Pernak-Pernik Menarik, Setelah Menjalankan Usaha

Dalam merencanakan usaha dan memulainya, umumnya yang dipikirkan adalah hal-hal yang besar dan prinsip lebih dulu. Biasanya terpikir pertama-tama adalah apa jenis usahanya, jenis barang / jasanya, suplier, lokasi, modal, karyawan, dan lain-lain. Hal-hal kecil yang tidak prinsip umumnya tidak terpikir dan memang seharusnya tidak terlalu dipikirkan agar rencana pembukaan usaha bisa jalan dan tidak tertunda.

Setelah usaha bisa berjalan, barulah hal-hal kecil mulai muncul minta diperhatikan. Yang mesti diingat, jangan sampai hal-hal kecil atau remeh temeh sampai dibesar-besarkan dan mengganggu jalannya usaha.

Beberapa hal yang tampak remeh tapi kadang cukup merepotkan dalam menjalankan bisnis retail misalnya masalah uang receh.

Dalam menetapkan harga, semula kami membuat harga-harga produk seperti jilbab, busana, dan aksesoris bisa genap dalam kelipatan ribuan, atau setidaknya dalam kelipatan lima ratusan rupiah. Tujuannya agar lebih mudah dalam menyiapkan uang kembalian. Selain itu karena memang lebih mudah untuk menukarkan uang pecahan Rp1000, Rp.5000, Rp10.000, dan Rp20.000 di Bank manapun.

Tapi sayangnya tidak semua produk bisa dibuat genap harganya, ada beberapa produk yang sudah dipatok harganya dari suplier dengan angka Rp.900 dibelakangnya. Ini sesuai prinsip harga psikologis agar harga tampak lebih murah, misalnya Rp.49.900 tampak lebih murah daripada Rp.50.000. Ditambah lagi adanya program diskon bagi para reseller, mengakibatkan harga tidak lagi bulat dan menjadi pecahan.

Konsekuensinya kami harus menyiapkan uang receh pecahan 100, 200, dan 500-an. Masalahnya tidak mudah mendapatkan, mengumpulkan, dan menjaga stok uang receh tersebut. Hanya beberapa Bank yang menyediakan, itupun terbatas. Tadinya kami sering kehabisan stok uang pecahan 100, 200, dan 500-an.

Ada yang menyarankan untuk menukarkan uang receh di BI, tapi lokasinya lumayan jauh dari kami. Ada juga yang menawarkan untuk menukar ke perusahaan jasa penukaran uang, tapi waktu saya telpon ternyata uang receh jumlahnya juga terbatas.

Saya pikir, banyak pengusaha ritel yang mengalami hal yang sama sehingga menggampangkan dengan memberi kembalian berupa permen. Hal ii tidak ingin saya lakukan di kios saya, karena saya juga tidak suka diberi  kembalian permen. Kalau saya sebagai pembeli mending diikhlasin saja buat pedagangnya. Tapi sebagai penjual dan untuk memberi pelayanan yang terbaik, saya usahakan harus mendapatkan uang recehan dalam jumlah yang cukup.

Beberapa kali saya mendapatkan uang receh dari para pedagang asongan. Setelah berulang kali menukar, mulai muncul rasa sungkan. Bagaimanapun mereka juga butuh uang recehan tersebut.

Alhamdulillah beberapa waktu lalu, istri saya curhat mengenai uang receh ini dengan salah satu pelanggan. Koq ya pas banget, pelanggan tadi bisa menyediakan uang receh dalam jumlah banyak yang diperolehnya dari salah satu yayasan sosial. Saat ini selain menyimpan stok barang dagangan, saya juga menyimpan stok uang receh satu tas jinjing! Nilainya sich kecil tapi beratnya minta ampun… he.. he.. he…

Sekali lagi, hal semacam ini hanya hal yang kecil dalam berbisnis. Bagi Anda yang baru mulai jangan sampai hal-hal kecil seperti itu dibesar-besarkan. Tetap prioritaskan pada hal-hal yang lebih strategis bagi kelangsungan dan kemajuan usaha kita.

Salam FUNtastic
Fuad Muftie
© 2007, https://fuadmuftie.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: