk yang akan dijual di toko kita. Memang pemilihan produk bisa sangat subyektif, apalagi berkaitan dengan tren dan gaya hidup. Suatu produk bisa saja kita anggap akan mampu kita jual dan sepertinya akan laris. Tapi nyatanya bisa berbeda 180 derajat, bisa-bisa hanya akan lama menghiasi etalasi toko.

Demikian juga produk yang kita pandang sebelah mata, kita malas memilihnya, tidak kita unggulkan, dan kita anggap tidak cocok dengan segmen toko, bisa-bisa malah laris manis. Karena selera orang memang berbeda-beda. Untuk itulah perlunya kita mengesampingkan atau setidaknya "berdamai" dengan selera pribadi saat memilih produk untuk toko kita. Maksudnya, kita bisa tetap gunakan selera kita untuk memilih-milih produk, tapi dalam hal-hal tertentu kita harus mau menutup mata saat menimbang-nimbang pilihan produk.

Cara termudahnya sich dengan cara coba-coba dulu kalau kita tidak yakin produknya cocok atau tidak. Baik terhadap produk yang kita anggap akan laris maupun produk yang tidak kita unggulkan. Kalau itu produk yang baru kita temui, ada baiknya beli dengan kuantitas yang sedikit dulu. Baru kalau terbukti laris, kita kejar lagi stoknya dengan cepat-cepat mengordernya kembali.

Ada juga resiko cara seperti ini. Untuk produk-produk dari produsen yang masih kecil, bisa jadi produk tersebut hanya bisa diproduksi secara terbatas, karena sulitnya bahan baku misalnya. Sehingga kalau kita lihat produknya sepertinya bagus, ada tantangan tersendiri, apakah akan memborongnya atau meninggalkannya saja.

Berbeda kalau produknya berasal dari produsen besar dan ada jaminan kelangsungan produksi. Kita bisa main-main dengan produk yang baru buat toko kita. Awalnya kita beli sedikit dan baru diperbanyak kalau laris.

Salam FUNtastic dan MERDEKA!

Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Produk Herbal, dll


Berburu Suplier

Maret 6, 2008

Bagi pengelola toko retail seperti kami di Toko Addina, jelas sangat bergantung pada pasokan barang dari suplier. Meskipun terjadi hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) antara peritel dan suplier, bagi peritel pemula seperti kami, suplier masih seperti ‘dewa’ yang di atas angin bagi kami. Apalagi kalau supliernya sudah punya nama dan ‘merasa’ dibutuhkan banyak peritel (karena produknya bagus) maka maju-mundurnya usaha peritel sangat bergantung pada suplier. Sekali suplier menghentikan pasokan barang kepada kita, maka terancamlah usaha kita.

Memang enak sepertinya, punya suplier yang sudah punya nama. Kita bisa ikut diiklankan di majalah-majalah dan konsumenlah yang berburu barang ke tempat kita. Tapi tetap harus disadari dari awal, bergantung pada sedikit suplier bisa membuat usaha kurang fleksibel. Mungkin dalam satu musim suplier bisa menghasilkan produk-produk yang diminati, tapi di musim yang lain belum tentu produknya bisa laris manis.

Kecuali ada kesepakatan antara kita dan suplier untuk memasarkan produknya secara eksklusif, maka kita bisa suka-suka mencari jalur penyuplai barang sebanyak-banyaknya. Kita bisa menjalin kerja sama dengan sebanyak mungkin suplier. Ingat, semakin banyak pilihan, semakin fleksibel kita menentukan pilihan. Cuma memang, berita buruknya, butuh modal yang besar untuk menjalankan cara ini :-)

Mencari suplier yang sudah punya nama, sangat mudah. Tinggal buka-buka majalah yang sesuai segmen pasar kita atau lewat internet, maka kita akan menemukan iklan-iklan para produsen dan distributor produk-produk yang sudah punya nama. Kita tinggal hubungi mereka dan menjalin kerja sama dengan mereka. Tapi bersiap-siaplah untuk bersaing dengan peritel yang lain dan mendapatkan barang-barang yang sama persis dari suplier yang sama.

Cara lain mendapatkan suplier sekaligus bisa keluar dari persaingan seperti tadi adalah mencari sendiri suplier yang belum punya nama. Banyak sekali produsen-produsen yang bisa memproduksi produk yang bagus, tapi masih lemah di pemasaran. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kita. Seperi kami di Toko Addina, juga sering mencoba menghubungi produsen-produsen yang belum beriklan di majalah tapi punya produk yang berkualitas.

Tidak hanya menantang dalam mencari dan bertemu dengan supliernya, tapi juga tantangan dalam memasarkan produknya. Kalau produk yang sudah punya nama, konsumen sudah yakin dengan kualitasnya dan konsumen datang ke toko dalam posisi ’sedang mencari’. Berbeda dengan produk yang belum punya nama, kitalah yang harus meyakinkan pada konsumen bahwa barang kita juga bagus.

Mencari produsen seperti ini juga gampang-gampang susah. Kita bisa bertemu di sentra grosir seperti pasar tanah abang. Bisa juga dari informasi sesama peritel (yang ini bisa jadi untung-untungan), atau juga informasi dari teman atau Saudara. Yang paling mudah mungkin lewat internet. Tinggal tanya pada google maka akan ketemu informasi terkait.

Ada satu lagi cara mencari suplier seperti ini yaitu dari event-event pameran. Dalam sebuah pameran kita bisa ketemu langsung dengan para pengrajin, UKM, atau produsen dari produk yang kita cari. Kita juga bisa langsung tahu bagaimana kualitas produknya, harganya, dan sistem penjualannya. Memang tidak ada jaminan yang berpameran adalah produsennya langsung. Tapi kita bisa punya lebih banyak pilihan, karena apa yang kita cari sedang berkumpul di satu tempat.

Beruntung kalau kita bisa bertemu produsen dari barang yang berkualitas dan belum dipasarkan dengan bagus. Kita bisa menjalin kerjasama untuk pemasarannya dan langsung jadi distributornya. Untuk yang ini, Toko Addina memang belum sampai pada tahap ini, masih mencari-cari dan masih belajar. Tapi InsyaAlloh suatu saat akan hadir waktunya. Ingat : nikmati prosesnya….

Nah, hari ini saya juga sedang mengutus istri untuk datang ke Islamic Bookfair di Senayan. Karena biasanya tidak hanya pameran buku-buku islam tapi pasti ada stand-stand busana muslimah dan jilbab di sana. Mudah-mudahan bisa ketemu produk yang bagus langsung dari produsennya. Sehingga bisa menambah banyak pilihan suplier dan produk untuk mengisi toko Addina.

Salam FUNtastic!
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Busana Muslimah, Busana Anak, Produk Herbal, dll


Ada-Ada Saja Perilaku Konsumen

Maret 4, 2008

Menjalankan bisnis tidak hanya penuh tantangan. Kadang jalannya bisnis bisa membuat kita gembira dan FUN. Kadang juga membuat kita harus berpikir keras sampai keluar keringat dingin. Kadang membuat tidur kita begitu nyenyak dan lelap karena capek seharian terbayar dengan omset yang melejit. Kadang juga membuat kita tidak bisa tidur, saat ‘demand’ dari suplier lebih besar daripada ’supply’ cash dari customer.

Tapi jangan khawatir, itu semua adalah dinamika dan proses. Yang namanya dinamika, kadang hadir juga kejadian-kejadian yang lucu yang kalau diingat akan menjadi hiburan tersendiri bagi kita. Seperti kejadian yang dialami karyawati di toko saya.

Suatu pagi, ada seorang pembeli di Toko Addina yang tampaknya baru kali ini datang ke Toko. Setelah melihat-lihat produk jilbab, jatuh cintalah ia pada salah satu produk. “Cantik sekali…” katanya. Iapun semangat memilih beberapa warna dan memutuskan membeli beberapa potong jilbab.

Setelah dihitung di Kasir yang sudah kami komputerisasi dengan Software POS Omset, muncullah angka sekian ratus ribu rupiah. Terperanjatlah si Ibu tadi, “Koq mahal banget?”. Karyawati saya mencoba menjelaskan “Iya Bu, kan Ibu beli lima potong, yang ini sekian ribu, yang ini sekian ribu dst… jadilah total sekian ratus ribu sekian rupiah.”

“Ach masak, segitu” katanya lagi. Terus kasir meyakinkan lagi dengan menghitung bersama menggunakan kalkulator. Dan sudah barang tentu hasilnya persis sama dengan perhitungan komputer.

Rupanya si Ibu belum juga yakin kalau totalnya segitu. Kemudian si Ibu memberi solusi. “Ya sudah saya beli satu-satu saja dulu”. Yang terjadi kemudian:

Jilbab pertama dibayar, si Ibu ngasih uang, dan kasir memberi kembalian

Jilbab kedua dibayar, si Ibu ngasih uang, dan kasir memberi kembalian

Jilbab ketiga dibayar, dan kasir kembali memberi kembalian, begitu terus sampai jilbab ke-lima. :-)

Jadinya Ibu tadi dapat lima struk belanjaan untuk lima potong jilbab!

Akhirnya Ibu tadi bilang, “ech bener juga, segitu ya…” Kasirpun senyum “iya Bu..”.

Surprise-nya lagi, sore harinya di hari yang sama, Ibu tadi kembali ke toko dan memborong lagi warna-warna yang lain “Ini buat sodara-sodara saya” katanya. Dan kali ini si Ibu sudah percaya dengan perhitungan software POS Omset di komputer :-)

Ach ada ada aja..

Salam FUNtastic!
Fuad Muftie
© 2008, http://fuadmuftie.wordpress.com/
@ Toko Addina, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Jakarta Timur, 021-9828 4731
► Distro Jilbab, Busana Muslimah, Busana Anak, Produk Herbal, dll