Oleh-oleh Milad II TDA : Menyikapi Sukses Orang Lain

Kembali saya ingin berbagi cerita tentang acara Milad II TDA. Kali ini saya ingin sedikit mengulas salah satu dialog antara moderator dengan nara sumber dalam salah satu acara Talk Show di Milad II TDA. Dialog ini bukan dialog utama dari tema Talk Show tersebut, tapi hanya prolog perkenalan salah satu nara sumber, tapi sangat berkesan bagi saya.

Saat itu moderator sepintas menanyakan salah satu nara sumber tentang perjuangan nara sumber dalam mencontoh kesuksesan orang lain. Mungkin karena terbatasnya informasi atau strategi yang kurang lengkap, akhirnya nara sumber belum berhasil mengikuti kesuksesannya.

Memang bagi pemula (seperti saya), kisah sukses orang lain dalam menjalankan investasi atau bisnis bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk bergerak dan mencontohnya. Namun tidak jarang, bukan kesuksesan yang kita raih, malah ‘kegagalan’. (Sebenarnya tidak ada kegagalan, hanya umpan balik atau pelajaran bahwa kita belum tepat melakukan strategi tersebut).

Apalagi kalau kisah suksesnya fenomenal dan menurut perhitungan kita "Saya juga bisa seperti itu", maka tidak jarang akan menjebak kita untuk mengambil jalan pintas dalam mengikuti jejaknya. Misalnya ada orang yang berhasil merintis sebuah usaha yang tampak spektakuler, kitapun tidak jarang jadi latah ingin ikutan.

Informasipun kita cari untuk mengetahui bagaimana caranya usaha tersebut dirintis. Kemudian setelah dihitung-hitung, kita punya modal yang cukup, kitapun memberanikan diri membuka usaha yang sama. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.

Nah ada sepotong nasehat dari moderator yang melekat diingatan saya bahwa dalam melihat kesuksesan orang lain, jangan cuma dilihat hasil akhirnya atau cuma mengikuti langkah spektakulernya. Tapi perlu juga diketahui bagaimana latar belakangnya kenapa orang tadi bisa dan berani mengambil langkah-langkah yang tampak spektakuler.

Sama seperti analogi membangun rumah. Melihat ada rumah bagus, muncul keinginan kita mencontohnya. Setelah dicontoh persis, tenyata rumah yang kita bangun cepat runtuh dan roboh. Ternyata kita lupa mencontoh pondasinya!

Ini jadi mengingatkan pada diri saya sendiri, sebelum berekspansi lebih lanjut, saya harus menyiapkan pondasi yang mantap dulu.

Semoga bermanfaat & Salam FUNtastic

Fuad Muftie
© 2008, https://fuadmuftie.wordpress.com/
Owner Toko Addina di Jalan Wijaya Kusuma Raya No. 40 Perumnas Klender Jakarta Timur

5 Balasan ke Oleh-oleh Milad II TDA : Menyikapi Sukses Orang Lain

  1. hmcahyo mengatakan:

    betull itulah yang dilihat banyak orang.. dalam hal apapun kesuksesannya

    eh komentar pertamax🙂

  2. agah mengatakan:

    setuju pak, 1 buah buku tentang success story, bisa jadi merupakan rangkuman dari 10 buku tentang failed story😀

  3. uta888 mengatakan:

    memang begitu. mulailah sesuatu itu dari pondasi kita. maka kita akan menikmatinya. jika kita sudah menikmati maka hasilnya akan bagus.

    tujuan kita biasanya adalah “apa yang kita lakukan dalam hidup kita jika sudah tidak punya masalah finansial lagi”.

    atau apa yang jika kita lakukan yang melahirkan ide2 yang sangat banyak dan bebas pada saat melakukan itu. alias benar2 tempat kita menyalurkan inspirasi. bukan semata2 karena uang.

  4. Fuad Muftie mengatakan:

    @ hmcahyo
    Terimakasih, semoga menjadi pelajaran bagi kita

    @ agah
    Betul Pak, tapi 1 buku cerita sukses tanpa 10 buku cerita kegagalan jadi tidak seimbang Pak. Perlu keseimbangan dan kebijakan dalam memandang sukses dan gagal.

    @ uta888
    Terimakasih sudah menambahkan. Dua point tersebut memang selayaknya dipikirkan dan dijadikan ilham saat mau memulai usaha.

    Wassalam
    Fuad Muftie

  5. Bobby Nugraha mengatakan:

    Pak, saya sebenarnya agak bingung juga mengenai hal di atas. Menurut bapak, apakah baik jika kita mengikuti jejak kesuksesan org lain? Karena ada dua pendapat yang pernah saya dgr, ada yang bilang baik ada yg bilang tidak baik.
    terima kasih

    =====
    [Fuad Mufti]
    Yang baik, ikuti jejak orang sukses tapi tetaplah jadi diri anda sendiri. Sama saja kita mau menyeberangi sungai yg gak ada jembatannya, di depan kita sudah melihat ada yang berhasil menyebrang ada yang terhanyut. Kita tentu mengikuti caranya orang yang sukses, cuma tetap saja jadilah diri sendiri

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: