Gantung Visi Setinggi Langit Ketujuh

Sejak kecil kita sudah dikenalkan dengan konsep cita-cita. Kita sering diminta menyebutkan kalau sudah gedhe pingin jadi apa? Kalaupun kita bingung menjawabnya, orang tua kita akan membimbing dan mengarahkan kita untuk menjawab, pingin jadi pilot apa pingin jadi dokter atau mau jadi insinyur. Begitu kira-kira yang kita alami waktu kecil dan masih juga berlangsung kepada anak-anak kita sekarang.

Memang kebiasaan menggantung cita-cita setinggi langit merupakan kebiasaan yang sangat positif. Terbukti pula cita-cita yang diinginkan sering sukses terwujud dalam kehidupan kita. Dalam teori-teori motivasi dan pengembangan pribadipun penetapan visi / tujuan (atau dalam bahasa anak kecil menetapkan cita-cita) merupakan konsep yang selalu dinomorsatukan. Sebelum kita menetapkan strategi dan langkah-langkah kongkret, kita harus sudah jelas dulu dengan tujuan kita, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.

Penetapan cita-cita atau tujuan ini mirip seperti kita ketika akan melakukan wisata atau kunjungan ke luar kota. Sebelum kita keluar rumah bahkan jauh-jauh hari kita sudah menentukan kemana kita akan berwisata. Kalau tujuan kita sudah jelas, maka langkah-langkah atau cara kita menuju tujuan tadi akan menjadi lebih mudah diputuskan.

Bayangkan jika tiba-tiba di akhir pekan kita ajak keluarga kita "Yuk kita keluar kota" dan tanpa menetapkan kota mana tujuan kita, kita keluar rumah, naik mobil dan jalan. Kira-kira kebayang nggak bagaimana perjalanan kita. Kita bisa saja sampai ke luar kota, tapi mungkin tidak semua anggata keluarga akan senang dan gembira. Mungkin juga kita hanya akan berputar-putar tanpa arah yang jelas, karena masing-masing anggota keluarga akan minta ke arah yang berbeda-beda.

Dan satu hal lagi yang patut disayangkan. Sering sekali muncul ungkapan sepeti yach paling tidak menetapkan tujuan kan gratis, toch kalaupun nggak kesampaian bisa dapat yang lain. Contohnya dalam berkarir, kita pingin menjadi Direktur Utama, tapi pernyataan yang sering terucap adalah "Yach paling tidak kalaupun nggak bisa jadi Presiden Direktur, bisa jadi Manajer juga udah lumayan."

Nah ungkapan seperti ini sama aja dengan racun yang akan menggerogoti cita-cita kita sendiri. Ini juga bisa diartikan cita-cita kita belum bulat dan belum kongruen dengan diri kita. Kalau tujuan sudah kongruen, apapun yang terjadi, kita akan mati-matian memperjuangkan tujuan tadi. Bahkan yang ada dalam pikiran, kalau saya tidak bisa jadi Presiden Direktur saya harus jadi pemilik perusahaan ini!!

Ini juga yang sedang saya alami dalam membuka bisnis, saya punya tujuan ingin begini dan ingin begiitu, tapi setelah saya renungkan tujuan tersebut belum bulat dan belum kongruen. Rasanya masih ada yang mengganjal. Kalau mengikuti arahan Coach dari ActionCoach / Action International, tujuan saya belum menjadi tujuan yang menggairahkan yang bisa membuat kita benar-benar ’emosional’ dan terus tergerak dengan tujuan tadi.

Saya masih punya PR untuk kembali mengkaji tujuan saya berbisnis, hingga bisa menemukan tujuan yang kalau diucapkan akan membuat darah mendidih, yang akan membuat saya rela tidur larut malam, dan bangun pagi-pagi dengan semangat 45.

Oh ya, ada satu kejadian beberapa hari yang lalu, saat saya membuka-buka kembali catatan lepas di buku kecil saya. Di awal tahun 2006 saya pernah menulis di buku, saya ingin membuka usaha es cendol pakai gerobag dorong. Dan setelah mencoba cari informasi ternyata belum juga terealisasi. Ujung-ujungnya saya lupa dengan catatan tadi. Yang terjadi kemudian adalah pada bulan September 2006 saya dan istri berhasil membuka usaha kios Addina, usaha penjualan jilbab, busana, dll. Suatu usaha yang jauh lebih besar nilainya daripada usaha es cendol pakai gerobag.

Saya jadi berpikir, wah kalau saja saya dulu menulis ingin membuka kios jilbab dan busana muslim, bisa jadi ceritanya akan lain, mungkin jadi punya toko serba ada besar🙂

Ini juga membuat saya yakin, kalau kita telah memilih cita-cita, cepat atau lambat pasti akan tercapai. Dan jangan lagi berpikir kalau nggak tercapai paling tidak bisa mendekati cita-cita tadi. Tapi kita harus yakin kalau cita-cita nggak tercapai, saya harus mencapai yang lebih tinggi lagi. Jadi kalau saya punya visi untuk memiliki usaha senilai Rp. 10 Milyar, maka kalau tidak bisa Rp.10 Milyar saya harus bisa memiliki bisnis senilai Rp. 100 Milyar🙂

Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastic!

Fuad Muftie
© 2007, https://fuadmuftie.wordpress.com

3 Balasan ke Gantung Visi Setinggi Langit Ketujuh

  1. heri mengatakan:

    Asyik nih tulisannya….
    selama ini saya hanya tau gantungkan cita2mu setinggi langit
    ok saya buat cita2 tapi isinya gak pernah jelas maksudnya
    mau seperti apa nantinya…mau punya uang berapa….
    siiip Pak

    Trims

  2. Fuad Muftie mengatakan:

    Iya Pak Heri, katanya kalau mau cepat terkabul, harus spesifik. Selamat menjemput cita-citanya ya Pak

    salam
    FM

  3. Jakun_Naik_Turun mengatakan:

    Iya kalo di manajemen namanya Key Performance Indicator(KPI), Setiap tujuan,cita-cita harus ada standardnya biar jelas. Ada cara2 tersendiri membuat KPI ini…. Sayangnya bangsa kita nda kenal yang kaya ginian… kurang budaya pencatatan,perekaman yang semuanya berawal dari kemampuan menulis dan mengintrepretasikan sesuatu dengan baik. Dan Pak FM sudah memulainya ..ikutan ah..walo ikutan kan yang penting baek pak yach…yeeeei….

    Fuad Muftie:
    Terimakasih Pak Jakun_Naik_Turun (wuih namanya unique tenan) sudah ditambahin teori-teorinya. Saya juga ngikutin orang yang sudah sukses koq.

    Mudah2an makin banyak yang paham dan mau menerapkan KPI.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: