Keyakinan untuk Berhenti Kerja dan Membuka Usaha

Assalammu’alaikum Pak Muftie …

Saya seorang ibu rumah tangga dengan satu orang anak, juga karyawati sebuah perusahaan kosmetik. Sebulan terakhir ini saya lagi ‘ngebet2nya’ pingin berhenti kerja dan membuka usaha sendiri. Kepikiran untuk buka Rias Pengantin tapi belum bisa nyanggul, berarti kan musti kursus dulu.

Kepikiran usaha lainnya adalah jualan makanan mateng di kawasan perkantoran dengan menggunakan mobil kijang yang nganggur di rumah, tapi saya gak jago masak. Terus terang Pak, saya masih takut, bingung (Bpk pasti sering baca imel2 spt ini ya Pak).

Dengan kerja berdua saja hari-hari kami masih aja ada kekurangan, apalagi klo saya berhenti bekerja?!?!?! Tapi untuk terus bertahan kerja kantoran pun saya sudah jenuh! Apalagi klo inget putra tercinta saya kini berusia 3 tahun, ini merupakan periode keemasannya untuk tumbuh dan berkembang.

Saya ingin dapat masukan dari Bapak, kira2 apa yang musti saya persiapkan (baik secara fisik maupun mental) dengan status saya nanti yang bukan karyawati lagi? Selain itu juga apa yang musti difikirkan sebelum kita membuka usaha?

Tolong beri saya pencerahan Pak. Tolong yakinkan saya, bahwa langkah saya untuk berhenti kerja, mengurus keluarga lebih intens, dan memulai usaha adalah TIDAK SALAH! Terima kasih. Wassalammu’alaikum.

Salam,
D

====================

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Ibu D, salam kenal, bahagia saya mendengar Ibu ingin membuka usaha sendiri. Semakin banyak yg mau membuka usaha sendiri InsyaAlloh Indonesia akan cepat maju.

Yang harus dipersiapkan pertama adalah mental, pikiran, dan keyakinan dulu Bu. Keyakinan seperti “kalau saya berhenti bekerja, saya akan kekurangan” sebaiknya diganti dan diubah menjadi “Kalau saya berhenti bekerja, berarti saya bisa total menjalankan usaha, dan bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar berlipat-lipat ganda”.

Ingat apapun yang Anda yakini, itulah kenyataannya. Anda yakin anda miskin berarti anda miskin dan kalau anda yakin anda kaya berarti anda kaya. Memang akan terasa ada kontradiksi antara pikiran / keyakinan dengan kenyataan, tapi faktanya cepat atau lambat kenyataan akan mengikuti keyakinan kita. Dan itu sudah dibuktikan oleh orang-orang yang dinilai sukses. Silahkan baca buku-buku motivasi….

Begitu juga keyakinan bahwa untuk berbisnis rias pengantin harus bisa nyanggul, bisa jadi itu keyakinan yang keliru. Bisa saja Ibu membuka usaha rias pengantin, dengan mempekerjakan orang yang bisa nyanggul. Tinggal pinter-pinternya Ibu mencari karyawan. Saya dulu juga seperti ibu, saya berpikir untuk membuka bengkel berarti saya harus bisa jadi mekanik, makanya saya bela-belain kursus montir mobil dan montir sepeda motor. Setelah selesai kursus ternyata saya tidak juga berani membuka usaha bengkel!

Ibu juga bisa keliru dengan keyakinan bahwa untuk usaha makanan harus bisa masak. Karena saya punya teman yang punya warteg, tapi dia tidak bisa bikin masakan warteg. Yang dia lakukan adalah menyiapkan tempat, peralatan, dan mempekerjakan orang dari Tegal sebagai koki dan pelayannya.

Saran saya, mulai saat ini fokuskan pada pada perubahan pikiran, keyakinan, dan mindset Ibu dulu. Hal ini dulu saya lakukan dengan terus membayangkan saya bisa punya usaha, ini saya pikirkan saat mau tidur, saat bangun tidur, saat mandi, saat bengong, saat dalam perjalanan, kapanpun pikiran sedang ‘kosong’, saya ingatkan untuk fokus pada pikiran “saya harus bisa membuka usaha“. Pada saat itu saya tidak terpikir untuk membuka kios jilbab dan busana muslim. Pokoknya pikirkan terus dan yakinkan terus dalam diri sendiri bahwa saya harus bisa, harus segera dan secepatnya bisa membuka usaha. Pada saatnya tahu-tahu ‘cling’ muncul inspirasi / ide untuk buka toko jilbab.

Satu lagi, usahakan cari bidang yang benar-benar Ibu minati, jangan cuma bidang yang diinginkan lho. Kalau minat di kecantikan, bisa usaha jualan kosmetik, jasa salon, rias pengantin, dll. Kalau minat di kuliner, bisa buka restoran, buka warteg, buka warung tenda, buka burger, jualan jus buah, es buah, dll. Yang penting tentukan dulu bidang yang diminati dan kalau nantinya dijalankan benar-benar bisa enjoy menikmatinya.

Yang terakhir, kalau Ibu tetap bertahan jadi karyawati dan suami tetap karyawan seperti sekarang ini, tanpa melakukan perubahan, 10 tahun kedepan kondisinya juga nggak jauh beda, terus merasa kekurangan. Tapi kalau Ibu hari ini bisa mulai melakukan perubahan, InsyaAlloh 10 tahun lagi, nasib ibu sudah jauh langit dan bumi. Setidaknya mulailah dari perubahan pikiran, tetap berpikiran positif dan tetap buka pikiran dengan segala kemungkinan dan segala peluang.

Semoga bisa membantu

Salam
Fuad Muftie
© 2007, https://fuadmuftie.wordpress.com

About these ads

45 Balasan ke Keyakinan untuk Berhenti Kerja dan Membuka Usaha

  1. Ineu mengatakan:

    Assalamu’alaikum…

    Mungkin secara garis besarnya sama dengan cerita ibu D, saya seorang karyawati dan sedang hamil 6 bulan. Mendekati masa cuti melahirkan terbesit dalam pemikiran saya untuk resign saja, mengurusi rumah tangga, bayi dan ingin memulai usaha.
    Kebetulan suami bekerja di luar kota. Dari pada berdiam diri, mengurus rumah tangga alangkah baiknya sambil berbisnis.
    Hal yang paling mendorong saya untuk berbisnis adalah tersedianya Ruko milik ayah saya ( dari dulu di kontrakkan ke orang lain, baru tahun ini ayah ingin sekali rukonya di manfaatkan oleh keluarga sendiri : anak).
    Dan memang ayah dan ibu mencari nafkah dengan berjualan barang sembako.
    Dengan segala pengalaman, usaha mulai dari nol saya bangga sekali dengan ayah ibu saya dan saya ingin sekali seperti mereka.
    Cuma yang masih saya bingungkan, jenis usaha apa yang cocok untuk saya jalani? Alhamdulillah Ruko boleh dikatakan berada dilokasi yang sangan strategis. Jembatan 1 perumahan Rawa Lumbu bekasi. Di belakang ruko ada pasar tradisional, dan denger2 sih akan di bangun terminal baru. jadi saya yakin sekali daerah ini akan ramai.
    Ayah saya memberikan pilihan/saran : 1.Berjualan makanan (bakso) dengan bekerja sama dengan tukang bakso langganan kami, 2. Berjualan sembako (khusus beras, gas, minuman/ plastik), atau 3. voucher isi ulang. Saya sih condong kepada pilihan 2 dan 1.
    Tapi mengingat kehamilan saya yang makin lama makin tua, dan nanti akan repot dengan mengurusi bayi, serta suami yang berada diluar kota, saya jadi sedikit ragu apakah saya nantinya akan sanggup menjalaninya? Kemudian menurut bapak usaha mana yang paling cocok untuk saya? Sebelumnya terima kasih atas perhatian bapak, dan masukkan dari bapak sangat saya nantikan.

    Salam sukses selalu,

    Wassalam

    Ineu

  2. Fuad Muftie mengatakan:

    Istri saya dulu juga karyawati, setelah punya anak, saya memintanya untuk berhenti. Alhamdulillah sekarang sudah bisa mengurusi usaha kami full time. Anak2 juga jadi dekat dengan orang tua, sebuah anugerah yang luar biasa.

    Mengenai pilihan usaha, idealnya sesuaikan dengan minat dan kegemaran kita. Tapi kalau melihat kondisi Bu Ineu yang sedang hamil, sudah ada ruko, dan modal (?), menurut saya lebih cenderung untuk memilih franchise. Apalagi pilihan franchise Bakso sekarang lebih banyak, tinggal pilih-pilih yg sesuai dengan kondisi dan keinginan kita.

    Pertimbangannya, dengan franchise Bu Ineu tinggal menyiapkan modal (tempat sudah ada) dan pemilik franchise yang menjalankan usahanya. Bu Ineu tinggal mengawasinya saja. Apalagi dengan kondisi Bu Ineu yang sedang hamil dan akan segera melahirkan, pasti tidak diharapkan untuk bekerja terlalu keras.

    Atau kalau ada saudara yang bisa dikerahkan tenaganya, bisa juga memilih usaha sembako. Dengan pertimbangan orang tua sudah ada pengalaman menjalankan usaha sembako, tinggal ditiru dan dimodifikasi (diperbaiki).

    Semoga bisa membantu
    Salam
    Fuad Muftie

  3. ichasweb mengatakan:

    Assalammu’alaikum Pak Fuad Muftie …
    Saat ini saya bekerja menjadi seorang guru sebuah SD Swasta. Tetapi sepertinya saya mempunyai sedikit bakat dalam bidang design. Dalam 2 tahun belakangan ini saya sering menerima sampingan berupa pembuatan buku kenangan untuk TK dan SD serta macam2 bentuk proposal, cuci cetak foto digital dsb.
    Sebetulnya ketika mengerjakan sampingan tersebut, saya cukup bersemangat tetapi untuk memulainya yang susah. Seringkali keraguan, tidak percaya diri dan ketakutan atas hal2 yang belum terjadi menghantui saya. Selain itu, setelah berhasil menuntaskan 1 pekerjaan, saya seringkali tidak lagi menjalin hubungan yang manis dengan mantan klien saya itu. Hal itu terjadi, karena saya merasa tidak percaya diri dan takut dengan kritikan dan complain sesudah pekerjaan itu.
    Bagaimana ya pak untuk menghilangkan perasaan2 itu. Mengingat, sudah ada tawaran untuk membuat buku kenangan lagi, tetapi saya masih ragu untuk menerimanya.
    Terima kasih atas sarannya dan bantuannya.

  4. mnizar mengatakan:

    askm… salam kenal pak..
    saya orang baru di dunia blog dan sekarng juga menjadi pemain baru di dunia usaha. bersama seorang teman sekarang membuka usaha jualan sate madura di banda aceh. semoga usaha saya bisa tahan lama..

  5. MAHADAYA mengatakan:

    great inspiration mas mufti………
    saya salut dan mendoakan mas sukses.

    Mada “Mahadaya”
    http://www.mahadaya.com
    http://www.entrepreneurpartner.wordpress.com

  6. Arham mengatakan:

    slamat untuk mencoba dan melangkah…bner sperti yang diartikel, tapi satu kesimpulan dari saya yaitu. bebas kan diri dari the way of thinking. dimna buka usaha tempat makan harus bisa masak.. nah mulai sekarang hilangkan hidup dari kata harus.. ok..

    wassalam
    Arham
    http://road-entrepreneur.com

  7. Fuad Muftie mengatakan:

    Wa’alaikum Salam Wr Wb

    @ ichasweb
    Ibu Guru (Icha) yang saya hormati, bahagia & bangga saya mendengar Ibu guru memiliki bakat bisnis yang sudah mengetuk-ngetuk pintu hati ibu meminta untuk di-eksplore dan disalurkan lebih jauh.

    Saya barusan tengok Blog Ibu, sepertinya Ibu memang punya bakat dan kreatifitas yang tinggi. Produk berupa Buku kenangan dan VCD menjadi bukti kemampuan Ibu tersebut. Kalau Ibu belum puas tinggal diperbaiki dan disempurnakan. Jarang ada produk yang sekali jadi langsung sempurna. Selalu ada tahap dan proses perbaikan-perbaikan menuju kesempurnaan.

    Komplain dari pengguna jasa sangat wajar, jangankan Ibu, perusahaan besar saja masih sering mendapat komplain. Tapi apa mereka mundur dg komplain tsb, tentu tidak. Justru komplain dan kritik bisa menjadi masukan untuk menjadi lebih sempurnanya sebuah produk dan layanan.

    Toko saya juga sering mendapat kritik dan komplain koq Bu. Itu harus ditanggapi dg baik, bahkan akan menjadi layanan kita semakin disenangi pelanggan. Oh ya lebih bahaya orang yang tidak komplain tapi cerita ke semua orang kalau produk kita jelek. Mendingan mereka komplain dan kita layani sehingga yg mereka ceritakan adalah bagaimana bagusnya layanan kita meskipun ada komplain / kekurangannya.

    Bahkan banyak perusahaan yg dg sengaja minta dikomplain lho. BUktinya ada kotak pengaduan, layanan bebas pulsa, kotak pos dll. Kalau pada posisi Ibu, mungkin bisa dicoba, setelah selesai membuat satu produk, langsung tanyakan pada mereka, apa yang kurang dan apa yang bisa diperbaiki lagi.

    Oh ya Bu, saya pernah tertarik ingin membuat semacam VCD pendidikan buat anak. Kebetulan istri saya juga mantan Guru yg lulusan UNJ juga. Cuma belum terealisir. Yang terpikir dulu, VCD bisa dipasarkan secara online. Nah kalau Ibu bisa membuat VCD yg unik dan mencerahkan, kenapa tidak dicoba dipasarkan secara online. Kalau hasilnya bagus saya pingin juga ikut masarin :-)

    Selamat berkreasi Bu… Ambil semua peluang pembuatan buku kenangannya Bu…

    @ Mnizar
    Kalau melihat trend penjualan sate, dari jaman saya kecil sampai sekarang … kagak ada matinye! Asal unik, enak, bersih, dan tentunya halal, insyaAlloh usaha bisnis sate mampu bertahan lama. Semoga demikian juga dengan usaha Anda…

    @ Mahadaya
    Terimakasih atas kunjungannya, harapan saya juga semoga bisa memberi manfaat bagi sebanyak mungkin pembaca blog saya….
    Saya juga ikut mendoakan atas kesuksesan Anda … Aaamin

    @ Arham
    Setuju, pikiran kita seperti parasut. Baru berfungsi dan bekerja kalau DIBUKA. Kemampuan untuk membuka pikiran butuh latihan dan paksaaan, karena kita sudah sering ‘dipaksa’ untuk menutup pikiran oleh keadaan dan lingkungan sekitar kita.

    Salam
    Fuad Muftie

  8. Alam mengatakan:

    Saya juga pernah merasakan hal yang sama pada awal mau buka usaha. Alhamdulillah kurang lebih 6 bulan (kelamaan ngga sih) melalui perenungan dan fokus memikirkan saya harus buka usaha disetiap gerak saya akhirnya jadilah saya buka usaha. Benar juga apa yang saya pikirkan itulah yang terjadi.
    Selamat berwirausaha

  9. Fuad Muftie mengatakan:

    Terimakasih Pak Alam, saya ikut menyaksikan sendiri bagaimana bingungnya Pak Alam waktu mau menentukan jenis usaha yang akan dijalani. Tetapi seperti yg disampaikan Pak Alam dg memfokuskan pikiran kita dengan pikiran “saya harus bisa memulai bisnis ini”, maka cepat atau lambat jalannya akan terbuka. Itu juga salah satu prinsip dari LoA (Law of Attraction).

    Sukses Bro Alam

    Salam
    Fuad Muftie

  10. amet mengatakan:

    Assalamualaikum wr wb

    Nama saya amet, saya sangat senang sekali membaca blog mas fuad, saya ingin share permasalahan yang saya hadapi.
    Saya telah mencoba beberapa usaha sendiri sejak 3 tahun lalu, tapi sampai saat ini belum ada yang berkembang, mulai dari usaha konveksi (terima sablon), warnet, sampai dengan jualan roti. Usaha terakhir yang saya geluti sampai saat ini adalah usaha clothing dimana saya membuat desain produk konveksi dan diproduksi dengan makloon ke konveksi dan dipasarkan ke distro2 dengan sistem konsinyasi. Usaha tersebut telah berjalan selama 10 bulan, walaupun perkembangannya tidak bisa dikatakan jelek tapi saat ini saya menghadapi beberapa kendala yaitu waktu dan sdm. Sejak 5 bulan yang lalu saya bekerja di perusahaan kontraktor, saya memutuskan untuk bekerja karena tuntutan kebutuhan keluarga ,karena saat ini saya telah memiliki 2 anak, selain itu juga saya tidak mau mengganggu uang dari usaha clothing. Tapi sejak saya bekerja, waktu untuk konsen di usaha sangat terganggu, sehingga bisa dikatakan usaha saya terbengkalai. Saya sudah mencoba solusi dengan meminta saudara saya menangani usaha ini, tapi hasilnya tidak optimal. bahkan sudah ada 3 saudara saya yang membantu pun tetap tidak optimal hasilnya. Menurut bapak cara apa yang harus saya lakukan untuk bisa tetap konsen di bisnis agar dapat berkembang? Untuk saat ini saya tidak dapat meninggalkan pekerjaan saya, karena kondisinya untuk saat ini tidak memungkinkan, tapi saya memiliki cita2 suatu saat nanti saya dapat berhenti bekerja dan bisa membiayai kebutuhan keluarga dari usaha sendiri.

    Wassalam

  11. Fuad Muftie mengatakan:

    Pak Amet, sebelumnya mohon maaf Pak, saya juga masih belajar koq. Terus terang, kalau saya pada posisi Pak Amet, saya juga belum tentu bisa menjamin 100% bisa mengatasi masalah seperti yang Pak Amet hadapi. Tapi bolehlah untuk semangat berbagi dan meringankan beban Pak Amet, ijinkan saya menyampaikan pandangan-pandangan saya, sesuai pengalaman saya yang masih minim. Semoga bisa mencerahkan dan bisa menjadi pilihan jalan keluarnya.

    Menurut saya kuncinya ada pada pemilihan SDM-nya Pak. Mungkin dengan bergonta-gantinya SDM yang Pak Amet rekrut dan ternyata tidak sesuai harapan, membuat usaha Pak Amet belum optimal perjalanannya. Tapi kalau Pak Amet bisa mendapatkan SDM yang cocok dan pas, kemungkinan kondisinya akan lebih baik lagi.

    Dalam pemilihan SDM, selalu diawali dengan rekruitment. Dan banyak yang gagal mendapatkan SDM yang bagus karena sistem rekruitmennya yang asal-asalan. Mungkin pertimbangan Pak Amet merekrut Saudara sendiri agar bisa dipercaya dan ingin membantu Saudara sendiri. Tapi kalau Saudara yang direkrut ternyata tidak ada minat dibidang clothing-an, maka kerjanya tidak akan total, atau ada faktor penyebab lainnya???.

    Mungkin Pak Amet bisa evaluasi, kenapa dari ketiga Saudara tersebut tidak memberikan hasil yang diinginkan. Apakah mereka kurang berminat, apakah penghasilan dari usaha yang dirasa kecil, atau jangan-jangan dari sistem bagi kerja dan bagi hasil dari Pak Amet yang kurang rapih, atau karena faktor yang lain?.

    Selanjutnya kalau memang dari keluarga / Saudara sendiri tidak ada yang cocok, kenapa tidak mencoba merekrut dari pihak luar. Carilah partner / SDM yang benar2 minat dengan usaha Pak Amet dan bisa diajak kerja sama. Sistemnya bisa sebagai karyawan atau partner, tergantung posisi yang Pak Amet tawarkan dan posisi tawar menawar dengan calon karyawan / partner Pak Amet.

    Mungkin yang jadi pikiran, “saya aja susah dapat penghasilan, gimana nanti menggaji karyawan?”. Untuk itu perlu sedikit perhitungan, paling tidak harus bisa diyakinkan bahwa dengan merekrut karyawan baru, usaha kita bisa bertambah menguntungkan, maju, dan arus kasnya membaik. Kalau dengan merekrut tenaga baru, tapi usaha malah mundur, berarti bukan orang yang tepat yang kita rekrut.

    Saya punya seorang teman, yang punya usaha jasa tehnik. Karena dirasa kemajuan usahanya kurang menggembirakan, teman saya memberanikan untuk merekrut mekanik yang bagus dan profesional, meskipun harus menggaji sampai hampir 10 kali lipat gaji mekanik yang sekarang ada. Meskipun awalnya harus merogoh kocek sendiri untuk menggajinya, tapi kalau bisa yakin nantinya usaha bisa maju dan hasilnya nanti bisa nutup semua biaya, kenapa tidak dicoba.

    Untuk masalah waktu, mau tidak mau kalau mau konsen di usaha ya harus keluar dari pekerjaan. Tapi kalau pekerjaan yang dijalani sekarang tidak terlalu ‘menuntut’ dan masih punya waktu yang cukup untuk mengelola usaha, tinggal pinter-pinternya Pak Amet mengatur waktu. Syukur-syukur bisa mendapat SDM yang lebih baik lagi, sehingga bisa lebih enak mengatur waktunya.

    Semoga bisa membantu
    Salam
    Fuad Muftie

  12. amet mengatakan:

    Terimakasih banyak Pak Muftie atas tanggapannya, benar sekali apa yang diungkapkan bapak, kalau pemilihan SDM nya memang sedikit dipaksakan. Setelah saya amati memang saudara saya memiliki kesibukan lain seperti kuliah dan sekolah, namun tadinya saya harapkan diluar jam tersebut mereka bisa membantu. Diluar itu juga sepertinya mereka belum siap untuk meng-handle usaha ini. Saya setuju dengan mencari partner yang memiliki minat sama di usaha ini, disini memang menjadi tantangan buat saya karena menurut saya ini merupakan hal yang tidak mudah. Sebenarnya saya telah melakukan beberapa pendekatan kepada teman saya, ada yang memiliki minat sama tetapi saya meragukan kinerjanya nanti, ada juga yang sebaliknya yang tidak memiliki minat tetapi saya lebih yakin dengan kinerjanya. Selain itu juga saya ingin meminta tips2 untuk menjadi leadership yang baik, agar karyawan kita dapat memberikan kinerja yang optimal dan juga mereka merasa memiliki usaha ini. Sebelumnya terimakasih banyak Pak Muftie. Setelah saya membaca postingan2 Pak Muftie semangat untuk mengembangkan usaha ini semakin bertambah.

    Salam
    Amet

  13. Fuad Muftie mengatakan:

    Pak Amet, saya juga bukan pakar leadership Pak. Saya masih banyak belajar. Tapi kalau mau belajar, belajarlah pada pakarnya. Dan setahu saya salah satu pakar leadership yang paling unggul menurut saya adalah Nabi Muhammad SAW.

    Silahkan baca dan pelajari sirah nabawi, akan banyak diperoleh contoh dan panduan bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Secara mudah dan yang paling bisa cepat diaplikasikan mungkin salah satu prinsip leadership yaitu : perlakukan anak buah dan partner benar-benar sebagai manusia, bukan sebagai robot apalagi sebagai hamba sahaya.

    Mungkin itu dulu Pak, saya masih harus banyak belajar juga ttg leadership.

    Salam
    Fuad Muftie

  14. Dewi Anita mengatakan:

    Assalammu’alaikum Pak Muftie
    Terima kasih untuk tulisan, komentar, saran serta tanggapan2nya yang cukup menginspirasi Pak. Saya minta suami untuk ikut membaca tulisan2 disini, Alhamdulillah Beliau juga makin bersemangat untuk membantu Saya membuka usaha. Semoga ini menjadi awal yang Baik ya Pak. Sukses juga untuk unsaha Bapak & Klg.

  15. Fuad Muftie mengatakan:

    Wa’alaikum salam Wr Wb

    Terimakasih Bu Dewi Anita, semoga awal usaha Ibu berjalan mulus dan terus berkembang. Saya ikut mendoakan semoga barokah, untuk amal ibadah kita di dunia dan bekal di akherat kelak. Salam buat keluarga ya Bu…

    Salam
    Fuad Muftie

  16. Ina mengatakan:

    Assalamualaikum Pak Muftie,

    Hari ini, saya mendapatkan satu hal lagi yang patut saya syukuri, yaitu saya diberi kesempatan untuk membaca tulisan, saran dan tanggapan bapak dan rekan-rekan lainnya.

    Saya seorang ibu yang memiliki 2 orang putra-putri, saya bekerja diperusahaan sekarang ini sudah cukup lama (16 tahun). Sudah banyak suka duka saya alami sejak perusahaan hanya memiliki beberapa orang karyawan dan sekarang bisa memiliki ratusan karyawan.

    Sekitar setahun saya mencoba menentukan pilihan yaitu antara “tetap bekerja dan memiliki penghasilan tetap” atau “lebih memperhatikan putra-putri dan berusaha memiliki usaha sendiri dan dapat mengatur waktu kerja sendiri”.

    Dan akhirnya, saat ini saya memiliki keyakinan yang sangat besar bahwa dengan saya berhenti bekerja saya akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dimasa depan saya dan juga keluarga. Saya harus berusaha memperjuangkan impian itu…. Selama kita berpengharapan yang terbaik insyaallah yang terbaik pula yang akan kita dapatkan. Betul pak?

    Dengan membaca tulisan dan saran yang ada, yang utama bagi saya sekarang adalah : Saya harus fokus, yakin dan ikhlas dengan apa yang menjadi keinginan dan pengharapan saya. Insyaallah dengan yakin dan ikhlas, segala halangan dan rintangan yang saya hadapi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik tidak akan menjadi penghalang untuk tetap berusaha dan berusaha… Trima kasih semuanya

    Wasalam
    Ina

  17. Fuad Muftie mengatakan:

    Wa’alaikum salam Wr Wb

    Terimakasih Bu Ina sudah mampir di sini. Ini Bu Ina yg di TDA bukan ya? koq alur ceritanya sama persis. Mudah2an Bu Ina yg sama spt yg saya maksud.

    Selamat ya Bu, sudah mengambil jalan yang tepat dan semoga yang terbaik dunia akhirat. Apalagi sebagai Ibu dari 2 anak, menurut saya menjadi TDA (full kerja dari rumah) adalah wajib (menurut saya lho, jangan dijadikan polemik).

    Saya juga sudah berhasil men-TDA-kan istri saya sejak kelahiran anak pertama kami. Meskipun sempat beberapa kali mencoba kerja lagi, tapi ALhamdulillah nggak betah katanya. Mendingan main sama anak-anak. Dan sekarang ditambah lagi satu mainan yaitu Kios Addina, mudah2an istri saya tetap (dan harus) betah menjadi TDA. Dan mudah2an saya sendiri bisa cepat menyusul.

    Saya ikut mendoakan buat Bu Ina dengan berhenti kerja dan bekerja dari rumah, Bu Ina akan mendapat lompatan2 bisnis dan senantiasa diberkahi Alloh SWT. Yang insyaAlloh dampaknya akan dirasakan kedua buah hati Ibu dan generasi-generasi berikutnya, insyaAlloh.

    Sukses buat Bu Ina, salam buat keluarga ya Bu
    Salam
    Fuad Muftie

  18. Slamet mengatakan:

    Assalamualaikum Pak Fuad,
    Saya sangat salut dengan blog anda, komentar2 anda .. padahal saya baru saja baca 10 menit yg lalu.
    Saya pengen share pengalaman dan juga mungkin kalau ada info/masukan dengan sangat senang hati saya terima.

    Pada dasarnya saya sangat pengen sekali untuk mempunyai usaha, cuman terus terang saya nggak bisa terjun langsung .. mungkin monitoring dari jauh saja yg bisa lakukan … hal ini mungkin dikarenakan sejak kecil saya membantu orang tua berjualan .. dan itu sangat melekat di hati saya …

    Terus terang saya bekerja di Malaysia – di Perusahaan Minyak Belanda sekarang ini , dan sudah lama saya mencoba dan mencoba bisnis apa yang terbaik.

    Saya pernah beli sarang burung walet, tapi kemudian kecurian beberapa kali akhirnya waletnya lari semua, padahal waktu kita teruskan sarangnya sudah ada 40-an dan burungnya banyak sekali … Sekarang rumahnya saya kontrakan .. :-)

    Saya juga pernah utk bekerja sama dgn anak teknik pertanian utk mensupply benih jagung atau padi, beberapa kali bisa jalan tapi akhirnya jatuh juga, padahal saya sudah hati2, semua surat2 kontrak kerja sudah jelas, uang keluar masuk sudah jelas, planningnya, costnya … tapi akhirnya jatuh juga. Padahal orang yg saya pilih juga sholatnya rajin, anaknya baik .. dia juga technically baik .. dan terus terang utk hasil bagi .. saya nggak mendikte, justru kita rundingkan .. yg intinya 1:4, 25% buat dia dan 75% buat saya, cuman mungkin belum rezeki ..

    Ada beberapa bisnis kecil yg tidak saya sebutkan cuman semuanya kurang langgeng.
    Sekarang ini yg masih jalan cuman sewa tanah dan menggarapnya, itupun hasilnya untuk orang tua … karena memang dgn begitu saya bisa membantu beliau …

    Sekarang ini saya masih mencari dan mencari, hampir tiap hari, pagi, siang petang … saya coba renung + searching di internet .. bisnis apa yg sesuai dgn saya ..

    Sekarang ini ada beberapa pilihan bisnis yg saya tertarik ..
    1) diantaranya memproduksi BioEthanol .. cuman saya kurang tahu detail peluang bisnisnya … dan bisa nggak bisnis ini di kerjakan secara kecil2an … (dgn modal 100 jt)
    2) Rental mobil .. dalam artian menitipkan mobil ke org dan kita dapat return sesuai dgn perjanjian .. cuman utk yg ini, risknya terlalu tinggi .. dgn kondisi indonesia sekarang ini pencurian mobil sangat banyak …
    3)Membuka bisnis makanan kecil .. keripik buah .. saya sudah itung2 .. kemungkinan modalnya nggak terlalu besar dgn perhitungan .. saya punya tenaga kerja, kakak saya ada warung & kelontong .. dll. cuman yg saya ragu pangsa pasarnya … mungkin saya harus lebih fokus segment mana yg saya cari …

    Sudah pak begitu saja uneg2nya … nanti kita sambung lagi .. kalau anda ada saran dgn senang hati saya terima …

    Omong2 saya tertarik juga lho dgn bisnis jilbab .. hehheeh terlihat sekali saya masih kurang konsentrasi akan bidang bisnis yg mau saya geluti ..
    Dan omong2 saya benernya orang IT ….

    Salam buat keluarga …. semoga anda seklg selalu dalam perlingan Alloh ..

    Wassalam,
    Slamet

  19. Fuad Muftie mengatakan:

    @ Slamet
    Wah saya malah bingung nih mau ngasih komentar atas perjalanan usaha Pak Slamet. Sudah banyak pengalaman usaha Pak Slamet dan banyak bidang yang diterjuni, tapi mungkin belum rejeki ya Pak.

    Mungkin bisa dievaluasi lagi Pak, faktor apa saja yg menjadi sebab gagalnya usaha Pak Slamet. Evaluasi juga bidang usaha mana yang benar-benar disenangi baik bagi Pak Slamet maupun bagi orang yang Pak Slamet percayakan untuk menjalankannya di Indonesia. Kalau bisa ketemu bidang yg cocok, tinggal ditekuni satu usaha tsb sampai benar2 berhasil. Karena dg bekal kegagalan sebelumnya bisa dijadikan pelajaran agar tidak terulang kesalahan yg sama di bidang usaha yg sama.

    Boleh jadi yang membuat gagal adalah kurang fokus Pak. Yg satu gagal, ganti yg lain. Yg lain gagal, cari dan coba yg lain lagi. Sehingga faktor kegagalannya juga akan berubah2.

    Misalkan usaha Walet, usaha pertama pernah berhasil dan kemudian gagal karena dicuri. Terus ganti usaha suply benih, sudah bisa jalan, terus gagal karena yg mengelola tidak berhasil. Terus ganti usaha lain lagi, gagal lagi dg faktor yg lain lagi.

    Hasilnya mungkin akan berbeda kalau setelah walet gagal, Pak Slamet tetap fokus di walet dg memperbaiki sistem keamanannya dan memperbaiki segala kekurangannya serta coba mendatangkan waletnya lagi. Paling tidak Pak Slamet sudah ada bekal dan tahu bagaimana cara mengelola walet dan sudah pernah berhasil shg tinggal diulangi lagi langkah2 yg pernah diambil untuk membuat usaha walet tsb berhasil.

    Demikian juga dengan pilihan bisnis berikutnya, ada baiknya Pak Slamet coba untuk tetap fokus, kalau-kalau terjadi kegagalan lagi tapi masih yakin kalau bisnis tsb masih prospektif.

    Untuk ketiga pilihan calon usaha Pak Slamet, saya tidak bisa komentar Pak. Saya belum punya pengalaman di bioethanol, rental mobil, maupun makanan kecil (snack).

    Atau coba dibidang trading saja Pak. Dengan modal 100 juta sudah bisa untuk membuka toko retail. Usaha retail relatif lebih mudah dijalankan oleh siapa saja, tinggal dibuat sistemnya dan pengawasannya. Daripada membuka usaha yang butuh skill tenaga kerja yang tinggi, sementara Pak Slamet belum bisa terjun langsung mengawasinya, resikonya menjadi lebih tinggi Pak.

    Itu dari sudut pandang saya yg masih minim pengalaman lho Pak. Mudah2an bisa memberi secercah cahaya pencerahan.

    Salam
    Fuad Muftie

  20. Slamet mengatakan:

    Pak Fuad,
    Mantap … terimakasih Pak atas uneg2nya .. memang harus dari orang luar yg bisa introspeksi kita. Padahal orang tua, mertua, beberapa teman akrab, apalagi istri .. sudah saya minta pertimbangan .. kelihatannya anda bener … lebih focus & cari yg mudah pelaksanaannya + monitoring.

    Terus terang pak saya kurang pengalaman di retail .. boleh ngasih petunjuk hal2 apa yg harus & paling diperhatikan?
    misalkan
    - Jalannya keuangan?
    - Apakah jualan produk tertentu berpengaruh? pertanyaan saya apakah lebih baik kalau saya jualan produk tertentu atau general product. Apakah counter HP itu juga retail … buka jualan spare part bengkel? …
    dll.

    Sekali lagi terima kasih uneg2nya … insyaallah bermanfaat.

    Kalau anda ada cadangan yg bisa dishare itu lebih baik sekali .. terus terang untuk memulainya itu yg susah .. kecuali kalau kita terjun langsun ..

    Wassalam,
    Slamet

  21. fahri mengatakan:

    Ass,wr.wb

    Saya senang sekali bisa gabung dalam blog pak fuad.
    Pak Fuad kebetulan saya juga lagi binggung neh oleh karena itu saya minta pendapat anda
    Saya pengen sekali punya usaha tapi sulit banget,setiap kali ngumpulin modal selalu ada aja pengeluaran yang tidak terduga,jujur saya sudah merasa jenuh bekerja sm orang,saya ingin sukses.

    terima kasih sebelumnya

    Wass,Fahri

  22. eka mengatakan:

    Yang TERHORMAT,Saudara yang telah sukses di dunia bussines,sudi kiranya membagi pengalaman untuk bs menjadi pengusa yang kecil tp mempunyai future.Maaf apa bs orang miskin seperti saya bs mempunyai usaha sendiri?Jujur saya sudah bosan keluar masuk perusahaan tp sistem dan gajinya dimana mana sama.Mohon BIMBINGAN.

    WASALAM.

    EKA.W

  23. Fuad Muftie mengatakan:

    @ Pak Slamet
    Pengalaman saya satu tahun di retail, memang keuangan merupakan faktor yg penting, yang harus terus dipantau. Ibaratnya seperti aliran darah dalam tubuh kita, kalau keuangan tidak lancar, bisa bikin usaha ritel pingsan. Kalau bisa Pak Slamet sendiri yg menghandel, tapi kalau tidak bisa harus benar2 diserahkan kpd orang yg benar2 dipercaya.

    Yg penting lagi adalah bagaimana pengaturannya, kapan harus belanja, kapan harus disimpan, kapan harus membayar hutang dan biaya. Kalau saya itu semua dipelajari sambil jalan, yg saya lakukan setelah dapat hasil dari penjualan langsung saya masukin ke Bank dulu, baru kalau mau belanja, diambil lagi, besar dan jumlahnya saya diskusikan dg istri dulu.

    Pembukuan juga penting, untuk memantau posisi usaha kita, khususnya untuk memantau keuangan kita. Syukur kalau kita paham Akuntansi.

    Pemilihan produk, sebaiknya sesuaikan minat kita atau, kalau Pak Slamet sebagai investornya, sesuaikan minat yang akan menjalankan usaha. Karena kalau menjalankan usaha sesuai minat akan lebih total tenaga dan pikirannya.

    Mau spesifik produk tertentu atau general product, cari saja produk yg terbukti sedang laku dan masa hidupnya (daur hidupnya) masih panjang. Jangan produk yg trend sesaat. Nanti sambil jalan sesuikan stok dan jenisnya dengan produk yg benar2 cepat laku, produk lainnya jadikan sbg pelengkap.

    MEmang Pak untuk memulai adalah yg paling sulit dalam berbisnis, tapi kalau sudah berani memulai pasti lebih ringan. APalagi Pak Slamet sudah punya pengalaman kan, tinggal diulangi dan diperbaiki Pak.

    @ Fahri
    Jangan terpaku pada modal Pak, banyak faktor lain yg bisa dimanfaatkan untuk menjalankan usaha, bukan semata-mata modal. Kalau modal dianggap penting, mulai saja dari modal yg benar2 ada saat ini. Ada 100ribu, mulai saja dari segitu, ada 500 ribu mulai saja dari segitu.

    Nati pelan2 modal ditambah dari gaji kita sebagai karyawan. Daripada mengumpulkan dulu sampai banyak, akan lebih banyak godaannya. Beberapa pemula bisnis merasakan hal yg berbeda antara segera memulai usaha dibanding dengan mengumpulkan modal dulu.

    Kalau kita sudah mulai, nanti pada saat ada uang ditangan, akan sayang untuk mengkonsumsinya. LEbih senang untuk diinvestasikan lagi. Tapi kalau terus mengumpulkan modal, saat modal besar akan banyak godaan untuk menggunakannya dan yg parah akan muncul rasa takut modalnya habis…. Jadinya malah nggak berani membuka usaha.

    Masalah jenuh dg kerjaan, jadikan rasa jenuh itu sebagai pemicu dan motivator kita untuk segera membuka usaha, jangan hanya mengeluh.

    @Eka (Pak atau Ibu ya?)
    Saya pikir saya sudah banyak berbagi cerita di blog ini ya :-D Boleh dibaca-baca dulu blog saya. Kalau belum puas baca blog rekan2 saya yg link-nya ada di samping.

    Justru orang miskin harus punya usaha, biar bisa keluar dari kemiskinan. Apalagi anda sudah punya bukti kalau keluar masuk kerja akan sama saja. Memang mustahil menginginkan hasil yg berbeda kalau caranya tetap sama. Cara yg sama akan menghasilkan hasil yg kurang lebih sama.

    Mulai saja dari yg kecil dan sekarang juga.

    Wassalam
    Fuad Muftie

  24. fadlih mengatakan:

    Ass,wr.wb.

    Dear,Pak Fuad.

    Terima kasih Pak atas masukanya…!! kebetulan nasib saya hampir sama dengan Pak Eka,Oleh karena itu saya ingin beralih Profesi setidaknya saya sudah tau di dunia kerja itu seperti apa..??
    Mudah2an apa yang menjadi niat saya dan semua dalam blog ini untuk punya Usaha sendiri bisa terwujud,Amin…!!!minta bimbingan dan masukan terus dari Pak Fuad dan Semua yang hadir dalam blog Pak Fuad ini,terima kasih

    Wass,Fahri

  25. fadlih mengatakan:

    Ass,wr.wb.

    Dear,Pak Fuad.

    Terima kasih Pak atas masukanya…!! minta bimbingan dan masukan terus dari Pak Fuad dan Semua yang hadir dalam blog Pak Fuad ini,terima kasih

    Wass,Fahri

  26. fahri mengatakan:

    Ass,wr.wb
    Dear,All

    Sekarang ini saya lagi mau merintis untuk usaha jualan kerudung,saya bisa minta tolong pada semuanya neh..??kalau ada yang tau penjual/produsen kerudung yang murah untk wil Bandung dan Jakarta boleh saya di beri tahu alamatnya???

    terima kasih yah sebelumnya

    Wass,Fahri

  27. Fuad Muftie mengatakan:

    @ Fadlih
    Pak, pengalaman selama kita kerja juga merupakan proses yang mengantar kita sampai tahap seperti sekarang ini. Kalau sudah ada niat beralih profesi, persiapkan proses-proses berikutnya. Mungkin kalau dulu sewaktu kerja, kita seperti mengalir saja seperti aliran air, mulai sekarang dan nanti setelah masuk dunia usaha kita sendiri yang menentukan ke mana arah aliran kehidupan kita.

    Mulailah bertanggung jawab terhadap kehidupan sendiri, jangan mudah menyalahkan kondisi atau lingkungan eksternal kita. Mulailah mencari langkah-langkah kecil yg akan mengantar kita sampai bisa membuka usaha sendiri, mengembangkannya, dan membesarkannya. Semua selalu diawali dari langkah-langkah kecil, mudah, dan ringan.

    @ Fahri
    Usaha kerudung di mana Pak. Kalau di Bandung pusatnya di Pasar Baru (Katanya lho, saya sempat nyari-nyari Pasar Baru Bandung tapi belum ketemu, karena nyasar2 terus sampai kesorean, he.. he.. he..)

    Kalau di Jakarta, ada di Pasar Tanah Abang di Blok F / Pasar Tasik. Atau coba langsung ke produsen2 di Tasik kalau lokasinya deket.

    Alternatif lain, bisa dilihat di iklan-iklan yg ada di majalah-majalah muslimah. Pilihannya buanyak banget.

    Sukses ya Pak

    Wassalam
    Fuad Muftie

  28. Slamet mengatakan:

    Pak
    anda memang jempol .. jawapan sederhana tapi .. berbobot ..

    Sekali lagi terima kasih Pak atas masukannya ..

    Sekedar masukan untuk yg kekurangan dana mungkin bisa partner dgn orang yg bisa dipercaya .. cuman dari awal dibikinkan perjanjiannya .. jadi masing2 pihak jelas akan tanggung jawabnya. Satu lagi kalaupun ada perubahan sekecil apapun tentang aliran dana yg seharusnya dipergunakan untuk hal yg lain .. walaupun dikira lebih menguntungkan, tolong partnernya diberitahu … jadi semuanya benar2 jelas .. hal ini sudah terjadi dgn saya .. transparansi merupakan salah satu kunci dari kerjasama … atau partnership ya? kaleeeee

    Semoga Alloh selalu melimpahkan rahmat, nikmat & barokahNYA .. kepada kita semua .. dan Dialah yg memiliki ilmu yg maha tinggi lagi sempurna …

    Salam,
    Slamet

  29. Fuad Muftie mengatakan:

    Aaamiiin, terimakasih Pak Slamat, semoga bisa segera kembali memutar roda bisnisnya Pak. Mudah2an dimudahkan langkahnya dan tidak terulang lagi kegagalan yg pernah terjadi.

    Salam
    Fuad Muftie

  30. fahri mengatakan:

    Ass,wr.wb.
    Dear Pak Fuad.

    Alhamdulillah saya bersyukur bisa ketemu blog Pak Fuad,setidaknya ada seseorang yang mendukung saya dalam rencana merintis usaha tersebut walaupun kita sendiri cuma ketemu lewat blog ini,terima kasih yah Allah terima kasih pak Fuad.

    kapan-kapan saya akan banyak bertanya lagi,mudah2an Pak Fuad masih berkenan
    Wass,Fahri

  31. Fuad Muftie mengatakan:

    Wa’alaikum salam wr wb
    Terimakasih Pak, saya juga bersyukur kalau tulisan saya bisa membantu. Silahkan saja Pak kita berdiskusi, belum tentu saya lebih dulu tahu, mungkin Pak Fahri atau pembaca yg lain lebih tahu, dg berdiskusi dan tulisannya tersimpan, mudah2an bisa bermanfaat bagi sebanyak mungkin pembaca.

    Wassalam
    Fuad Muftie

  32. wulan mengatakan:

    saya ingin sekali bisa berbisnis dari pengalaman yang saya tekuni beberapa saat yang lalu dalam berbisnis seperti menjual beberapa produk seprti keperluan wanita yang kebetulan saya sering berada di lingkungan sekolah, saya tidak pernah bisa untuk melanjutkannya pertama saya orangnya engga tegaan dan mudah sekali hilang semangat kalau ada yang bilang ini terlalu mahal karena di tempat lain lebih murang dan masih banyak lagi.
    Pada intinya tolong solusi untuk saya agar dapat menghadapi konsumen2 yang seperti itu seperti yang kita tau ibu2 seperti apa. TERIMAKASIH.

  33. Fuad Muftie mengatakan:

    Bu Wulan, menghadapi konsumen biasa-biasa saja Bu. Memang kalau dipikirin bisa bikin stress. Tapi coba ibu pada posisi sebagai pembeli, mendapat produk yg spt ibu tawarkan, perasaannya gimana? Kalau Bu Wulan sendiri menganggap kemahalan, ya coba cari produk lain. Tapi kalau Bu Wulan menilai itu sudah wajar, ya pertahankan pendirian Ibu.

    Kadang pembeli bilang “ah mahal amat”, itu memang buat bikin penjual shock dulu. Di kios saya banyak yg bilang begitu katanya yg kami jual mahal-mahal. Tapi kalau mereka sudah ada pembanding (misal beli produk lain yg lebih murah, ternyata kualitasnya jelek) baru mereka mau mengakui kalau kita jualan produk berkelas. Dan banyak yg balik lagi, belanja lagi, nawar lagi, tapi tetap saja beli, he.. he… he..

    Oh ya, belajar juga kalau ada calon pembeli, pikirannya jangan terlalu berharap orang tadi bakal beli, bahasa inggrisnya nothing to loose saja. Beli syukur nggak beli tetap bersyukur, dan cari pembeli yg lain.

    Bayangin kalau semua pedagang jadi orang nggak tegaan, bagaimana roda ekonomi mau berjalan Bu. Sudah sewajarnya kita yg jualan dapat untung. Toh kita juga sudah keluar tenaga, biaya, dan pengorbanan untuk belanja barang dan menawarkannya pada calon pembeli.

    Semoga tetap semangat ya Bu…

    Wassalam
    Fuad Muftie

  34. kulid3sign mengatakan:

    Salam kenal buat semua,

    Saya ingin berbagi cerita dengan Ibu D, di kota saya Semarang ada sebuah warung makan ( maaf, nama warung saya rahasiakan ) yang pemiliknya sama sekali tidak jago masak memasak ( kebetulan si pemilik adalah seorang teman ), tetapi dia sampai sekarang masih bisa bertahan dan warung tetap ramai pelanggan. Dulunya hanya sekedar ‘ngontrak’ tempat yang kecil sekarang teman saya sudah bisa beli tempat untuk usahanya di jalan protokol kota.

    Dan rahasianya ternyata setelah saya amati, dia mempunyai sistem yang sederhana, walaupun tetap mempunyai resiko kerja. Si teman cuman mengerjakan ‘tukang masak’, dan sampai saat ini sudah 2 kali ganti ‘koki’. Di sini teman saya hanya berperan menentukan menu yang disesuaikan dengan ‘lidah’ pelanggan di sekitar lokasi usahanya, terutama ‘taste’ atau ‘rasa’ yang kiranya memang bisa dinikmati orang banyak alias enak’e tenan. . . . Jadi biarpun dia mau gonta ganti koki, kendali rasa tetap Si Pemilik yang pegang. Setidaknya rasa masakan yang dia jual tidak terlalu jauh berbeda walaupun dimasak oleh tangan orang yang berbeda.

    Sekiranya itu cerita dari saya, sekedar berbagi cerita buat Ibu D, kalau mungkin cerita ini bisa berguna buat Ibu untuk tidak ragu dalam menjalankan usaha barunya.

    salam

  35. Fuad Muftie mengatakan:

    Terimakasih kulid3sign atas informasi yang sangat berharga ini. Memang untuk memulai dan menjalankan bisnis tidak harus terus menerus kita sendiri yang mengerjakan. Yang baik adalah kita bisa melepaskan bisnis kita untuk jalan dengan sendirinya (by system). Sehingga ada tidak adanya kita di tempat usaha, maka usaha terus jalan.

    Dan salut buat Ibu D yang kreatif mengelola Koki. Yup tugas pengusaha adalah mengelola segala sumber daya yang ada dan potensial untuk dikelola.

    FM

  36. Farhan mengatakan:

    Assallamualiaikum….

    Saya sudah mulai buka usaha sekitar 4 bulan dan pendapatan sudah 30% dari gaji saya, dimana biaya hidup sebulan sekitar 40% dari gaji sisanya untuk investasi ama adik tetapi masih belum berhasil. waktu ada usaha saya kerjakan sendiri cukup membawa hasil.

    Yang jadi masalah adalah apakah tepat kalu sekarang saya resign ? posisi di Pt alhamdulillah sudah masuk team management sehingga kadang masih keberatan.

    sebenarnya saya sudah ngebet sekali mau resign ?

    Mohon advisenya , sekarang saya suami dengan 1 istri dan 3 anak.

    wassallam
    Farhan

  37. Fuad Muftie mengatakan:

    Wa’alaikum salam Wr Wb

    Untuk resign kan banyak faktornya ya Pak. Kalau melihat dari cash flownya, sebaiknya sich bisa resign kalau cash flow sudah positif. hasil usaha sudah bisa mencukupi untuk membiayai kebutuhan keluarga.

    Atau setidaknya kita sudah sangat yakin kalau kita resign kita bisa mengakselerasi bisnis sehingga bisa lebih kencang lagi.

    Juga ada yang menganjurkan, keputusan resign jangan emosional semata. Semangat boleh saja, tapi tetap harus realistis kan Pak.

    Menerut saya sebaiknya untuk tahap sekarang, jadikan sebagai tahap persiapan resign sehingga untuk jangka waktu tertentu kita sudah siap untuk go all out mengurus bisnis. Itu juga yang sedang saya alami.

    Semoga bisa membantu Pak

    Fuad Muftie

  38. Ridho Mochamad mengatakan:

    Assallamualiaikum..
    Nama saya Ridho dan sekarang ini saya bekerja di salah satu perusahaan periklanan di jakarta, dan sudah berkeluarga tetapi belum punya anak. sekarang ini saya sedang bingung untuk memutuskan berhenti bekerja dan memulai usaha yang telah saya cita citakan sejak kecil, usaha yang akan saya bangun adalah pencucian mobil dan bengkel kecil..didepannya. permasalahan yang ada sekarang ini ada di modal,pemberi modal adalah ayah saya. bagaimana cara meyakinkan ayah saya bahwa jalan yang saya pilih ini adalah keyakinan saya untuk masa depan. karena terus terang saya bekerja di perusahaan sekarang sangat tertekan dengan berbagai hal. mohon pencerahannya

    [Fuad Muftie]
    =========
    Wa’alaikum salam Wr Wb

    Usaha apapun idealnya jangan terlalu menggantungkan pihak lain terlebih dahulu. Sebisa mungkin dari intern kita sendiri, dari apa yang benar-benar kita miliki. Pihak eksternal jadikan sebagai alternatif, dan kita sendiri yang menentukan alternatifnya. Jadi kalau kita tidak ada modal, maka buatlah alternatif yang lain sebanyak mungkin. Jangan hanya terpaku pada satu pihak saja, misalnya tergantung pada orang tua saja.

    Kalau memang konsep usaha kita bagus dan potensian, bisa saja lakukan kerja sama dengan orang lain, dengan teman, atau lakukan kerja sama dengan pencuci mobil dan bengkel lain agar mau membuka cabang di tempat kita. Makanya ada istilah Plan A, Plan B, Plan C dst. Karena sering yang kita rencanakan hasilnya gagal, sementara yang tidak kita rencanakan bisa sukses. Jadi perbanyak alternatif.

  39. shinta mengatakan:

    Ass.wr.wb,
    Saya baru saja nekad resign dari perusahaan tempat saya bekerja, karena kepingin punya usaha sendiri.
    Saya punya gambaran ingin buka usaha warung/kedai untuk masakan rumahan dengan menu setiap hari ganti, serta menyediakan aneka sarapan di kompleks perumahan tempat saya tinggal.
    Saya optimis usaha saya saya akan berjalan sesuai dengan angan-angan saya ( doakan ya pak….)
    Kira2 persiapan apa yang harus saya lakukan ya pak, untuk merealisasikan angan-angan saya ini, persiapan sarana dan prasarana serta analisa usahanya.
    Terimaksih banyak atas attentionnya dan kami tunggu comment nya.

    Wass,
    Shinta ( ibu rumah tangga)

  40. Utomo mengatakan:

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Nama saya utomo, saat ini sya saya bekerja sebagai buruh pabrik dan menyambi buka usaha kecil2an sbagai pedagang pulsa di rumah..Alhandulillah dari usaha sampingan sya bisa mendapat penghasilan yg lebih besar dari yg saya dapat di pabrik, namun dalam hati saya masih ada ganjalan tuk keluar dari pabrik karena ada pemikiran bahwa kadang2 usaha ada naik dan turunnya, sedangkan di pabrik setiap bulan saya dapat penghasilan yg konstan..Ada keinginan tuk membuka usaha konveksi, tapi pengetahuan mengenai hal itu saya belum punya…mohon wejanganya…terimakasih

    • Fuad Muftie mengatakan:

      Hidup adalah pilihan. Anda mau buka usaha, itu pilihan anda. Anda mau jadi buruh, itu juga pilihan anda. Ada pengusaha yang sukses ada juga yang gagal. Ada buruh yang sukses dan ada pula yang gagal. Semua hanyalah pilihan dalam hidup, jadi pilihan kembali kepada Anda.

  41. asep mengatakan:

    assalamu’alaikum…pak fuad
    saya pria 20 tahun

  42. Muhammad Anggraeni mengatakan:

    ass…
    saya seorang mahasiswi n karywati sebuah perusahaan sepatu di daerah tangerang.orgtua saya sbnrnya seorang enterpener,beliau memiliki usha kompeksi,wlwpun msh kcl2an dgn karyawan 50 org!
    Nah disini saya mu mnta pendpatnya,,
    saya sudah jenuh bkrja sbg karyawati,,saya ingin sekali mmpunyai ush sndri,n yang saya impikan adalah mmbuka kompeksi seperti orgtua saya..
    tp saya bingung dgn proses awal,modal,meyakinkan diri saya klo saya mampu!!!
    sdgkan kalo saya mnta pendpt pd orgtua saya beliau sellu meminta saya focus pada sekolah n kerjaan saya skrg!
    apa yang harus saya lakukan????????
    terima kasih…

  43. fashionan mengatakan:

    Buat yang pengalaman, mau buka usaha bengkel motor, tapi belum punya tempat..

    Kerjasama Toko di Raya Balongbendo Krian, Sidoarjo

    Dicari Investor atau Pemilik Modal usaha untuk kerjasama

    Saya ada tempat usaha / toko di jalan raya Balongbendo – Krian, Sidoarjo.
    Saya mencari pemilik modal / usaha untuk bersama2
    bekerja sama di bidang yang agan kuasai / pengalaman..
    Jadi saya sediakan tempat usaha, agan sediakan
    modal dan ide usaha, dan pengelolaannya kita kerjakan sama2.

    Detail lokasi:
    Nol jalan raya Balongbendo, jalan raya propinsi 4 lajur. 2 arah
    5 menit dari bypass krian
    1 jam dari kota Surabaya
    30 menit dari pusat kota Mojokerto
    30 menit dari pusat kota Sidoarjo.
    Jalan sangat ramai dan strategis.
    Cocok untuk usaha bengkel motor / vulkanisir ban / toko, dll

    Luas toko 100m2.
    Persis seberang SMPN 1 Balongbendo.
    Dekat masjid Wonokupang, Balongbendo.

    Hubungi:
    Agoes 081231292499
    03170901149

    http://www.olx.com/kerjasama-toko-di-raya-balongbendo-krian-iid-574271014

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 127 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: