Untung tapi Buntung (tapi tetep juga untung sich)

Enam bulan menjalankan usaha Kios Addina, membuat saya dan istri saya bertambah banyak wawasan tentang kewirausahaan / entrepreneurship. Setelah menikmati manisnya keuntungan diawal-awal membuka kios, kami harus mulai mencicipi asin-pahit-asamnya kerugian berbisnis.

Setelah beberapa waktu yang lalu saya ceritakan tentang kurang suksesnya mengikut dua event bazaar di Jakarta, ternyata efeknya sampai juga ke kios kami. Bulan Maret 2007 kemarin, kios kami boleh dibilang mengalami penjualan (sales) yang fantastis untuk ukuran kios kami. Dan harapan kami tentunya ingin bisa mendapatkan keuntungan yang besar.

Secara hitungan matematis lewat software Omset, kami mendapatkan keuntungan dari penjualan yang lumayan besar. Jumlah keuntunguan (gross) ini sudah melampaui gaji saya sebagai pegawai.

Ceritanya menjadi lain, setelah saya perhitungkan seluruh biaya-biaya yang timbul selama sebulan. Bulan kemarin boleh dibilang bulan dengan pengeluaran untuk biaya yang besar. Keuntungan penjualan yang besar langsung surut menjadi sangat kecil setelah dikurangi biaya-biaya selama sebulan. Bahkan setelah dihitung laba bersihnya langsung menjadi minus alias rugi. Lemes juga sih melihat hasil usaha sebulan harus merugi.

Dengan kepala dingin, satu persatu biaya saya analisa, saya selidiki kenapa sampai harus mengeluarkan biaya sebesar ini, dan diingat-ingat kembali kejadian-kejadian selama sebulan yang mengharuskan kami mengeluarkan biaya tersebut.

Salah satu faktor pengeluaran terbesar disumbangkan oleh dua event bazaar yang kurang sukses. Kami tetap membayar biaya sewa lahan, biaya transportasi, dan ongkos untuk menggaji saudara yang ikut menjaga bazaar. Sementara keuntungan dari bazaar sangat kecil.

Pengeluaran yang lain yang cukup besar adalah transportasi atau ongkos kirim untuk mendapatkan barang dagangan. Ini karena kami sering belanja dalam jumlah sedikit yang harus kami lakukan untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Secara global, ada beberapa faktor yang boleh dibilang sebagai kesalahan kami dalam menjalankan usaha, yang mengakibatkan kami harus merugi, antara lain :

1. Mind Set kami yang sejak awal membuka usaha terobsesi untuk mendapatkan omset yang besar. Padahal setelah saya selidiki, omset yang besar tidak menjamin profit yang besar. Saya jadi setuju dengan tulisan Pak Roni Yuzirman bahwa yang dicari dalam bisnis jangan cuma omset-omset-dan-omset tapi harus profit-profit-dan-profit. Profitlah yang harus kami jadikan sebagai mind set agar usaha bisa bertahan dan terus berkembang.

2. Kontrol pengeluaran kas yang lemah. Seringkali yang kami lakukan adalah asal ada uang langsung dibelanjakan baik untuk belanja barang dagangan maupun untuk menutup biaya-biaya. Tanpa melihat-lihat dulu posisi keuangan secara global. Ini mungkin sebagai akibat dari pola pikir saya yang ingin langsung menginvestasikan kembali porsi keuntungan ke dalam modal usaha atau barang dagangan.

Sebagai akibatnya frekuensi pembelian barang dagangan menjadi sering dengan jumlah/volume pembelian yang kecil. Sementara biaya transportasi atau ongkos kirim akan tetap baik belanja sedikit maupun belanja banyak. Tentu saja akan efektif kalau sekali belanja jumlah/volumenya besar meskipun frekuensi belanja agak berkurang.

3. Pembukuan yg kurang rapi. Ini menjadi faktor terjadinya kesalahan kedua. Pembukuan kami masih sangat-sangat sederhana dan belum mengikuti SAKI (Standar Akuntansi Keuangan Indoensia). InsyaAlloh bulan-bulan kedepan sekecil apapun usaha kami, akan kami terapkan SAKI. Sekalian untuk pembelajaran kami seiring membesarnya usaha kami (Aaamiiin, InsyaAlloh).

4. Masih sering tercampurnya uang pribadi dan uang perusahaan. Saya mencoba sekuat tenaga untuk memisahkan keuangan pribadi dan perusahaan. Tapi dalam prakteknya godaan-godaan untuk "meminjam" uang perusahaan untuk kepentingan pribadi sangat besar. Mudah2an kedepan bisa lebih tahan godaan.

Itulah pelajaran yang bisa saya ambil selama bulan Maret 2007 kemarin bersama kios Addina tercinta. Bolehlah kali ini kami mengalami kerugian, tapi saya yakin ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk kedepannya. Setidaknya saya sudah mendapatkan keuntungan dengan mengalami kerugian (yang masih kecil ini) di tahun pertama menjalani usaha dan bisa langsung dikoreksi.

Semoga kedepan bisa lebih baik, lebih menguntungkan, lebih maju, lebih besar, dan lebih dahsyat lagi. Aaaaaaamiiiiiin…

Semoga bermanfaat

Salam
Fuad Muftie
© 2007 https://fuadmuftie.wordpress.com

8 Balasan ke Untung tapi Buntung (tapi tetep juga untung sich)

  1. hasna mengatakan:

    Assalamu’alaikum.wr.wb
    Sy senang sekali bisa menemukan blog bapak, beberapa pengalaman yg bapak alami di awal mengelola kios addina hampir sama dg yg sy alami, kbetulan sy jg punya usaha jualan busana muslim (griya busana muslim hasna di sleman-jogja), alhamdulillah sdh 1.5 th (berdiri okt’06), jadi merasa punya tambahan teman seperjuangan dalam menjemput rizki.. jadi tambah semangat..🙂 salam kenal sy untuk bapak dan istri.. sukses untuk kios addinanya.. mg tambah laris & membawa berkah..
    Wassalamu’alaikum wr.wb

  2. lely mengatakan:

    Assalamualaikum wr wb

    Pak Fuad, Saya seorang PNS yang ingin mencoba belajar bisnis. Maaf kalau out of topic. Saya ingin berjualan jilbab Rabbani seperti Kios Addina. tetapi di daerah saya sudah ada agen Rabbani. Di kabupaten dekat dengan daerah dimana saya tinggal (50km) masih belum memiliki agen Rabbani. Tetapi saya masih belum memiliki network di sana. Menurut Pak Fuad, apakah saya sebaiknya mendaftar menjadi dealer Rabbani atau saya menjadi agen ?
    Terima kasih atas masukannya ya Pak..

    Wassalamu’alaikum wr.wb

  3. Fuad Muftie mengatakan:

    ## Bu Hasna
    Salam kenal kembali Bu Hasna, saya juga ikut senang bisa kenal Ibu yang sudah lebih dulu pengalaman. Tentu Bu Hasna sudah banyak mengalami pasang-surutnya usaha, karena sudah 1,5 th sedangkan kami baru 0,5 th.

    Terus maju ya Bu, semoga terus mendapat berkah dan jangan lupa untuk menebar berkah juga ya Bu.

    ## Bu Lely
    Kalau saya pribadi lebih memilih jadi agen langsung Bu. Pertimbangan saya untuk saat ini jilbab rabbani bagus prospeknya dan terus berkembang. Disamping itu wilayah penjualan rabbani di protek. Jadi sekali kita jadi agen kemungkinan akan selamanya menjadi agen. Selain itu sebagai agen bisa lebih leluasa mengembangkan usahanya.

    Tentu saja asal Bu Lely bisa mengontrol operasional agen yang jaraknya 50 Km (kalau jadi diambil). Mungkin butuh kerja sama dengan orang lain atau saudara untuk memajukan usaha dan juga untuk membentuk jaringannya. Untuk membentuk jaringan bisa dimulai dengan jaringan yg kecil dulu Bu dan asal terus dikembangkan.

    Oh ya Bu Lely bisa belajar dari Pak Hadi Kuntoro (lihat di blogroll) bagaimana beliau mengembangkan agen rabbani di Wonosobo.

    Salam
    FM

  4. Bambang Triwoko mengatakan:

    Salam kenal pak FM, saya member milis bisnis-smart dari Jogya, yang tertarik posting pak FM tentang ‘asin pahit asam-nya berbisnis’, terus visit blog pak FM agar bisa sharing.
    Apa yang sudah saya alami 5 tahun lalu mungkin mirip yg dialami pak FM, yakni tidak terkendalinya ‘arus kas’ dalam berbisnis.
    Kasus agak beda sedikit karena pada waktu itu usaha saya dikelola salah satu sepupu yang saya percaya (saya masih TDB waktu itu), sehingga saya ‘jarang mengontrol arus kas’.
    Akhirnya usaha ‘gagal’ dengan sukses dan saya mulai lagi dari ‘NOL’.
    Alhamdulillah berkat kegagalan tersebut saya bisa bangkit lagi dan lebih peduli terhadap arus kas, yang ternyata memang ‘vital’ dalam berbisnis.
    Kegagalan dalam arus kas disebabkan ‘penetapan harga jual’ secara sembarangan oleh sepupu, tanpa menghitung komponen biaya2 (BBM, ongkos bongkar muat, overhead, dll) yang dikeluarkan agar barang siap untuk dijual.
    Selain itu juga disebabkan oleh tidak match-nya ‘jangka waktu’ penjualan kredit (3-4 minggu) dengan jangka waktu pembelian kredit (1 minggu), sehingga praktis dana / modal terkuras habis.
    Saya percaya, bahwa apa yang pak FM alami di bulan Maret lalu, adalah tanda akan semakin suksesnya bisnis pak FM.
    Salam entrepreneur dahsyat, smart & sukses buat pak FM.

    -bambang triwoko, yogya-

  5. Fuad Muftie mengatakan:

    Terimakasih Pak Bambang. Apa yang Pak Bambang sampaikan kembali menguatkan keyakinan saya bahwa saya berada di track yang benar, meskipun kemarin merugi tapi bukan alasan untuk mundur. Mudah2an benar2 mjd pertanda baik menuju sukses.

    Sukses juga buat Pak Bambang dan team-nya. Ditunggu sharing-nya ya Pak.

    Salam entrepreneur dahsyat, smart & sukses!!!
    FM

  6. dediependi mengatakan:

    salut lo… aku sebenernya kepengen juga tuh mulai belajar usaha… tapi masih takut-takut gitu, ma’lum lah modal kecil sih … kasih saran dong mas biar aku juga punya tekad kuat kaya anda gitu…

  7. Aris mengatakan:

    Slmt siang pak fuad..

    Sngt menyenangkan mmbc kmntar yg bpk berikan..saat ini sy & sepupu sy baru memulai usaha F&B..utk itu kami ingin menwrkan space di tendean square di unit kami jikalau pak fuad atau brngkali ada teman2xnya ingin/trtarik menemptkn prduk mknnya di tmpt kami.
    Unit sy ini 3 lantai..lt.1 diperuntukkn bagi area F&B..lt.2 warnet..lt.3 sdg didevolp utk multifunction room..lokasi kami brd di Tendean Square unit 19 Jl.Woltermonginsidi No.122-124, Telp.02172780370/0811836551(aris), dgn nm: “TATO”
    Bentuk kerjsm yg kami twrkan utk perletakan prdk mknan(siap saji lbh krg dlm tempo 5-10mnitan) adalh sistem konsinyasi..& tiap bulan kami menetapkn iuran 100rb/ yg diperntukkan bg listrik, air PAM& kebersihan area unit..
    Demikian twrn yg kami sampaikan..mdh2xan mendptkan respon yaa..
    Ok tks
    Rgrds,

    Aris

  8. Fuad Muftie mengatakan:

    @ Pak Dediependi
    Untuk memulai justru bagusnya dimulai dari modal yang kecil Pak. Karena kalau terjadi kekeliruan, ruginya dikit. Nanti kalau sudah lancar baru pakai modal yang gedhean. Dan kalau nanti tetap nggak ada modal, bisa coba pakai modal orang lain asal sudah terbukti Pak Dediependi bisa memutar modal dan kelihatan hasilnya.

    Yang penting investasikan di brainware Pak. Miliki dulu MindSet-nya pengusaha. Konon katanya yang sudah lama terjun berbisnis, modal cuma masalah kecil yang selalu dibesar-besarkan para pemula. Mulai dari yang kecil, sekarang juga.

    @ Pak Aris
    Nanti coba saya tawarkan ke Sodara-sodara saya dan teman-teman saya. Dan terimakasih informasinya. Atau kalau ada pembaca yang minat, cepetan peluang ini dimanfaatkan, keburu diambil orang lain lho..

    Salam
    FM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: